Asysyam

“Sesungguhnya berbahagialah orang yang mensuciikan jiwanya, dan sungguh merugilah orang yang mengotori jiwanya”
Tampilkan postingan dengan label Amar ma'ruf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amar ma'ruf. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Mei 2013

SENANG HATI-TULUS-IKHLAS-BAHAGIA



" Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah (kepada mereka): "Kamu belum beriman, tetapi katakanlah 'kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk (dengan sepenuh Cinta/Tulus Ikhlas) ke dalam hatimu, dan jika kamu ta'at kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu; sesungguhnya Allah Paling Maha Pengampun lagi Paling Maha Penyayang".
( QS. Al-Hujuraat, ayat ke-14 )

" Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa (Ketulusan CINTA dalam beramal atau tidak) yang disembunyikan oleh hati."
( QS. Al-Mu'miin, ayat ke-19 )

" Dialah Yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang Hakiki/Sejati, lainnya tuhan-tuhan palsu) selain Dia; maka sembahlah Dia dengan (Sepenuh Cinta/SENANG-SETULUS HATI-IKHLAS-BAHAGIA) memurnikan ibadat kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam."
( QS. Al-Mu'miin, ayat ke-65 )


Atau kalau boleh sedikit dipuisikan (he2) :

Tiada Haqiqat bila beramal tanpa Cinta
Dan tiada (bukti) Cinta bila beramal tanpa syari'at (mengabaikan syari'at)

Cinta bukan sebatas memberi menerima
Tapi apakah memberi menerima dengan SENANG HATI-TULUS-IKHLAS-BAHAGIA atau tidak

Bani Isra'il di zaman Musa "memberi" (membantu Musa) dengan pamrih,
Dan "menerima" syari'at Tuhan dengan terpaksa, itu BUKAN Cinta!

Musa memberi (mengorbankan) waktu, jiwa-raganya dengan " ikhlas" untuk Isra'il
Dan menerima (mengamalkan) syari'at Tuhan "tanpa terpaksa", itulah Cinta!

Bersyari'at tanpa Cinta takkan terima Kunci Hakikat;
Musa tanpa Cinta takkan bertemu dan diterima al-Khidhr

Musa syari'at, kunci hakikat al-Khidhr
Musa "tak memberi" apa-apa, al-Khidhr "tak menerima" apa-apa
Namun tetap ada CINTA pada keduanya

Musa menerima ilmu dari Khidhr "tanpa memberi" apa-apa kepada Khidhr
Khidhr memberi ilmu kepada Musa "tanpa menerima" apa-apa dari Musa
Tapi tetap ada CINTA antara keduanya

(karena) Cinta bukan sebatas memberi menerima
Tapi apakah mencintai dengan SENANG HATI-TULUS-IKHLAS-BAHAGIA atau tidak

Dalam hal Musa dan al-Khidhr, keduanya dengan cara masing-masing
mencintai Sang Esa dengan SENANG-SETULUS HATI-IKHLAS-BAHAGIA
Itulah: CINTA!

Tapi kuhargai pandangan berbeda dari Sdrku Iman Prasojo
Karena itu pun (menghargai perbedaan dengan SENANG-TULUS HATI-IKHLAS-BAHAGIA)
Tak memaksa, tak harap apa-apa, memberi "tanpa mesti menerima"
Adalah juga: CINTA!

Wallahu a'lam

" Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan (dengan SENANG HATI-TULUS-IKHLAS-BAHAGIA) sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya."
( QS. Ali-'Imraan, ayat ke-92 )

" Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas (setulusnya CINTA) menyerahkan dirinya kepada Allah (memberi tanpa harap menerima apa-apa), sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya."
( QS. An-Nisaa' ayat ke-125 )

amiin

Rabu, 14 Maret 2012

5 + 7 HAL jika ingin diCINTAI ALLAH.




Dekati 5 Hal, jika ingin di CINTAI ALLAH :

1. ADIL; 2.TAQWA; 3.SETIA; 4.SABAR; 5.TAWAKAL



QS. 49 ayat 9 ..
Sesungguhnya Allah menCINTAi orang-orang yang berlaku adil (MUQSITHIN)

QS. 3 ayat 76
Dan berbaktilah, sesungguhnya Allah menCINTAi orang-orang yang taqwa (MUTTAQIIN)

QS. 3 ayat 134
Dan Allah menCINTAi oarang-orang yang berbuat kesetiaan (MUHSININ)

QS.3 ayat 146
Dan Alllah menCINTAi orang-orang yang sabar (SHOOBIRIN)

QS. 3 ayat 159
maka bertawakkallah kepada Allah sesungguhnya Allah menCINTAi orang-orang yang bertawakkal (MUTAWAKKILIIN)



Jauhi 7 hal, jika ingin di CINTAI ALLAH

1. MELEWATI BATAS; 2. MEMBIARKAN KERUSAKKAN; 3. KUFUR-PENDOSA; 4. KAFIR; 5. BERLAKU ZHOLIM; 6. SOMBONG PERBUATAN DAN KATA; 7.BERBUAT BERLEBIHAN


QS.2 ayat 190
Sesungguhnya ALLAH TIDAK menCINTAi orang-orang yang melewati batas (MU’TADIN)

QS. 2 ayat 205
Dan ALLAH TIDAK menCINTAi kerusakan (FASAAD)

QS. 2 ayat 276
Dan ALLAH TIDAK menCINTAI tiap yang kufur yang berdosa (KAFFARIN ATSIM)

QS. 3 ayat 32
Katakan lah Ta’atlah kepada ALLAH dan RASUL, sesudah itu jika kamu berpaling, maka sesungguhnya ALLAH TIDAK menCINTAi oarang-orang kafir (KAFIR)

QS. 3 ayat 57
Dan ALLAH TIDAK menCINTAi orang-orang yang zholim (ZHOLIMIIN)

QS. 4 ayat 36
Sesungguhnya ALLAH TIDAK menCINTAi orang-orang yang sombong dengan perbuatannya dan sombong dengan perkataannya (MUKHTALA-FUKHURO)

QS. 7 ayat 31
Hai anak-anak Adam, pakailah perhiasan kamu disisi setiap masjid, dan makan dan minum lah, tetapi tidak berlebihan, sesungguhnya ALLAH TIDAK CINTA kepada orang yang berlebih-lebihan (MUSRIFIIN).


Subhaana Rabbika, Rabbil 'izzati'amma yashifun,
wasalamun'alal mursalin walhamdulillaahi
Rabbil 'aalamiin

by kh fahmi basya

Selasa, 13 Maret 2012

Hujan dan Aib

Di zaman Nabi Musa Alaihissalam, terjadi masa paceklik. Manusia dan hewan kehausan, dan hampir mati, karena sedikitnya persediaan air. Mereka lelah hingga berkata, “Wahai Musa, serulah Allah, dan mintalah agar hujan diturunkan!” Nabi Musa pun mengumpulkan mereka di satu tanah lapang, lalu ia berdoa kepada Allah. Mereka pun mengamini doa beliau, tetapi hujan tak kunjung turun. Akhirnya, ia pun berkata, “Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak mau menurunkan hujan, padahal kami telah berdoa dan menghinakan diri pada-Mu?”



Allah Subhaanahu Wa Taala menjawab, “Wahai Musa, di antara kalian ada seorang yang berbuat maksiat selama empat puluh tahun, ia belum bertaubat. Maka ia menghalangi terkabulnya doa kalian.” Lalu Musa bertanya, “Lalu apa yang harus kami lakukan?” Allah Subhaanahu Wa Taala menjawab, “Keluarkanlah orang yang berbuat maksiat itu! Jika orang itu keluar dari barisan kalian, hujan akan turun.” Nabi Musa Alaihisslam pun berkata, “Aku minta kalian bersumpah pada Allah. Aku bersumpah pada Allah, di antara kita ada yang bermaksiat selama empat puluh tahun, hingga hujan tidak turun-turun, maka hendaklah ia mau keluar dari barisan.”

Orang yang berbuat maksiat itu menoleh ke kanan dan ke kiri, sekiranya ada yang keluar selain dia. Tetapi tidak ada seorang pun yang keluar. Tahulah ia kalau yang dimaksud adalah dirinya. Lalu ia berkata, “Ya Tuhanku, aku telah berbuat maksiat selama empat puluh tahun, dan Engkau berkenan menutupinya. Ya Tuhanku, jika aku keluar, maka namaku akan tercemar. Dan jika aku tetap tinggal, maka hujan tidak akan turun. Ya Tuhanku, aku sekarang bertaubat pada-Mu, aku menyesal, aku kembali pada-Mu. Maka ampunilah aku dan tutupilah kejelekanku. “

Hujan pun turun, akan tetapi orang yang berbuat maksiat itu tidak keluar dari barisan. Akhirnya, Nabi Musa bertanya, “Ya Tuhanku, hujan telah turun, dan orang itu belum keluar?” Allah Subhaanahu Wa Taala menjawab, “Ya Musa, hujan telah turun dengan taubat hamba-Ku yang telah bermaksiat selama empat puluh tahun.”

Nabi Musa bertanya lagi, “Ya Tuhanku, tunjukkan orang itu padaku agar aku bergembira dengannya.” Allah menjawab, “Wahai Musa, ia telah bermaksiat kepada-Ku selama empat puluh tahun, dan aku telah menutupinya. Lalu apakah Aku akan membukanya padamu, mencemarkan namanya, padahal ia telah kembali pada-Ku?”

Minggu, 15 Januari 2012

Tidak ada yang diharapkan selain Cinta.


Ibadah kepada Allah itu terbagi 3 jenis : Ibadah Pedagang, Ibadah Budak dan Ibadah Pecinta.
Ibadah Pedagang, Ibadahnya berhubungan dengan untung rugi. Menghitung pahala dan kerugian yg timbul krn meninggalkan ibadah.

Ibadah budak, beribadah karena takut. Jika meninggalkan ibadah jenis A takut dapat siksaan X. Ibadah dalam ketakutan.

Hampir semua orang beribadah seperti pedagang dan budak. Bagus, namun rapuh

Pedagang suatu saat akan jenuh dan meninggalkan dagangannya dan budakpun bisa lari dari tuannya.

Namun Para Pecinta tidak akan pernah meninggalkan kekasihnya karena tidak ada yang diharapkan selain Cinta.

Semoga Allah SWT melimpahkan rasa cinta kedalam hati kita semua sehingga

kita dapat mencintai-Nya dgn segenap rasa.

Kamis, 10 November 2011

INDAHNYA PERJALANAN HIDUP MANUSIA DALAM TAKDIR


Dalam menjalani kehidupan ini, Alhamdulillah sudah banyak orang yang bersyukur (berterima kasih) atas segala karunia Allah SWT dan membuktikan nilai-nilai syukurnya dalam kehidupan sehari-hari. Namun tidak sedikit pula orang yang suka mendiskreditkan takdir dan berani menyalahkan Allah SWT. Benarkah Allah SWT tidak adil ?….. Apakah kesengsaraan seseorang karena kesalahan takdirnya ?….. Apakah semua orang yang sukses selalu disayang Allah SWT ?….. Apakah takdir membuat seseorang seperti wayang yang tidak punya daya apa-apa ?….. jawabannya adalah TIDAK, TIDAK dan TIDAK.

Segala sesuatu di dunia ini memang sudah tertulis di Lauh Mahfud sebelum diciptakan (QS. 57:22) agar manusia tidak berduka cita atas apa yang telah luput darinya dan tidak terlalu gembira atas apa yang diperolehnya (QS. 57:23). Ketentuan Allah SWT sudah sedemikian terukur rapi dilengkapi dengan sarana, persiapan, sesuai naluri, sifat dan fungsi masing-masing (QS. 25:2) yang ditujukan untuk memfasilitasi kehidupan manusia (QS. 22:65) sebagai Khalifah di muka bumi (QS. 2:30, 38:26).

