Asysyam

“Sesungguhnya berbahagialah orang yang mensuciikan jiwanya, dan sungguh merugilah orang yang mengotori jiwanya”
Tampilkan postingan dengan label Da'wah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Da'wah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 November 2011

INDAHNYA PERJALANAN HIDUP MANUSIA DALAM TAKDIR


Dalam menjalani kehidupan ini, Alhamdulillah sudah banyak orang yang bersyukur (berterima kasih) atas segala karunia Allah SWT dan membuktikan nilai-nilai syukurnya dalam kehidupan sehari-hari. Namun tidak sedikit pula orang yang suka mendiskreditkan takdir dan berani menyalahkan Allah SWT. Benarkah Allah SWT tidak adil ?….. Apakah kesengsaraan seseorang karena kesalahan takdirnya ?….. Apakah semua orang yang sukses selalu disayang Allah SWT ?….. Apakah takdir membuat seseorang seperti wayang yang tidak punya daya apa-apa ?….. jawabannya adalah TIDAK, TIDAK dan TIDAK.

Segala sesuatu di dunia ini memang sudah tertulis di Lauh Mahfud sebelum diciptakan (QS. 57:22) agar manusia tidak berduka cita atas apa yang telah luput darinya dan tidak terlalu gembira atas apa yang diperolehnya (QS. 57:23). Ketentuan Allah SWT sudah sedemikian terukur rapi dilengkapi dengan sarana, persiapan, sesuai naluri, sifat dan fungsi masing-masing (QS. 25:2) yang ditujukan untuk memfasilitasi kehidupan manusia (QS. 22:65) sebagai Khalifah di muka bumi (QS. 2:30, 38:26).

Dalam ketentuan tersebut, Allah SWT sudah membentangkan jalan dan sebab musababnya (QS. 18:84-92), memberikan kebebasan kepada manusia untuk bisa merubah dirinya (QS. 13:11), memilih kehendak (QS. 17:18-19, 3:152, 4:134) dan punya planning masa depan (QS. 59:18). Semua yang baik dari Allah SWT dan semua yang buruk akibat ulah manusia (QS. 4:79) dan perbuatan baik atau buruk akan kembali kepada pelakunya (QS. 17:7) agar merasakan hasil kebaikan atau sanksi keburukan tanpa adanya unsur penganiayaan karena Allah SWT tidak menganiaya hamba-Nya (QS. 41:46) dan tidak menganiaya apa saja yang ada di alam semesta ini (QS. 3:108) bahkan Allah SWT telah menetapkan diri-Nya untuk selalu sayang terhadap hamba-Nya (QS. 6:12).

Sebagai bukti kasih sayang Allah SWT, Manusia diberi Al-Qur’an sebagai pedoman yang meyakinkan (QS. 2:2) agar bisa bahagia (QS. 20:2), memperoleh kemuliaan (QS. 21:10) dan menjadi obat serta rahmat (QS. 17:82).

Saat manusia ingin bukti nyata, Allah SWT mengutus Rasul untuk menjadi suri tauladan (QS. 33:21, 60:6), rahmat seluruh alam (QS. 21:107), memberi kabar gembira dan peringatan (QS. 2:119) agar seluruh hidupnya bernilai ibadah (QS. 98:5) karena memang manusia diperintahkan untuk beribadah (QS. 51:56) dan ternyata seluruh alam pun beribadah dan bertasbih (QS. 24:41).

Allah SWT selalu mengasihi hambaNya dengan memberikan balasan atas sekecil apapun perbuatan hamba-Nya (QS. 98:7), balasan berlipat ganda bagi yang beramal plus (QS. 2:245), tidak menyiksa selama mereka mau beristighfar (QS. 8:33), mengganti keburukan dengan kebaikan (QS. 25:70) serta menghapuskan dosanya (QS. 29:7).

Jika dilihat dari keterangan di atas, kita tahu dan faham bahwa kehendak dan takdir Allah SWT selalu dipenuhi kasih sayang dan keadilan. Sekarang kita coba bandingkan dengan kehendak manusia dan cara menyikapi hidupnya ?…..

Manusia ditinjau dari sisi negatifnya selalu mengeluh saat ditimpa kesusahan dan kikir saat mendapat kesenangan/kebaikan (QS. 70:20-21), maunya bermegah-megahan sampai wafat (QS. 102:1-2), selalu minta cepat/tergesa-gesa (QS. 17:11), tidak bersyukur (QS. 2:243) bahkan bisa melampui batas saat merasa dirinya cukup (QS. 96:6-7) dan lain sebagainya.

Manusia ditinjau dari sisi positifnya adalah makhluk yang beriman dan beramal shaleh (QS. 4:122), cepat berbuat baik (QS. 23:61), suka membantu (QS. 5:2), suka memberi saat sempit atau lapang, mampu menahan amarah dan memaafkan (QS. 3:134), mengutamakan kepentingan orang lain (QS. 59:9), sabar (QS. 11:11), tawakkal (QS. 8:2), yakin (QS. 45:4), mau berhijrah dan berjihad di jalan Allah SWT (QS. 2:218) dan lain-lain sampai menjadi umat yang terbaik (QS. 3:110).

Dalam menyikapi takdir Allah SWT, lebih baik kita selalu menerima apa saja yang Allah SWT berikan dengan action yang positif (QS. 51:16) dengan selalu bersyukur yang pasti akan menambah kenikmatan (QS. 14:7), selalu bersabar dalam perjuangan (QS. 8:65), selalu berusaha (QS. 9:105) yang dilandasi etos kerja tinggi dan cinta kepada Allah SWT (QS. 94:7-8) serta tawakkal [usaha maksimal, hasilnya diserahkan kepada Allah SWT] (QS. 65:3) agar kita dicintai Allah SWT dan mendapat pertolongan-Nya (QS. 3:159-160).

Yakinlah bahwa Allah SWT tidak akan meninggalkan dan membenci kita (QS. 93:3), Allah SWT selalu bersama orang yang bertaqwa dan berbuat baik (QS. 16:128), Allah SWT akan menolong dan memantapkan kedudukan kita (QS. 47:7). Insya Allah kita akan merasakan surganya dunia dan akherat (QS. 55:46). Semoga kita tergolong orang yang bahagia, sukses dan selamat di dunia sampai akherat. Amin Ya Robbal Alamin.

Selasa, 01 November 2011

Tempuhlah Jalan Surgawi dan carilah para Awliya'


Sulthanul Awliya Mawlana Syaikh Nazim Adil al-Haqqani an Naqshbandi




Bismillahir Rahmanir Rahim


Tempuhlah Jalan Surgawi dan carilah para Awliya', Orang-orang yang Suci!
Wahai manusia, waktunya singkat untuk berbicara... saya mencoba untuk mengatakan sesuatu yang dapat membuat kalian bangun, karena manusia saat ini tertidur atau dalam keadaan mabuk, terlalu banyak minum, bahkan tak dapat lagi membedakan tangan kanan mereka dari tangan kiri mereka!


Misi kami adalah untuk mengatakan, "Wahai manusia, kalian tengah berada di jalan yang salah! Jangan berada di jalur ini! Jika (kalian) tak berjalan pada jalan yang benar, kalian akan terjatuh ke Neraka. Bangunlah! Bangunlah, dan tempuhlah Jalan Surgawi!" Karena itulah perlu adanya (seorang) penasihat yang menasihati manusia untuk menempuh jalan itu.


Saya mendengar bahwa sang Paus berbicara sesuatu tentang Islam. Mengapakah ia berbicara sesuatu yang menentang Islam? Apakah sebenarnya yang diseru oleh Islam? Adakah Islam menunjukkan pada manusia jalan yang buruk? Kemankah Islam menyeru manusia? menuju ke Neraka ataukah ke Surga?


Mengapakah Paus, tidak menyerukan ummatmu untuk menerima Utusan terakhir dan pesan terakhir yang ia bawa? Dan sebaliknya Paus malah mengatakan bahwa Islam adalah seperti ini, seperti itu! (Ia) yang membawa Islam, ia adalah orang seperti itu (sebagaimana yang kau katakan)? Apa itu? Kini mereka telah kehilangan arahnya.... bahkan mereka yang mengatakan tentang diri mereka, "Kami adalah orang-orang yang religius". Mereka hanya orang-orang yang religius, tapi kita tidaklah meminta orang-orang yang religius belaka, melainkan kita meminta dan mencari orang-orang suci, Kekasih-kekasih Tuhan!


Suatu saat saya pernah melewati Switzerland, negara Swiss; di sana terdapat makam St. Nicolaus, dengan biaranya (Engl: monastery, red.). Orang itu (St. Nicolaus adalah benar-benar seseorang yang mempercayai pula Nabi terakhir, tapi ia menyembunyikan dirinya sendiri, dan tidak mau bertemu dengan manusia lain, serta berdiam diri di pondoknya. Suatu saat, saya datang dan melihat ke pondok kecilnya. St. Nicolaus pernah tinggal di situ, tanpa menemui orang lain siapa pun. Ia berkata, "Aku hanyalah bagi Allah!" Setiap saat saya datang ke daerah itu, spiritualitasnya (ruhaniahnya) selalu memanggil saya, "Datang dan kunjungilah diriku!" Dan setiap kali saya melewati daerah itu, saya pun datang dan berkunjung ke makamnya.


Suatu kali saya lewat dan mengunjunginya. Seseorang datang dan berpakaian hitam dan di bagian lehernya terdapat tanda bahwa ia adalah seorang pendeta. Saya menyapanya, "Tuan yang suci menjaga dan memelihara tempat ini?" Ia pun menjawab, "Wahai Syaikh, saya bukanlah seorang yang suci, jangan memanggil saya dengan 'yang suci'. Saya bertanya, "Bahkan Paus pun tidak suci?" "Bahkan sang Paus pun bukan orang suci. Ia hanyalah seseorang yang official, yang resmi." demikian katanya.


Kesucian adalah sesuatu yang dikaruniakan dari Langit bagi manusia, kesucian adalah suatu busana dan atribut dari Langit, kalian tak dapat memberikan gelar suci bagi seseorang sembarangan, bahkan seandainya seluruh manusia mengatakan, "X. adalah seorang yang suci"...


Kita tidak membutuhkan orang-oranga religius, kita membutuhkan orang-orang Suci! Kekasih-kekasih Allah! Kalian mesti memahaminya, wahai manusia, atau kalian akan terjerumus ke lembah-lembah Neraka... dan dimulai sekarang!... Hari demi hari akan bermunculan lebih banyak masalah, dan kutukan tengah datang ke bumi, karena manusia tidak mencari, tidak meminta (bertemu) orang-orang suci!


Saya pun dengan menyesal mengatakan bahwa saat ini Muslim pun menyangkal keberadaan orang-orang Suci, mereka menyangkal dan tidak mau menerima Awliya'! Mereka mendatangi dan menghancurkan tempat-tempat suci Awliya'. Seseorang yang suci dan siapa pun di sekelilingnya mendapatkan barakah Allah Ta'ala - siapa pun yang datang dan menghancurkan tempat-tempat suci (maqam) mereka, orang tersebut akan tidak bahagia!


Saya berkata, "Wahai orang-orang Iraq! Mengapa kalian membunuhi diri kalian sendiri, saling berbunuh satu sama lain?" Mereka menjawab, "Karena orang-orang Amerika atau Inggris, atau Jerman atau negara lain datang ke negeri kami, dan kami memerangi mereka!" Kalian tidak berperang, kalian tidak dapat melakukan apa pun! Kenapa kalian tidak pergi mendatangai Jaylani Sultan (Maqam Sultan Abdul Qadir al-Jaylani di Baghdad, red.) dan mengatakan pada beliau, "Wahai Syaikh Abdul Qadir, engkau adalah seseorang yang besar, seseorang yang berada di Hadirat Ilahi!


Mohonkan ampunan bagi diri kami dan mohonkanlah barakah Tuhan kami bagi diri kami untuk menyelamatkan diri kami dari orang-orang itu?" Karena, Allah-lah yang mengirimkan mereka pada orang-orang Iraq! Orang-orang Amerika itu tak akan mendatangi jarak 20.000 km dan menembaki mereka. Kenapa mereka mesti melakukannya? Siapa yang membuat mereka untuk datang ke situ? Mengapa kalian tak mau berkata, dan memohon dari Sultan Jaylani dan juga pada ribuan Awliya' yang ada di Baghdad? Kenapa orang-orang Iraq tak mau datang ke sana? Tak seorang pun yang pergi ke tempat-tempat suci para Awliya'itu. Mereka berkata, "Kami punya missile, peluru kendali dan roket!" Hmmm! Roket? Satan tengah mengencingi missile-missile dan roket kalian!


