Mawlana Syaikh Nazim Adil al-Haqqani
Dari Buku Mercy Oceans
Mari Kemari, Datang..Datanglah
Mari kemari datanglah siapapun dirimu...
Pengelana, Peragu, dan Pecinta mari..kemari datanglah...
Tak penting kau percaya atau tidak...
Mari, kemari … datanglah...
Kami bukanlah caravan yang patah hati...
atau pintu-pintu dari keputus asa-an,
Mari kemari datanglah...
Meski kau telah jatuh ribuan kali,
Meski kau telah patahkan ribuan janji,
Mari kemari…datang. .. datanglah sekali lagi…
( Mawlana Jalaluddin Rumi )
Mawlana Jalaluddin Rumi
“Dia adalah, orang yang tidak mempunyai ketiadaan, Saya mencintainya dan Saya mengaguminya, Saya memilih jalannya dan Saya memalingkan muka ke jalannya. Setiap
orang mempunyai kekasih, dialah kekasih saya, kekasih yang abadi. Dia adalah orang yang Saya cintai, dia begitu indah, oh dia adalah yang paling sempurna. Orang-orang yang mencintainya adalah para pecinta yang tidak pernah sekarat. Dia adalah dia dan dia dan mereka adalah dia. Ini adalah sebuah rahasia, jika kalian mempunyai cinta, kalian akan memahaminya. Maulana memahaminya, bagi yang lain ini adalah suatu
hal yang terlarang.”
(Sulthanul Awliya Mawlana Syaikh Nazhim Adil al-Haqqani - Cucu dari Mawlana Rumi, Lefke, Cyprus Turki, September 1998)
Rumi memang bukan sekadar penyair, tetapi juga seorang tokoh sufi yang berpengaruh di zamannya. Rumi adalah guru nomor satu Thariqat Maulawiah, sebuah thariqat yang berpusat di Turki dan berkembang di daerah sekitarnya. Thariqat Maulawiah pernah berpengaruh besar dalam lingkungan Istana Turki Utsmani dan kalangan seniman sekitar tahun l648.
Sebagai tokoh sufi, Rumi sangat menentang pendewaan akal dan indera dalam menentukan kebenaran. Di zamannya, ummat Islam memang sedang dilanda penyakit itu. Bagi mereka kebenaran baru dianggap benar bila mampu digapai oleh indera dan akal. Segala sesuatu
yang tidak dapat diraba oleh indera dan akal, dengan cepat mereka ingkari dan tidak diakui.
Padahal menurut Rumi, justru pemikiran semacam itulah yang dapat melemahkan Iman kepada sesuatu yang ghaib. Dan karena pengaruh pemikiran seperti itu pula, kepercayaan kepada segala hakekat yang tidak kasat mata, yang diajarkan berbagai syariat dan beragam agama samawi, bisa menjadi goyah.
Rumi mengatakan, "Orientasi kepada indera dalam menetapkan segala hakekat keagamaan adalah gagasan yang dipelopori kelompok Mu'tazilah. Mereka merupakan para budak yang tunduk patuh kepada panca indera. Mereka menyangka dirinya termasuk Ahlussunnah.
Padahal, sesungguhnya Ahlussunnah sama sekali tidak terikat kepada indera-indera, dan tidak mau pula memanjakannya. "
Bagi Rumi, tidak layak meniadakan sesuatu hanya karena tidak pernah melihatnya dengan mata kepala atau belum pernah meraba dengan indera. Sesungguhnya, batin akan
selalu tersembunyi di balik yang lahir, seperti faedah penyembuhan yang terkandung dalam obat. "Padahal, yang lahir itu senantiasa menunjukkan adanya sesuatu yang
tersimpan, yang tersembunyi di balik dirinya. Bukankah Anda mengenal obat yang bermanfaat? Bukankah kegunaannya tersembunyi di dalamnya?" tegas Rumi.
PENGARUH TABRIZ
Fariduddin Attar, salah seorang ulama dan tokoh sufi, ketika berjumpa dengan Rumi yang baru berusia 5 tahun pernah meramalkan bahwa si kecil itu kelak akan menjadi tokoh spiritual besar. Sejarah kemudian mencatat, ramalan Fariduddin Attar itu tidak meleset.