Dalam ketentuan tersebut, Allah SWT sudah membentangkan jalan dan sebab musababnya (QS. 18:84-92), memberikan kebebasan kepada manusia untuk bisa merubah dirinya (QS. 13:11), memilih kehendak (QS. 17:18-19, 3:152, 4:134) dan punya planning masa depan (QS. 59:18). Semua yang baik dari Allah SWT dan semua yang buruk akibat ulah manusia (QS. 4:79) dan perbuatan baik atau buruk akan kembali kepada pelakunya (QS. 17:7) agar merasakan hasil kebaikan atau sanksi keburukan tanpa adanya unsur penganiayaan karena Allah SWT tidak menganiaya hamba-Nya (QS. 41:46) dan tidak menganiaya apa saja yang ada di alam semesta ini (QS. 3:108) bahkan Allah SWT telah menetapkan diri-Nya untuk selalu sayang terhadap hamba-Nya (QS. 6:12).

Sebagai bukti kasih sayang Allah SWT, Manusia diberi Al-Qur’an sebagai pedoman yang meyakinkan (QS. 2:2) agar bisa bahagia (QS. 20:2), memperoleh kemuliaan (QS. 21:10) dan menjadi obat serta rahmat (QS. 17:82).

Saat manusia ingin bukti nyata, Allah SWT mengutus Rasul untuk menjadi suri tauladan (QS. 33:21, 60:6), rahmat seluruh alam (QS. 21:107), memberi kabar gembira dan peringatan (QS. 2:119) agar seluruh hidupnya bernilai ibadah (QS. 98:5) karena memang manusia diperintahkan untuk beribadah (QS. 51:56) dan ternyata seluruh alam pun beribadah dan bertasbih (QS. 24:41).

Allah SWT selalu mengasihi hambaNya dengan memberikan balasan atas sekecil apapun perbuatan hamba-Nya (QS. 98:7), balasan berlipat ganda bagi yang beramal plus (QS. 2:245), tidak menyiksa selama mereka mau beristighfar (QS. 8:33), mengganti keburukan dengan kebaikan (QS. 25:70) serta menghapuskan dosanya (QS. 29:7).

Jika dilihat dari keterangan di atas, kita tahu dan faham bahwa kehendak dan takdir Allah SWT selalu dipenuhi kasih sayang dan keadilan. Sekarang kita coba bandingkan dengan kehendak manusia dan cara menyikapi hidupnya ?…..

Manusia ditinjau dari sisi negatifnya selalu mengeluh saat ditimpa kesusahan dan kikir saat mendapat kesenangan/kebaikan (QS. 70:20-21), maunya bermegah-megahan sampai wafat (QS. 102:1-2), selalu minta cepat/tergesa-gesa (QS. 17:11), tidak bersyukur (QS. 2:243) bahkan bisa melampui batas saat merasa dirinya cukup (QS. 96:6-7) dan lain sebagainya.

Manusia ditinjau dari sisi positifnya adalah makhluk yang beriman dan beramal shaleh (QS. 4:122), cepat berbuat baik (QS. 23:61), suka membantu (QS. 5:2), suka memberi saat sempit atau lapang, mampu menahan amarah dan memaafkan (QS. 3:134), mengutamakan kepentingan orang lain (QS. 59:9), sabar (QS. 11:11), tawakkal (QS. 8:2), yakin (QS. 45:4), mau berhijrah dan berjihad di jalan Allah SWT (QS. 2:218) dan lain-lain sampai menjadi umat yang terbaik (QS. 3:110).

Dalam menyikapi takdir Allah SWT, lebih baik kita selalu menerima apa saja yang Allah SWT berikan dengan action yang positif (QS. 51:16) dengan selalu bersyukur yang pasti akan menambah kenikmatan (QS. 14:7), selalu bersabar dalam perjuangan (QS. 8:65), selalu berusaha (QS. 9:105) yang dilandasi etos kerja tinggi dan cinta kepada Allah SWT (QS. 94:7-8) serta tawakkal [usaha maksimal, hasilnya diserahkan kepada Allah SWT] (QS. 65:3) agar kita dicintai Allah SWT dan mendapat pertolongan-Nya (QS. 3:159-160).

Yakinlah bahwa Allah SWT tidak akan meninggalkan dan membenci kita (QS. 93:3), Allah SWT selalu bersama orang yang bertaqwa dan berbuat baik (QS. 16:128), Allah SWT akan menolong dan memantapkan kedudukan kita (QS. 47:7). Insya Allah kita akan merasakan surganya dunia dan akherat (QS. 55:46). Semoga kita tergolong orang yang bahagia, sukses dan selamat di dunia sampai akherat. Amin Ya Robbal Alamin.

Senin, 07 November 2011

Menggapai Langit Dengan Bahan Bakar Dzikir

Rosulullah Saw mengatakan bahwa seharusnya kalian berkata kepada masyarakat umum sesuatu yang dapat dimengerti oleh mereka. Jika mereka tidak dapat mengerti, maka apa yang kamu katakan adalah Kesia-siaan. Kemubaziran adalah teman syetan. Haji Ismail menanyakan pada saya tentang Ruh (Soul), dan meminta saya untuk menjawab dengan sesuatu yang mudah dimengerti dan mudah diingat. Ini juga berarti sebuah pertanyaan pengetahuan ((As suaatu nisful ilm). Jika seseorang tidak mengetahui sesuatu, seseorang tidak akan membuat pertanyaan tentang suatu hal. Jika seseorang ingin memiliki pengetahuan tentang sesuatu hal, dia harus sudah memiliki pengetahuan dasar tentang hal tersebut dan kemudian bisa membuat pertanyaan tentang hal tersebut untuk menjadikan pengetahuannya meningkat menjadi sebagai sebuah keyakinan/kepastian (knowledge of certainity). Ada banyak tingkatan dalam kepastian/keyakinan. Jangan berfikir bahwa kalian akan mencapai "Keyakinan yang Sempurna" hanya dalam satu langkah. Kalian bisa menggapai "Keyakinan Sempurna" secara gradual, setahap demi setahap.

Suatu ketika seorang Muadzin melakukan panggilan sholat dan meneriakkan "Allahu Akbar", Mansoor al-Hallaj (Semoga Allah Memberkatinya) berteriak "Oh pembohong". Masyarakat yang mendengar menangkapnya dan membawanya ke pengadilan dan melaporkan kepada hakim bahwa dia (Mansoor al-Hallaj) meneriaki muadzin sebagai pembohong ketika sang muadzin meneriakkan "Allahu Akbar". Al-Hallaj menjawab, " Ya..., saya panggil dia seorang pembohong". Hakim berkata, " Apa maksudmu ?, bagaimana kamu tahu kalau dia seorang pembohong". Mansoor al-Hallaj menjawab, " Datanglah padaku, kalian semua yang ada disini". Mereka semua mengikutinya menuju suatu tempat pandai besi dimana ada sebuah besi besar disana. Al-Hallaj kemudian berdiri diatas besi tersebut dan berteriak "Allahu Akbar". Besi tersebut mulai mencair dan mengalir seprti air, kemudian al-Hallaj berkata, "Jika dia dengan sungguh2 meneriakkannya (Takbir), menara masjid itu akan runtuh, karena itu saya panggil dia seorang pembohong. Dia tidak mengucapkannya dengan Keyakinan/Certainty, Jika dia melakukannya dengan keyakinan, segala sesuatu yang tidak hidup akan mengerti dan akan mencair seperti air.

Karena itu Keyakinan (Certainty) adalah sangat penting bagi orang2 yang beriman. Kalian tidak akan mencapai keyakinan dengan hanya melalui membaca buku. Saat ini begitu banyak orang pinter/ulama/scholar dan begitu banyak Doktor hasil dari buku2 (Doctors of letters) melebihi era-era sebelumnya, tetapi tidak ada Keyakinan dalam pengetahuan/ilmu2 mereka. Mereka tahu hanya melalui lidah mereka tetapi tidak dari hati mereka. Sedangkan Keyakinan itu melalui hati dan membuat seseorang akan terus berproses memperbaiki dirinya untuk menggapai stasiun-statiun langit. Jika tidak ada keyakinan tingkatan kalian akan selalu di level bawah.

Terkait perihal "Ruh", ini adalah sebuah samudera rahasia. Kalian tidak bisa memasukkan rahasia samudera ke dalam segelas cangkir. Bahkan jika kalian mencoba melakukannya, itu akan sia-sia. Ya..., kapasitas kita memang terbatas. Hanya setetes kecil saja dari samudera itu akan mencukupi untuk dibagikan kepada semua manusia, bahkan mungkin berlebih. Selama ini ruh terpenjara dengan tubuh fisik kita, walaupun hanya sedikit telah memberikan banyak hal pada manusia. Hanya dengan setetes kecil, dapat diterima dan terbagi pada setiap orang. Dari setetes kecil itu telah membuat kalian bisa melihat, mendengar, mencium, mengecap, berbicara, menyentuh, memegang, berjalan, merasakan dan akhirnya dapat memahami. Bagaimana itu terjadi kalian bisa melihat, mendengar, mencium, merasakan, berbicara dan memahami? Kalian bisa mengangkat tangan dan menurunkannya kembali, kalian bisa menangkap sesuatu tetapi tidak tahu bagaimana itu terjadi. Kalian berjalan, tetapi tidak tahu bagaimana kalian dapat berjalan.

Lihatlah dalam dirimu, dan kalian akan menemukan keseimbangan yang sempurna. Ada 360 organ (inner and outer) yang masing2 memiliki fungsinya sendiri2. Ketika salah satu dari mereka bekerja, itu tidak akan mencegah yang lainnya untuk bekerja. Bagaimana mungkin bagi kalian untuk mengerti perihal "Ruh" melebihi ini ? Mungkin ketika Ruh kalian meninggalkan tubuh kalian dan kembali, mungkin kalian akan mengetahui batasan2 lautan tanpa akhir itu.

Kalian akan mendapatkan banyak dan banyak lagi kebahagiaan yang tanpa akhir. Semakin banyak kalian menggapainya, semakin banyak yang kalian inginkan yang tidak akan pernah putus. Namun demikian, kalian akan selalu merasa puas ketika kalian meminta lebih. Kalian akan selalu merasa haus, tetapi bukanlah kehausan seperti yang sering kalian alami selama ini. Ini adalah sebuah kehausan dengan kepuasan. Ini adalah kesenangan tanpa akhir untuk manusia, yang akan di berikan terus-menerus (tanpa akhir).

Kalian saat ini tidak sedang dalam keadaan haus atau lapar, tetapi kalian sedang merasa "haus dan lapar" untuk mengetahui samudera-samudera rahasia. Ini bukanlah rasa lapar atau haus yang menyakitkan. Ini adalah sebuah rasa haus yang menyenangkan. Sepertihalnya orang yang sedang jatuh cinta, dan cintanya semakin meningkat dan terus bertambah. Selama cintanya meningkat, meningkat pula kesenangannya dan ini tidak menyakitkan baginya. Semakin meningkat, semakin banyak permintaannya. Ini sama dengan jiwa kita yang terus meminta dan meminta lebih bagi dirinya dari samudera rahasia. Ya....,untuk menggapai lebih dan lebih dari samudera ke samudera, dan menuju samudera tak bertepi. Ini akan terjadi selamanya bagi jiwa kita.

Penjelasan ini begitu singkat. Tetapi saya kira pengertian kita akan ruh ini adalah berharga meskipun masih sedikit. Kita berharap, semoga pengetahuan dan pengertian kita akan ruh terus berubah dan bertambah, sepanjang kita terus memperbaiki Dzikr kita. Karena melalui Dzikr akan membimbing kita kepada samudera rahasia.