Wahai manusia, mintalah orang-orang yang suci! Ada orang-orang suci yang hidup... dan ada pula yang telah wafat yang berada di Alam Barzakh. Merekalah sumber-sumber samudera-samudera Kasih Sayang Ilahiah! Kenapa kalian tak mau mendatangi mereka? Kalian tak mau pergi!


Para Malaikat akan menggigit kalian, akan memukul kalian, membuat kalian jatuh! Tak ada kehormatan bagi diri kalian! Jika manusia mengetahui hal ini, Allah tak akan pernah menaruh mereka di bawah kaki orang Kuffar! Tapi, merekalah yang kehilangan jalan mereka, Muslim pun kehilangan (orang-orang suci), karena mereka hanya punya orang-orang religius, mereka tak meminta orang-orang suci, Awliya'!


Sampai mereka mau meminta orang-orang suci, mereka tak akan dapat menyelamatkan diri mereka sendiri! Karena itulah kita memohon, "Wahai Allah, kirimkan pada kami hamba-hamba suci-Mu! Bahkan satu orang saja akan cukup dan seluruh dunia ini berada di bawah Kuasa-Mu! Karuniakan Barakah-Mu bagi satu Kekasih-Mu, dan satu teman dari hamba-Mu yang paling Kau-cintai, Sayyidina Muhammad - sallalLahu 'alayhi wasallam! Kirimkan pada kami Sayyidina Mahdi - 'alayhis salam! Jika (dia) tidak datang, tak akan pernah ada kebaikan di muka bumi ini, hanya pertempuran, berbunuh-bunuhan, penghancuran , pembakaran, gempa bumi dan badai, hurricane datang dan mengambil...


Kurang dari tiga tahun yang lalu, datang satu gelombang dari samudera... Tsunami - saya belum pernah mendengar sebelumnya kata-kata aneh seperti itu... - di manakah teknologi kalian untuk menghentikannya? Wahai manusia, cobalah untuk mempelajari Adab terhadap Tuhan kalian, Allah Ta'ala atau kalian akan diambil pergi! Malaikat akan membawa kalian menuju Neraka!


Semoga Allah mengampuni diri kita!... Alhamdulillah! Saya hanyalah seorang hamba yang lemah, meminta untuk membangunkan seluruh negeri, tidak hanya kalian! Kata-kata saya adalah bagi seluruh dunia ini dari Timur ke Barat, dan seseorang, suatu waktu mestilah mengerti apa yang kami sampaikan... Ada dukungan Langit bagi diri kita! Semoga Allah memberkati kalian semua!

Minggu, 06 Maret 2011

Minim Pengetahuan


Termasuk persoalan para generasi muda adalah minimnya ilmu pengetahuan,
sertasedikitnya wawasan dan bacaan yang dikuasai.
Rasulullah saw. menganjurkan embekali diri dengan ilmu yang bermanfaat.
Allah SWT telah berfirman kepada beliau :“Dan katakanlah, ‘Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan’.” (Thaha:114).
Ilmu pengetahuan ini hanya bisa bertambah dengan banyak membaca, belajar, sering berkonsultasi dan bertanya kepada para ulama.
Abdullah bin Abbas pernah ditanya, “Bagaimana cara Anda memperoleh ilmu ini?” Dia menjawab, “Dengan akal senantiasa berpikir dan lisan yang selalu bertanya.
”Seorang penyair mengatakan:“Bertanyalah kepada ahli Fikih, niscaya kamu akan menjadi seorang ahli fikih seperti dia. Barangsiapa yang sungguh-sungguh dalam mempelajari suatu ilmu, maka dia akan mahir dalam bidang tersebut”

Maka sepantasnyalah kita serig-sering bertanya.Bahkan merengeklah untuk senantiasa bertanya.
Semua pertanyaan itu dibenci, kecuali dalam dua perkara ini:Bertanya (meminta) kepada Allah Yang Maha Esa lagi Maha Tunggal, karena Allah akan senantiasa ridla setiap kita meminta kepada-Nya. Allah SWT berfirman : “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah ia memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu ada dalam kebenaran”. (Al-Baqarah:186)

Bertanya kepada para ulama. Mereka akan gembira apabila ditanya. Pengetahuan diri kita akan bertambah dan pemahaman kita juga akan meningkat, serta pemahaman kita juga akan semakin mendalam. 
“Generasi muda yang diinginkan Allah SWT, untuk mengeban kalimat “Laa Ilaaha Illallaah”. Mereka hidup karena dan untuk “Laa Ilaaha Illallaah”. Mereka mati juga karena “Laa Ilaha Illallaah”.

Rabu, 02 Maret 2011

Keindahan Hati


Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya (QS Asy-Syams [91]:9-10)

Setiap manusia tentulah sangat menyukai dan merindukan keindahan. Banyak orang menganggap keindahan adalah pangkal dari segala puji dan harga. Tidak usah heran kalau banyak orang memburunya. Ada orang yang berani pergi beratus bahkan beribu kilometer semata-mata untuk mencari suasana pemandangan yang indah. Banyak orang rela membuang waktu untuk berlatih mengolah jasmani setiap saat karena sangat ingin memiliki tubuh yang indah. Tak sedikit orang berani membelanjakan uangnya berjuta bahkan bermilyar rupiah karena sangat rindu memiliki rumah atau kendaraan mewah.
Akan tetapi apa yang terjadi? Tak jarang kita menyaksikan betapa terhadap orang-orang yang memiliki pakaian dan penampilan yang mahal dan indah, yang datang ternyata bukan penghargaan, melainkan justru penghinaan. Ada juga orang yang memiliki rumah megah dan mewah, tetapi bukannya mendapatkan pujian, melainkan malah cibiran dan cacian. Mengapa keindahan yang tadinya disangka akan mengangkat derajat kemuliaan malah sebailknya, menggelincirkan pemiliknya ke dalam jurang kehinaan? Jawabnya, karena sebagian besar orang terpesona hanya terhadap keindahan lahir belaka.

Padahal ketahuilah, sesungguhnya ada satu keindahan yang kalu dimiliki, meski sesederhana apapun harta yang digenggam dan serendah apapun kedudukan yang diemban, niscaya kita akan menjadi orang yang benar-benar bermutu, berharga, dan terpuji. Banyak orang mengurus keindahan lahir, padahal kunci keindahan yang sesungguhnya adalah jika seseorang merawat serta memperhatikan kecantikan dan keindahan hati. Inilah pangkal kemuliaan yang sebenarnya.

Rasulullah saw pakaiannya tidak bertabur bintang penghargaan, tanda jasa, dan pangkat. Akan tetapi, demi Allah sampai saat ini tidak pernah berkurang kemuliaanya. Rasulullah tidak menggunakan singgasana dari emas yang gemerlap ataupun memiliki rumah yang megah dan indah. Namun demikian, sampai detik ini sama sekail tidak pernah luntur pujian dan penghargaan terhadapnya. Apakah rahasiannya? Ternyata semua itu dikarenakan Rasulullah adalah orang yang sangat menjaga mutu keindahan dan kesucian hatinya.

Rasulullah saw bersabda, “ingatlah, dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging. Kalu segumpal daging itu baik, maka akan baiklah seluruh tubuhnya. Bila rusak, niscaya akan rusak pula seluruh tubuhnya. Segumpal daging itu bernama kalbu!“ (HR Bukhari dan Muslim).

Boleh saja kita memakai segala apa pun yang indah-indah. Namun demikian, kalau tidak memiliki hati yang indah, kita tidak akan pernah ada keindahan yang sebenarnya. Karenanya, hendaknya jangan terpedaya oleh keindahan dunia. Lihatlah, begitu banyak wanita malang yang tidak mengenal moral dan harga diri. Mereka pun tidak kalah indah dan molek wajah, tubuh, ataupun penampilannya. Kendatipun begitu, mereka tetap diberi oleh Allah aneka aksesoris duniawi yang indah dan melimpah.

Ternyata segala asesoris duniawi dan kemewahan itu bukanlah tenaga kemuliaan yang sesungguhnya, karena orang-orang yang rusak dan durjana sekalipun diberi aneka kemewahan yang melimpah ruah oleh Allah. Kunci bagi orang-orang yang ingin sukses, yang ingin benar-benar merasakan lezat dan mulianya hidup, adalah orang yang sangat memelihara serta merawat keindahan dan kesucian kalbunya.

Imam al –Ghazali menggolongkan hati ke dalam tiga golongan, yakni hati yang sehat (qalbun shahih), hati yang sakit (qalbun maridh), dan hati yang mati (qalbun mayyit).

Seseorang yang memiliki hati sehat tak ubahnya memiliki tubuh yang sehat. Ia akan befungsi optimal. Ia akan mampu memilih dan memilah setiap rencana atas suatu tindakan, sehingga setiap ang akan diperbuatnya benar-benar sudah melewati perhitungan yang jitu berdasarkan hati nurani yang bersih.

Orang yang paling beruntung karena memiliki hati yang sehat adalah orang yang dapat mengenal Allah Azza wa Jalla dengan baik. Semakin cemerlang hatinya, maka akan semakin mengenal Dia, Penguasa jagat raya alam semesta ini. Ia akan memiliki mutu pribadi yang begitu hebat dan mempesona. Tidak akan pernah menjadi ujub dan takabur ketika mendapatkan sesuatu, namun sebaliknya akan menjadi orang yang tersungkur bersujud. Semakin tinggi pangkatnya, akan membuatnya semakin rendah hati. Kian melimpah hartanya, ia akan kian dermawan. Semua itu dikarenakan ia menyadari, bahwa semua yang ada adalah titipan Allah semata. Tidak dinafkahkan di jalan Allah, pasti Allah akan mengambilnya kembali jika Dia kehendaki.

Semakin bersih hati, hidupnya selalu akan diselimuti rasa syukur. Dikaruniai apa saja, kendati sedikit, ia tiadak akan habis-habisnya meyakini bahwa semua ini adalah titipan Allah semata, sehingga amat jauh dari sikap ujub dan takabur. Persis seperti ucapan yang terlontar dari lisan Nabi Sulaiman as tatkala dirinya dianugerahi Allah berbagai kelebihan, “Haadzaa min fadhli Rabbii, liyabluwanii a-asykuru am akfuru” (QS an Naml [27]; 40). Ini termasuk karunia Tuhanku, untuk mengujiku apakah aku mampu bersyukur atau kufur atas nikmat-Nya.

Suatu saat Allah akan menimpakan ujian dan bala. Bagi orang yang hatinya bersih, semua itu tidak kalah terasa nikmatnya. Ujian dan persoalan yang menimpa justru benar-benar akan membuatnya kian merasakan indahnya hidup ini. Karena, orang yang mengenal Allah dengan baik berkat hati yang bersih, akan merasa yakin bahwa ujian adalah salah satu perangkat kasih sayang Allah, yang membuat seseorang semakin bermutu.

Dengan persoalan akan menjadikannya semakin bertambah ilmu. Dengan persoalan akan bertambah ganjaran. Dengan persoalan pula derajat kemuliaan seorang hamba Allah akan bertambah naik, sehingga ia tidak akan pernah resah, kecewa, dan berkeluh kesah karena menyadari bahwa persoaan merupakan bagian yang haru dinikmati dalam hidup ini.

Oleh karenanya, tidak usah heran orang yang hatinya bersih, ditimpa apa pun dalam hidp ini, sungguh bagaikan air di relung lautan yang dalam. Tidak akan pernah terguncang walaupun ombak badai saling menerjang. Ibarat karang yang tegar, dihantam ombak sedasyat apapun tidak akan roboh terkapar tidak ada putus asa, tidak ada keluh kesah berkepanjangan. Yang ada hanya kejernihan dan keindahan hati. Ia amat yakin dengan janji Allah, ‘Laa yukallifullahu nafsan illaa wus’ahaa” (QS al-Baqarah [2]:286). Allah tidak akan membebani seseorang, kecuali sesuai dengan kesanggupannya. Pasti semua yang menimpa sudah diukur oleh-Nya. Maha Suci Allah dari perbuatan zalim kepada hamba-hamba Nya.