Rumi, Lahir di Balkh, Afghanistan pada 604 H atau 30 September 1207. Mawlana Rumi menyandang nama lengkap Jalaluddin Muhammad bin Muhammad al-Balkhi al-Qunuwi. Adapun panggilan Rumi karena sebagian besar hidupnya dihabiskan di Konya (kini Turki), yang dahulu dikenal sebagai daerah Rum (Roma).
Ayahnya, Bahauddin Walad Muhammad bin Husein, adalah seorang ulama besar bermadzhab Hanafi. Dan karena kharisma dan tingginya penguasaan ilmu agamanya, ia digelari Sulthanul Ulama. Namun rupanya gelar itu menimbulkan rasa iri pada sebagian ulama lain. Dan mereka pun melancarkan fitnah dan mengadukan Bahauddin ke penguasa. Celakanya sang penguasa terpengaruh hingga Bahauddin harus meninggalkan Balkh, termasuk keluarganya. Ketika itu Rumi baru berusia lima tahun. Sejak itu Bahauddin bersama keluarganya hidup berpindah- pindah dari suatu negara ke negara lain. Mereka pernah tinggal di Sinabur (Iran timur laut). Dari Sinabur pindah ke Baghdad, Makkah, Malattya (Turki), Laranda (Iran tenggara) dan terakhir menetap di Konya, Turki. Raja Konya Alauddin Kaiqubad, mengangkat ayah Rumi sebagai penasihatnya, dan juga mengangkatnya sebagai pimpinan sebuah perguruan agama yang didirikan di ibukota tersebut. Di kota ini pula ayah Rumi wafat ketika Rumi berusia 24 tahun.
Di samping kepada ayahnya, Rumi juga berguru kepada Burhanuddin Muhaqqiq at-Turmudzi, sahabat dan pengganti ayahnya memimpin perguruan. Rumi juga menimba ilmu di Syam (Suriah) atas saran gurunya itu. Beliau baru kembali ke Konya pada 634 H, dan ikut mengajar di perguruan tersebut.
Setelah Burhanuddin wafat, Rumi menggantikannya sebagai guru di Konya. Dengan pengetahuan agamanya yang luas, di samping sebagai guru, beliau juga menjadi da'i dan ahli hukum Islam. Ketika itu banyak tokoh ulama yang berkumpul di Konya. Tak heran jika Konya kemudian menjadi pusat ilmu dan tempat berkumpul para ulama dari berbagai penjuru dunia.
Kesufian dan kepenyairan Rumi dimulai ketika beliau sudah berumur cukup tua, 48 tahun. Sebelumnya, Rumi adalah seorang ulama yang memimpin sebuah madrasah yang punya murid banyak, 4.000 orang. Sebagaimana seorang ulama, beliau juga memberi fatwa dan tumpuan ummatnya untuk bertanya dan mengadu. Kehidupannya itu berubah seratus delapan puluh derajat ketika beliau berjumpa dengan seorang sufi pengelana, Syamsuddin alias Syamsi dari kota Tabriz.
Suatu saat, seperti biasanya Rumi mengajar di hadapan khalayak dan banyak yang menanyakan sesuatu kepadanya. Tiba-tiba seorang lelaki asing--yakni Syamsi
Tabriz--ikut bertanya, "Apa yang dimaksud dengan riyadhah dan ilmu?" Mendengar pertanyaan seperti itu Rumi terkesima. Kiranya pertanyaan itu jitu dan tepat
pada sasarannya. Beliau tidak mampu menjawab. Akhirnya Rumi berkenalan dengan Tabriz. Setelah bergaul beberapa saat, beliau mulai kagum kepada Tabriz yang ternyata seorang sufi.
Sultan Salad, putera Rumi, mengomentari perilaku ayahnya itu, "Sesungguhnya, seorang guru besar tiba-tiba menjadi seorang murid kecil. Setiap hari sang guru besar harus menimba ilmu darinya, meski sebenarnya beliau cukup alim dan zuhud. Tetapi itulah
kenyataannya. Dalam diri Tabriz, guru besar itu melihat kandungan ilmu yang tiada taranya."
Rumi telah menjadi sufi, berkat pergaulannya dengan Tabriz. Kesedihannya berpisah dan kerinduannya untuk berjumpa lagi dengan gurunya itu telah ikut berperan
mengembangkan emosinya, sehingga beliau menjadi penyair yang sulit ditandingi. Guna mengenang dan menyanjung gurunya itu, beliau tulis syair-syair, yang himpunannya kemudian dikenal dengan nama Divan Syams Tabriz. Beliau bukukan pula wejangan-wejangan gurunya, dan buku itu dikenal dengan nama Maqalat Syams Tabriz.