Jika seseorang ingin terbang melintasi awan, dia harus menggunakan pesawat. Dia tidak akan dapat terbang dengan sendirinya, tetapi dia harus menggunakan alat Bantu (Benda mati), seperti pesawat. Ini adalah kekurangan manusia, karena ia bergantung pada benda mati untuk terbang. Dia seharusnya bisa melakukannya dengan dirinya sendiri. Jiwa kita memiliki kekuatan tidak hanya untuk terbang melintasi awan, tetapi juga melintasi angkasa bahkan luar angkasa. Tidak hanya untuk menggapai alamat semesta, tetapi juga untuk menggapai sisi luar dari semesta. Kita memiliki kekuatan Jet, Mesin Jet, tetapi kita tidak memberikan bahan baker pada mesin jet kita. Karena itu kita hanya bisa berlari di atas permukaan bumi. Apakah bahan bakarnya ? Bahan bakarnya adalah Zikr. Syetan saat ini berusaha mencegah masyarakat untuk melakukan Zikr. Masyarakat mengatakan bahwa Zikr adalah sesuatu yang baru (Bid'ah / Innovation) dan karena itu mereka tidak mau ber-Zikr. Zikr adalah bahan baker bagi "Ruh" untuk terbang melintasi angkasa, untuk terbang melintasi semesta, dan untuk menggapai surga-surga. Kalian tidak akan dapat menggapainya dengan cara lain, kecuali dengan Zikr.

Bihurmati Habib..Al-Fatihah....

Diambil dari sheikhnazim.com

Tentang Perdamaian

Maulana Syaikh Muhammad Nazhim ‘Adil Al-Haqqani


Pertanyaan: “Kita selalu berdoa untuk perdamaian. Bagaimanakah berbagai orang yang berbeda dapat hidup bersama dalam damai?”

Jawaban dari Maulana Syaikh Nazhim:
Pertanyaanmu adalah suatu pertanyaan yang penting, dan saya berterima kasih padamu karena telah menanyakan hal ini. Kita memiliki suatu perkataan: “Pertanyaan adalah setengah dari pengetahuan.” Menanyakan suatu pertanyaan yang penting seperti itu menandakan adanya kehidupan mental yang aktif dan ketulusan pada diri sang penanya. Tidak semua pertanyaan dapat dikategorikan sebagai “setengah dari pengetahuan”, karena beberapa pertanyaan menunjukkan ketaktulusan dan ketertutupan pikiran: yaitu ketika jawaban yang diharapkan atau pendapat yang diinginkan sudah tercakup dalam pertanyaannya.

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu bukanlah suatu pertanyaan yang sesungguhnya, dan yang semacam itu datang kepada kita bagai berat sebuah gunung: pertanyaan-pertanyaan seperti itu hanyalah mempersempit perspektif dari pembicaraan atau diskusi. Tapi, suatu pertanyaan yang tulus seperti pertanyaan tentang perdamaian ini adalah sesuatu yang kami senang untuk menerimanya dan senang pula untuk menjawabnya.
Kami berdoa demi perdamaian, kalian pun berdoa demi perdamaian dan kaum Kristen pun berdoa untuk perdamaian. Tetapi, yang terjadi adalah perdamaian tak tercapai, baik secara individual maupun secara umum – mengapa? Apa pun yang terjadi di dunia ini memerlukan kondisi dan syarat yang tepat agar bisa muncul dan terjadi.

Perdamaian pun bukanlah pengecualian atas aturan ini. Agar perdamaian dapat terwujud, diperlukan kondisi dan syarat tertentu yang harus dipenuhi terlebih dahulu. Yang pertama adalah perdamaian batiniah (inner peace), dan kemudian perdamaian di antara dirimu sendiri dengan mereka yang berada di sekitarmu. Tapi, perdamaian akan tetap menjadi suatu sasaran yang tak pernah tercapai selama kondisi-kondisi untuk pencapaiannya ini tak terpenuhi. Agar suatu perdamaian tercapai di antara manusia, suatu syarat primer dan utama baginya adalah untuk mereka agar melihat satu sama lain dengan sikap dan rasa pemurah serta toleransi.

Lihatlah taman-taman yang indah ini: tanahnya sama dan satu, dan beratus-ratus macam pohon dan tanaman yang berbeda tumbuh di atasnya! Kita tak pernah melihat mereka mengeluh akan posisi tanaman jenis lain yang tumbuh terlalu dekat. Mereka bukanlah fanatik yang bersikeras agar seluruh pohon dalam area tersebut berasal dari satu varietas (jenis) yang satu dan sama. Jika kalian hidup di dekat orang-orang yang berasal dari berbagai latar belakang dan agama yang berbeda, kemudian masing-masing saling menghormati hak-hak yang lainnya, maka kalian pun akan hidup di lingkungan mereka tanpa menjumpai masalah apa pun. Nabi kita Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam, pernah hidup bertetangga dengan seorang Yahudi.

Beliau tak pernah protes dengan berkata, “Bawa orang itu pergi dari lingkunganku dan buat dia untuk tinggal dengan sejenisnya.” Tidak! Teladan dan contoh dari Nabi Suci adalah teladan yang terbaik bagi kita, dan beliau selalu menekankan pentingnya hubungan bertetangga yang baik. Dalam Quran Suci, telah pula disebutkan secara spesifik bahwa para tetangga adalah termasuk di antara yang pertama-tama menerima pertolongan dan sadaqah. Karena itu, Bertetangga adalah suatu konsep yang penting dalam Islam, dan berdekatannya orang-orang yang berbeda akan menghancurkan fanatisme sempit. Kalian telah diseru dan disuruh untuk menjadi tetangga-tetangga yang baik.
Kalian punya agama kalian, jalan hidup kalian dan ide-ide kalian, dan ia pun memiliki agama, jalan hidup, dan idenya sendiri.

Serahkanlah dia pada Tuhannya dalam urusan-urusan yang kalian berbeda atasnya, tetapi, dengan berbagai cara, tetaplah jaga rasa hormatmu pada tetanggamu dan berikan yang terbaik baginya. Inilah tugas kalian, dan jika kalian melakukan tugas kalian ini, kalian pun bisa berharap bahwa tetangga kalian pun akan menunjukkan hal kebajikan yang serupa bagi diri kalian. Jangan mencari-cari kesalahannya atau menyebabkan kedengkian dan kebencian dengan menyerang kepercayaannya. Biarkanlah Tuhanmu, Sang Hakim dari segala hakim, untuk memutuskan; dan fanatisme-mu pun akan mati.

Saat ini saya duduk bersamamu. Jika saya melihatmu (dan pada semuanya) sebagai ciptaan-ciptaan Tuhan saya, sebagai buah yang unik dan sempurna dari penciptaan yang luhur oleh Tuhan saya, melihat diri kalian seperti seseorang yang tengah melihat pada sekuntum mawar atau suatu pohon yang tengah berbuah, maka saya pun kini tengah duduk di suatu taman surgawi, dan kedamaian batiniah datang dari setiap orang ke dalam kalbu saya. Jika kita dapat melihat satu sama lain dengan adab seperti itu, kita pun tidak hanya akan memperoleh penerimaan dan toleransi, tapi juga keakraban, familiaritas dan penghargaan (apresiasi), dan yang paling utama, cinta dan kedamaian.

Tapi, karena manusia sekarang tidak menghargai satu sama lain sebagai ciptaan-ciptaan Tuhan mereka yang unik dan terkasih, mereka pun tak mampu untuk bersikap toleran satu sama lain, apalagi untuk mampu menghargai mereka atau menjadi lebih akrab dengan mereka. “Dunia ini tak cukup besar untuk menampung kita berdua,“ kata salah seorang kepada yang lainnya, juga satu bangsa atau negara kepada bangsa dan negara lainnya. Setiap orang berteriak lantang akan dirinya masing-masing demikian kerasnya untuk menekan eksistensi yang lain. Dan perilaku semacam ini membuat orang menjadi demikian berat pula, hingga Bumi pun hampir-hampir tak mampu lagi menampung keseluruhan ras manusia, bukan karena jumlah mereka tapi karena sikap dan perilaku mereka.

Kita telah mencegah diri kita sendiri dari sikap menghargai orang lain dan mencari keakraban dengan mereka. Kita melihat mereka tidak sebagai wakil-wakil Tuhan kita yang tercinta di muka bumi ini, tapi sebagai ancaman-ancaman bagi diri kita sendiri. Dan mereka pun, sebagai gantinya, melihat kita sebagai orang-orang yang berbahaya, dan menarik keakraban mereka dari diri kita. Karena itulah, sikap liar dan buas tengah berjangkit dan tumbuh secara cepat pada manusia, dan dari sifat liar inilah muncul kebekuan, kebencian dan kedengkian di antara manusia.

Ego dan nafsu rendah kita telah membangun dinding-dinding di sekeliling kita – dinding dan tembok yang tak dapat ditembus. Hancurkanlah tembok-tembok itu agar kalian mampu menghargai orang lain dan mendekati mereka. Kalian pun kemudian akan menemukan bahwa perasaan-perasaan yang tulus mulai mengalir dari kalbu kalian, dan sebagian besar orang akan mulai menunjukkan sikap yang lebih baik terhadap diri kalian. Tapi, jika kalian suka bertengkar dan terkuasai oleh ego rendah kalian yang buruk dan serakah, tak seorang pun mampu mendekatimu dan kalian pun tak mampu mendekati seorang pun kecuali dengan kekerasan. Ini adalah sesuatu yang bersifat timbal balik. Jadi, hal pertama yang harus diperbaiki adalah dirimu sendiri, untuk mengendalikan ego/nafsu rendahmu, agar diri kalian mampu untuk meberikan keakraban yang tulus pada semua orang.

Salah seorang di antara Wali-Wali besar dari Jalan Sufi biasa melakukan perjalanan di gurun dengan menunggangi punggung seekor harimau dan menggunakan seekor ular sebagai sebuah cambuk. Bagaimana mungkin hal yang demikian terjadi? Apakah rahasianya? Allah Ta’ala telah memberikan perasaan, intuisi dan persepsi kepada setiap makhluq-Nya. Jika kalian dapat terbuka dan memberikan keakraban tulus bahkan pada seekor harimau yang besar, ia pun dapat dijinakkan dan kalian dapat menggunakannya sebagai hewan tunggangan. Dan itu hanya seekor hewan liar, maka bagaimana pula dengan Keturunan Adam (‘alaihissalam), yang telah dikaruniai begitu banyak potensi oleh Tuhan mereka hingga Ia memanggil mereka sebagai “Mahkota dari Ciptaan” dan menjadikan mereka sebagai wakil-wakil-Nya di muka Bumi? Kalian pun harus meraih keakraban yang tulus dengan mereka untuk menjinakkan mereka.

Dan di hadapan demikian banyak kejahatan dan kebuasan yang tengah terjadi di dunia ini, kita tak boleh berputus asa dan berkata, Tuhan macam apakah yang telah menciptakan manusia-manusia yang jahat dan bengis yang melukai manusia lainnya dan menyebabkan kekerasan massal dan perang di dunia ini?” Kita mesti menjinakkan keliaran ini dengan Keluhuran dan Kepemurahan Budi. Jangan katakan bahwa tidak ada suatu Hikmah Ilahiah dalam penciptaan harimau dan ular (atau manusia-manusia yang menyerupai hewan-hewan ini dalam tindakan-tindakan mereka)! Katakan bahwa Dia Yang Maha Agung telah menciptakan harimau untuk ditunggangi dan ular untuk digunakan sebagai cambuk tunggangan!

Suatu kala, pernah ada seorang laki-laki yang merasa terganggu oleh kecoak. Kemana pun ia pergi, ia selalu menjumpai hewan kotor menjijikkan ini. Dan tak peduli apa pun yang telah ia lakukan, ia tak mampu menyingkirkan kecoak-kecoak itu dari sekelilingnya.