Ia sangat yakin bahwa hujan pasti berhenti. Badai pasti berlalu. Malam pasti bergnti menjadi siang. Tidak ada satu pun ujian yang menimpa, kecuali pasti akan ada titik akhirnya. Ia tidak berubah bagai intan yang akan tetap berkilau walaupun dihantam dengan apapun jua.

Memang luar biasa orang yang memiliki hati yang bersih. Nikmat datang tak pernah membuatnya lali dari bersyukur, sementara sekalipun musibah yang menerjang, sama sekali tidak akan pernah mengurangi keyakinan akan curahan kasih sayang-Nya. Semua itu dikarenakan ia bisa menyelami sesuatu secara lebih dalam atas musibah yang menimpa dirinya, sehingga tergapailah sang mutiara hikmah.

Subhanallah, sungguh teramat beruntung siapapun yang senantiasa berikhtiar dengan sekuat-kuatnya untuk memperindah kalbunya.

Kunci Meraih Hidayah



Salah satu hadis qudsi yang mengandung konsep hidayat sungguh layak untuk direnungi dan dijadikan solusi dalam mengarungi kehidupan kita yang penuh gelombang cobaan dan ujian. Dari Abu Dzar, Rasulullah SAW bersabda, Allah SWT berfirman, ''Wahai hamba-Ku, kalian semua sesat kecuali mereka yang Aku berikan hidayah, karena itu mintalah hidayah itu niscaya Aku akan memberikannya kepada kalian ....'' (HR Tirmidzi).

Hadis tersebut aslinya sangat panjang. Dari sepenggal kalimat yang termuat dalam hadis itu terlihat bahwa hidayah, atau yang sering kita sebut dengan petunjuk, sangat terbuka dan mudah didapatkan. Hanya, hidayah itu menjadi hak mutlak Allah SWT. Kunci untuk mendapatkannya hanya satu: memohon atau berdoa. Password untuk mendapatkannya juga satu: mengaku bahwa kita adalah hamba-Nya, dan Allah adalah Tuhan kita.

Kunci dan password yang sangat sederhana itu sering diabaikan orang. Dengan segala kesibukan dan kemalasan, kita sering lupa memasuki pintu yang selalu terbuka itu. Padahal, Allah yang senantiasa hidup dan bangun, tidak pernah lupa dan tidak pernah tidur. Tuhan yang kasih sayang-Nya kepada manusia melebihi segalanya. Tuhan yang selalu membuka Tangan-Nya untuk setiap permintaan.

Dalam kehidupan sosial, manusia sering bosan melihat kegagalan sebuah permintaan. Kita lupa, kehidupan sosial yang sering membuat kita kecewa, kita bawa dalam kehidupan keagamaan kita. Padahal, sifat-sifat Allah tidak sama dengan sifat tetangga, kerabat, dan teman-teman kita. Sifat Allah tidak sama dengan sifat para abdi negara.

Manusia tinggal mengadu, manusia tinggal meminta. Allah akan mendengar dan mengabulkan permintaan itu. Simaklah firman Allah, ''Mintalah kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkannya.'' (QS 40:60). Allah dekat dengan kita jika kita terus mendekatinya. ''Dan jika hamba-Ku meminta kepada-Ku, ketahuilah bahwa Aku dekat, Aku niscaya akan mengabulkan permintaan orang-orang yang meminta jika mereka benar-benar meminta.'' (QS 2:186).

Masalah yang sering kita hadapi adalah, kita jarang mendekat kepada Allah dan jarang meminta kepada Allah. Kita terlalu percaya kepada yang lain, terlalu mengandalkan logika, dan terlalu memperhitungkan aspek matematika. Hal itu menjadikan kita lupa memperhitungkan Allah. Jika sikap kita terhadap Allah pada masa-masa kemarin seperti itu, maka mulailah melakukan perubahan. Tidak ada kata terlambat, Allah masih menunggu kedatangan kita.

Sikap Allah ini bisa dibaca dalam sebuah hadis qudsi yang sahih. ''Siapakah yang ingin berdoa kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan untuknya. Siapakah yang ingin bermohon kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan permintaannya. Siapakah yang akan memohon ampunan-Ku, niscaya akan Kuampuni.'' (HR Bukhari dan Muslim).

Kita sering mendengar ungkapan bahwa untuk kembali kepada Allah itu memerlukan hidayah. Ketahuilah bahwa hidayah itu ada di tangan Allah, terbuka dan akan diberikan kepada siapa saja, asal orang itu mengakui-Nya sebagai Tuhan dan meminta petunjuk.

Rabu, 16 Februari 2011

Rindu Rasul




“Dan tidaklah kami mengutus engkau Muhammad, kecuali menjadi rahmat bagi seluruh alam." (Q.S. Al-Anbiya: 107)

Tulisan di bawah ini hanyalah sebuah petikan kecil dari buku berjudul “Rindu Rasul" yang ditulis oleh bpk Jalaludin Rahmat (semoga beliau mendapat berkah atas tulisannya, amin). Sebagian sari dari buku itu cukup membuat hati saya terenyuh.

Diriwayatkan oleh Jalaludin al-Suyuthi dalam Tafsir al-Durr al-Mantsur, sebuah dialog antara Nabi besar Muhammad saw sebagai imam dan para sahabatnya sebagai makmum setelah melaksanakan sholat berjama’ah yang haditsnya telah digubah menjadi bentuk puisi:


Usai salat kau pandangi kami
Masih dengan senyum yang sejuk itu
Cahayamu, ya Rasul Allah, tak mungkin kulupakan
Ingin kubenamkan setetes diriku dalam samudra dirimu
Ingin kujatuhkan sebutir debuku dalam sahara tak terhinggamu

Kudengar kau berkata lirih:
Ayyul khalqi a’jabu ilaikum imanan?
Siapa mahluk yang imannya paling mempesona?
Malaikat, Ya Rasul Allah
Bagaimana malaikat tak beriman, bukankah mereka berada di samping Tuhan?
Para nabi, Ya Rasul Allah
Bagaimana nabi tak beriman, bukankah kepada mereka turun wahyu Tuhan?
Kami, para sahabatmu, Ya Rasul Allah
Bagaimana kalian tidak beriman, bukankah aku ditengah-tengah kalian?
Telah kalian saksikan apa yang kalian saksikan

Kalau begitu, siapakah mereka Ya Rasul Allah?

Langit Madinah bening
Bumi Madinah hening
Kami termangu

Siapa gerangan mereka yang imannya paling mempesona?

Kutahan napasku, kuhentikan detak jantungku, kudengar sabdamu
Yang paling menakjubkan imannya
Mereka yang datang sesudahku beriman padaku,
Padahal tidak pernah melihatku dan berjumpa denganku
Yang paling mempesona imannya
Mereka yang tiba setelah aku tiada yang membenarkanku
Tanpa pernah melihatku
Bukankah kami ini saudaramu juga, Ya Rasul Allah?
Kalian sahabat-sahabatku
Saudaraku adalah mereka yang tidak pernah berjumpa denganku
Mereka beriman pada yang ghaib, mendirikan salat
Menginfakkan sebagian rezeki yang Kami beriman kepada mereka

Kami terpaku
Langit madinah bening
Bumi madinah hening

Kudengar lagi engkau berkata:
Alangkah bahagianya aku memenuhi mereka
Suaramu parau, butir-butir air matamu tergenang
Kau rindukan mereka, Ya Rasul Allah
Kau dambakan pertemuan dengan mereka ya Nabi Allah
Assalamu’alaika ayyuhan Nabi wa rahmatullahi wa barakatuh


Dari hadits di atas secara logika kita bisa menilai bahwa apabila kita beriman pada Nabi Muhammad saw dengan sebenar-benarnya maka insya Allah akan ada penilaian tersendiri dari Allah, sebuah kelas tersendiri yang membedakan kita (umat yang ada di dunia ini sesudah Nabi tiada) terhadap sahabat nabi, nabi-nabi yang sebelumnya, bahkan malaikat sekalipun, sebuah kelas yang spesial di mata Allah. Subhanallah.

Rasulullah saw bersabda: “Ada 3 hal yang bila ada semuanya pada diri seseorang, ia akan merasakan manisnya iman: pertama, Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari apapun selain keduanya; kedua, ia mencintai orang semata-mata karena Allah; dan ketiga, ia benci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya seperti ia benci untuk dilemparkan kedalam api neraka." (Shahih al-Bukhari)

Adapun bagi para pencinta Rasulullah saw, Allah akan menganugerahkan:

1. Digabungkan bersamanya

Secara ruhaniyah di dunia dan secara hakiki di akhirat. Prinsipnya sama seperti bila kita mencintai sesuatu, yaitu: akan ada pembenaran atas apa yang diajarkan oleh yang kita cintai, perilaku, pikiran, perasaan dan tindakan juga sangat dipengaruhi oleh apa dan siapa yang kita cintai.

"Dan barangsiapa yang menta'ati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni'mat Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya" (Q.S: An-Nisa 69)

2. Kelezatan iman

Lezatnya iman mungkin bisa digambarkan dari kisah sebagai berikut. Terkisah segera setelah Rasulullah saw wafat, Bilal tidak mau lagi menyampaikan azan. Beberapa hari angkasa Madinah tidak mendengar suara Bilal. Atas desakan Fatimah, putri Nabi saw, Bilal mengumandangkan azan Subuh. Seluruh Madinah terguncang. Bilal mulai dengan Allahu Akbar, lalu kalimah syahadat yang pertama. Begitu ia ingin menyebutkan kalimat syahadat kedua, suaranya tersekat dalam tenggorokan. Ia berhenti pada "Muhammad" dan setelah itu tangisannya meledak, diikuti oleh tangisan Fatimah dan seluruh penduduk Madinah al-Munawarrah. Ikrar iman dalam ucapan syahadat membuat rasa rindu semakin terasa lezat.

3. Kecintaan Allah swt

Karena Nabi saw adalah mahluk yang paling dicintai Allah swt. Siapapun yang mencintai Nabi, menyayangi, merindui kekasih Allah, tentu akan mendapat pula kecintaan dari Allah swt.

4. Balasan cinta Rasulullah saw

Tidak ada pencinta Nabi saw yang bertepuk sebelah tangan. Dalam riwayat yang telah diceritakan sebelumnya, betapa Rasulullah saw merindukan pertemuan dengan umat yang mencintainya.

Terkisah pula pada detik-detik Nabi menjelang wafat, sahabat Ali r.a mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku?"

Betapa cintanya beliau pada umatnya. Akankah kita membalas cintanya dengan menyebut nama beliau disisi Allah swt menjelang ajal kita?

5. Mendapatkan syafaat (pembelaan)-nya yang agung.

Yaitu bantuan Nabi saw dengan izin Allah untuk meringankan dan bahkan menghapuskan hukuman bagi para pendosa, bukannya tidak mungkin seseorang bisa masuk surga tanpa dihisab bila pembelaan Rasulullah saw diterima oleh sang Khalik.


Apa kita tidak tergerak untuk lebih bersuka cita pada hari mulia Maulid Nabi? Hari kelahiran Junjungan kita yang begitu mulia, Baginda besar kita, Nabi besar Rasulullah Muhammad saw. Lahirnya seorang utusan Allah swt ke dunia yang membawa perubahan besar yang sangat fenomenal dalam tatanan hidup kita, sebuah ajaran yang akan membawa kita untuk ditempatkan di tingkat yang tinggi dan dicintai oleh Khaliknya!! Awal dari revolusi akhlak yang teramat benar!! Sebuah hari yang sungguh teramat penting, hari yang begitu luar biasa terang benderangnya bagi alam semesta!!

Semoga petikan ayat Al-Qur’an surat Al-Anbiya 107 di awal tulisan ini bisa membuka hati kita semua, betapa pentingnya kita mencintai dan bersuka cita atas Nabi saw.

Bila kita kaji lagi apa yang bisa kita peroleh jika kita menempatkan Nabi saw pada urutan pertama di hati, maka kita akan mendapatkan "iman yang begitu indah mempesona".

Walaupun Nabi saw sudah tiada, mungkin justru karena itulah kita perlu bersyukur akan keberadaan kita sekarang dengan beriman kepadanya dan menjalankan sunnah-sunnah yang telah beliau contohkan. Sebuah tantangan, perjuangan berat, teramat berat, insya Allah kita termasuk insan yang dinanti dan dijemput sendiri oleh baginda Nabi saw kelak di akhirat, insya Allah keluarga kita akan dimohonkan syafaat oleh baginda Nabi saw, insya Allah kita mendapat tempat spesial di mata Allah swt, tempat yang indah tanpa dihisab, amin.