Rumi kemudian mendapat sahabat dan sumber inspirasi baru, Syaikh Hisamuddin Hasan bin Muhammad. Atas dorongan sahabatnya itu, selama 15 tahun terakhir masa hidupnya beliau berhasil menghasilkan himpunan syair yang besar dan mengagumkan yang diberi nama Masnavi. Buku ini terdiri dari enam jilid dan berisi 20.700 bait syair. Dalam karyanya ini, terlihat ajaran-ajaran tasawuf yang mendalam, yang disampaikan dalam bentuk apologi, fabel, legenda, anekdot, dan lain-lain. Bahkan Masnavi sering disebut Qur’an Persia. Karya tulisnya yang lain adalah Ruba'iyyat (sajak empat baris dengan jumlah 1600 bait), Fiihi Maa fiihi (dalam bentuk prosa; merupakan himpunan ceramahnya tentang metafisika), dan Maktubat (himpunan surat-suratnya kepada sahabat atau pengikutnya).
Bersama Syaikh Hisamuddin pula, Rumi mengembangkan Thariqat Maulawiyah atau Jalaliyah. Thariqat ini di Barat dikenal dengan nama The Whirling Dervishes (para
Darwisy yang berputar-putar) . Nama itu muncul karena para penganut thariqat ini melakukan tarian berputar-putar, yang diiringi oleh gendang dan suling, dalam dzikir mereka untuk mencapai ekstase.
WAFATNYA MAWLANA RUMI
Semua manusia tentu akan kembali kepada-Nya. Demikianlah yang terjadi pada Rumi. Penduduk Konya tiba-tiba dilanda kecemasan, karena mendengar kabar bahwa tokoh panutan mereka, Rumi, tengah menderita sakit keras. Meskipun demikian, pikiran Rumi masih menampakkan kejernihannya.
Seorang sahabatnya datang menjenguk dan mendo'akan, "Semoga Allah berkenan memberi ketenangan kepadamu dengan kesembuhan." Rumi sempat menyahut, "Jika engkau beriman dan bersikap manis, kematian itu akan bermakna baik. Tapi kematian ada juga yang kafir dan pahit."
Pada tanggal 5 Jumadil Akhir 672 H atau 17 Desember 1273 dalam usia 68 tahun Rumi dipanggil ke Rahmatullah. Tatkala jenazahnya hendak diberangkatkan, penduduk setempat berdesak-desakan ingin mengantarkan kepulangannya. Malam wafatnya beliau dikenal sebagai Sebul Arus (Malam Penyatuan). Sampai sekarang para pengikut Thariqat Maulawiyah masih memperingati tanggal itu sebagai hari wafatnya beliau.
“SAMA”, Tarian Darwis yang Berputar
Suatu saat Rumi tengah tenggelam dalam kemabukannya dalam tarian “Sama” ketika itu seorang sahabatnya memainkan biola dan ney (seruling), beliau mengatakan, “Seperti juga ketika salat kita berbicara dengan Tuhan, maka dalam keadaan extase para darwis juga berdialog dengan Tuhannya melalui cinta. Musik Sama yang merupakan bagian salawat atas baginda Nabi Sallallahu alaihi wasalam adalah merupakan wujud musik cinta demi cinta Nabi saw dan pengetahuanNya.
Rumi mengatakan bahwa ada sebuah rahasia tersembunyi dalam Musik dan Sama, dimana musik merupakan gerbang menuju keabadian dan Sama adalah seperti electron yang mengelilingi intinya bertawaf menuju sang Maha Pencipta. Semasa Rumi hidup tarian “Sama” sering dilakukan secara spontan disertai jamuan makanan dan minuman. Rumi bersama teman darwisnya selepas solat Isa sering melakukan tarian sama dijalan-jalan kota Konya.
Terdapat beberapa puisi dalam Matsnawi yang memuji Sama dan perasaan harmonis alami yang muncul dari tarian suci ini. Dalam bab ketiga Matsnawi, Rumi menuliskan puisi tentang kefanaan dalam Sama, “ketika gendang ditabuh seketika itu perasaan extase merasuk bagai buih-buih yang meleleh dari debur ombak laut”.