Ia bahkan telah berpindah rumah beberapa kali dalam kota kampung halamannya sambil berharap bahwa huniannya yang baru tak akan tercemari kecoak, tapi, kenyataannya malah selalu ada kecoak. Akhirnya, setelah kehilangan harapan, ia pun pindah ke negara lain di mana jumlah kecoaknya lebih sedikit. Ia menetap di negara baru tersebut. Pada akhirnya, laki-laki ini menderita suatu penyakit berupa abses (nanah disertai pembengkakan) yang demikian parah di kakinya. Dia pergi ke banyak dokter, tapi semua obat yang mereka resepkan justru membuat penyakit absesnya makin parah, dan membuatnya makin menderita. Ia pun akhirnya menyerah untuk melakukan usaha lebih lanjut untuk mengobatinya.
Suatu hari ia sedang duduk di depan rumahnya dengan kakinya diangkat ke atas, sambil mengeluh dan mengadu kesakitan: “Ah, eeh, oh, ooh!” saat mana datang seorang darwis/sufi pengembara. Sang darwis bertanya padanya, “Mengapa kau duduk di situ berkata ‘Ah, eeeh, oh, ooh’?” Ia menjawab, “Aku menderita abses kronis di kakiku dan tak peduli apa pun yang kulakukan, penyakitku ini tak kunjung sembuh; malahan ia bertambah parah setiap kali aku melakukan pengobatan atasnya.”

Sang darwis berkata, “Oh, penyakit ini adalah penyakit termudah di dunia untuk diobati. Pernahkah kau melihat seekor kecoak?” “Kecoak! Kutukan dalam hidupku! Di negara asalku ada begitu banyak kecoak hingga mereka membuatku gila. Karena itulah aku datang untuk hidup di negeri ini, hanya untuk lari dari kecoak.” Sang darwis berkata, “Kau mesti menangkap banyak-banyak kecoak, matikan mereka, dan kemudian bakar mereka, kemudian ambillah abunya dan taburkan ke lukamu; maka, Insya Allah (dengan kehendak Allah), penyakitmu akan sembuh dengan cepat.”

Laki-laki itu mengikuti nasihat sang darwis, memburu kecoak di negeri itu dan menemukan mereka dengan kesulitan dan kepayahan, kemudian kini abses-nya telah sembuh. Setelah kejadian itu, ia tak pernah lagi mengutuk keberadaan kecoak.Dan bagaimana dengan Keturunan-keturunan Adam yang paling dihormati, yang telah Allah jadikan sebagai khalifah-khalifah (wakil-wakil)-Nya di muka Bumi? Jangan benci mereka atas tindakan-tindakan buruk mereka, tapi ingatkan dirimu sendiri bahwa mereka adalah pula ciptaan-ciptaan tercinta Tuhanmu; dan berusahalah untuk menjadi pemurah dan penyantun, sebagaimana Quran Suci telah menyebutkan:

“Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS Fusshilat, 41: 34-35)

Lihatlah, sebagaimana telah saya sebutkan sebelumnya, Nabi Suci Sall-Allahu ‘alaihi wasallam pernah hidup bersebelahan dengan seorang Yahudi di Madinah. Nabi bersikap toleran atas kehadirannya, sekalipun orang itu biasa membuang sampahnya di depan rumah Nabi setiap hari sebagai suatu tanda penghinaan bagi beliau. Suatu hari Nabi Suci sall-Allahu ‘alaihi wasallam, memperhatikan bahwa tak ada sampah di depan rumahnya. Pada hari berikutnya pun tak seonggok sampah pun terlihat. Beliau kemudian bertanya tentang keadaan sang tetangga itu dan mendapat kabar bahwa ia ternyata telah jatuh sakit.

Kemudian Nabi Suci berniat mengunjunginya, untuk melakukan ziyarah pada yang sakit. Sang laki-laki Yahudi itu demikian terkejut melihat Nabi di pintu rumahnya, dan bertanya, “Bagaiamana dirimu tahu aku sedang sakit?” Beliau menjawab, “Aku perhatikan bahwa hadiah harianmu tak ada lagi di depan rumahku seperti biasanya, maka aku pun berpikir bahwa sesuatu yang tidak baik mungkin telah terjadi pada dirimu. Karena itulah, aku bertanya dan mendapat kabar bahwa dirimu tengah sakit.”

Tapi, jauh dari sikap menunjukkan kebaikan pada anggota-anggota masyarakat lainnya, orang-orang saat ini tak lagi mampu menghargai, atau pun berbagi keakraban bahkan dengan anggota-anggota keluarga mereka sendiri. Para istri tak dapat menghargai sifat-sifat baik suami mereka, dan sebaliknya pula. Keluarga-keluarga itu mungkin tinggal dalam satu atap, tapi sama sekali tak ada perasaan akan rumah atau keluarga. Orang-orang telah menjadi asing terhadap kerabat-kerabat terdekat mereka, setiap orang telah terbungkus dalam dunia keinginan hawa nafsunya, dan tak ada figur seorang pun dalam dunia itu melainkan dirinya sendiri, atau dunia itu adalah untuk ekploitasi egoisnya.

Jika familiaritas atau keakraban tak dapat lagi dijumpai dalam keluarga-keluarga, apatah lagi dalam komunitas yang lebih besar? Tak mungkin! Maka, berbicara tentang perdamaian dunia adalah sesuatu yang lebih sia-sia lagi, karena keakraban, cinta, dan kedamaian mestilah dibangun dalam individu, kemudian dalam keluarga, dan seterusnya, dari unit terkecil ke yang lebih besar, dan bukan kebalikannya.

Kita berdoa untuk suatu dunia yang damai, agar semua api yang tengah terbakar ini dapat dipadamkan, dari Timur ke Barat. Tapi, tembok dan dinding keterasingan telah menjadi demikian menakutkan hingga tak satu bangsa/negara pun mempertimbangkan untuk kedekatan dan kerja sama sejati dengan yang lainnya. Keakraban tengah terpenjara, dan keliaran serta keterasingan tengah menyebar hari demi hari begitu cepatnya hingga, kecuali arus ini dapat dibendung, akan menyapu habis seluruh dunia. Arus kebuasan itu tengah memancar keluar, dan tak satu bendungan pun yang kita bangun mampu menampungnya, karena manusia hanyalah dapat menuai benih yang telah ia tanam.

Manusia menanam benih-benih keliaran dan kebuasan, maka ia pun mesti memanen kebuasan, bukan keakraban dan persahabatan. Arus ini tengah menyapu habis semua level dari hubungan manusiawi; ia telah menyelimuti seluruh Bumi ini. Apa yang akan menjadi hasilnya? Menurut suatu tradisi sunnah, manusia akan memakan dirinya sendiri dalam suatu semburan kekerasan hingga Intervensi Ilahiah membuat api yang tengah berkobar itu padam dan berhenti.


Tanya: “Bagaimanakah dengan orang-orang yang berbaris dan berdemonstrasi untuk perdamaian – membawa spanduk dan bernyanyi – apakah mereka memajukan perdamaian ataukah malah merusaknya?”

Syeikh Nazhim: Jika orang-orang itu berada dalam kedamaian dengan dirinya sendiri, dalam kehidupan batiniah mereka, maka usaha-usaha mereka mungkin akan membawa manfaat. Tapi, jika mereka masih liar dan keras dalam diri mereka, apa yang akan menjadi hasil dari aktivitas mereka itu? Lebih banyak kedengkian, kebencian, dan kebuasan akan muncul, dan hanya itu.

Kini, perdamaian dilukiskan dalam banyak surat kabar sebagai seekor merpati, tetapi ada begitu banyak elang-elang yang tengah menunggu untuk memangsanya. Jika tak ada sarana untuk melindungi merpati itu, perdamaian hanya akan menjadi kata tak bermakna. Saat ini, sekelompok besar wanita tengan berpawai dari Skotlandia menuju London untuk perdamaian, Masya Allah! Begitu banyak ibu dan wanita membawa perdamaian dari Skotlandia! Demonstrasi-demonstrasi semacam itu hanya akan menjadi bahan tertawaan dan hinaan orang-orang, bukan apa-apa lagi; karena masalah ini membutuhkan Dukungan Ilahiah.

Perdamaian haruslah didukung, dan untuk mendukung perdamaian, seseorang membutuhkan kekuatan: tak ada kekuatan tak ada perdamaian. Dan dukungan terkuat bagi perdamaian adalah kehidupan batiniah yang telah bangkit: keakraban dan familiaritas yang tumbuh dalam hati kita dan menyebarkan cabang-cabangnya ke seluruh dunia.

Tanpa adanya kalbu (jantung atau hati) yang subur dan berbuah seperti itu, apakah arti dari suatu “Pawai Perdamaian”? Itu hanyalah permainan anak-anak, siapa yang akan menganggapnya serius?

"Anda tidak bisa membayangkan penghargaan tertinggi yang diberikan kepada umat manusia. Di hadapan dzat Ilahi nyawa seseorang itu lebih berharga dibanding seluruh isi alam ini. Saya salah satu yang menentang orang-orang yang membawa manusia ke derajat paling rendah (binatang), serta menciptakan dan memanfaatkan senjata nuklir"

Wa min Allah at taufiq

Dikutip dari “Mercy Oceans, Divine Sources”

Pilihlah Arahmu: Diberkahi atau Dikutuk!

Sohbet tanggal 17.12.06
Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al Qubrusi Al Haqqani


Pilihlah Arahmu: Diberkahi atau Dikutuk!

Audzu bi-llahi mina syaitani rajim, Bismillahir Rahmanir Rahim,
Laa haula wa la quwatta illa bi-llahi-l Aliyu-l Adzim.
As-salamu alaikum, salamu-llah alaikum.

Semoga anugerah Allah yang Maha Kuasa merahmati kalian selamanya

Madad, ya Sultanu-l Awliya!

Berlarilah menuju arah dimana keberkahan datang; datanglah ke arah itu. Sekarang kita berada diplanet ini tempat kita hidup dan juga milyaran orang hidup. Hanya ada 2 arah: satu arah diberkahi dan arah lainnya dikutuk. Allah menganugerahkan kita dengan akal. Akal merupakan sebuah anugerah besar atau hal terbesar bagi ummat manusia adalah memiliki sebuah akal. Akal merupakan suatu keseimbangan. Dengan menggunakan akal kau akan mengerti mana arah yang penuh berkah atau arah yang dikutuk. Begitu sederhananya. Pesan-pesan surgawi ada didalamnya, titik aslinya adalah esensi/dzat. Esensi/dzat dari seluruh wahyu. Dan juga bagi seluruh bangsa. Tidak pernah pesan dan dzat dari pesan-pesan berubah sejak dari zaman Nabi Adam ke nabi pertama hingga terakhir. Pesan tidak pernah berubah. Tetapi - Subhanallah, Subhanallah- Ahlu-l Kitab, di Yahudi ada 71 buah sekte dan Kristiani ada 72 sekte dan Ummah terakhir, juga termasuk Ummah yang paling dihormati terbagi menjadi 73 buah sekte. Untuk apa? Untuk apa? Padahal semuanya begitu jelas. Arah yang diberkahi dan yang dikutuk, apakah yang kalian mainkan dengan berkata: Aku bagian ini, aku bagian itu, kalian salah. Tidak! Ada jalan kebenaran dan jalan yang salah. Jalan kebenaran adalah jalan yang diberkahi, jelas sekali. Dan jalan yang salah yaitu jalan yang dikutuk dan itupun sudah jelas.

Allah bersabda: Jangan minum minuman keras!

Inilah perintah yang diberkahi, berseru kepada orang-orang: Datang, jangan minum, jangan mabuk! Aku tidak suka orang yang mabuk! Aku memilih hamba-hamba- Ku untuk mengajarkan kalian, karena kalianlah khalifah-Ku di muka bumi, kalian harus belajar! Kalian harus belajar karena Aku mengenakan kalian dengan pakaian penuh berkah, pakaian yang tidak pernah Aku kenakan kepada makhluk lain! –Bahkan para malaikat tidak dikenakan pakaian tersebut- Dan Aku berkata kepada kalian: Wahai hamba-hamba- Ku terhormat, jangan mabuk, jangan minum minuman keras. Aku berkata kepada kalian! Tetapi setan berbisik kepada kalian: Jangan dengarkan, jangan pergi ke arah itu, datanglah ke arahku!