Sebagai sebuah renungan, mungkin kita sering mengucapkan dan mendengar arti shalawat yang diperuntukkan bagi baginda Nabi saw dan keluarganya. Nah! kalau kita termasuk orang yang beriman pada Rasulullah saw padahal kita sendiri tidak pernah berjumpa beliau, bukankah kita telah menjadi saudara Nabiyallah saw?? Keluarga Rasulullah saw juga?? Saya pribadi berfikir bukannya tak mungkin kalau ucapan shalawat itu juga mengandung makna ucapan shalawat bagi kita-kita yang beriman padanya. Sebuah berita gembira bila kita akhirnya bisa juga bersanding dengan nama Muhammad saw, kekasih Allah Subhanahu wa Ta ‘ala.

Allahumma sholli wa baarik ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala aali wa shohbihi wasallam.

Ya Allah yang Maha Besar, tanamkan aqidah iman sedalam-dalamnya pada kami untuk senantiasa mencintai-Mu dan Nabi Muhammad saw, lebih dari apapun di alam semesta ini, amin ya rabbal ‘alamiin.

Sabtu, 12 Februari 2011

**MIMPI BESAR ITU FIRDAUS....**




Rasulullah SAW bersabda,

''Jika engkau memohon kepada Allah SWT, memohonlah surga Firdaus karena ia adalah surga paling tinggi, atapnya adalah arsy Allah yang Maharahman.''

Rasulullah SAW juga bersabda,

''Barang siapa yang harapannya, tujuannya akhirat, maka dunia datang padanya, sedangkan ia tidak membutuhkan lagi.''

Dua hadis ini memberikan pelajaran sangat penting. Pertama tentang mimpi kita yang seharusnya melesat melampaui dunia, yaitu surga Firdaus. Kedua tentang mimpi yang akan berdampak baik terhadap urusan dunia kita.

Dua hadis ini juga memiliki alur logika yang sangat kuat dan sering dijadikan rumus motivasi.

Pertama, motivasi yang sangat tinggi akan memberikan inspirasi dan lebih mendobrak. Potensi kita keluar berlipat-lipat. Persiapan musafir dari Jakarta menuju Bali tidak sama dengan pelancong yang tujuannya hanya ke Cirebon, apalagi cuma sampai Bekasi.

Kedua, untuk menggapai kebebasan finansial, rumusnya, buatlah uang mengejar kita, bukan sebaliknya. Ketiga, jika kita cermati, para pewaris Firdaus adalah mereka yang sangat berkualitas luar dalam. Hanya membuat dunia mengejar mereka adalah perkara mudah.

Ada enam kualifikasi pewaris Firdaus di surat Almukminun [23] ayat 1-11.

Pertama, shalat dengan khusyuk. Untuk khusyuk, kita perlu menyediakan fasilitas ibadah yang baik dan mengatur segala urusan kehidupan sehingga tidak meng ganggu shalat.

Kedua, berpaling dari hal yang tidak berguna. Karakter orang sukses adalah berorientasi pada manfaat. Potensi waktu, otak, tenaga, dan harta tidak untuk sesuatu yang sia-sia.

Ketiga, menunaikan zakat. Firdaus bukan milik orang pelit dan tidak mampu berzakat. Para pewaris surga adalah mereka yang pandai mengelola aset sekaligus bergairah dalam berzakat. Yang terpenting adalah menjadi orang yang mampu berzakat, bukan men jadi orang kaya.

Keempat, menjaga kehormatan dan mampu menahan diri.

Kelima, menjaga amanah. Dengan konsisten menjaga amanah, setumpuk kepercayaan dan kedudukan penting akan datang menghampiri.

Keenam, menjaga shalat sehingga terjaga kesalehannya. Para pewaris Firdaus adalah orang saleh yang berdaya. Mereka tidak dipermainkan dunia yang nista, tapi memainkan dunia sehingga menjadi mulia. Jadi, mimpi besar kita hendaklah Firdaus, bukan yang lain.

Air Mata dan Cinta



Cinta membuat apa yang dicintai itu benar-benar masuk ke dalam lubuk hati. Bicara tentang lubuk hati, apalagi yang terdalam, pasti berkaitan dengan yang namanya kelembutan. Hati itu lembut sekali. Kalau sudah begini, cinta itu dekat dengan yang namanya air mata, dan akhirnya menangis. Makanya, orang yang sedang jatuh cinta, akan mudah menangis kalau mengingat sama yang dicintainya, benar bukan?

Bicara mengenai menangis ada 2 cerita jaman dulu.

Cerita pertama. Dulu, ada negeri kafir yang akan menyerang negeri Islam. Ketua kafir itu mengatur siasat. Sebelum menyerang, diselidiki dulu negeri Islam itu. Akhirnya, sang ketua mengutus seorang mata-mata ke negeri Islam tersebut. Si mata-mata menyamar menjadi orang Islam. Selanjutnya dia masuk ke negeri Islam itu. Penampilannya Islam, dengan janggut dan pernak pernik yang Islami.

Tiba-tiba dia bertemu dengan seorang anak muda yang sedang menangis di pojok dinding. Penasaran dengan hal tersebut, si mata-mata tadi mendekati anak muda itu. Dia bertanya, “Kenapa kamu nangis?” Jawab anak muda tadi, “Aku menangis karena tadi aku ketinggalan shalat berjama’ah di masjid.” Kagetlah si mata-mata itu. Lalu dia balik ke negerinya dan melapor kepada sang ketua. Dia menceritakan apa yang diliatnya di negeri Islam. Lalu sang ketua berkata, “OK, kita jangan menyerang Islam dulu. Tunggu kalau saatnya sudah tepat.”

Cerita kedua. Ini kelanjutan dari cerita pertama. Beberapa tahun kemudian, kembali diutuslah si mata-mata tadi untuk mengintai negeri Islam. kemudian, si mata-mata menyamar lagi menjadi orang Islam. Kejadian berikutnya sama dengan cerita yang pertama. Dia bertemu dengan anak muda yang sedang duduk menangis. Si mata-mata mendekati anak muda tersebut dan bertanya, “Kenapa kamu nangis anak muda?” Jawab si anak muda, ” Aku menangis karena baru saja ditinggal kekasihku?” mendengar jawaban anak muda tersebut, si mata-mata kembali ke negerinya dan melapor kepada sang ketua tentang apa yang diliatnya di negeri Islam. Lalu, sang ketua berkata, “OK, saatnya kita serang mereka!”

Akhirnya, negeri kafir kemudian menyerang negeri Islam tadi, dan apa yang terjadi? Hancur-lebur dan luluh-lantaklah negeri Islam. Masya Allah.

Kenapa bisa seperti ini? Ketua kafir melihat bahwa pada cerita yang pertama, pemuda-pemuda Islam-nya sholeh-sholeh. Mereka cinta sama Allah. Sampai-sampai mereka sedih dan nangis lantaran ketinggalan shalat berjama’ah di masjid. Jadi, kalau negeri kafir menyerang saat itu, pasti orang kafir akan kalah.

Selanjutnya, setelah beberapa tahun, ada yang berubah di negeri Islam tersebut. Anak-anak mudanya sudah tidak sholeh (atau mungkin kurang sholeh). Ini bisa dilihat si mata-mata bertemu dengan anak muda Islam yang menangis karena ditinggal pacarnya. Pasti, hari-harinya akan dihabisin untuk sang kekasihnya, untuk menemani, untuk memikirkan, dan untuk yang lain. Kenapa waktunya tidak dihabiskan untuk Allah dan Islam? Ini pertanda kalau negeri Islam tadi sudah lemah. Inilah saatnya negeri kafir tersebut menyerang negeri Islam. Begitulah sobat, generasi yang pertama menangis mengeluarkan air mata karena cintanya kepada Allah. Generasi yang kedua menangis mengeluarkan air mata karena cinta kepada pacarnya.

Nah Sobat, air mata kita termasuk yang mana? Kalau kita menangis gara-gara siapa?? Semoga air mata dan tangis kita hanya karena Allah!

***

Bersyukur



“Aku tak selalu mendapatkan apa yang kusukai, oleh karena itu aku selalu menyukai apapun yang aku dapatkan.”

Kata-kata diatas merupakan wujud syukur. Syukur merupakan kualitas hati yang terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai,tentram dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia.

Ada dua hal yang sering membuat kita tak bersyukur.

Hal Pertama :

Kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki. Katakanlah anda telah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan tetap, dan pasangan yang terbaik. Tapi anda masih merasa kurang.

Pikiran anda dipenuhi berbagai target dan keinginan. Anda begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah, mobil mewah, serta pekerjaan yang mendatangkan lebih banyak uang. Kita ingin ini dan itu. Bila tak mendapatkannya kita terus memikirkannya. Tapi anehnya, walaupun sudah mendapatkannya, kita hanya menikmati kesenangan sesaat. Kita tetap tak puas, kita ingin yang lebih lagi. Jadi, betapapun banyaknya harta yang kita miliki, kita tak pernah menjadi “KAYA” dalam arti yang sesungguhnya.

Mari kita luruskan pengertian kita mengenai orang “kaya”. Orang yang “kaya” bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tetapi orang yang dapat menikmati apapun yang mereka miliki. Tentunya boleh-boleh saja kita memiliki keinginan, tapi kita perlu menyadari bahwa inilah akar perasaan tak tenteram. Kita dapat mengubah perasaan ini dengan berfokus pada apa yang sudah kita miliki. Cobalah lihat keadaan di sekeliling Anda, pikirkan yang Anda miliki, dan syukurilah. Anda akan merasakan nikmatnya hidup. Pusatkanlah perhatian Anda pada sifat-sifat baik atasan, pasangan, dan orang-orang di sekitar Anda. Mereka akan menjadi lebih menyenangkan.

Seorang pengarang pernah mengatakan, “Menikahlah dengan orang yang Anda cintai,setelah itu cintailah orang yang Anda nikahi.” Ini perwujudan rasa syukur.

Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh karena tak dapat membeli sepatu, padahal sepatunya sudah lama rusak. Suatu sore ia melihat seseorang yang tak mempunyai kaki, tapi tetap ceria. Saat itu juga si kakek berhenti mengeluh dan mulai bersyukur.

Hal kedua:

Yang sering membuat kita tak bersyukur adalah kecenderungan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai,lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita.

Saya ingat, pertama kali bekerja saya senantiasa membandingkan penghasilan saya dengan rekan-rekan semasa kuliah. Perasaan ini membuat saya resah dan gelisah. Sebagai mantan mahasiswa teladan di kampus, saya merasa gelisah setiap mengetahui ada kawan satu angkatan yang memperoleh penghasilan di atas saya. Nyatanya, selalu saja ada kawan yang penghasilannya melebihi saya.

Saya menjadi gemar berganta-ganti pekerjaan, hanya untuk mengimbangi rekan-rekan saya. Saya bahkan tak peduli dengan jenis pekerjaannya, yang penting gajinya lebih besar. Sampai akhirnya saya sadar bahwa hal ini tak akan pernah ada habisnya. Saya berubah dan mulai mensyukuri apa yang saya dapatkan. Kini saya sangat menikmati pekerjaan saya.

Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri. Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa. Pasien pertama sedang duduk termenung sambil menggumam, “Lulu, Lulu.”

Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang dihadapi orang ini. Si dokter menjawab, “Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh Lulu.” Si pengunjung manggut-manggut, tapi begitu lewat sel lain ia terkejut melihat penghuninya terus menerus memukulkan kepalanya di tembok dan berteriak, “Lulu, Lulu”. “Orang ini juga punya masalah dengan Lulu? keheranan. Dokter kemudian menjawab, “Ya, dialah yang akhirnya menikah dengan Lulu.”

Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki. Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi.

Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan cerita mengenai seorang ibu yang sedang terapung di laut karena kapalnya karam, namun tetap berbahagia.

