Asysyam

“Sesungguhnya berbahagialah orang yang mensuciikan jiwanya, dan sungguh merugilah orang yang mengotori jiwanya”

Selasa, 03 Mei 2011

Hakikat Ilmu

Syeikh Abul Hasan Asy-Asyadzily ra.
Aku melihat seakan-akan diriku berada di hadapan Allah  Azza  wa-Jalla,  lalu Dia berfirman: “Janganlah engkau  merasa  aman  dari makarku
sedikitpun walaupun Aku menjaminmu. Sebab ilmu-Ku  tidak bisa dijangkau oleh orang yang menjangkau. Demikian pula kondisi mereka. Janganlah engkau menoleh pada ilmu, amal dan pertolongan. Jadikan dirimu bersama-Ku dan bagi-Ku dalam seluruh (ilmu, amal,  pertolongan) selamanya.”
Janganlah  engkau  sebarkan ilmumu agar  engkau  dibenarkan  oleh manusia. Namun sebarkanlah ilmumu agar Allah membenarkan  dirimu, walaupun ada sebab yang mencercamu. Maka sebab yang ada  diantara dirimu dan Allah dimana datangnya dari arah perintah-Nya kepadamu itu lebih baik bagimu daripada sebab yang ada diantara dirimu dan manusia,  dari  sisi, dimana Allah melarangmu.
Suatu  sebab  yang engkau  bisa  kembali  kepada Allah lebih baik  dari  sebab  yang memutuskan  dirimu dengan Allah. Untuk tujuan itulah  Allah  mengaitkan dirimu dengan pahala dan siksa. Sebab tak ada yang  diharapkan dan ditakuti kecuali dari sisi Allah. Allah cukup  sebagai Pendamping  dan Pembenar.
Hendaknya engkau selalu  bersama  Allah sebagai  orang  yang alim dan pengajar.  Cukuplah  Allah  sebagai Penunjuk,  Penolong  dan  Kekasih. Yakni  Penunjuk  yang  memberi petunjuk padamu, dan menunjukkan bersamamu dan kepadamu; Penolong yang  menolongmu,  menolong bersamamu dan  tidak  menolong  yang membuatmu  sengsara; sebagai Kekasih yang mengasihimu,  mengasihi bersamamu dan tidak mengasihi yang mencelakakanmu.
Ilmu-ilmu  ini mengandung beberapa firasat dan  penjelasan  dalam obyek-obyek  jiwa,  dalam bisikan-bisikan,  cobaan  dan  kehendak jiwa.  Hati, harus melakukan analisa, penentraman dan pendasaran menurut jalan tauhid dan syariat, dengan kejernihan mahabbah  dan keikhlasan demi agama dan sunnah.
Setelah itu, mereka  mendapatkan  tambahan-tambahan  dalam tahap-tahap  yaqin:  berupa  zuhud, sabar, syukur, harapan, ketakutan, tawakkal, ridha dan sebagainya, dari  tahap-tahap  yaqin. Inilah jalan para  penempuh  amal  bagi Allah.
Sedangkan  Ahlullah  dan kalangan khusus-Nya,  adalah  kaum  yang ditarik dari keburukan dan prinsip-prinsipnya. Mereka  diperamalkan untuk kebajikan dan cabang-cabangnya. Mereka dicintakan untuk khalwat, dan dibukakan pintu jalan munajat. Allah  memperkenalkan diri pada mereka, sehingga merekapun kenal Dia. Allah  memberikan kecintaan kepada  mereka sehingga  mereka  mencintai-Nya.
Allah menunjukkan  jalan dan mereka menempuh jalan itu.  Mereka  selalu bersama-Nya dan bagi-Nya. Mereka tidak dibiarkan untuk yang lain-Nya,  dan  mereka tidak ditutupi dari-Nya.  Namun  justru  mereka tertutup —bersama-Nya— dari selain-Nya. Mereka tidak mengenal selain  Dia dan tidak pula mencintai selain Dia.  ”Mereka  adalah orang-orang  yang  oleh Allah diberi petunjuk dan  mereka  itulah orang-orang yang memiliki hati nurani.”


Aku pernah melihat Nabi saw. bersama Nuh as, dan seorang Malaikat ada  diantara beliau berdua. Lalu Nabi saw, bersabda, ”Seandainya  Nuh mengetahui  kaumnya  sebagaimana  Muhammad  —‘alaihis  shalatu wassalam— mengetahui kaumnya, tentu Nuh tidak akan berdoa  atas kaumnya,  dengan  ucapannya, “Tuhanku, janganlah  engkau  biarkan seorang pun diantara orang-orang kafir itu tinggal di atas  bumi. Sesungguhnya  jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya  mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain  anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir.” (Q.s.  Nuh: 26-27). Inilah posisi ilmu hakiki yang tidak bisa dirubah.