Ketika kalian dalam keadaan mabuk, kalian merasakan berada dalam kebahagiaan! Kebahagiaan macam apa! Apakah yang menjadi kebahagiaan saat kalian meminum minuman keras? Bertahun-tahun aku berada di London. Setiap malam kami pergi ke tempat berbeda untuk sarapan ataupun menghadiri undangan, untuk shalat dan setelah Maghrib, kami pergi dan sebagian besar London penuh dengan bar. Setelah waktu 'Ashar, setelah mereka selesai dengan pekerjaan mereka, mulailah bertanya-tanya: Malam ini pergi kemana? Apakah Setan berkata kepada mereka, "Kita bisa pergi ke gereja, kita bisa pergi ke sinagog atau kita bisa pergi ke masjid?" Tidak, tentu tidak!

Apakah yang kalian lakukan disini? Datang dan senangkan diri kalian! Aku sedang membangun ratusan pub, kalian harus pergi ke sana! Kenapa pergi ke masjid? Apa yang akan kau lakukan disana? Datanglah ke sini!

Dan mereka pun datang dan duduk disana sejak waktu 'Ashar.

Saat kita pergi, mereka diam saja. Ketika aku kembali lagi, berkali-kali aku melihat-lihat: Oh, apakah yangterjadi? Kekuatan polisi datang, polisi berlarian. Ehh! Kemudian penggerebekan dimulai. Ada yang kepalanya patah, ada yang tangannya patah dan mereka dipenuhi oleh kotoran.

Inikah arah yang kalian pikir arah yang baik, arah yang diberkahi? Allah bahagia ketika hamba-hamba- Nya didalam pub? Didalam gereja mereka berkata: Kami memiliki Layanan Hari Minggu. Kami mengundang saudara dan saudari kami untuk datang dan hadir dalam layanan kami. Dari pukul 10-12. Setelah acara selesai, gereja-gereja kembali gelap karena Eropa adalah Benua Kristiani dan mereka sangat bahagia, bahkan Paus pun bahagia! Paus berusaha menumbangkan Islam dan berkata: Islam datang dengan pedang untuk membentuk komunitas Muslim. Haha! Darimanakah kamu mempunyai pengetahuan itu? Kamu memandang Eropa! Perhatikanlah orang-orangmu, itulah yang kau katakan: Sayalah Tuan mereka; atas nama Tuhan Kami, saya ada disini!

Mengapa kamu tidak melatih Katolik agar tidak minum, tidak melakukan hal buruk, tidak melakukan pekerjaan terkutuk, mengapa? Kamu hanya datang dan membuat...(Syekh mencontoh upacara keberkahan Paus). Kaum Muslim juga berkata: Kalian harus berusaha menjadi Muslim kebarat-baratan. Hmmm. Dari mana kalian membawa hal tersebut? Yah, Setan. Apa itu Muslim kebarat-baratan? Jika mereka datang dari barat, mereka ummat Kristiani. Apakah kalian akan menjadi seperti mereka? Bagaimana kalau mereka ummat Muslim? Mereka Muslim yang kebarat-baratan –dibuku mana kalian menemukan ini, yah setan tentunya.

Audzu bi-llahi mina syaitani rajim !

Dan kini 99% dari mereka berada dijalan terkutuk. Mereka berkata, Ya Hu , bahkan saya berkata: Kalian berpenampilan sebagaimana seorang Muslim. Berdasarkan Perintah Tinggi Allah untuk mengenaka pakaian yang dapat menutupi kekurangan kalian! Dan saya berkata bahwa modernisasi yang bahkan Muslim yang kebarat-baratan tidak memiliki kumis. Saya pernah memanggil salah satu dari mereka dan berkata: Kemarilah, perhatikan kucing itu! Seekor kucing tidak suka bila kumisnya diambil, bagaimana dengan kamu? Heh? Mengapa kau mencukur kumis? Muslim yang kebarat-baratan! Di Arabia mereka mengenakan pakaian Galabiya, kemudian ketika mereka datang di London atau Paris atau negara lain di Eropa maka mereka mengubah pakaian yang mereka kenakan. Dimanakah letak Perintah Suci Allah?

Wahai manusia, gunakan akal kalian! Jika kalian tidak menggunakan akal kalian, maka akan datang hukuman! Allah yang Maha Kuasa yang akan menghukum mereka yang tetap berada dalam jalan yang salah, arah yang terkutuk, dijalan yang terkutuk!

Siapakah yang berada di jalan yang benar? Arah yang benar: Sheikh Abdul X. Sheikh Abdul Y mewakili Sheikh Z di Jerman. Lalu kami mencari ke Itali. Saat istri mulai marah, maka dia mencukur setengah janggutnya. Banyak orang tidak menggunakan akal mereka! Dan ketika Allah yang Maha Kuasa meminta untuk menghukum, pertama kali Dia akan mengambil akal mereka sehingga mereka tidak lagi memiliki Akl, tidak bisa berpikir. Lalu mereka melakukan sesuatu yang tidak pernah bisa diterima akal dan kutukan pun datang atas mereka.

Aku berada di Syam sejak 60 tahun, segala sesuatunya masih baik, juga cara wanitanya berpakaian dan semua laki-laki mempunyai janggut juga mengenakan Galabiya dan memakai turban. Sangat indah, betapa tampannya mereka! Dan kaum wanitanya pun menutupi wajah mereka. Tapi, kini apa yang terjadi? Wahai Syeikh, dari mana kau datang? Berkata: Dari Merwin, dari Mars. Yang pertama datang dari Mars dan aku salah satunya. Enam puluh tahun yang lalu aku disini lalu menghilang. Saya ada di Saturnus dan sekarang datang lagi. Ahhh, apakah yang kau tanyakan? Aku pernah disini tetapi kini aku tidak mengenali Damaskus dan orang-orang di'jalan'! Ya Hu, Aku lahir disini dan orang-orang seperti ini!

Aku tidak pernah mengetahui bahwa orang-orang Damaskus menjadi ,tidak!

Bahkan –waktu itu adalah waktu berbeda, sekarang wahai Syeikh, kau benar-benar datang dari Saturnus?

Tidak diragukan!

Apa kau keberatan, mengapa kau keberatan?

Karena aku sangat bahagia pada masa itu; para wanita memakai jilbab dan orang-orang mengenakan pakaian tradisional –tetapi kini...

Wahai Syeikh, kami hidup di abad 21!

Apakah yang kau katakan?

Kami harus berlaku seperti bangsa Eropa karena bangsa Eropa pernah datang dan berkata: Kalian Kaumun muta-akhkhir (=bangsa yang terakhir). Kalian orang terdahulu masyarakat Z karena masih memakai turban dan shalwa. Lihatlah orang turki itu.

Banyak orang-orang Turki yang aktif agar menjadi seperi bangsa Eropa!

Alhamdulillah, bahkan mereka selama 100 tahun berusaha seperti bangsa Eropa- tetapi kini bangsa Eropa berkata: Kalian tidak akan pernah menjadi seperti kami, tidak, kami tidak menerima kalian.Ya Hu ..

Kami mencoba mengubah semuanya, kami mengubah semua dan kalian tidak menerima kami sebagai bangsa Eropa?

Tidak, pergilah!

Alhamdulillah ! Orang-orang Daghestan, orang-orang Ghumuk tidak peduli karena mereka berada dinaungan tirani yang berusaha mengambil Islam dari Muslim. Tetapi, Alhamdulillah, mereka tidak berhasil! Karena Islam adalah bangunan Allah! Tidak dapat dihancurkan, tidak! Jika seseorang meminta dihancurkan, ditumbangkan dengan sebuah batu, dia harus meletakkan kepalanya dibatu itu! Itulah Perintah Surgawi untuk orang-orang dimuka bumi! Mereka meninggal, tirani di Rusia! Bahkan masa Zars (?), Kaisar-kaisar, mereka tidak berbuat apapun bagi kaum Muslim; jika mereka membangun masjid, shalat dan melaksanakan ketaatan kepada Tuhan; maka Dia akan diberikan mereka kebebasan. Tetapi setan itu datang dan membunuh para kaisar dan membawa paham komunis, mereka berusaha menghancurkan semuanya. Mereka menghancurkan banyak hal, tetapi mereka tidak bisa mengambil semuanya. Islam masih berdiri tegar karena Islam sebuah bangunan dari Surgawi!

Orang yang membawa komunisme ke Rusia –siapakah namanya?...Lenin!

Apakah yang tertinggal dari kekaisaran setan? Hanya darah kotornya di lapangan besar itu, tidak ada lainnya! Gereja-gereja masih berdiri, Kristiani membangunnya berdasarkan kepercayaan terhadap agama mereka. Gereja masih berdiri; bahkan kubah-kubah dari emasnya. Tetapi setan itu tidak dapat menghancurkannya, ketakutan datang melingkupinya! Dan kepada Islam, setan melakukan perbuatan terburuk mereka! Jutaan orang mereka bunuh. Lebih dari 90 juta Muslim terbunuh dibawah tirani komunisme agar Islam tersingkir dan jalan yang terkutuk dapat berdiri. Namun mereka tidak bisa melakukannya! Kaum Muslim memang terbunuh, tetapi mereka tidak bisa menyingkirkan dan melenyapkan bangunan-bangunan Islam. Kini, Islam di Rusia akan lebih kuat daripada di Turki! Lebih banyak kebebasan bagi mereka di teritori Rusia daripada Muslim yang tinggal di Turki. Tetapi Allah tidak tidur: allah mengetahui siapa yang menyerang Islam! Dia mengetahui siapa yang lebih memilih mengikuti arah-Nya yang baik, jalan yang diberkahi, dan Dia mengetahui siapa saja yang membujuk orang-orang mengikuti jalan terkutuk. Setiap orang yang berada dijalan terkutuk seharusnya disingkirkan. Islam ada selamanya!

Wahai manusia, ini tidak disiapkan bagi kalian untuk disampaikan, tetapi datang kepadaku. Aku berbicara begini karena orang-orang tidak mempedulikan jalan dan arah mana mereka berada. Wahai manusia, hanya ada 2 buah arah: arah yang diberkahi dan yang dikutuk. Sebagian besar orang berada diarah yang dikutuk. Tidak peduli –mereka akan disingkirkan! Allah yang Maha Kuasa mengutus Nuh as; selama 950 tahun beliau menyerukan bangsanya untuk mengikuti Allah, namun mereka menolak. Nuh as membangun Agama Surgawi dengan Perintah Tuhan-nya, tapi orang-orang tidak pernah datang ke arah beliau, arah ke Surga, arah menuju Keabadian. Mereka menolak.

Lalu Allah yang Maha Kuasa berkata: Wahai hamba-Ku, Wahai Nuh, jangan kuatir, Aku akan menghukum mereka! Aku mengirimkan mereka banjir, Aku akan menenggelamkan mereka. Jangan kuatir! Dan banjir akan berlangsung selama 40 hari, tidak ada seorang dari mereka yang tetapi hidup. Dia pun menyingkirkan mereka. Hanya 70, 75, atau 80 orang yang menerima ajaran Nabi Nuh, a.s. dan naik ke atas kapal. Mereka selamat dan semua bangsa ini (didunia sekarang) datang dari beliau. Allah yang Maha Kuasa dapat melakukan apapun! Ketika Dia marah dengan hamba-hamba- Nya, maka Dia akan menghukum, menghukum, menghukum mereka. Allah yang Maha Kuasa bersabda:

falama asafuna intakamna minhum eh ardabuna

Ketika mereka membuat Surga-surga marah terhadap mereka, Kami mengirimkan hukuman dan menyingkirkan mereka. Kini, orang-orang ingin mengambil sesuatu dari yang lain. Sang Nabi Suci saw berkata: Ketika Hari Akhir mendekat, orang-orang, bangsa-bangsa, tidak bertikai antar bangsa tetapi tiap bangsa bertikai dengan bangsa sendiri. Bangsa yang sama, orang-orang saling bertikai! Saya terkejut.

