Asysyam

“Sesungguhnya berbahagialah orang yang mensuciikan jiwanya, dan sungguh merugilah orang yang mengotori jiwanya”

Senin, 16 Januari 2012

BAHASA RAHASIA II: PARA PEMBANGUN

Lepaskanlah gagasan-gagasan baku dan praduga-praduga. Hadapilah apa yang menjadi nasibmu.
(Syekh Abu Said ibnu Abi Khair)

"Sufisme," kata Sir Richard Burton adalah, "induk freemasonry Timur."1 Apakah Burton seorang freemason atau bukan, tidak diragukan sama sekali bahwa ia adalah Sufi.

freemasonry sangat dihargai oleh orang-orang tertentu di berbagai negara, namun juga dicerca dan dianiaya, dikaitkan dengan politik, direduksi sebagai informalitas relatif dari kesenangan kaum bisnismen yang sungguh-sungguh, dirasuki Rosicrucianisme [aliran atau kelompok (yang dianggap) "sempalan" dalam agama Kristen], diserang sebagai orang Yahudi yang licik oleh kaum Nazi. Tidaklah layak menganggap seorang freemason sebagai suatu representasi umum dari bidang keahlian membuat simbol-simbol atau kepercayaan apa pun -- sebenarnya, lebih pada kemungkinan bahwa seorang anggota yang berada di bawah suatu sumpah rahasia, harus menjaga setiap bagian kegiatan persaudaraan itu dari semua orang yang secara resmi bukan anggotanya. Sumber dari tujuan material untuk menjadi Masonis bagi non-anggota, oleh sebab itu, adalah sebatas pada (pandangan) yang cenderung satu aspek -- kegiatan batin Masonry yang dilakukan para pembelot dan mungkin para penentang keahlian itu.

Ketika sebuah kajian dilakukan berdasar semua kepustakaan yang tersedia dengan tujuan mengungkap rahasia keanggotaan freemason, maka beberapa sketsa tertentu muncul, yang barangkali berhak dipertimbangkan untuk memperoleh sejumlah informasi besar yang masuk akal, di atas prinsip tidak ada asap api. Bagaimanapun juga, yang menarik dari Sufisme ternyata bahwa, di luar hal material yang diklaim sebagai atau keseluruhan sebagai syarat menjadi anggota Masonis itu, suatu hubungan yang sangat penting, yang pada suatu ketika terlihat, adalah dengan materi praktek pembaiatan Sufi sehari-hari. Entah freemasonry yang, seperti diklaim Burton, diturunkan dari para Sufi; ataupun substansi ungkapan lain yang kerap dan sangat kaya, yang sama sekali tidak mungkin diperoleh freemasonry, ternyata lebih merupakan hasil pengungkapan kultus Sufi daripada freemasonry. Untuk tujuan kajian ini, kita akan mendekati wilayah penelitian yang menarik ini dari perspektif yang dapat membuka (wawasan) kita. Adapun berbagai keterkaitan akan dilihat antara apa yang diklaim para pengungkap sebagai freemasonry, dan apa yang kita ketahui tentang madzhab-madzhab Sufi.

Salah satu metode terbaik penyelidikan transmisi Arab-Sufi ke dunia Barat adalah melalui terminologi. Jika suatu kata tertentu digunakan dengan suatu makna esoteris, hal itu secara umum berguna untuk bahan pengkajian dan mencari suatu paralel antara kedua sistem tersebut. Kata dasar yang kita temukan, yang sebagian besar digunakan dalam ungkapan-ungkapan Masonik, disusun dari tiga huruf Ibrani, A, B, L. Setelah ditransliterasi dalam huruf-huruf Arab, ternyata kata ini merupakan kata sandi kalangan Sufi yang disebut Para Pembangun (al-Banna), adapun bahasa Arab bagi Mason juga al-Banna. Namun tidak hanya berhenti di sini, berbagai keterkaitan akan mulai dikaji.

Seperti kata troubadors [penyair atau biduan keliling Perancis abad kesebelas hingga ketiga belas] (TRB, akar kata bahasa Arabnya), kata para Pembangun (the Builders) (pertama perlu dicatat bahwa nama ini sangat berpengaruh pada abad kesembilan) sebenarnya dapat merujuk pada kata tiga huruf berikut ini sembari mencari arti dari setiap aspek susunan hurufnya di dalam kamus sebanyak mungkin. Setelah dianalisa menurut pengubahan (suara) akar kata bahasa Arab dalam bentuk asalnya, hasilnya menunjukkan daftar karakteristik kelompok berikut ini:

ABL = rahib, pengurus gereja, dan sebagainya; hierophancy (lukisan kuno).