Seandainya  Muhammad  —‘alaihis shalatu  wasssalam—  mengetahui kaumnya sebagaimana pengetahuan Nuh —‘alaihis salam— ia tidak akan  menangguhkan sekejap mata pun, tetapi ia  mengetahui  bahwa dalam  tulang punggung mereka ada orang yang  beriman  kepada-Nya dan menyiapkan (diri) untuk bertemu Tuhan-Nya, — lalu Nabi  saw. bersabda, — “Ya Allah ampunilah dosa kaumku, sebab mereka  sesungguhnya tidak mengetahui.”
Semua di dasarkan  pengetahuan  dan bukti  dari Allah. Maka setiap masing-masing harus  menetapi  apa yang  ada  dari do’a. Kemudian Nabi  saw.  bersabda,  “Bukankah demikian?” Mereka berdua menjawab, “Benar.” Lalu Nabi saw.  bersabda,  ”Barangsiapa memerangi diri sendiri, hawa  nafsunya,  syetan dan syahwatnya serta dunianya, lantas ia kalah, berarti ia tertolong dan diberi pahala. Dan barangsiapa memerangi semua itu, lalu ia kalah ia tergolong diampuni dan diterima syukurnya,  sepanjang tidak terus menerus berbuat dosa, atau rela pada aib, atau  gugur dalam rasa ketakutan dalam batin. Barang siapa berada dalam salah satu tiga kategori di atas dan ia tahu bahwa ia punya Tuhan  Yang Maha  Pengampun dosa dan menyiksa akibat dosa itu, serta ia  iman terhadap  seluruh  qadar  dan takut dari  dosanya,  merasa  takut kepada  Tuhannya, maka rahmat akan datang lebih cepat  kepadanya dibanding  tetes  hujan  yang jatuh ke bumi-Nya.” Dan  Allah  pun berfirman,  ”Yang paling Kukasihi pada hamba-Ku, manakala ia  usai menghadap-Ku, dan paling agung di sisi-Ku jika hamba-Ku menghadap pada-Ku.”
Sementara orang yang hancur adalah orang yang bergembira  dengan  maksiatnya manakala diberikan  peluang padanya,  dan susah  gelisah  manakala ia tidak bermaksiat.  Ia  merasa  bangga dengan tindakan maksiat itu, dan tidak mau menutupinya. Maka kita mohon  perlindungan  dari  Allah, dan ia  berada  dalam  kehendak Allah.
Hakikat ilmu itu disebut baik manakala ia tenteram dalam  kebajikan  ilmu. Sedangkan hakikat ilmu itu disebut buruk manakala, ia keluar dari ilmu itu. Ilmu  itu bagi hati ibarat dirham-dirham dan dinar-dinar di  tangan. Bisa bermanfaat bagimu bisa pula membahayakanmu.
Ada tujuh kategori, hendaknya hatimu engkau hindarkan dari  tujuh perkara  itu: 
1) Tak ada ilmu dan,
2) tak ada amal, 
3)  tak ada keistmewaan, 
4) dan tak ada titipan ruhani,
5) tak ada tempat-tempat  singgah jiwa,
6) dan tak ada bisikan-bisikan  ruhani, 
7) tak ada  hakikat-hakikat yang bisa  menyelamatakan  dirimu  dari takdir Allah swt.
Ilmu yang  hakiki  adalah ilmu yang tidak dicampuri oleh kontradiksi dan bukti-bukti yang menafikan contoh dan keraguan, sebagaimana Ilmu Rasul saw,  Ilmu orang yang  benar, serta ilmu Wali. Siapa pun yang memasuki medan tersebut ibaratnya seperti orang yang tenggelam dalam samudera, kemudian ia ditelan oleh ombak, lalu kontradiksi manakah yang muncul (dalam situasi seperti itu) yang bisa didapatkan, dicampurkan, didengar atau dilihat. Sedangkan siapa yang tidak memasuki medan tersebut ia sangat membutuhkan ayat “Tiada satu pun yang menyamai-Nya”.
Jika engkau bermajlis dengan para Ulama, janganlah bicara dengan mereka kecuali dengan ilmu-ilmu Naqliyah dan riwayat hadits yang shahih. Bisa jadi engkau memberi manfaat terhadap mereka atau sebaliknya engkau bisa meraih manfaat dari mereka. Itulah keuntungan terbesar dari mereka.
Namun, jika engkau bermajlis dengan para ahli ibadah dan ahli zuhud, maka duduklah dengan mereka di atas tikar zuhud dan ibadah. Itu membuat mereka mudah memberikan solusi atas lintasan ketetapannya dan membuat mudah apa yang menjadi kesulitannya, serta rasa kema’rifatan mereka sepanjang mereka belum merasakannya.
Apabila engkau bermajlis dengan kaum Shiddiqin, maka pisahkan apa yang engkau ketahui, maka engkau akan mendapatkan ilmu yang terpendam.

Tidak ada komentar:

Cari Blog Ini