Kini aku mendengar tentang Palestina. Bangsa Palestina berada dalam negara mereka, mereka saling bertikai. Mereka tidak bertikai dengan bangsa Israel, tidak dengan bangsa Urdi, tidak bertikai dengan bangsa Iraq, mereka juga tidak bertikai dengan bangsa Saudi, tapi mereka bertikai satu dengan lainnya! Ada yang berkata: Fatah, yang lain: Hammas. Dimanakah engkau menemukan pemisah ini? Asma (=nama)- mereka memberikan nama-nama yang tidak dicantumkan dalam Kitab Suci Al Qur'an. Mereka menciptakannya! Mereka tidak berkata: Kami Muslim dan mereka tidak berkata: Ad-arb Muslim haram ala-l Muslim; membunuh sesama Muslim adalah dosa terbesar dan hukumannya ialah diceburkan ke Neraka yang tidak bertepi! Mereka bangsa Arab! Kita mungkin saja berkata, jika kami bertikai, kami tidak mengerti Kitab Suci Al Qur'an tetapi bahasa mereka adalah bahasa Al Qur'an. Mengapa mereka melakukan hal ini? Dan begitu banyak Arab yang kebarat-baratan, begitu pula negaranya. Mereka melihat dan tidak berkata kepada seorangpun: Hentikan, apa yang kau lakukan? Tidak!

Namun mereka berkata: Biarkan mereka saling bunuh, selesai!

Semoga Allah mengampuni kami!

Wahai manusia, tidak ada arah ketiga! Hanya ada 2 arah, yaitu arah yang berkahi dan yang dikutuk. Dan kalian bebas memilih! Allah memberikan kalian kebebasan untuk memilih dengan menggunakan akal kalian: arah yang berkahi dan yang dikutuk!

Semoga Allah mengampuni kita!. Semoga Allah mengirim kepada kita...aku memohon kepada Allah: Wahai Allah, utuslah kepada kami Sultan untuk mengumpulkan hamba-hamba- Mu dibawah naungan panji suci Nabi-Nabi Suci-Mu. Jika tidak, kami akan binasa!

Semoga Allah mengampuni kami dan merahmati kalian!

Demi kehormatan yang paling terhormat dalam Hadirat Illahi-Nya, Sayyidina Muhammad sws, Fatiha.

Di-post oleh Sri Rahayu Handayani

Berkompromi dengan Iblis

Syeh Abdullah berkata, "Jika seekor kutu berada di kakimu dan kamu mengatakan, 'tidak apa-apa, hanya di kaki saya.' - maka kamu akan menemukannya, tidak di kakimu, tapi di dalam rambut kepalamu!"

Merujuk pada perkataan di atas, kita harus mengetahui bahwa ada dua jenis orang. Orang yang baik akan memperlihatkan sikap rahmat dan toleransi kepada semua. Mereka yang memiliki karakter buruk, sebaliknya, senang melihat orang lain menderita. Mereka memberikan kesulitan kepada setiap orang. Orang-orang berkarakter buruk datang kepada yang baik dan berkata, "Biarkanlah kami menjadi penjaga pintumu." Ketika orang-orang baik tersebut menerima mereka yang buruk (dengan jawaban, "Tidak apa-apa, tidak masalah), orang-orang buruk tersebut merampas semua yang dimiliki orang-orang yang baik.

Kamu harus berhati-hati. Jangan pernah bersikap toleran pada iblis atau memberikannya wewenang. (Iran, contohnya, membiarkan Khomeini kembali - dan kemudian selesai). Ini seperti memberikan izin pada ular dan kalajengking untuk hidup dalam rumahmu. Demokrasi membolehkan musuh-musuhnya untuk bekerja dalam batas-batas tersebut. Quran berfirman, "Jangan percaya kepada mereka yang tidak berkeyakinan, memiliki sifat, atau jalan yang sama denganmu." Bahkan bila orang itu Muslim - bila dia tidak berpendapat dan berpikir yang sama seperti kamu, jangan percaya kepadanya.

The Teachings of Grandshaykh Abdullah Faiz ad-Daghestani
by Maulana Shaykh Nazim al-Haqqani

-Ilahi anta maqsudi wa ridhaka mathlubi, You are my goal and Your Pleasure is my desire-

Dikirim oleh Ermita Mangkona

Sabtu, 05 November 2011

Nilai Seseorang Berhubungan Dengan Cara Dia Menilai Waktunya

Sheikh Nazim Al-Qubrusi Al-Haqqani
~Ocean of Unity~

Waktu ada di Tangan Tuhan, artinya waktu menggerakkan segala sesuatu agar sesuai jalur menuju takdir yang telah ditetapkan. Ada yang mampu memahami lintasan waktu dan mengamatinya dengan mata kebijaksanaan. Orang-orang seperti itu menghadapi waktu dengan mengendalikannya setiap saat, menggunakan anugerah pemahaman Tuhan itu untuk menggerakkan hidupnya menuju arah yang benar. Yang lain menggunakan waktu dengan hal-hal yang menyimpang, seperti ketika seseorang melihat pada cermin cekung atau cembung. Persepsi seperti ini terjadi karena mereka tidak berdamai dengan “Tangan Tuhan” ; belum memahami alasan mengapa Tuhan membatasi dunia ruang dan waktu.

Tuhan bermaksud memberi sebuah kesempatan untuk menyempurnakan diri kita, guna meraih atribut-atribut suci-Nya melalui berbagai usaha kita ketika menghadapi situasi yang sulit. Hal itu mempersiapkan diri kita untuk hari pertemuan kita kembali dengan Sang Khalik.

Dalam sebuah hadist, Tuhan mengatakan : "Keturunan Adam menyumpahi waktu, dan Akulah waktu. Di dalam Tangan-Ku lintasan siang dan malam.”
Bagi mereka yang belum memahami kebenaran ini, waktu terasa berjalan dengan cara yang menganggu dan tak menentu. Hal ini untuk menarik perhatian kita agar merubah diri sendiri untuk mendapatkan harmoni / keseimbangan dalam melewati waktu. Karena waktu itu sendiri, jelas dia tidak terlalu cepat ataupun terlalu lambat untuk mengakomodasi keinginan-keinginan kita.

Perasaan kita terhadap waktu adalah karena kemurahan Tuhan. Seperti halnya perut sakit adalah indikasi untuk merubah pola makan, sehingga sakit itu membangunkan kita untuk penyesuaian gaya hidup. Ada yang merasakan waktu cepat berlalu, bagaikan seorang penunggang yang merana diatas punggung kuda yang menyerbu sebuah kawanan ternak lalu menuju sebuah karang. Namun bagi yang lain, waktu seakan tidak bergerak seperti sedang terjerumus di dalam rawa-rawa.

Pertama-tama kita harus paham akan nilai dari waktu yang ketika terlewatkan tidak akan diperoleh kembali. Jika seluruh bangsa mengumpulkan sumber-sumbernya dalam usaha menebus satu detik dari masa lalu ( untuk mengubah sebuah keputusan yang menimbulkan petaka, misalnya ) akan berhasilkah mereka ? Tidak !
Sebuah gunung harta tidak bisa membawa kembali satu detik momen penting dalam hidup kalian. Jadi, waktu amat berharga untuk diperhitungkan. Namun orang-orang malah menyia-nyiakannya agar bisa mempunyai waktu rehat lebih banyak.

Begitu banyak orang-orang ( bukan saja yang secara klinis mengidap depresi ) yang menderita ketidak mampuan untuk menyesuaikan waktu dengan cara agar tercapai kedamaian pikiran.

Nafsu anak-anak muda adalah ingin menelan seluruh dunia ini dengan seketika. Demam panas nafsu pencapaian akan kenikmatan membuat waktu terasa cepat berlalu. Seringkali, dalam waktu yang kritis ini tidak ada kebijaksanaan yang bisa dilatih, lalu memperturutkan kecenderungan ego untuk menghabiskan seluruh energi mereka. Itulah cara mudah untuk menghabiskan energi secara cepat dan ceroboh. Padahal hidup seperti sebuah lari marathon : butuh langkah-langkah, karena jika kalian berlari cepat dari permulaan maka akan roboh setelah beberapa ratus yard. Menyusun kembali sebuah persiapan energi butuh unsur-unsur kontrol diri dan kemauan, dimana hal itu jarang terdapat pada kaum muda.

Sebagian anak-anak muda menghindar dari cara-cara spiritual. Hanya ketika mereka sedang “jatuh” dan menderita lalu mereka datang kesini dengan terpincang-pincang untuk “perbaikan”. Ratusan orang datang padaku sambil mengatakan : “ Ya Syaikh, bisakah Anda menolong saya ?" Suatu tugas berat untuk menolong mereka yang telah menghabiskan seluruh tenaganya dengan sia-sia dan mereka yang mempunyai kekuatan fisik dan mental yang sayangnya berada di tingkat yang rendah.

Kadang saya merasa heran karena sebagaian dari mereka masih amat muda. Membangkitkan orang mati adalah sebuah keajaiban yang hanya diberikan pada Nabi-Nabi, namun sepanjang masih ada tanda-tanda kehidupan kami berharap mampu membangkitkan mereka dari keadaan koma.

Sebagai hasil apa yang dilakukan secara berlebih-lebihan, maka depresi menjangkit kaum muda-mudi ini. Sekarang waktu menjadi tidak cepat berlalu, namun menyeret seperti jalannya seekor keong. Seorang yang depresi berharap waktu akan cepat berlalu namun kenyataannya berlawanan, menit seperti berjam-jam, sejam bagaikan berhari-hari, dan sehari bagaikan berminggu-minggu.

Biasanya, orang-orang yang energinya tidak tersalurkan dengan cara yang bermanfaat, dan merasa tidak berhasil dalam hidupnya, akan terjangkit perasaan seperti ini. Begitu tolol bagi mereka yang berharap bahwa waktu akan cepat berlalu, karena seperti yang telah kita sebutkan, waktu bagaikan sebuah perhiasan yang tidak ternilai.

Dalam Thareqat Naqsybandi yang mulia ini, kita mempunyai sebuah peraturan yang menonjol : Nilai seseorang berhubungan dengan cara dia menilai waktunya. Jika kalian merasa waktu kalian sebagai sebuah beban yang tak berguna dan berharap untuk cepat berlalu, maka kalian akan menjadi sebuah beban di muka bumi ini, dan lebih baik kalian berada di bawahnya daripada di atas bumi. Mengapa ? Karena kalian dengan ceroboh memboroskan satu harta yang tak ternilai, yaitu energi vital kalian.

Sekarang harta tak ternilai yang lain - yaitu waktu - bukan menjadi semacam kemakmuran di tangan kalian, tapi menjadi timbunan tak terukur dibawah tanah yang telah kalian kubur. Bijaksanalah dengan energi vital kalian sehingga nilai dari waktu termanifestasi dalam hidup kalian. Jika kalian menjaga waktu kalian layaknya permata, maka kalian akan diagungkan di mata orang-orang dan di Hadirat Ilahi, disini dan di akhirat kelak.

Ada sebuah ungkapan : “ Seorang sufi bagaikan seorang anak bagi waktunya.” Artinya, seorang sufi memperlakukan waktunya dengan pemujaan dan rasa hormat yang sama seperti terhadap orang tuanya sendiri. Sikap baik terhadap orang tua adalah kewajiban utama dalam agama. Dalam thareqat sufi, kita ditekankan untuk menghormati waktu sebagaimana kita menghormati ayah dan ibu.

Seorang darwish sejati tidak akan pernah melewatkan sebuah momen dengan percuma, namun menangkapnya seperti seorang joki terlatih yang mengendalikan kudanya. Menggunakan kecakapan seperti itu agar waktu berjalan dengan arah yang benar dan dengan kecepatan yang tepat. Lihatlah seorang darwish sejati, pasti kalian akan menemukan mereka sibuk dengan sesuatu yang berguna, tidak pernah melakukan aktifitas yang merugikan atau yang sia-sia. Jika seseorang mampu menuntun dirinya sendiri pada perbuatan-perbuatan yang mengarah pada kesempurnaan, maka dia tahu apa yang harus dilakukan. Mata hatinya tidak pernah buta; dia waspada akan tanda-tanda akan segala hal yang sedang dihadapinya.