Tarian Sakral Sama dari tariqah Mevlevi Haqqani atau Tariqah Mawlawiyah ini masih dilakukan saat ini di Lefke, Cyprus Turki dibawah bimbingan Mawlana Syaikh Nazim Adil al-Haqqani. Ajaran Sufi Mawlana Syaikh Nazim dan mawlana Syaikh Hisyam juga merambah keberbagai kota di Amerika maupun Eropa, sehingga tarian Whirling Dervishes ini juga dilakukan di banyak kota-kota di Amerika, Eropa dan Asia di bawah bimbingan Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani ar-Rabbani.
Tarian Sama ini sebagai tiruan dari keteraturan alam raya yang diungkap melalui perputaran planet-planet. Perayaan Sama dari tariqah Mevlevi dilakukan dalam situasi yang sangat sakral dan ditata dalam penataan khusus pada abad ke tujuh belas. Perayaan ini untuk menghormati wafatnya Rumi, suatu peristiwa yang Rumi dambakan dan ia lukisakna dalam istilah-istilah yang menyenangkan.
Para Anggota Tariqah Mevlevi sekarang belajar menarikan tarian ini dengan bimbingan Mursyidnya. Tarian ini dalam bentuknya sekarang dimulai dengan seorang peniup suling yang memainkan Ney, seruling kayu. Para penari masuk mengenakan pakaian putih yang
sebagai simbol kain kafan, dan jubah hitam besar sebagai symbol alam kubur dan topi panjang merah atau abu-abu yang menandakan batu nisan.
Akhirnya seorang Syaikh masuk paling akhir dan menghormat para Darwish lainnya. Mereka kemudian balas menghormati. Ketika Syaikh duduk dialas karpet merah menyala yang menyimbolkan matahari senja merah tua yang mengacu pada keindahan langit senja sewaktu Rumi wafat. Syaikh mulai bersalawat untuk Rasulullah saw yang ditulis oleh Rumi disertai iringan musik, gendang, marawis dan seruling ney.
Peniup seruling dan penabuh gendang memulai musiknya maka para darwis memulai dengan tiga putaran secara perlahan yang merupakaan simbolisasi bagi tiga tahapan yang membawa manusia menemui Tuhannya. Pada putaran ketiga Syaikh kembali duduk dan para penari melepas jubah hitamnya dengan gerakan yang menyimbulkan kuburan untuk mengalami ‘ mati sebelum mati”, kelahiran kedua.
Ketika Syaikh mengijinkan para penari menari, mereka mulai dengan gerakan perlahan memutar seperti putaran tawaf dan putaran planet-planet mengelilingi matahari. Ketika tarian hamper usai maka syaikh berdiri dan alunan musik dipercepat. Proses ini diakhiri dengan musik penutup danpembacaan ayat suci Al-Quran.
Rombongan Penari Darwis, secara teratur menampilkan Sama di auditorium umum di Eropa dan Amerika Serikat. Sekalipun beberapa gerakan tarian ini pelan dan terasa lambat tetapi para pemirsa mengatakan penampilan ini sangat magis dan menawan. Kedalaman konsentrasi, atau perasaan dzawq dan ketulusan para darwis menjadikan gerakan mereka begitu menghipnotis. Pada akhir penampilan para hadirin diminta untuk tidak bertepuk
tangan karena “Sama” adalah sebuah ritual spiritual bukan sebuah pertunjukan seni.
Pada abad ke 17, Tariqah Mevlevi atau Mawlawiyah dikendalikan oleh kerajaan Utsmaniyah. Meskipun Tariqah Mawlawiyah kehilangan sebagian besar kebebasannya ketika berada dibawah dominasi Ustmaniyah, tetapi perlindungan Sang Raja menungkinkan
Tariqah Mawlawi menyebar luas keberbagai daerah dan memperkenalkan kepada banyak orang tentang tatanan musik dan tradisi puisi yang unik dan indah. Pada Abad ke 18, Salim III seorang Sultan Utsmaniyah menjadi anggota Tariqah Mawlawiyah dan kemudian dia menciptakan musik untuk upacara-upacara Mawlawi.
Selama abad ke 19 , Mawlawiyah merupakan salah satu dari sekitar Sembilan belas aliran sufi di Turtki dan sekitar tigapuluh lima kelompok semacam itu di kerajaan
Utsmaniyah. Karena perlindungan dari raja mereka, Mawlawi menjadi kelompok yang paling berpengaruh diseluruh kerajaan dan prestasi kultural mereka dianggap sangat murni. Kelompok itu menjadi terkenal di Barat, Di Eropa dan Amerika pertunjukkan keliling mereka menyita perhatian public. Selama abad 19, sebuah panggung pertunjukkan yang didirikan di Turki menarik perhatian banyak kelompok wisatawan Eropa yang dating ke Turki.
