Asysyam

“Sesungguhnya berbahagialah orang yang mensuciikan jiwanya, dan sungguh merugilah orang yang mengotori jiwanya”

Jumat, 20 Mei 2011

Menjaga Kesucian Diri


Bersikap layaknya orang yang mampu menahan rasa marah dan kesal bukan hal yang mudah. Sebab, setiap orang memiliki amarah sehingga mudah sekali terjerat rasa kesal dan marah. Untuk dapat meraih kesucian diri, anda dapat memulainya dari menjaga hati. Sebab, hati adalah sumber untuk merasakan segala macam yang dipikirkan sehingga dapat mejadi pikiran negatif maupun positif.

Karena bisa saja ketika seseorang melihat keberhasilan orang lain wajahnya tampak turut bergembira, tapi di hatinya terbesit rasa dengki. Saat itu kita telah membukakan setan pintu hati untuk digoda agar lupa kewajiban sebagai hamba Allah. Seluruh pikiran terbelenggu untuk selalu melihat orang dengan segala nikmat dan bencana. Ketika orang lain mendapat nikmat, hatinya menjadi gelisah, dan ketika mendapat bencana hatinya gembira di atas penderitaan orang lain. Orang yang dapat menjaga hatinya dari hal-hal demikian, sesungguhnya adalah orang yang berintung. Allah berfirman, “Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan diri. Dan Sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (Asy-Syams: 9 - 10).

Hati adalah bagian terpenting dalam tubuh manusia yang harus dijaga. Bila hati tak terjaga, maka akan menimbulkan penyakit. Bila hati telah terkena penyakit, maka kesucian hati akan hilang. Bila kesucian hati telah hilang, maka akan jauhlah manusia itu dari Rahmat Allah. Namun, bila hati terawat kesuciannya, maka manusia tersebut akan terus menerus menebarkan kebaikan kepada sesama. Tetapi, bila hati tak terawat bahkan berkarat, maka akan terlihatlah kelakuan orang itu seperti binatang yang hawa nafsunya lebih mendominasi hidupnya.

Kesucian hati sama artinya dengan terhindar dari segala macam penyakit hati, seperti malas, iri, dengki, keras kepala, dan egois. Mencapai kesucian hati, bukanlah hal yang mudah. Ya, terkadang beberapa orang, membicarakan kejelekan orang lain secara tidak sengaja karena kebiasaan.

Menilai kesucian hati memang dapat dilakukan diri sendiri dengan melatih diri untuk berbuat baik setiap harinya. Misalnya, dengan menyadari segala macam bentuk kesalahan yang dilakukan, dapat membuka pikiran untuk menilai diri sendiri sehingga dapat perlahan-lahan merubah sikap yang tidak baik.

Memang memperoleh kesucian hati bukanlah pekerjaan yang mudah. Hati manusia bagaikan gelombang. Selalu berubah-ubah sesuai kekuatan ketakwaan. Manusia harus melatih hati dengan amal yang mulia. Dalam istilah ilmu tasawuf dikenal dengan istilah mujahadah, dan dalam menjalaninya harus melakukan secara sungguh-sungguh. Dalam hal ini untuk menjaganya diperlukan keluhuruan budi dan akhlaqul karimah.

Sebenarnya ada cara mudah untuk merawat hati. Sering-seringlah berkumpul dengan orang-orang yang shaleh, orang-orang yang selalu menjalankan ajaran agamanya dengan baik. Membaca Kitab suci al-Quran dan maknanya, rutin melaksanakan shalat malam atau tahajud, memperbanyak berpuasa, bersedekah kepada sesama yang memerlukannya, dan selalu berzikir kepada Allah, pemilik langit dan bumi.

Dalam tindak praktiknya, seperti saat berada di kantor, berkumpul dengan rekan kerja hindari pembicaraan yang tidak baik seperti membicarakan kejelekan orang lain, ataupun bersenda gurau yang menyakti hati lawan bicara. Menyadari hala-hal kecil sperti itu dapat melatih diri untuk melatih kesucian hati. Sebab, pelan-pelan anda akan belajar untuk menjaga mulut dan pikiran serta hati untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat menyakiti orang-orang.

Demikian pula di rumah tetap menjaga kesucian hati. Rumah sebagai tempat berkumpul dan bercengkerama bersama keluarga, rumah tenteu memiliki peran yang penting. Oleh sebab itu, rumah selalu diisi dengan berbagai macam hal yang menyenangkan. Untuk menjaga hati agar tetap harmonis dan religius, biasanya banyak keluarga mengalunkan musik religi sebagai pengantar momen berbuka puasa. Alunan nada musik religi akan semakin mengena di hati jika keluar dari audio yang berkualitas.

Berikut ini kisah yang dapat dipetik tentang bagaimana peran hati dalam menentukan nasib manusia di akhirat kelak. Suatu hari Rasulullah berkata kepada sahabatnya, kalau kalian ingin tahu calon penghuni surga, lihatlah nanti seorang hamba Allah yang duduk di pojok masjid. Para sahabat dengan rasa penasaran ingin melihat sosok yang digambarkan Rasulullah. Setelah tiga hari diamati, ternyata orang tersebut hanya orang tua biasa tanpa memperlihatkan kelebihan khusus.

Karena penasaran, seorang sahabat sengaja bermalam di rumah Pak Tua itu untuk melihat langsung amalannya yang membuatnya menjadi calon penghuni surga. Setelah diamati, tidak ditemukan sebuah amalan pun yang melebihi amalan sahabat Rasulullah yang lain.

Akhirnya sahabat itu memberanikan diri bertanya, Amalan apa yang menyebabkan engkau dikatakan Rasulullah calon penghuni surga? Pak Tua itu menjawab, “Tidak ada wahai sahabatku, tapi mungkin ada dua hal yang selalu saya lakukan sebelum saya tidur: pertama, sebelum berbaring tidur saya membuang rasa dendam kepada manusia yang menyakiti saya di siang hari; kedua, saya akan memaafkan kesalahan orang lain kepada saya sebelum dia sempat meminta maaf.”

Akhirnya sahabat tersebut yakin bahwa inilah yang dimaksud Rasulullah dengan perbuatan yang membuat seorang manusia masuk surga. Hati yang bersih telah menjadikan diri Pak Tua itu mempunyai kesucian diri. Karena pada hakikatnya, seluruh ibadah dan kewajiban serta larangan Allah terhadap manusia tujuan akhirnya satu, yaitu menjadi manusia yang memiliki hati yang bersih. Dari hati yang bersihlah lahir sifat mulia dan terpuji yang sangat berguna untuk membentuk suatu masyarakat yang harmonis dan aman.

Tidak ada komentar:

Cari Blog Ini