Grandshaykh kita sering mengatakan :
"Bagaimana kalian mengisi hari-hari kalian ? Jangan sia-siakan waktu, usahakan untuk ‘menenun’ ruang dan waktu sehingga kalian meninggalkan warisan kekal didunia ini dan terhormatlah karenanya disini dan di akhirat kelak. “

Bagi pengikut thariqat, menyia-nyiakan waktu secara ceroboh atau mengisinya dengan aktifitas yang tidak berguna adalah dosa besar. Jagalah energi vital dan waktu berharga kalian, jadikan tiap saat menjadi berguna.

Mengenang Akhlak Nabi Suci Kita : Muhammad SAW

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim


Mengenang Akhlak Nabi Suci Kita :
Muhammad SAW


Setelah Nabi wafat, seketika itu pula kota Madinah hingar bingar dengan tangisan ummat Islam; antara percaya dan tidak, Rasul yang mulia telah meninggalkan para sahabat. Beberapa waktu kemudian, seorang arab badui menemui Umar dan dia meminta, “Ceritakan padaku akhlak Muhammad.” Umar menangis mendengar permintaan itu. Ia tak sanggup berkata apa-apa. Ia menyuruh Arab badui tersebut menemui Bilal. Setelah ditemui dan diajukan permintaan yang sama, Bilal pun menangis, ia tak sanggup menceritakan apapun. Bilal hanya dapat menyuruh orang tersebut menjumpai Ali bin Abi Thalib.

Orang Badui ini mulai heran. Bukankah Umar merupakan seorang sahabat senior Nabi, begitu pula Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia Nabi. Mengapa mereka tak sanggup menceritakan akhlak Muhammad. Dengan berharap-harap cemas, Badui ini menemui Ali. Ali dengan linangan air mata berkata : “ Ceritakan padaku keindahan dunia ini!” Badui ini menjawab, “Bagaimana mungkin aku dapat menceritakan segala keindahan dunia ini...” Ali menjawab, “ Engkau tak sanggup menceritakan keindahan dunia ini, padahal Allah telah berfirman bahwa sungguh dunia ini kecil dan hanyalah senda gurau belaka, lalu bagaimana aku dapat melukiskan akhlak Muhammad, sedangkan Allah telah berfirman bahwa sungguh Muhammad memiliki budi pekerti yang agung! (QS. Al-Qalam 68: 4).”

Badui ini lalu menemui Siti Aisyah r.a. Isteri Nabi yang sering disapa Khumairah oleh Nabi. Aisyah menjawab,”Khuluquhu al-Quran (Akhlaknya Muhammad itu Al-Quran).” Seakan-akan Aisyah ingin mengatakan bahwa Nabi itu bagaikan Al-Quran berjalan. Badui ini tidak puas, bagaimana bisa ia segera menangkap akhlak Nabi kalau ia harus melihat seluruh kandungan Quran. Aisyah akhirnya menyarankan Badui ini untuk membaca dan menyimak QS Al-Muminun (23: 1-11).

Bagi para sahabat, masing-masing memiliki kesan tersendiri dari pergaulannya dengan Nabi. Kalau mereka diminta menjelaskan seluruh akhlak Nabi, linangan air mata-lah jawabannya, karena mereka terkenang akan junjungan mereka. Mereka hanya mampu menceritakan satu fragmen yang paling indah dan berkesan dalam interaksi mereka dengan Nabi Penutup ini.

Kembali ke Aisyah. Ketika ditanya bagaimana perilaku Nabi, Aisyah menjawab “Semua perilakunya indah.” Ketika didesak lagi, Aisyah baru bercerita tentang saat terindah baginya sebagai seorang isteri, “ Ketika aku sudah berada di tempat tidur dan kami sudah masuk dalam selimut, dan kulit kami sudah bersentuhan, suamiku berkata, ‘Ya Aisyah, izinkan aku untuk menghadap Tuhanku terlebih dahulu.’ “ Apalagi yang lebih membahagiakan seorang isteri, karena dalam episode tersebut terkumpul kasih sayang, kebersamaan, perhatian dan rasa hormat dari seorang suami, yang juga seorang utusan Allah.

Nabi Muhammad jugalah yang membuat khawatir hati Aisyah ketika menjelang subuh Aisyah tidak mendapati suaminya disampingnya. Aisyah keluar membuka pintu rumah. terkejut ia bukan kepalang, melihat suaminya tidur di depan pintu. Aisyah berkata, mengapa engkau tidur di sini. Nabi Muhammmad menjawab,” Aku pulang larut malam, aku khawatir mengganggu tidurmu sehingga aku tidak mengetuk pintu. itulah sebabnya aku tidur di depan pintu.” Mari berkaca di diri kita masing-masing. Bagaimana perilaku kita terhadap isteri kita? Nabi mengingatkan, berhati-hatilah kamu terhadap isterimu, karena sungguh kamu akan ditanya di hari akhir tentangnya. Para sahabat pada masa Nabi memperlakukan isteri mereka dengan hormat, mereka takut kalau wahyu turun dan mengecam mereka.

Buat sahabat yang lain, fragmen yang paling indah ketika sahabat tersebut terlambat datang ke Majelis Nabi. Tempat sudah penuh sesak. Ia minta izin untuk mendapat tempat, namun sahabat yang lain tak ada yang mau memberinya tempat. Di tengah kebingungannya, Rasul memanggilnya. Rasul memintanya duduk di dekatnya. Tidak cukup dengan itu, Rasul pun melipat sorbannya lalu diberikan pada sahabat tersebut untuk dijadikan alas tempat duduk. Sahabat tersebut dengan berlinangan air mata, menerima sorban tersebut namun tidak menjadikannya alas duduk akan tetapi mencium sorban Nabi.

Senangkah kita kalau orang yang kita hormati, pemimpin yang kita junjung tiba-tiba melayani kita bahkan memberikan sorbannya untuk tempat alas duduk kita. Hanya menerima kartu lebaran dari seorang pejabat saja kita sangat bersuka cita. Begitulah akhlak Nabi, sebagai pemimpin ia ingin menyenangkan dan melayani bawahannya.

Nabi Muhammad juga terkenal suka memuji sahabatnya. Kalau kita baca kitab-kitab hadis, kita akan kebingungan menentukan siapa sahabat yang paling utama. Terhadap Abu Bakar, Rasul selalu memujinya. Abu Bakar-lah yang menemani Rasul ketika hijrah. Abu Bakarlah yang diminta menjadi Imam ketika Rasul sakit. Tentang Umar, Rasul pernah berkata, syetan saja takut dengan Umar, bila Umar lewat jalan yang satu, maka syetan lewat jalan yang lain. Dalam riwayat lain disebutkan, Nabi bermimpi meminum susu. Belum habis satu gelas, Nabi memberikannya pada Umar yang meminumnya sampai habis. Para sahabat bertanya, “Ya Rasul apa maksud (tawil) mimpimu itu?” Rasul menjawab ilmu pengetahuan.

Tentang Utsman, Rasul sangat menghargai Ustman karena itu Utsman menikahi dua putri Nabi, hingga Utsman dijuluki dzu an-Nurain (pemilik dua cahaya). Mengenai Ali, Rasul bukan saja menjadikannya ia menantu, tetapi banyak sekali riwayat yang menyebutkan keutamaan Ali. “Aku ini kota ilmu, dan Ali adalah pintunya. Barang siapa membenci Ali, maka ia merupakan orang munafik.”

Lihatlah diri kita sekarang. jika ada seorang rekan yang punya sembilan kelebihan dan satu kekurangan, maka kita jauh lebih tertarik berjam-jam untuk membicarakan yang satu itu dan melupakan yang sembilan. Ternyata kita belum suka memuji; kita masih suka mencela. Ternyata kita belum mengikuti sunnah Nabi.

Saya pernah mendengar bahwa Allah pun sangat menghormati Nabi Muhammad. Buktinya, dalam Al-Quran Allah memanggil para Nabi dengan sebutan nama: Musa, Ayyub, Zakaria, dll. tetapi ketika memanggil Nabi Muhammad, Allah menyapanya dengan Wahai Nabi. Ternyata Allah saja sangat menghormati beliau.

Para sahabatpun ditegur oleh Allah ketika mereka berlaku tak sopan pada Nabi. Alkisah, rombongan Bani Tamim menghadap rasul. Mereka ingin Rasul menunjuk pemimpin buat mereka. Sebelum Nabi memutuskan, Abu Bakar berkata: “ Angkat Al-Qaqa bin Mabad sebagai pemimpin.” Kata Umar ;” Tidak, angkatlah Al-Aqra bin Habis.” Abu Bakar berkata ke Umar, “Kamu hanya ingin membantah aku saja.” Umar menjawab “ Aku tidak bermaksud membantahmu.” Keduanya berbantahan sehingga suara mereka terdengar makin keras. Waktu itu turunlah ayat: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya. Takutlah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menaikkan suaramu di atas suara Nabi. janganlah kamu mengeraskan suara kamu dalam percakapan dengan dia seperti mengeraskan suara kamu ketika bercakap terhadap sesamamu. Agar tidak terhapus amal-amalmu sedangkan kamu tidak menyadarinya (al-hujurat 1-2)

Setelah mendengar teguran itu Abu Bakar berkata :”Ya Rasul Allah, demi Allah, sejak sekarang aku tidak akan berbicara denganmu kecuali seperti seorang saudara yang membisikkan rahasia. “ Umar juga berbicara kepada Nabi dengan suara yang lembut. Bahkan konon kabarnya setelah peristiwa itu Umar banyak sekali bersedekah, karena takut amal yang lalu telah terhapus. Para sahabat Nabi takut akan terhapus amal mereka karena melanggar adab saat berada dalam hadirat Nabi.

Dalam satu kesempatan lain, ketika di Mekkah, Nabi didatangi utusan pembesar Quraisy, Utbah bin Rabiah. Ia berkata pada Nabi,” Wahai kemenakanku, kau datang membawa agama baru, apa yang sebetulnya kau kehendaki. Jika kau kehendaki harta, akan kami kumpulkan kekayaan kami, Jika Kau inginkan kemuliaan akan kami muliakan engkau. Jika ada sesuatu penyakit yang dideritamu, akan kami carikan obat. Jika kau inginkan kekuasaan, biar kami jadikan engkau penguasa kami.”

Nabi mendengar dengan sabar uraian tokoh musyrik ini. Tidak sekalipun beliau membantah atau memotong pembicaraannya. Ketika Utbah berhenti, Nabi bertanya, “ Sudah selesaikah, Ya Abal Walid?” - “Sudah,” jawab Utbah. Nabi membalas ucapan Utbah dengan membaca surat Fushilat. Ketika sampai pada ayat sajdah, Nabi bersujud. Sementara itu Utbah duduk mendengarkan Nabi sampai menyelesaikan bacaannya.

Peristiwa ini sudah lewat ratusan tahun lalu. Kita tidak heran bagaimana Nabi dengan sabar mendengarkan pendapat dan usul Utbah, tokoh musyrik. Kita mengenal akhlak nabi dalam menghormati pendapat orang lain. Inilah akhlak Nabi dalam majelis ilmu. Yang menakjubkan adalah perilaku kita sekarang. Bahkan oleh si Utbbah, si musyrik, kita kalah. Utbah mau mendengarkan Nabi dan menyuruh kaumnya membiarkan Nabi berbicara. Jangankan mendengarkan pendapat orang kafir, kita bahkan tidak mau mendengarkan pendapat saudara kita sesama muslim. Dalam pengajian, suara pembicara kadang-kadang tertutup suara obrolan kita.