Pada tahun 1925, Tariqah Mawlawi dipaksa membubarkan diri d itanah kelahiran mereka Turki, setelah Kemal Ataturk pendiri modernisasi Turki melarang semua kelompok darwis lengkap dengan upacara serta pertunjukkan mereka. Pada saat itu makam Rumi di Konya diambil alih pemerintah dan diubah menjadi museum Negara.
Motivasi utama Atatutrk adalah memutuskan hubungan Turki dengan masa pertengahan guna mengintegrasikan Turki dengan dunia modern seperti demokrasi ala barat. Bagi Attaturk tariqah sufi menjadi ancaman bagi modernisasi Turki. Pada saat itulah Syaikh Nazim mulai menyebarkan bimbingan spiritual dan mengajar agama Islam di Siprus, Turki.
Mawlana Syaikh Nazim Adil al-Haqqani
Banyak murid yang mendatangi Mawlana Syaikh Nazim dan menerima Thariqat Naqsybandi Haqqani. Selain itu beliau adalah pemegang otoritas Mursyid tujuh Tariqah Sufi besar lainnya, termasuk Mevlevi Haqqani atau Mawlawiyah, Qodiriah, Syadziliyah, Chisty. Namun sayang, waktu itu semua agama dilarang di Turki dan karena beliau berada di dalam komunitas orang-orang Turki di Siprus, agama pun dilarang di sana. Bahkan mengumandangkan azan pun tak diperbolehkan.
Langkah Syaikh Nazim yang pertama ketika itu adalah menuju masjid di tempat kelahirannya dan mengumandangkan azan di sana, segera beliau dimasukkan penjara selama seminggu. Begitu dibebaskan, Syaikh Nazim Þ pergi menuju masjid besar di Nikosia dan melakukan azan di menaranya. Hal itu membuat para pejabat marah dan beliau dituntut atas pelanggaran hukum.
Sambil menunggu sidang, Syaikh Nazim Þ terus mengumandangkan azan di menara-menara masjid di seluruh Nikosia. Sehingga tuntutannya pun terus bertambah, ada 114 kasus yang menunggu beliau. Pengacara menasihati beliau agar berhenti melakukan azan, namun Syaikh Nazim Þ mengatakan, “ Tidak, aku tidak bisa menghentikannya. Orang-orang harus mendengar panggilan azan untuk shalat.”
Ketika hari persidangan tiba, Mawlana Syaikh Nazim didakwa atas 114 kasus mengumandangkan azan diseluruh Cyprus. Jika tuntutan 114 kasus itu terbukti, maka
beliau bisa dihukum 100 tahun penjara. Tetapi pada hari yang sama hasil pemilu diumumkan di Turki. Seorang laki-laki bernama Adnan Menderes dicalonkan untuk berkuasa. Langkah pertamanya ketika terpilih menjadi Presiden adalah membuka seluruh masjid-masjid dan mengizinkan azan dikumandangkan dalam bahasa Arab. Inilah keajaiban yang diberikan Allah SWT kepada Mawlana Syaikh Nazim.
Hingga saat ini makam Rumi di Konya tetap terpelihara dan dikelola oleh pemerintah Turki sebagai tempat wisata. Meskipun demikian pengunjung yang datang kesana yang terbanyak adalah para peziarah dan bukan wisatawan. Melalui sebuah kesepakatan pemerintah Turki, pada tahun 1953 akhirnya menyetujui tarian “Sama” Tariqah Mawlawi dipertontonkan lagi di Konya dengan syarat pertunjukan tersebut bersifat kultural
untuk para wisatawan.
Rombongan Darwis juga diijinkan untuk berkelana secara Internasional. Meskipun demikian secara keseluruhan berbagai aspek sufisme tetap menjadi praktek yang illegal di Turki dan para sufi banyak diburu sejak Attaturk melarang agama mereka.