Ketika ditanya kenapa demikian, ia menjawab, “Saya mempunyai dua anak laki-laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua hidup di tanah seberang. Kalau berhasil selamat, saya sangat bahagia karena dapat berjumpa dengan anak kedua saya. Tetapi kalaupun mati tenggelam, saya juga akan berbahagia karena saya akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga.”

sumber:
Dari Sahabat

Kisah Kepala Ikan


Alkisah pada suatu hari, diadakan sebuah pesta emas peringatan 50 tahun pernikahan sepasang kakek-nenek. Pesta ini pun dihadiri oleh keluarga besar kakek dan nenek tersebut beserta kerabat dekat dan kenalan.

Pasangan kakek-nenek ini dikenal sangat rukun, tidak pernah terdengar oleh siapapun bahkan pihak keluarga mengenai berita mereka perang mulut. Singkat kata mereka telah mengarungi bahtera pernikahan yang cukup lama bagi kebanyakan orang. Mereka telah dikaruniai anak-anak yang sudah dewasa dan mandiri baik secara ekonomi maupun pribadi. Pasangan tersebut merupakan gambaran sebuah keluarga yang sangat ideal.

Disela-sela acara makan malam yang telah tersedia, pasangan yang merayakan peringatan ulang tahun pernikahan mereka ini pun terlihat masih sangat romantis. Di meja makan, telah tersedia hidangan ikan yang sangat menggiurkan yang merupakan kegemaran pasangan tersebut. Sang kakek pun, pertama kali melayani sang nenek dengan mengambil kepala ikan dan memberikannya kepada sang nenek, kemudian mengambil sisa ikan tersebut untuknya sendiri.

Sang nenek melihat hal ini, perasaannya terharu bercampur kecewa dan heran.Akhirnya sang nenek berkata kepada sang kakek, “Suamiku, kita telah melewati 50 tahun bahtera pernikahan kita. Ketika engkau memutuskan untuk melamarku, aku memutuskan untuk hidup bersamamu dan menerima dengan segala kekurangan yang ada untuk hidup sengsara denganmu walaupun aku tahu waktu itu kondisi keuangan engkau pas-pasan. Aku menerima hal tersebut karena aku sangat mencintaimu. Sejak awal pernikahan kita, ketika kita mendapatkan keberuntungan untuk dapat menyantap hidangan ikan, engkau selalu hanya memberiku kepala ikan yang sebetulnya sangat tidak aku suka, namun aku tetap menerimanya dengan mengabaikan ketidaksukaanku tersebut karena aku ingin membahagiakanmu. Aku tidak pernah lagi menikmati daging ikan yang sangat aku suka selama masa pernikahan kita. Sekarangpun, setelah kita berkecukupan, engkau tetap memberiku hidangan kepala ikan ini. Aku sangat kecewa, suamiku. Aku tidak tahan lagi untuk mengungkapkan hal ini.”

Sang kakek pun terkejut dan bersedihlah hatinya mendengarkan penuturan Sang nenek. Akhirnya, sang kakek pun menjawab, “Istriku, ketika engkau memutuskan untuk menikah denganku, aku sangat bahagia dan aku pun bertekad untuk selalu membahagiakanmu dengan memberikan yang terbaik untukmu. Sejujurnya, hidangan kepala ikan ini adalah hidangan yang sangat aku suka. Namun, aku selalu menyisihkan hidangan kepala ikan ini untukmu, karena aku ingin memberikan yang terbaik bagimu. Semenjak menikah denganmu, tidak pernah lagi aku menikmati hidangan kepala ikan yang sangat aku suka itu. Aku hanya bisa menikmati daging ikan yang tidak aku suka karena banyak tulangnya itu. Aku minta maaf, istriku.”

Mendengar hal tersebut, sang nenek pun menangis. Merekapun akhirnya berpelukan. Percakapan pasangan ini didengar oleh sebagian undangan yang hadir sehingga akhirnya merekapun ikut terharu.

**

Moral Of The Story:

Kadang kala kita terkejut mendengar atau mengalami sendiri suatu hubungan yang sudah berjalan cukup lama dan tidak mengalami masalah yang berarti, kandas di tengah-tengah karena hal yang sepele, seperti masalah pada cerita di atas.

Kualitas suatu hubungan tidak terletak pada lamanya hubungan tersebut, melainkan terletak sejauh mana kita mengenali pasangan kita masing-masing. Hal itu dapat dilakukan dengan komunikasi yang dilandasi dengan keterbukaan. Oleh karena itu, mulailah kita membina hubungan kita berlandaskan pada kejujuran, keterbukaan dan saling menghargai satu sama lain.

***

Alloh Maha Mengetahui Yang Terbaik Untuk Hambanya



“Akhirnya ada juga Le Bis yang lewat. Kita pulang Le. Ya Allah, kok ya tega ya nda mau berhenti. Sabar ya Le, insya Allah akan ada lagi Bis yang lewat. “

Bayi lelaki berumur sebelas bulan itu hanya tersenyum senyum mendengar perkataan ibunya. Kembali Ibu itu melambaikan tangannya kepada Bis yang lewat tapi tetap saja Bis itu tidak mau berhenti. Bayi itu tertawa, “Le…le…kok kamu bisa bisanya tertawa.”

Bayi lucu itu tidak mau tahu teriknya mentari saat itu.

“Alhamdulillah…ada juga yang berbaik hati mau berhenti.”

“Cepet Bu cepet!“ ujar kondektur.

“Ya Allah, Bis nya penuh Le, tapi ga apa apa, yang penting kita bisa pulang Le.“

“Jogja , jogja!“ teriak sang kondektur mencari penumpang.

“Lha wong sudah penuh sesak begini kok masih cari penumpang. “

“Mas! Pie toh mas, sesak begini kok“ salah seorang penumpang geram.

Tiba tiba bayi lelaki itu menangis. “Aduh Le, jangan nangis toh Le”

Tapi bayi itu makin keras tangisnya. Suasana panas saat itu makin membuat para penumpang tidak nyaman, apalagi dengan kondisi penuh sesaknya manusia didalam bis tersebut.

“Bu, anak e bisa disuruh diam nda sih?“ ujar salah seorang penumpang di sebelahnya.

“Maaf pak, maaf. “

“Huh, udah banyar mahal mahal, tapi kaya begini“ salah seorang lagi marah marah.

“Saya ini mau tidur, disuruh diam bisa nda sih“ ujar seorang ibu ibu gemuk dibelakangnya.

“Hey, anak siapa itu, macet begini bikin pusing saja“ teriak pak sopir.

“Suruh turun saja pak sopir” teriak penumpang belakang.

“Iya, turuni saja. Wong sudah sesak begini kok“ tambah yang lain.

“Kalau anak itu nda mau diam, lebih baik kalian turun saja“ ujar pak kondektur.

“Bapak bapak, Ibu ibu, siapa yang nda setuju kalau ibu ini disuruh turun?“ tanya salah seorang penumpang sambil berdiri.

Semua terdiam.

“Suruh turun saja“ salah seorang kakek berkata.

“Ibu turun saja disini. Cari bis yang lain saja“ kata kondektur.

“Maaf bapak bapak ibu ibu, kalau anak saya ini mengganggu, tapi anak ini kan masih kecil, belum mengerti apa apa. Tolonglah kami. Tolong“

“Wah, nda bisa Bu, anak ibu ini main kenceng saja nangisnya. Disini banyak penumpang yang mau istirahat“ tambah pak Kondektur.

Dengan tidak hormat, Ibu dan anak itu dipaksa turun dari bis.

“Ya Allah, kok ya ada manusia manusia seperti itu. Kok ya nda kasihan sama anak bayi ini. Le, le, kamu tuh bikin susah ibumu saja le.“

Dengan tertatih, ibu itu mencoba menyetop mobil yang lewat saat itu sambil berjalan berkilo-kilo meter. Dan sampai akhirnya.

“Lho, ibu mau kemana, sudah hampir gelap begini kok. Kasihan anaknya.“ Tanya sang pengemudi.

“Maaf, dek. Boleh ibu menumpang sampai kota”

“Oh tentu tentu. Masuk Bu.“ jawab sang pengemudi.

“Ternyata masih ada anak muda baik hati seperti adik ini ya.” Si bayi itu tertawa tawa ketika mereka menumpang dimobil itu.

“Ibu ini sebenarnya mau kemana toh?“ Tanya sang pengemudi.

“Saya mau ke Jogja, mau pulang.“

“Wah, kebetulan kalau begitu, saya juga mau kerumah mbah yang ada di Jogja. Kalau begitu saya antar ibu sampai rumah, kasihan bayi ne.“ ujar sang pengemudi.

“Tapi saya masih bingung, kenapa kok ya bisa ibu ini sendirian ditengah sawah tadi?“

“Oh, saya itu juga bingung dek, kok ya ada orang yang tega menurunkan saya, gara gara anak saya ini terus terusan nangis.“ jawab si Ibu

“Masa sih bu.  Wah, kalau itu kebangetan toh bu.“ timpal sang pengemudi.

**

Beberapa jam kemudian.

“Wah, ada apa ya kok nda biasa biasanya macet begini. Mas mas, aqua nya satu mas. Mas, ada apa toh mas, kok bisa macet begini ? panjang ya mas macet nya?“ tanya anak muda itu.

“Wah iya mas, katanya ada kecelakaan bis didepan sana.“ jawab penjual minuman.

“Oh…terimas kasih ya..mas. Ini bu, kalau ibu haus.“

“Oh, ini toh bisnya, ya Allah bisnya hangus terbakar, oh pantes. Tabrakan dengan truk besar.“ heran anak muda itu.

Prit prit prit, seorang polisi sedang mengatur jalannya arus lalu lintas yang macet itu.

“Pak ada yang selamat pak?“

“Kasihan dek, semua penumpang dan sopirnya tewas.“ jawab Polisi.

“Ya Allah, alhamdulillah. Le, kamu untung kamu nangis le.“ kata si Ibu

“Lha kok, ibu malah alhamdulillah wong ada musibah seperti ini kok.“ timpal sang pengemudi

“Dek, ini lho dek bis yang ibu naiki itu.“

“Ha, yang bener toh bu? Ya Allah. Kalau begitu anak ibu ini sudah menyelamatkan ibu lho. Itu adalah kasih sayang Allah bu, lewat anak ibu ini.”

“Ya..Allah, apa jadinya kalau saya dan anak saya masih menumpang bis itu ya…dek, alhamdulillah Alhamdulillah.”

~ Diambil dari kisah nyata ~

Sesungguhnya Allah itu maha mengetahui apa apa yang terbaik untuk hambanya. karena itu pandai pandailah mencari Hikmah dibalik sebuah musibah dan ingat lah selalu untuk bersabar. Karena Allah selalu bersama orang orang yang sabar.

***

Sumber: tulisan sahabat

Amalan Penolak Musibah



BERDOA

Hadits dari Imam at-Tirmidzi dan al-Hakim, diriwayatkan dari Abdullah ibn Umar, bahwa Rasulullah saw bersabda,  “Barangsiapa hatinya terbuka untuk berdoa, maka pintu-pintu rahmat akan dibukakan untuknya. Tidak ada permohonan yang lebih disenangi oleh Allah daripada permohonan orang yang meminta keselamatan. Sesungguhnya doa bermanfaat bagi sesuatu yang terjadi dan masih belum terjadi. Dan tidak ada yang bisa menolak takdir kecuali doa, maka berpeganglah, wahai hamba allah, pada doa”.

Sepantasnyalah bagi seorang mukmin untuk berdoa, karena ia akan mendatangkan kebaikan dan dapat menolak keburukan dan bencana. Dalam konteks ini ada banyak hadits yang menunujkan urgensi, efek dan pengaruh yang besar dari doa, dengan izin Allah. Disebutkan dalam sebuah hadits, sabda Rasulullah saw, “Persiapkanlah doa untuk menghadapi bencana.” (HR. ath-Thabrani).

Sesungguhnya doa adalah alat untuk menolak bencana dan mendatangkan rahmat, sebagaimana perisai adalah untuk menangkis senjata, dan air sebagai sebab untuk tumbuh dan keluarnya biji-bijian dari tanah. Sebagaimana perisai akan menolak senjata, maka keduanya saling membela diri, maka begitulah doa dan bencana. Dan bukan termasuk menyadari takdir orang yang kemudian tidak membawa senjata.