Ketika Nabi tiba di Madinah dalam episode hijrah, ada utusan kafir Mekkah yang meminta janji bahwa Nabi akan mengembalikan siapapun yang pergi ke Madinah sepeninggal Nabi. Selang beberapa waktu, seorang sahabat rupanya tertinggal di belakang Nabi. Sahabat ini meninggalkan isterinya, anaknya dan hartanya. Dengan terengah-engah menembus padang pasir, akhirnya ia sampai di Madinah. Dengan perasaan haru ia segera menemui Nabi dan melaporkan kedatangannya. Apa jawab Nabi? “ Kembalilah engkau ke Mekkah. Sungguh aku telah terikat perjanjian. Semoga Allah melindungimu.” Sahabat ini menangis keras. Bagi Nabi janji adalah suatu yang sangat agung. Meskipun Nabi merasakan bagaimana besarnya pengorbanan sahabat ini untuk berhijrah, bagi Nabi janji adalah janji; bahkan meskipun janji itu diucapkan kepada orang kafir. Bagaimana kita memandang harga suatu janji, merupakan salah satu bentuk jawaban bagaimana perilaku Nabi telah menyerap di sanubari kita atau tidak.

Dalam suatu kesempatan menjelang akhir hayatnya, Nabi berkata pada para sahabat, “ Mungkin sebentar lagi Allah akan memanggilku, aku tak ingin di padang mahsyar nanti ada diantara kalian yang ingin menuntut balas karena perbuatanku pada kalian. Bila ada yang keberatan dengan perbuatanku pada kalian, ucapkanlah! “ Sahabat yang lain terdiam, namun ada seorang sahabat yang tiba-tiba bangkit dan berkata, “ Dahulu ketika engkau memeriksa barisan di saat akan pergi perang, engkau meluruskan posisi aku dengan tongkatmu. Aku tak tahu apakah engkau sengaja atau tidak, tapi aku ingin menuntut qishash hari ini.” Para sahabat lain terpana, tidak menyangka ada yang berani berkata seperti itu. Kabarnya Umar langsung berdiri dan siap membereskan orang itu. Nabi melarangnya. Nabi pun menyuruh Bilal mengambil tongkat ke rumah Nabi. Siti Aisyah yang berada di rumah Nabi keheranan ketika Nabi meminta tongkat. Setelah Bilal menjelaskan peristiwa yang terjadi, Aisyah pun semakin heran, mengapa ada sahabat yang berani berbuat senekad itu setelah semua yang Rasul berikan pada mereka.

Rasul memberikan tongkat tersebut pada sahabat itu seraya menyingkapkan bajunya, sehingga terlihatlah perut Nabi. Nabi berkata, “Lakukanlah!” Detik-detik berikutnya menjadi sangat menegangkan. Tetapi terjadi suatu keanehan. Sahabat tersebut malah menciumi perut Nabi dan memeluk Nabi seraya menangis, “Sungguh maksud tujuanku hanyalah untuk memelukmu dan merasakan kulitku bersentuhan dengan tubuhmu! Aku ikhlas atas semua perilakumu wahai Rasulullah.” Seketika itu juga terdengar ucapan - Allahu Akbar - berkali-kali. sahabat tersebut tahu, bahwa permintaan Nabi itu tidak mungkin diucapkan kalau Nabi tidak merasa bahwa ajalnya semakin dekat. Sahabat itu tahu bahwa saat perpisahan semakin dekat, ia ingin memeluk Nabi sebelum Allah memanggil Nabi.

Suatu pelajaran lagi buat kita. Menyakiti orang lain baik hati maupun badannya merupakan perbuatan yang amat tercela. Allah tidak akan memaafkan sebelum yang kita sakiti memaafkan kita. Rasul pun sangat hati-hati karena khawatir ada orang yang beliau sakiti. Khawatirkah kita bila ada orang yang kita sakiti menuntut balas nanti di padang Mahsyar di depan Hakim Yang Maha Agung ditengah miliaran umat manusia. Jangan-jangan kita menjadi orang yang muflis. Naudzu billah.....

Nabi Muhammad ketika saat haji Wada, di padang Arafah yang terik, dalam keadaan sakit, masih menyempatkan diri berpidato. Di akhir pidatonya itu Nabi dengan dibalut sorban dan tubuh yang menggigil berkata, “ Nanti di hari pembalasan, kalian akan ditanya oleh Allah apa yang telah aku, sebagai Nabi, perbuat pada kalian. Jika kalian ditanya nanti, apa jawaban kalian? “ Para sahabat terdiam dan mulai banyak yang meneteskan air mata. Nabi melanjutkan, “ Bukankah telah kujalani hari-hari bersama kalian dengan lapar, bukankah telah kutaruh beberapa batu diperutku karena menahan lapar bersama kalian, bukankah aku telah bersabar menghadapi kejahilan kalian, bukankah telah ku sampaikan pada kalian wahyu dari Allah.....? “ Untuk semua pertanyaan itu, para sahabat menjawab, “ Benar ya Rasul! “

Rasul pun mendongakkan kepalanya ke atas, dan berkata, “Ya Allah saksikanlah...Ya Allah saksikanlah...Ya Allah saksikanlah!.” Nabi meminta kesaksian Allah bahwa Nabi telah menjalankan tugasnya. Di pengajian ini saya pun meminta Allah menyaksikan bahwa kita mencintai Rasulullah.

Ya Allah saksikanlah betapa kami mencintai Rasul-Mu,

betapa kami sangat ingin bertemu dengan kekasih-Mu,

betapa kami sangat ingin meniru semua perilakunya yang indah;

semua budi pekertinya yang agung,

betapa kami sangat ingin dibangkitkan nanti di padang Mahsyar bersama Nabiyullah Muhammad,

betapa kami sangat ingin ditempatkan di dalam surga yang sama dengan surganya Nabi kami.

Ya Allah saksikanlah...Ya Allah saksikanlah…Ya Allah saksikanlah

========================

Maqam Nabi SAW di Hadirat Ilahi

Maqam Nabi SAW di Hadirat Ilahi
Mawlana Shaykh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani


A’udhu bil Lahi minash Shaytanir rajim
Bismillahir Rahman ir Rahim

Kita perlu belajar begitu banyak. Tetapi yang paling penting adalah bahwa kalian harus belajar, kalian harus berusaha untuk mengetahui sumber kekuatan bagi jiwa kita. Untuk mengetahui di mana sumber kekuatan itu. Bukan berarti kalian hidup sebagai binatang, tetapi kalian tidak akan berurusan sebagai binatang nanti di Hari Kebangkitan. Binatang, mereka boleh makan, tidak ada kewajiban bagi mereka. Tetapi kalian, jika kalian tidak memperhatikan apa yang kalian makan dan minum, kalian akan ditanya di Hari Kebangkitan, mengapa kalian tidak meminta sumber kekuatan yang dapat membuat kalian lebih dekat dengan Hadirat Ilahiah-Ku?

Dan setiap orang harus berhati-hati untuk menemukan jalan mereka agar lebih dekat dengan Hadirat Ilahi. Hadirat Ilahi—jangan pikir itu hanya satu level.

Hadirat Ilahi bagi para anbiya hanya dapat diraih oleh anbiya. Dan Hadirat Ilahi bagi awliya, mereka juga mempunyai level yang lain di mana orang lain tidak dapat meraihnya, tidak dapat mendekatinya. Karena Cahaya-Cahaya Ilahi pada level itu akan membakar mereka. Mereka tidak akan sanggup. Dan level para awliya, orang-orang suci, menurut maqam-maqam mereka, mereka juga akan berbeda satu sama lain. Hadirat Ilahi bagi setiap orang tidak sama, tidak.

Sayyidina Rasulullah saw—Sultanul ‘Arafin Abayazid, minta untuk dapat mendekati samudra makrifat Nabi saw. Ia minta agar bisa mendekat, sampai pada maqam Nabi saw, dan berusaha untuk mencapainya. Tetapi, haatif Rabbani—suara Surgawi—pengumuman surgawi muncul dan mengatakan, “Wahai Abayazid, waspadalah! Antara kau dengan Nabi Penutup saw terdapat 10.000 samudra cahaya.” 10.000 samudra cahaya. Tetapi tetap saja ia berkata, “Walaupun yang pertama, aku harus berusaha untuk meraihnya.” Dan ia meminta agar bisa bergerak. Dan pengumuman yang lain datang dari langit, “Wahai Abayazid, waspadalah! Jika kau meletakkan kakimu satu langkah di depanmu menuju samudra cahaya yang pertama, kau akan terbakar, kau akan musnah dari eksistensimu, tak ada lagi kesempatan bagimu untuk kembali ke eksistensimu ketika kesempatan lain… tak ada kesempatan bagimu. Kau tamat. Tak ada lagi kesempatan untukmu. Cahaya itu bisa membakarmu, dan tak ada kesempatan bagimu untuk tiba di maqam yang kau tempati sekarang ini. Kau tamat, musnah dari eksistensimu. Waspadalah!”

Di mana hadirat Nabi saw? Di mana beliau hadir? Hadirat Ilahi, bagaimana menurut kalian?

Oleh sebab itu jangan berpikir bahwa, ketika kalian mengatakan, “Kami berusaha untuk meraih maqam-maqam surgawi,” bahwa kalian berusaha untuk mencapai maqam kami di Hadirat Ilahi. Kalian tidak akan pernah tahu di mana kalian hadir—di mana maqam kalian di Hadirat Ilahi. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Oleh sebab itu, ketika seorang hamba, ia berusaha untuk membuat jalannya—kami menyebutnya “suluk,” untuk menemukan jalannya menuju Hadirat Ilahi, itu hanya untuknya saja. Kalian tidak dapat menemukan dua orang pada level yang sama. Masing-masing mempunyai level yang berbeda di Hadirat Ilahi, atau maqam yang berbeda di Hadirat Ilahi.

Dan kita harus berusaha untuk mencapai maqam-maqam kita di Hadirat Ilahi, dalam semua ibadah dan salat hanya untuk diri kita, untuk membuat diri kita lebih dekat dengan maqam kita di Hadirat Ilahi. Itu bukanlah untuk Allah, apa yang kita lakukan, bukanlah untuk-Nya. Itu hanya untuk diri kita sendiri, agar diri kita lebih dekat, lebih dekat lagi. Jika kita kehilangan kekuatan yang sangat besar, himmat, kuda yang besar. Kalian dapat melakukannya untuk diri kalian sendiri untuk mencapainya, atau mendekati maqam kalian di Hadirat Ilahi.

Itu artinya apa yang kita lakukan sekarang di sini, jika kalian hidup semilyar tahun, kita dapat mencapainya. Tidak cukup untuk membuat diri kita berusia jutaan tahun, beribadah untuk mendekati maqam surgawi kita di Hadirat Ilahi. Tetapi yuhayyit—mempersiapkan diri kita untuk mencapai maqam-maqam kita. Dan jika Allah swt rida dengan perbuatan kalian dan ibadah kalian, Dia akan menganugerahkan kepada kalian sebagaimana Dia berfirman, “Jika hamba-Ku mendekati-Ku satu kaki, Aku akan datang kepadanya 10.” Ketika kalian akan meraih maqam kalian di Hadirat Ilahi, membuat kalian mencapai 10. 10 kekuatan yang lebih banyak diberikan kepada kalian, setiap kalian melangkah satu kaki, Dia memberi kalian 10. dan kemudian yang 10 itu akan menjadi 100. 100 akan menjadi 1.000. 1.000 akan menjadi 10.000. 10.000 akan menjadi 100.000. Jadi, apa yang kita lakukan bukanlah apa-apa. Tak ada nilainya, tak ada suatu kekuatan. Tetapi itu adalah karena Allah melihat niat kalian. Sesuai dengan niat kalian, Dia membuka jalan bagi kalian untuk naik. Oleh sebab itu, niat adalah faktor yang paling penting dalam setiap ibadah dalam Islam. Karena itu membuat kalian lebih dekat dengan Hadirat Ilahi, untuk meraih maqam kalian pada level Hadirat Ilahi milik kalian.

Semoga Allah mengampuni kita. Amin.

Cari Blog Ini