ALB = menghimpun orang-orang; pengelompokan.

LaBA = berhenti, berhenti sejenak di sebuah tempat.

BaLA = memberi sesuatu, bersifat dermawan.

BAL = hati, pikiran; perhatian; keadaan; kegagahan; kesejahteraan.

Walaupun tanpa informasi lainnya tentang madzhab Sufi ini, sudah tentu kita dapat mengumpulkan beberapa informasi tentang organisasi dan sasaran mereka melalui perincian kata rahasia mereka berikut ini. Kata pertama mengisyaratkan inisiasi (pembaiatan), kata yang kedua mengisyaratkan para (jamaah) Sufi, ketiga mengisyaratkan tahapan-tahapan Tarekat Para Sufi, yang keempat mengisyaratkan pemberian (cinta dan derma) yang merupakan makna ungkapan mereka, adapun yang kelima mengisyaratkan beragam aspek kegiatan dan latihan mereka. Lalu mengapa kata tersebut ditulis dalam bahasa Ibrani dan bukan dalam bahasa Arab? Karena beberapa penulis terakhir telah mempola kembali tulis halus Arab yang asli dalam suatu bentuk yang lebih dapat diterima orang-orang dalam suatu tradisi Yahudi-Kristiani, sehingga kelompok itu merupakan sebuah komunitas yang serupa dengan kelompok Masonry modern di Barat.

Bagi Para Pembangun Sufi, tiga huruf ini menyimbolkan tiga bentuk meditasi. Huruf alif kufi adalah simbol posisi sujud. Dzun Nun al-Mishri, salah seorang guru Sufi terbesar, dipercaya sebagai tokoh yang telah memformulasi bentuk ini. Simbol ini sangat berpengaruh di Turki selama abad keenam belas. Sementara para penulis Barat mengatakan, "ternyata ia seperti para Mason." Simbol ini diilustrasikan dengan suatu bentuk persegi, suatu simbol prima Mason. Di samping itu, kata persegi (square) dalam bahasa Arabnya adalah RBA-yang mengandung, secara sangat tepat, alternatif makna: "menunggu, pengendalian". Sementara huruf kedua ba ditulis dalam aksara Arab seperti sebuah perahu dengan sebuah titik di bawahnya. Bentuk ini merupakan suatu sketsa simbol yang agak mengena -- tingkatan -- yang juga digunakan dalam Masonry. Bentuk ini menunjukkan makna simbolik dari "ketundukan dan konsentrasi". Adapun huruf terakhir lam menyerupai seutas tali seperti kurva. Bagi Para Pembangun itu berarti "tali yang mengikat semua benda menjadi satu".

Menurut para Sufi, ada 99 Nama atau Sifat Tuhan. Perkembangan pengaruh semua Nama itu menghasilkan individu yang sempurna. Namun yang keseratus adalah suatu rahasia dan hanya dikenal sang Pencari setelah ia diilhami secara utuh kesembilan puluh sembilan Nama itu. Nama Tuhan yang ketiga puluh tiga digunakan Para Pembangun untuk menunjukkan sepertiga keseluruhan sistem latihan yang merupakan tingkatan pertama pencerahan. Dalam sistem bilangan aksara Arab (dimana setiap aksara mempunyai sebuah nomer) tiga puluh tiga menunjuk: 30 = L ; 3 = J. Penyulihan menjadi aksara ini merupakan jalan satu-satunya dalam sistem pemilihan bilangan. Apabila huruf L dan J dilafalkan sebagai sebuah kata, maka keduanya membentuk semacam kata sandi atau makna awal dari sepertiga pencerahan Sufi. Adakah kosa kata LJ atau JL dalam bahasa Arab? Tentu saja ada. Bahkan keduanya LJ berarti "berkobar" dan dari sudut pandang Sufi berarti penerangan, hasrat cinta yang membara. JL berarti "termasyhur" [karena keagungan pribadi]. Pedang bernyala, sebuah lambang Masonik, digunakan Para Pembangun untuk melambangkan makna Nama Tuhan yang ketiga puluh tiga ini.