SEDEKAH

Sedekah dapat menolak bencana. Karena ada hadist Rasulullah saw yang diriwayatkan dari Ali, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sedekah dapat merubah takdir yang mubram ( yang pasti)”. (HR. Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, Imam Ahmad)

Asal hadits tersebut diatas adalah, “Silahturahmi dapat memperpanjang umur, dan sedekah dapat merubah takdir yang mubram”

TASBIH

Bacaan tasbih dapat mencegah terjadinya bencana, karena ada hadits yang diriwayatkan Ibn Ka’ab, dari Rasulullah saw, bahwa beliau bersabda, “Subhanallah dapat mencegah turunnya azab”.

Hal ini juga ditunjukan oleh firman Allah SWT, tentang Nabi Yunus as, “Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari kebangkitan,” (QS. ash-Shaffat : 143 – 144).

Tafsir dari QS. ash-Shaffat : 143 – 144 artinya, “Seandainya ia tidak termasuk orang-orang yang mengingat Allah, dan termasuk orang-orang yang menyucikan-Nya, meninggikan-Nya dan memohon ampun kepada-Nya, niscaya perut ikan tersebut akan menjadi kuburannya.”

Akan tetapi dengan bacaan tasbih, dzikir dan permohonan ampunnya telah membebaskannya dari kesedihan. Tasbihnya sebagaimana yang diceritakan sendiri oleh Allah SWT dalam firman-Nya, “Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap “Bahwa tidak Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim,” (QS. al-Anbiya’: 87).

Kemudian bahwa Allah setelah itu berfirman, “Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. al-Anbiya’: 88)

Dalam riwayat lain dari Sa’d ibn Abi Waqqash, Rasulullah saw bersabda, ” Maukah kalian kuberitahu suatu doa, yang jika kalian memanfaatkan itu ketika ditimpa kesedihan atau bencana, maka Allah akan menghilangkan kesedihan itu?”. Para sahabat menjawab: “Ya, wahai Rasulullah.” Rasul bersabda: “Yaitu, doa Dzun Nun : La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minazh zhalimin (tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk di antara orang-orang yang zhalim).” (HR. Imam Ahmad, at-Tirmidzi, dan al Hakim)

SHALAWAT UNTUK RASULULLAH SAW

Sebagian orang saleh berkata: Sesungguhnya diantara sebab terbesar yang dapat menolak takdir dan melenyapkan keruwetan hidup adalah banyak membaca shalawat untuk Rasulullah saw. Karena sesungguhnya banyak membaca shalawat untuk beliau termasuk perantara yang berguna untuk keamanan dari segala ketakutan dan mendapat penghargaan dari Allah dengan ketinggian derajat di Surga.

Adapun dalil yang menguatkan argumentasi ini adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ubay ibn Ka’b, bahwa seorang laki-laki telah mendedikasikan semua pahala shalawatnya untuk Rasulullah saw, maka Beliau berkata kepada orang tersebut, “Jika begitu, lenyaplah kesedihanmu, dan dosamu akan diampuni.” (HR. Imam Ahmad, ath-Thabrani)

Shalawat atas Nabi saw, adalah wajib menurut kesepakatan ulama (Ijma’), karena adanya firman Allah SWT, “Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya,” (QS. al-Ahzab : 56)

Shalawat dari Allah SWT adalah rahmat, Shalawat dari Malaikat adalah permohonan ampun. Sedangkan Shalawat dari orang mukmin adalah doa.

Rasulullah saw bersabda, “Setiap doa terhijab di bawah langit. Ketika Shalawat telah datang mengantarnya, maka doa itu akan naik.”

Dilain pihak, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa membaca shalawat untukku satu kali, Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali.”

TAQWA

Sesungguhnya taqwa adalah penyebab terkuat untuk mendatangkan kebaikan dan menolak bencana dengan tanpa disangka-sangka.

Allah SWT berfirman, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberikan rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya,” (QS. ath-Thalaq : 2-3).

Tafsir jalan keluar yaitu dari kesulitan dan kesedihan dunia dan akhirat Tafsir rizki dari arah yang tiada disangka-sangka yaitu memberi rizki dari arah yang tidak pernah terlintas dalam benaknya.

Taqwa adalah melaksanakan ketaatan-ketaatan dan menjauhi maksiat. Siapa yang telah melaksanakan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan, maka itulah hal terbesar yang dapat membukakan pintu kebahagian di dunia dan akhirat.

MEMPERBANYAK ISTIGFAR

Allah SWT berfirman, “Maka aku katakan kepada mereka : Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai,” (QS. Nuh : 10-12).

Diriwayatkan dari Ibn Abbas bahwa, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa menetapi istigfar, maka Dia akan memberikan jalan keluar dari setiap kesempitan, kebebasan dari setiap kesedihan, dan Dia akan memberinya rizki dari arah yang tidak diperhitungkannya,” (HR. Abu Daud, Ibn Majah dan Imam Ahmad).

Diceritakan bahwa seseorang telah mengadukan tentang paceklik dan kekeringan kepada Hasan al-Bashri, maka beliau menasehati, “Mohonlah ampun (beristigfarlah) kepada Allah.”

Orang lain mengadukan tentang kemiskinannya kepada beliau, beliau menasehati: “Mohonlah ampun (beristigfarlah) kepada Allah.”

Satunya lagi datang mengadukan tentang masalah kebunnya yang ditimpa kekeringan. Beliau menasehati: “Mohonlah ampun (beristigfarlah) kepada Allah.”

Yang lain lagi datang kepda beliau mengadukan masalah kemandulannya. Beliau tetap menasehati: “Mohonlah ampun (beristigfarlah) kepada Allah.”

Kemudian beliau membacakan ayat tersebut (QS. Nuh : 10-12), kepada mereka.

***

Disadur dari buku : Prilaku yang dapat memperpanjang umur dan merubah takdir, oleh Ahmad Baghlabah, hal 109 – 118.

Karena Mimpi Melihat Neraka



Pada zaman Rasulullah SAW jika para sahabat yang mulia bermimpi, biasanya mereka akan mengadukan dan menceritakannya kepada Baginda Rasul. Suatu malam, seorang sahabat nabi yang masih remaja bernama Abdullah bin Umar ra., pergi ke Masjid Nabawi. Dia membaca Al-Quran sampai kelelahan. Setelah cukup lama membaca Al-Quran, dia hendak tidur.

Seperti biasa, sebelum tidur dia menyucikan diri dengan cara berwudhu, baru kemudian merebahkan badan dan berdoa, “Bismika Allahumma ayha wa bismika amutu; ya Allah, dengan nama-Mu aku hidup dan dengan nama-Mu aku mati.”

Demikianlah, Baginda Rasul menuntunnya cara tidur yang baik. Sehingga, dalam tidur pun, malaikat masih mencatatnya sebagai orang yang tidak lalai. Dengan menyucikan diri, ruh orang yang tidur akan mendapatkan hikmah dan siraman doa para malaikat.

Sambil pelan-pelan memejamkan mata, Abdullah bin Umar terus bertasbih menyebut nama Allah hingga akhirnya terlelap. Di dalam tidurnya yang nyenyak, dia bermimpi.

Dalam mimpinya, dia berjumpa dengan dua malaikat. Tanpa berkata apa apa, dua malaikat itu memegang kedua tangannya dan membawanya ke neraka. Dalam mimpinya, neraka itu bagai sumur yang menyalakan api berkobar kobar. Luar biasa panasnya. Di dalam neraka itu, dia melihat orang-orang yang telah dikenalnya. Mereka terpanggang dan menanggung siksa yang tiada tara pedihnya.

Menyaksikan neraka yang mengerikan dan menakutkan itu, Abdullah bin Umar seketika berdoa, “A’udzubillahi minannaar. Aku berlindung kepada Allah dari api neraka.”

Setelah itu, Abdullah bertemu dengan malaikat lain. Malaikat itu berkata, “Kau belum terjaga dari api neraka!”

Pagi harinya, Abdullah bin Umar menangis mengingat mimpi yang dialaminya. Lalu, dia pergi ke rumah Hafshah binti Umar, istri Rasulullah SAW. Dia menceritakan perihal mimpinya itu dengan hati yang cemas.

Setelah itu, Hafsah menemui Baginda Nabi dan menceritakan mimpi saudara kandungnya itu pada beliau. Seketika itu, beliau bersabda, “Sebaik-baik lelaki adalah Abdullah bin Umar kalau dia mau melakukan shalat malam!”

Mendengar sabda Nabi itu, Hafshah bergembira. Dia langsung menemui adiknya, Abdullah bin Umar dan berkata,

 “Nabi mengatakan bahwa kau adalah sebaik-baik lelaki jika kau mau shalat malam. Dalam mimpimu itu, malaikat yang terakhir kau temui mengatakan bahwa kau belum terjaga dari api neraka. Itu karena kau tidak melakukan shalat tahajud. Jika kau ingin terselamatkan dari api neraka, dirikanlah salat tahajud setiap malam. Jangan kau sia-siakan waktu sepertiga malam; waktu di mana Allah SWT memanggil-manggil hamba-Nya; waktu ketika Allah mendengar doa hamba-Nya.”

Sejak itu, Abdullah bin Umar tidak pernah meninggalkan shalat tahajud sampai akhir hayatnya. Bahkan, kerap kali dia menghabiskan waktu malamnya untuk shalat dan menangis di hadapan Allah SWT. Setiap kali mengingat mimpinya itu, dia menangis. Dia berdoa kepada Allah agar diselamatkan dari api neraka.

Apalagi jika dia juga ingat sabda baginda Nabi SAW, “Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksanya pada hari kiamat adalah seseorang yang diletakkan pada kedua tepak kakinya bara api yang membuat otaknya mendidih. Dia merasa tidak ada orang lain yang lebih berat siksanya daripada dia. Padahal, sesungguhnya siksa yang ia terima adalah yang paling ringan di dalam neraka.“

Dia berusaha sekuat tenaga untuk beribadah kepada Allah, mencari ridha Allah, agar termasuk hamba hamba-Nya yang terhindar dari siksa neraka dan memperoleh kemenangan surga.

Akhirnya, dia bisa merasakan betapa nikmatnya shalat tahajud. Betapa agung keutamaan shalat tahajud. Tidak ada yang lebih indah dari saat-saat ia sujud dan menangis kepada Allah pada malam hari.

***

“Ketika Cinta Berbuah Surga” Habiburrahman El Shirazy

Kehidupan Setelah Mati



Tahapan Perjalanan Manusia Menuju Hari Kebangkitan di Akhirat

Setelah manusia mati akan mengalami tahapan sbb :

1. Alam Barzakh

Para salaf bersepakat tentang kebenaran adzab dan nikmat yang ada di alam kubur (barzakh) . Nikmat tersebut merupakan nikmat yang hakiki, begitu pula adzabnya, bukan sekedar bayangan atau perasaan sebagaimana diklaim oleh kebanyakan ahli bid’ah. Pertanyaan (fitnah) kubur itu berlaku terhadap ruh dan jasad manusia baik orang mukmin maupun kafir. Dalam sebuah hadits shahih disebutkan Rasulullah SAW selalu berlindung kepada Allah SWT dari siksa kubur. Rasulullah SAW menyebutkan sebagian dari pelaku maksiat yang akan mendapatkan adzab kubur, diantaranya mereka yang :

Suka mengadu domba
Suka berbuat ghulul
Berbuat kebohongan
Membaca Al Qur’an tetapi tidak melaksanakan apa yang diperintahkan dan yang dilarang dalam Al’Qur’an
Melakukan zina
Memakan riba
Belum membayar hutang setelah mati (orang yang berhutang akan tertahan tidak masuk surga karena hutangnya)
Tidak bersuci setelah buang air kecil, shg masih bernajis
Adapun yang dapat menyelamatkan seseorang dari siksa kubur adalah Shalat wajib, shaum, zakat, dan perbuatan baik berupa kejujuran, menyambung

silaturahim, segala perbuatan yang ma’ruf dan berbuat baik kepada manusia , juga berlindung kepada Allah SWT dari adzab kubur.

2. Peniupan Sangkakala

Sangkakala adalah terompet yang ditiup oleh malaikat Israfil yang menunggu kapan diperintahkan Allah SWT. Tiupan yang pertama akan mengejutkan manusia dan membinasakan mereka dengan kehendak Allah SWT, spt dijelaskan pada Al Qur’an :

 “Dan ditiuplah sangkakala maka matilah semua yang di langit dan di bumi, kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah SWT”(QS. Az Zumar :68 ).

Tiupan ini akan mengguncang seluruh alam dengan guncangan yang keras dan hebat sehingga merusak seluruh susunan alam yang sempurna ini. Ia akan membuat gunung menjadi rata, bintang bertabrakan, matahari akan digulung, lalu hilanglah cahaya seluruh benda-benda di alam semesta. Setelah I tu keadaan alam semesta kembali seperti awal penciptaannya.

Allah SWT menggambarkan kedahsyatan saat kehancuran tersebut sebagaimana firman-Nya : “ Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi adzab Allah itu sangat keras” (QS.Al Hajj:1-2).

Sedangkan pada tiupan sangkakala yang kedua adalah tiupan untuk membangkitkan seluruh manusia ; “Dan tiupan sangkakala (kedua), maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Rabb mereka”.(QS. Yaa Siin : 51).

Rasulullah SAW bersabda, “Kemudian ditiuplah sangkakala, dimana tidak seorangpun tersisa kecuali semuanya akan dibinasakan. Lalu Allah SWT menurunkan hujan seperti embun atau bayang-bayang, lalu tumbuhlah jasad manusia.Kemudian sangkakala yang kedua ditiup kembali, dan manusia pun bermunculan (bangkit) dan berdiri”.(HR. Muslim).

3.Hari Berbangkit

 “Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakannya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha menyaksikan segala sesuatu”. (QS. Al Mujadilah : 6).

4.Padang Mahsyar

 “(Yaitu) pada hari (ketika ) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit dan mereka semuanya di padang Mahsyar berkumpul menghadap ke hadirat Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”.(QS. Ibrahim:48).

Hasr adalah pengumpulan seluruh mahluk pada hari kiamat untuk dihisap dan diambil keputusannaya. Lamanya di Padang Mahsyar adalah satu hari yang berbanding 50.000 tahun di dunia. Allah berfirman:

 “Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Rabb dalam sehari yang kadarnya 50.000 tahun”.(QS. Al Maarij:4).

Karena amat lamanya hari itu, manusia merasa hidup mereka di dunia ini hanya seperti satu jam saja.

“Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) kecuali hanya sesaat saja di siang hari. “ (QS.Yunus:45) .

 “Dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa, bahwa mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat saja” (QS. ArRuum:55).

Adapun orang yang beriman merasakan lama pada hari itu seperti waktu antara dhuhur dan ashar saja. Subhanallah.

Keadaan orang kafir saat itu sebagaimana firman-Nya.”Orang kafir ingin seandainya ia dapat menebus dirinya dari adzab hari itu dengan anak-anaknya, dengan istri serta saudaranya, dan kaum familinya yang melindunginya ketika di dunia, dan orang-orang di atas bumi seluruhnya, kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya” .(QS.AlMa’ arij:11-14) .

5. Syafaat

Syafaat ini khusus hanya untuk umat Muslim, dengan syarat tidak berbuat syirik besar yang menyebabkan kepada kekafiran. Adapun bagi orang musyrik, kafir dan munafik, maka tidak ada syafaat bagi mereka.

Syafaat ini diberikan Rasulullah SAW kepada umat Muslim (dengan izin dari Allah SWT).

6. Hisab

Pada tahap (fase) ini, Allah SWT menunjukkan amal-amal yang mereka perbuat dan ucapan yang mereka lontarkan, serta segala yang terjadi dalam kehidupan dunia baik berupa keimanan, keistiqomahan atau kekafiran.

Setiap manusia berlutut di atas lutut mereka. “Dan kamu lihat tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya . Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Jatsiah:28).

Umat yang pertama kali dihisab adalah umat Muhammad SAW, kita umat yang terakhir tapi yang pertama dihisab. Yang pertama kali dihisab dari hak-hak Allah pada seorang hamba adalah Shalatnya, sedang yang pertama kali diadili diantara manusia adalah urusan darah.

Allah SWT mengatakan kepada orang kafir : “Dan kamu tidak melakukan suatu pekerjaan melainkan Kami menjadi saksi atasmu diwaktu kamu melakukannya” .(QS. Yunus:61). Seluruh anggota badan juga akan menjadi saksi.

Allah bertanya kepada hamba-Nya tentang apa yang telah ia kerjakan di dunia : “Maka demi Rabbmu, kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang akan mereke kerjakan dahulu”.(Al Hijr:92-93).

Seorang hamba akan ditanya tentang hal : umurnya, masa mudanya, hartanya dan amalnya dan akan ditanya tentang nikmat yang ia nikmati.

7. Pembagian catatan amal

Pada detik-detik terakhir hari perhitungan , setiap hamba akan diberi kitab (amal) nya yang mencakup lembaran-lembaran yang lengkap tentang amalan yang telah ia kerjakan di dunia.

Al Kitab di sini merupakan lembaran-lembaran yang berisi catatan amal yang ditulis oleh malaikat yang ditugaskan oleh Allah SWT.

Manusia yang baik amalnya selama di dunia, akan menerima catatan amal dari sebelah kanan. Sedangkan manusia yang jelek amalnya akan menerima catatan amal dari belakang dan sebelah kiri, spt pada firman Allah berikut ini:

 “Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan ia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka ia akan berteriak : “celakalah aku”, dan ia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)”,(QS. Al Insyiqaq:8-12) .

“Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata:”wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini), dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku.Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu.Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku.Telah hilang kekuasaanku dariku” (Allah berfirman): “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya”, kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala” .(QS. Al Haqqah:25 31).

8. Mizan

Mizan adalah apa yang Allah letakkan pada hari kiamat untuk menimbang amalan hamba-hamba- Nya. Allah berfirman : “Dan kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah seorang dirugikan walau sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan”. (QS. Al Anbiya:47)

Setelah tahapan Mizan ini, bagi yang kafir, dan mereka yang melakukan perbuatan syirik akan masuk neraka.

Sedangkan umat muslim lainnya, akan melalui tahap selanjutnya yaitu Telaga

9. Telaga

Umat Muhammad SAW akan mendatangi air pada telaga tsb. Barang siapa minum dari telaga tsb maka ia tidak akan haus selamanya. Setiap Nabi mempunyai telaga masing-masing. Telaga Rasulullah SAW lebih besar, lebih agung dan lebih luas dari yang lain, sebagaimana sabdanya :

“Sesungguhnya setiap Nabi mempunyai telaga dan sesungguhnya mereka berlomba untuk mendapatkan lebih banyak pengikutnya di antara mereka dan sesungguhnya Nabi Muhammad mngharapkan agar menjadikan pengikutnya yang lebih banyak” (HR. Bukhari Muslim).

Setelah Telaga, umat muslim akan ke tahap selanjutnya yaitu tahap Ujian Keimanan Seseorang. Perlu dicatat bahwa orang kafir dan orang yang berbuat syirik sudah masuk neraka (setelah tahap Mizan, seperti dijelaskan di atas).

10.Ujian Keimanan Seseorang

Selama di dunia, orang munafik terlihat seperti orang beriman karena mereka menampakkan keislamannya. Pada fase inilah kepalsuan iman mereka akan diketahui, diantaranya cahaya mereka redup. Mereka tidak mampu bersujud sebagaimana sujudnya orang mukmin. Saat digiring, orang-orang munafik ini merengek-rengek agar orang-orang mukmin menunggu dan menuntun jalannya.Karena saat itu benar-benar gelap dan tidak ada petunjuk kecuali cahaya yang ada pada tubuh mereka.

Allah SWT berfirman,”Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang beriman:”Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu”.Dikatakan (kepada mereka):”Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”.Lalu diadakan diantara mereka dinding yang mempunyai pintu.Di sebelah dalamnya ada rahmat da di sebelah luarnya dari situ ada siksa.(QS.Al hadid:13).

Setelah ini umat muslim yang lolos sampai tahap Ujian Keimanan Seseorang ini, akan melalui Shirat.

11. Shirat

Shirath adalah jmbatan yang dibentangkan di atas neraka jahannam, untuk diseberangi orang-orang mukmin menuju Jannah (Surga).

Beberapa Hadits tentang Shirath

Sesungguhnya rasulullah SAW pernah ditanya tentang Shirath, maka beliau berkata :

Tempat menggelincirkan, di atasnya ada besi penyambar dan pengait dan tumbuhan berduri yang besar, ia mempunyai duri yang membahayakan seperti yang ada di Najd yang disebut pohon Sud’an.(HR. Muslim)

 “Telah sampai kepadaku bahwasanya shirath itu lebih tipis dari rambut dan lebih tajam dari pedang”. (HR. Muslim)

 “Ada yang melewati shirath laksana kejapan mata dan ada yang seperti kilat, ada yang seperti tiupan angina, ada yang terbang seperti burung dan ada yang menyerupai orang yang mengendarai kuda, ada yang selamat seratus persen, ada yang lecet-lecet dan ada juga yang ditenggelamkan di neraka jahannam”. (HR. Bukhari Muslim)

Yang paling pertama menyebarangi shirath adalah Nabi Muhammad SAW dan para pemimpin umat beliau.Beliau bersabda : “Aku dan umatku yang paling pertama yang diperbolehkan melewati shirath dan ketika itu tidak ada seorangpun yang bicara, kecuali Rasul dan Rasul berdo’a ya Allah selamatkanlah, selamatkanlah.” (HRBukhari) .

Bagi umat muslim yang berhasil melalui shirath tersebut, akan ke tahap selanjutnya jembatan

12. Jembatan

Jembatan disini, bukan shirath yang letaknya di atas neraka jahannam. Jembatan ini dibentangkan setelah orang mukmin berhasil melewati shirath yang berada di atas neraka jahannam.

Rasulullah SAW bersabda : “Seorang mukmin akan dibebaskan dari api neraka, lalu mereka diberhentikan di atas jembatan antara Jannah(surga) dan neraka, mereka akan saling diqhisash antata satu sama lainnya atas kezhaliman mereka di dunia.Setelah mereka bersih dan terbebas dari segalanya, barulah mereka diizinkan masuk Jannah. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ditangan-Nya, seorang diantara kalian lebih mengenal tempat tinggalnya di jannah daripada tempat tinggalnya di dunia”.(HR. Bukhari).

Setelah melewati jembatan ini barulah orang mukmin masuk Surga.

***

Kesimpulan :

Setelah penjelasan di atas tinggal kita menunggu…, apa yang akan kita alami di hari akhir nanti…, tentunya sesuai dengan apa yang kita lakukan di dunia ini…. Semoga Alah SWT memberi kekuatan dan selalu membimbing kita untuk tetap istiqomah di jalan-Nya sehingga dapat mencapai surga-Nya dan dijauhkan dari siksa neraka-Mu ya Allah…….karena kami sangat takut akan siksa neraka-Mu ya Allah……

***

Menjemput Maut



Alkisah menurut shirah, pernah Nabi Ibrahim as berdialog dengan Malaikat Maut soal sakratulmaut. Sahabat Allah itu bertanya, “Dapatkah engkau memperlihatkan rupamu saat engkau mencabut nyawa manusia yang gemar berbuat dosa?”

Malaikat menjawab pendek: “Engkau tak akan sanggup.”

“Aku pasti sanggup,” tegas beliau.

“Baiklah, berpalinglah dariku,” pinta si Malaikat.

Saat Nabi Ibrahim as berpaling kembali, di hadapannya telah berdiri sesosok makhluk berkulit legam dengan rambut berdiri, berbau busuk, dan berpakaian serba hitam. Dari hidung dan mulutnya tersembur jilatan api. Seketika itu pula Nabi Ibrahim as jatuh pingsan!

Ketika tersadar kembali, beliau pun berkata kepada Malaikat Maut, “Wahai Malaikat Maut, seandainya para pendosa itu tak menghadapi sesuatu yang lain dari wajahmu di saat kematiannya, niscaya cukuplah itu menjadi hukuman untuknya.”

Di kesempatan lain, kisah yang diriwayatkan oleh ‘Ikrimah dari Ibn ‘Abbas ini, menceritakan Nabi Ibrahim as meminta Malaikat Maut mengubah wujudnya saat mencabut nyawa orang-orang beriman. Dengan mengajukan syarat yang sama kepada Ibrahim as, Malaikat Maut pun mengubah wujudnya. Maka di hadapan Nabi yang telah membalikkan badannya kembali, telah berdiri seorang pemuda tampan, gagah, berpakaian indah dan menyebar aroma wewangian yang sangat harum.

“Seandainya orang beriman melihat rupamu di saat kematiannya, niscaya cukuplah itu sebagai imbalan amal baiknya,” kata Nabi Ibrahim as.