Apa nama yang keseratus? Nama ini, sekalipun kelihatannya aneh, agaknya merupakan (bentuk) yang orisinal (dan kini dirusak) dari simbol seperti G yang asing dan terdapat dalam lambang bintang Masonik di inti lambang kebesaran (kelompok ini). Dalam kultus Para Pembangun, hurufArab G ini adalah Q, yang tampak hampir mirip.2 Dan Q disini berarti rahasia, unsur final.

Dalam notasi persamaan huruf-angka Arab, Q sama dengan bilangan seratus.

Metode pemakaian kata-kata sandi serta pemakaian huruf dan angka untuk menyampaikan materi-materi yang hanya dipahami orang-orang tertentu, merupakan ciri khas para penyair darwis; dan mengingat kata sandi ini mengacu pada begitu banyak fakta-fakta dengan tujuan pengikisan semata, maka pemakaian kata sandi tersebut dalam Masonik dan Sufi adalah identik. Marilah kita kaji materi ini pada tataran yang lebih jauh. Apabila kita menambahkan huruf Q, kekuatan tersembunyi, pada tiga huruf kata ALB dalam bahasa Arab, dengan menghilangkan bunyi A, maka kita melihat suatu panorama yang lebih luas tentang makna-makna tersembunyi:

Q-ABL = sebelumnya, yang pertama, yang terdahulu (keutamaan kultus).

Q-ALB = hati (simbol kontemplasi dan kontak batin metafisik Sufi).3

L-aQB = julukan, panggilan kehormatan (penghormatan dalam ibadah).

Baik secara kebetulan ataupun sengaja, apabila tiga huruf Q, L, B dijumlah semua menurut notasi Arab, maka hasilnya 132. Jumlah ini dapat dibaca 32 + 1 = 33. Namun, menurut Para Pembangun, hasil penjumlahan 132 ini merupakan isyarat tentang ajaran rahasia yang disebarkan, dengan kerahasiaan yang agung itu, oleh orang yang namanya, manakala dikalkulasi menurut metode notasi Arab tersebut, menunjuk bilangan tiga puluh tiga. Mereka (Para Pembangun) mengurai nama orang tersebut menurut cara berikut ini:

M = 40, H = 8, M = 40, M = 40, D = 4, jumlahnya 132.
Apabila susunan huruf dieja menurut ortografi Arab, maka menjadi kata Muhammad. Kini kita berada pada tataran tempat manakala Para Pembangun menyatakan bahwa pengetahuan Sufi yang dipraktekkannya adalah sebagian ajaran rahasia Muhammad sendiri.

Adapun bilangan tiga puluh tiga ini atau huruf Q dituliskan dalam suatu pentagram (lambang segilima) oleh Para Pembangun, dan kadangkala dalam sebuah bintang yang disusun dari dua segitiga. Dalam tradisi kebatinan lainnya, susunan segitiga ini dijelaskan sebagai makna dari prinsip-prinsip laki-laki dan perempuan, sebagai udara, api dan sebagainya. Namun bagi Para Pembangun Sufi, segitiga yang bawah adalah bentuk angka 7 (tujuh) dalam bilangan Arab, sedangkan segitiga yang atas adalah bentuk angka 8 (delapan). Dan bagi mereka, hal ini menunjuk rangkaian (angka) 786 yang sesuai dengan doa Bismillah ar-Rahman ar-Rahim, apabila diturunkan menjadi angka melalui penyulihan langsung. Makna dari frase ini sama seperti yang terdapat dalam suatu bentuk salib Sufi dari Irlandia abad kesembilan -- Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

Ka'bah (bangunan berbentuk kubus) di Mekkah dipugar kembali pada tahun 608 M, ketika Muhammad berusia tiga puluh lima tahun, lima tahun sebelum memulai menyampaikan ajarannya. Ka'bah dibangun dengan tiga puluh satu batu dan kayu.4 Kalangan Sufi menambahi: "dengan Bumi dan Langit, jadi tiga puluh tiga."