***

Disampaikan oleh: Agussyafii

Jumat, 11 Februari 2011

Tanda-tanda Husnul Khatimah


Setiap hamba Allah yang berjalan diatas manhajnya yang lurus yang berusaha meneladani kehidupan Rasulullah dan para sahabatnya ajmain tentu sangat mengharapkan akhir kesudahan yang baik. Allah telah menetapkan tanda-tandanya dintara tanda-tanda husnul khatimah itu adalah:

1. Mengucapkan kalimah syahadat ketika wafatRasulullah bersabda :”barangsiapa yang pada akhir kalimatnya mengucapkan “La ilaaha illallah” maka ia dimasukkan kedalam surga” (HR. Hakim)

2. Ketika wafat dahinya berkeringatIni berdasarkan hadits dari Buraidah Ibnul Khasib adalah Buraidah dahulu ketika di Khurasan, menengok saudaranya yang tengah sakit, namun didapatinya ia telah wafat, dan terlihat pada jidatnya berkeringat, kemudian ia berkata,”Allahu Akbar, sungguh aku telah mendengar Rasulullah bersabda: Matinya seorang mukmin adalah dengan berkeringat dahinya” (HR. Ahmad, AN-Nasai, at-Tirmidzi, Ibnu MAjah, Ibnu Hibban, Al-Hakim dan ath-Thayalusi dari Abdullah bin Mas’ud)

3. Wafat pada malam jum’atHal ini berdasarkan sabda Rasulullah “Tidaklah seorang muslim yang wafat pada hari jum’at atau pada malam jum’at kecuali pastilah Allah menghindarkannya dari siksa kubur” (HR. Ahmad)

4. Mati syahid dalam medan perangMengenai hal ini Allah berfirman: “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati, bahkan mereka hidup disisi Tuhan-Nya dengan mendapat rezeki, mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikanNya kepada mereka dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka bahwa tidak ada kekawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahal orang-orang yang beriman” (Ali Imraan:169-171) Adapun hadits-hadits Rasulullah shalallahu alaihi wassalam yang berkenaan dengan masalah ini sangat banyak dijumpai diantaranya adalah sebagai berikut:Rasulullah bersabda: “Bagi orang yang mati syahid ada 6 keistimewaan yaitu: diampuni dosanya sejak mulai pertama darahnya mengucur, melihat tempatnya didalam surga, dilindungi dari adzab kubur, dan terjamin keamanannya dari malapetaka besar, merasakan kemanisan iman, dikawinkan dengan bidadari, dan diperkenankan memeberikan syafa’at bagi 70 orang kerabatnya” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)Seorang sahabat Rasulullah berkata: “Ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan berkata: Wahai Rasulullah mengapa orang mukmin mengalami fitnah dikuburan mereka kecuali yang mati syahid? beliau menjawab: Cukuplah ia menghadapi gemerlapnya pedang diatas kepalanya sebagai fitnah” (HR. an-Nasai)   catatan:Dapatlah memperoleh mati syahid asalkan permintaannya benar-benar muncul dari lubuk hati dan penuh dengan keikhlasan, kendatipu ia tidak mendapatkan kesempatan mati syahid dalam peperangan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah: “Barang siapa yang memohon mati syahid kepada Allah dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan menyampaikannya derajat para syuhada sekalipun ia mati diatas ranjangnya”( HR. Imam Muslim dan al-Baihaqi)

5. Mati dalam peperangan fisabilillah Ada dua hadist Rasulullah shalallahu alaihi wassalam:Rasulullah bersabda:”Apa yang kalian katagorikan sebagai orang yang mati syahid diantara kalian? Mereka menjawab :Wahai Rasulullah yang kami anggap sebagai orang yang mati syahid adalah siapa sja yang mati terbunuh dijalan Allah. Beliau bersabda: Kalau begitu ummatku yang mati syahid sangatlah sedikit. Para sahabat kembali bertanya: Kalau begitu siapa sajakah dari mereka yang mati syahid wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Barangsiapa yang terbunuh dijalan Allah, yang mati sedang berjuang dijalan Allah, dan yang mati karena penyakit kolera, yang mati karena penyakit perut (yakni disebabkan penyakit yang menyerang perut seperti busung lapar, diare atau sejenisnya) maka dialah syahid dan orang-orang yang mati tenggelam dialah syahid “(HR. Muslim, Ahmad, dan al-Baihaqi)Rasulullah bersabda: Siapa saja yang keluar dijalan Allah lalu mati atau terbunuh maka ia adalah mati syahid. Atau yang dibanting oleh kuda atau untanya lalu mati atau digigit binatang beracun atau mati diatas ranjangnya dengan kematian apapun yang dikehendaki Allah, maka ia pun syahid dan baginya surga” (HR. Abu Daud,al-Hakim, dan al-Baihaqi)

6. Mati disebabkan penyakit kolera.Tentang ini banyak hadits Rasulullah meriwayatkannya diantaranya sebagai berikut:Dari Hafshah binti Sirin bahwa Anas bin MAlik berkata:”Bagaimana Yahya bin Umrah mati? Aku jawab: “Karena terserang penyakit kolera” ia berkata:Rasulullah telah bersabda: penyakit kolera adalah penyebab mati syahid bagi setiap muslim” (HR. Bukhari, ath-Thayalusi dan Ahmad)Aisyah bertanya kepada Rasulullah tentang penyakit kolera. Lalu beliau menjawab;”Adalah dahulunya penyakit kolera merupakan adzab yang Allah timpakan kepada siapa saja yang dikehendaki- Nya kemudia Dia jadikan sebagai rahmat bagi kaum mukmin. Maka tidaklah seorang hamba yang dilanda wabah kolera lalu ia menetap dikampungnya dengan penuh kesabaran dan mengetahui bahwa tidak akan menimpanya kecuali apa yang Allah tetapkan baginya pahala orang yang mati syahid”(HR. Bukhari, al-Baihaqi dan Ahmad)

7. Mati karena tenggelam.

8. Mati karena tertimpa reruntuhan/tanah longsor.Dalil dari 2 point diatas adalah berdasarkan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wassalam: “Para syuhada itu ada lima; orang yang mati karena wabah kolera, karena sakit perut, tenggelam, tertimpa reruntuhan bangunan, dan syahid berperang dijalan Allah” (HR.Imam Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, dan Ahmad)

9. Perempuan yang meninggal karena melahirkan.Ini berdasarkan hadits yang diberitakan dari Ubadah ibnush Shamit radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam menjenguk Abdullah bin Rawahah yang tidak bisa beranjak dari pembaringannya, kemudian beliau bertanya : “Tahukah kalian siapa syuhada dari ummatku? orang-orang yang ada menjawab:Muslim yang mati terbunuh” beliau bersabda:Kalau hanya itu para syuhada dari ummatku hanya sedikit. Muslim yang mati terbunuh adalah syahid, dan mati karena penyakit kolera adalah syahid, begitu pula perempuan yang mati karena bersalin adalah syahid (anaknya yang akan menariknya dengan tali pusarnya kesurga)” (HR. Ahmad, Darimi, dan ath-Thayalusi) menurut Imam Ahmad ada periwayatan seperti itu melalui jalur sanad lain dalam Musnad-nya.

10. Mati terbakar.

11. Mati karena penyakit busung perut.Tentang kedua hal ini banyak sekali riwayat, dan yang paling masyhur adalah dari Jabir bin Atik secara marfu’: “Para syuhada ada 7: mati terbunuh dijalan Allah, karena penyakit kolera adalah syahid,mati tenggelam adalah syahid,karena busung lapar adalah syahid, karena penyakit perut keracunan adalah syahid,karena terbakar adalah syahid, dan yang mati karena tertimpa reruntuhan(bangunan atau tanah longsor) adalah syahid, serta wanita yang mati pada saat mengandung adalah syahid” (HR. Imam Malik, Abu Daud, An-Nasa’i, Ibnu MAjah dan Ahmad)

12. Mati karena penyakit Tubercolosis (TBC).Ini berdasarakan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wassalam: “Mati dijalan Allah adalah syahid, dan perempuan yang mati ketika tengah melahirkan adalah syahid, mati karena terbakar adalah syahid, mati karena tenggelam adalah syahid, mati karena penyakit TBC adalah syahid, dan mati karena penyakit perut adalah syahid”(HR.Thabrani 13. mati karena mempertahankan harta dari perampok.Dalam hal ini banyak sekali haditsnya, diantaranya sebagai berikut:“Barangsiapa yang mati karena mempertahankan hartanya (dalam riwayat lain; Barang siapa menuntut hartanya yang dirampas lalu ia terbunuh) adalah syahid” (HR. Bukhari, Muslim, Abu DAud, an-Nasa’i, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)Abu Hurairah berkata, seorang laki-laki datang kepada Nabi seraya berkata: “Ya, Rasulullah, beritahukanlah kepadaku bagaimana bila ada seseorang yang datang dan akan merampas hartaku” beliau menjawab: ‘jangan engkau berikan’ Ia bertanya; bagaimana kalau ia membunuhku? beliau menjawab; Engkau mati syahid. Orang itu bertanya kembali,Bagaimana kalau aku yang membunuhnya? beliau menjawab; ia masuk neraka”(HR. Imam Muslim, an-Nasa’i dan Ahmad)Mukhariq berkata, seorang laki-laki datang kepada Nabi dan berkata : “ada seorang laki-laki hendak merampas hartaku, beliau bersabda: Ingatkan dia akan Allah. Orang itu bertanya: bila tetap saja tak mau berdzikir? beliau menjawab: Mintalah tolong orang disekitarmu dalam mengatasinya. Orang itu bertanya lagi : Bila tidak saya dapati disekitarku seorangpun? Beliau menjawab:Serahkan dan minta tolonglah kepada penguasa.Ia bertanya: Bila penguasa itu jauh tempatnya dariku? beliau bersabda: berkelahilah dalam membela hartamu hingga kau mati dan menjadi syahid atau mencegah hartamu dirampas” (HR. An-Nasa’i, dan Ahmad)

14. Mati dalam membela agama dan jiwa.Dalam hal ini ada dua riwayat hadits sebagai berikut:“Barangsiapa mati terbunuh dalam membela hartanya maka ia mati syahid, dan siapa saja yang mati dalam membela keluarganya maka ia mati syahid, dan barang siapa yang mati dlam rangka membela agama(keyakinannya) maka ia mati syahid, dan siapa saja yang mati mempertahankan darah (jiwanya) maka ia syahid” (HR. Abu Daud, an-Nasa’i, at-tirmidzi, dan Ahmad)“Barangsiapa mati dalam rangka menuntut haknya maka ia mati syahid” (HR. An-Nasa’i)

15. Mati dalam berjaga-jaga (waspada) dijalan Allah.Dalam hal ini ada dua hadits dari Rasulullah shalallahu alaihi wasslam :“Berjaga-jaga (waspada) dijalan Allah sehari semalam adalah lebih baik daripada berpuasa selama sebulan dengan mendirikan (shalat) pada malam harinya. Apabila ia mati, maka mengalirkan pahala amalannya yang dahulu dilakukannya dan juga rezekinya serta aman dari siksa kubur(fitnah kubur)” (HR. Imam Muslim, an-Nasa’i, Tirmidzi, Hakim dan Ahmad)“setiap orang yang meninggal akan disudahi amalannya kecuali orang yang mati dalam berjaga-jaga dijalan Alllah, maka amalannya dikembangkan hingga tiba hari kiamat nanti serta terjaga dari fitnah kubur” (HR. ABu Daud, Tirmidzi, Hakim, dan Ahmad)

16. Orang yang meninggal pada saat mengerjakan amal shaleh.Ini berdasarkan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wassalam:“Barangsiapa mengucapkan ‘laa ilaaha illallah’ dengan berharap akan keridhaan Allah, dan diakhir hidupnya mengucapkannya, maka ia akan masuk surga. Dan, barangsiapa yang berpuasa sehari mengharap keridhaan Allah kemudian mengakhiri hidupnya dengannya (puasa), maka ia masuk surga. Dan barangsiapa bersedekah mencari ridha Allah dan menyudahinya dengan (sedekah) maka ia akan masuk surga” (HR. Ahmad)Mudah-mudahan Allah menjadikan akhir hidup kita husnul khatimah dan memasukkannya dalam golongan orang-orang yang mati syahid amin

Cari Blog Ini