Kendati demikian, kita tidak mungkin beranjak lebih jauh dalam menjelaskan materi-materi baik mengenai para freemason maupun persaudaraan darwis yang terorganisir, yang merupakan kualitas makna awal yang rumit.5 Akan tetapi ada fakta-fakta identik yang dapat diutarakan dan ada beberapa pokok perhatian umum. Menurut sementara sejarawan, freemasonry masuk ke Inggris pada masa Aethelstan (kira-kira tahun 894-939), Raja Saxon yang memperdekat hubungan Inggris dengan negara-negara Eropa lainnya. Ia hidup hampir dalam periode yang sama dengan Sufi Spanyol termasyhur, Ibnu Masarra (883-931), pengikut madzhab pencerahan, yang mempunyai pengaruh sangat kuat dan lestari atas pemikiran Barat. Sementara pada abad yang sama, seorang tokoh Sufi Mesir, pendiri Tarekat al-Banna (Pembangun), Dzun-Nun hidup dan mengajarkan (pengetahuannya). Dzun Nun, tokoh yang dipuja-puja semua Sufi, dihubungkan dengan sang pemilik Nubian ("hitam") yang asli, dengan menunjukkan suatu hubungan antara pemakaian (istilah) "hitam" (fahm) dan "pengetahuan, pemahaman" (fahm) oleh madzhab darwis sang Penambang, yang telah kita asosiasikan dengan Carbonari.

"Hitam" juga merupakan kata lain Mesir, yang katanya diturunkan dari warna tanah. Banyak kalangan menganggap bahwa seni Hitam maksudnya sama sekali tidak lebih dari "Seni Mesir" atau "Seni Memahami". Dengan anggapan yang sama, Perawan Hitam pada Abad Pertengahan dapat diterjemahkan sebagai "Perawan yang Bijak". Kerancauan antara Seni Hitam, Seni Hermetik dan Rahasia Mesir telah muncul dan muncul kembali dalam seluruh kepustakaan Abad Pertengahan. Adanya kesalahpahaman ini sepenuhnya disebabkan ketidaktahuan orang-orang asing atas kesamaan antara "hitam" dan "bijak" dalam bahasa Arab.

Hubungan antara Seni Hitam, alkimia dan Rosicrucianisme ini telah menimbulkan kekaguman para murid yang sebagian besar beranggapan bahwa orang-orang Eropa Abad Pertengahan sekadar menduga-duga semua istilah itu menurut kepercayaan umum semata dan hasrat memahami rahasia-rahasia serta mengungkap suatu ajaran terseinbunyi.

Hubungan antara para Pertapa (di kuil) dan para Mason bagi kebanyakan pengamat agaknya kelihatan kabur atau semacam asosiasi yang keliru. Seorang pertapa pastilah seorang Mason. Tak ayal lagi ibadahnya berdasar pada sebuah mitos dan ritual terhadap Bangunan Suci di Mekkah itu. Lalu, seperti kadangkala ditanyakan, hubungan apa yang mungkin ada antara bangunan Muslim di Mekkah itu dengan Kuil Sulaiman dan pembangunannya? Tentu saja ada suatu pertalian yang erat. Pertama perlu dicatat, di antara tuduhan terhadap Sufi kuno adalah praduga yang sangat keliru bahwa suatu tindak peniruan ibadah perjalanan suci ke Mekkah itu dapat dilaksanakan di mana pun dan mempunyai suatu keabsahan yang sama dengan perjalanan suci (Haji) yang sebenarnya. Kedua, perlu diingat bahwa guru Sufi Yang Agung, Ma'ruf al-Karkhi (w. 815) dikenal sebagai Putra Dawud dan sebagai "raja", suatu julukan yang lazim di kalangan Sufi. Putra Dawud tidak lain adalah Sulaiman. Sulaiman adalah orang yang memugar kembali bangunan tersebut. Mengapa dijuluki Putra Dawud? Karena Karkhi adalah murid guru termasyhur, Dawud ath-Thai. Adapun Dawud adalah bahasa Arabnya, sementara David adalah bahasa Inggrisnya.

Dawud di sini meninggal pada tahun 781. Kurang dari satu abad sebelumnya, kira-kira tahun 691, kalangan Saracen [Arab Muslim yang masih hidup di daerah Tanah Suci Palestina pada Abad Pertengahan] memugar Kuil Sulaiman tersebut di situs yang kini dikenal sebagai the Dome of Rock (Kubah Batu). Bangunan ini dan bukan bentuk yang lebih awal, adalah Kuil yang para abdinya adalah para Ksatria Templar [Ksatria penunggang kuda dari golongan gereja dan tentara kuil pada Abad Pertengahan], yang diduga sebagai kelompok Saracen. Bukan suatu kebetulan bahwa setelah bubarnya aliran Templar tersebut, para freemason mengambil alih tradisi Templar.

Perlu dicatat bahwa Ka'bah (secara literal, Kubus) adalah kuil berbentuk empat persegi di Mekkah. Adapun "batu hitam" Mekkah itu diletakkan di salah satu sudut luar Ka'bah. Jadi benarkah bila dianggap sebagai batu Ka'bah (kubus), yang biasanya disebut Batu Kubik atau Hajarul Aswad (batu hitam)? "Hitam", sebagaimana telah kami catat, adalah penyulihan dari "batu bara" dan "batu hitam", dapat diterjemahkan menjadi hajarul fahm, "batu kebijaksanaan" ataupun "batu bijak". Hanya saja bagi Muslim mana pun bangunan kedua adalah tempat yang disucikan yang dikenal sebagai Kuil Sulaiman di Palestina.

Tradisi Sufi menunjukkan bahwa sekelompok Sufi klasik awal adalah sejumlah orang yang berkumpul di tempat suci Mekkah itu dan mengabdikan diri sebagai pelayannya. Setelah jatuhnya Jerusalem pada bangsa Arab, tindakan pertama kalangan Muslim adalah membenahi Kuil Sulaiman itu untuk disesuaikan dengan (ajaran) Islam. Tradisi Sufi yang lestari dalam menghormati the Dome of Rock juga dibuktikan oleh fakta bahwa dekorasi ruang dalamnya yang terakhir terdiri dari gambar-gambar simbolik Sufi. Adapun gereja-gereja Templar dan indikasi lainnya menunjukkan pengaruh Kuil Sulaiman versi Saracen.

Ada dua garis penyebaran tradisi pengetahuan Sufi ini ke Barat --yang pertama melalui Saracen Spanyol, dengan atau tanpa pencampuran pikiran-pikiran Yahudi (karena orang Yahudi aktif mengadakan kerja sama dengan kalanganArab Cabalis [Kelompok atau gerakan politik "bawah tanah"]) dan yang kedua melalui kaum Crusade [Kelompok atau gerakan militer negara-negara Kristen Eropa yang bertujuan membebaskan Tanah Suci (Palestina) dari kekuasaan Muslim pada Abad Pertengahan], ketika para anggota kelompok kultus itu yang dikenal sebagai Para Pembangun mungkin saja telah menemukan kesamaan ritual di antara para darwis Timur Dekat.

Akhirnya, motif kegelapan-dan-cahaya yang dikaitkan dengan freemasonry mempunyai kaitan-kaitan yang sangat dekat dengan motif para darwis, sehingga kaitan-kaltan ini sendiri merupakan suatu sebab yang menarik untuk dikaji. Para darwis menganggap cahaya sebagai kebenaran, penerangan. Hitam, sebagaimana telah kami catat, diasosiasikan dengan kebijaksanaan (kata yang homonim dalam bahasa Arab); adapun putih juga berarti pemahaman. Pengetahuan tentang makna yang benar dari kebijaksanaan dan cahaya, baik dan buruk, "kegelapan" yang nyata dari ketidaktahuan adalah poin penting dalam kegiatan Darwis. Pada akhirnya Sufi mendasarkan pengetahuan ini pada Ayat Cahaya (an-Nuur) didalam al-Qur'an (Surat 24, ayat 35) yang menyatakan, "Para penentang seperti dalam kegelapan: kegelapan di atas kegelapan. Tiada cahaya sama sekali, cahaya Allah." Tema ini diangkat al-Ghazali dengan rincian yang cermat dan kita tahu sangat berpengaruh terhadap skolastik Barat: al-Ghazali menulis sebuah buku tentang cahaya dan kegelapan ini -- Misykatul Anwar.

Para darwis mengangkat tema cahaya dan kegelapan ini melalui kesusastraan. Sebuah contoh yang sederhana dapat kita temukan di dalam the Secret Garden (Kebun Rahasia)-nya asy-Syabistari, yang disusun tahun 1319: "Sang darwis melangkah di antara kegelapan dua dunia; akan tetapi kegelapan cakrawala padang pasir yang menyenangkan bagi musafir dan menunjukkan tempat berkemah ada di hadapan ... Dalam hari gelap terdapat cahaya terang."

Terjemahan Johnson Pasha (The Dialogue of the the Gulshan-i-Raz, Kairo, 1903), baik dari sumber-sumber Mason maupun Para Pembangun, bukan karya yang tak dikenal dalam kesusastraan Inggris. Paus sendiri, misalnya (Dunciad, Buku IV), telah menggunakan alegori Sufi dalam tulisannya:

Kegelapan inderawi, sangat sering dijumpai.
Sebagian dapat diketahui, sebagian terselubung
dan sebagian sangat gelap-gulita.
Dari pemakaian tema ini oleh para darwis, kita dapat menginterprestasikan pesan misterius dalam sebuah markah yang aneh dan diulang-ulang oleh Mason yang dilukiskan dalam bangunan-bangunan Abad Pertengahan. Di bawah ini adalah sebuah markah yang menyerupai bentuk empat. Apabila kita menghubungkan para Mason profesional dengan tarekat-tarekat darwis di Barat, seperti halnya kita menghubungkan para pekerja bangunan Timur dengannya, maka kita menemukan suatu pesan yang tersembunyi di sini.

Diagram Sufi yang dikenal sebagai Persegi Magis dari lima belas digambar seperti di bawah ini:


Dari arah mana pun kita menjumlahkan tiga angka dalam persegi ini hasilnya selalu lima belas. Persegi ini digunakan dalam Kabalisme sebagai suatu kerangka sandi dengan maksud menyampaikan sebuah pesan. Pemakaian ini digambarkan dengan garis-garis yang menghubungkan antar bilangan dengan maksud memberi tekanan. Lambang Mason digambarkan seperti di bawah ini:

 
Jika gambar ini diletakkan di atas kerangka persegi di atas, maka kita dapat membaca pesan yang terkandung dalam hubungan angka-angka tersebut. Sketsa di atas melewati semua angka dalam persegi itu, kecuali angka delapan!


Delapan melambangkan gambar angka yang sempurna, segi delapan, gambaran, di antara bangun-bangun lainnya, berbentuk kubus. Sketsa tersebut juga meliputi delapan angka dari sembilan persegi di atas. Maksudnya di sini adalah, "Delapan (keseimbangan) adalah jalan menuju sembilan". Sembilan dalam bahasa Arab menunjuk huruf Ta, yang makna tersembunyinya adalah "pengetahuan rahasia".

Sketsa tersebut juga mempunyai arti tambahan manakala kita mencermati bahwa gambar yang menyerupai angka empat dengan sebuah tiang (kadangkala sebuah kurva) yang dirapatkan, juga merupakan gambaran kasar dari kata Arab hoo - kata liturgis darwis, yang dinyanyikan agar mencapai tingkat-tingkat ekstase.

Adapun para Mason yang dihubungkan dengan alkimia melalui tanda ini sendiri kemungkinan besar dibuktikan oleh fakta bahwa persegi magis ternyata juga digunakan di Cina dan telah diulas para peneliti kimia mutakhir, yang dikaitkan dengan baik suatu simbol kimia maupun tradisi Tao. Apabila membutuhkan indikasi lebih lanjut, seseorang dapat mengacu pada fakta bahwa persegi magis ini juga digunakan Jabir (Geber), bapak kimia Barat maupun Timur, dan (sebagaimana dinyatakan Profesor Holmyard) digunakan kelompok Sufi yang salah satu anggotanya adalah Jabir.

Tentu saja para ahli kimia, freemason, Rosicrucian, Carbonari dan lainnya sama sekali tidak mencampuradukan suatu koleksi misteri yang tak teratur dan serampangan serta tradisi pengetahuan yang tak bertalian, karena sasaran mereka yang orisinal dan utama adalah unsur pokok simbol Sufi -- per kembangan kesadaran manusia.

Catatan kaki:

1 F. Hitchman, Miami, Vol. I, hlm. 286.

2 Dalam bahasa Arab sehari-hari, suara Q cenderung disulih, terutama oleh (bangsa) non-Arab, seperti suara G. Kecenderungan ini lebih jauh masih berlaku di beberapa negara yang menggunakan kata-kata Arab, karena mereka sendiri tidak mempunyai suara tekak (dari tenggorokan) Q.

3 Lihat anotasi "QA-LB".

4 Azraqi, dikutip Wistenfeld dalam Creswell: Early Muslim Architecture, London, 1958, hlm. 1. Tentu saja dua susunan lainnya, yaitu bumi dan langit adalah simbolisme Sufi sendiri.

5 Tentang pertukaran yang samar itu, lihat anotasi "Titik".

Tidak ada komentar:

Cari Blog Ini