Wa min Allah at tawfiq
Di-post oleh Arief Hamdani
Asysyam
“Sesungguhnya berbahagialah orang yang mensuciikan jiwanya, dan sungguh merugilah orang yang mengotori jiwanya”
Tampilkan postingan dengan label Maulana Djalaluddiin Rumi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Maulana Djalaluddiin Rumi. Tampilkan semua postingan
Selasa, 01 November 2011
Senin, 04 April 2011
~ PELAJARAN AL~RUMI ~
Seketika aku didatangi Jalaluddin Al-Rumi.. Dalam batin ku jugalah Ia-nya bersembunyi Diri.. Sosoknya ibarat seorang pemuda yang tampan tidak terperi.. Tuturnya lembut membelai ke dalam jiwa ku yang kasat mata maknawi..
AL-RUMI :-
“Wahai ‘Ali As-Satir, perdengarkanlah dengan telinga batin mu.. Dan leburkanlah nyanyian ku ini sehingga ke dalam jiwa rohani mu.. Ketahuilah, bahawa inilah mara bahaya yang sedang membelenggu para seniman dan pemikir di zaman mu..”
‘ALI :-
“Aku sedang mendengarnya, wahai Sang Air Hidup (Al-Rumi).. khabarkanlah..”
AL-RUMI :-
“Sesungguhnya bagi seorang seniman atau pemikir, kehalusan puisi, kelembutan dalam bait kata-kata, keindahan dalam irama melodi, dan kesempurnaan dalam menggambarkan sesuatu, adalah merupakan sebuah sarana penyampaian filsafat-nya yang dalam dan penuh dengan makna tersembunyi.. Melalui sarana itu, maka mereka akan lebih mudah meresapkan sesuatu masuk ke dalam jiwa manusia sekitarnya.. Bah kan, ianya sangat berpengaruh dalam segenap lapisan masyarakat..”
‘ALI :-
“Lalu di mana kesalahannya, wahai Sang Air Hidup (Al-Rumi)..? Khabarkanlah pada ku yang fakir ini..”
AL-RUMI :-
“Wahai ‘Ali As-Satir, perhatikanlah kata-kata ku ini.. Sesungguhnya seluruh ilmu ciptaan manusia dan hikmah yang berkiblatkan kepada Yunani dan barat, hanya akan membuatkan seseorang menjadi semakin jauh dari kebenaran Allah, serta hanya akan mengakibatkan manusia menjadi semakin bodoh, tertipu, terbelenggu, dan hanya mengagumi dirinya sendiri.. Ketahuilah bahawa itu semua hanyalah kulit yang kosong dan hampa.. Barangsiapa yang sangat mendambakan kebahagiaan hakiki, maka hendaklah dia menjauhi filsafat Yunani dan barat, walau kebanyakkan orang justeru menganggapnya sebagai hikmah.. Ini adalah kerana semua filsafat Yunani dan barat hanyalah sebuah hasil dari khayalan dan gambaran akal mereka, serta tidak memperolehi sinar cahaya DZAT MAULANA YANG MAHA AGUNG.. Hasil filsafat dari khayalan dan gambaran itu hanyalah terbit dari prasangka dan rasa keraguan, yang merupakan satu dari halangan terbesar menghalangi kedekatan manusia dengan Tuhan.. Inilah mara bahaya besar yang sedang berulang kembali menyelubungi dan membelenggu zaman mu..”
‘ALI :-
“Sangat benar perkataan mu, wahai Sang Air Hidup (Al-Rumi).. Lalu apakah saran mu pada ku dalam menjalani zaman ku ini, wahai Sang Air Hidup.. Apakah aku harus menukarkan air yang menghilangkan dahaga, dengan cahaya yang menyuluh kegelapan..?”
AL-RUMI :-
“Itulah sebabnya kenapa para Nabi diturunkan.. Kemudian disambung oleh para Waliullah.. Sehinggalah sampai ke zaman mu, dan engkaulah yang sedang memikulnya.. Iaitu menukarkan air yang menghilangkan dahaga, dengan cahaya yang menyuluh kegelapan.. Ada pun hikmah yang diajarkan para Nabi dan para Waliullah, adalah merupakan sebuah hikmah yang hakiki.. Kerana hikmah yang diajarkan itu memperolehi sinar dari DZAT MAULANA YANG MAHA AGUNG.. Siapa saja yang mendapatkannya, maka dia benar-benar memperolehi banyak kebajikan dan kesejahteraan.. Inilah yang tidak diperolehi oleh ajaran filsafat Yunani dan barat yang mendahulukan kepentingan duniawi semata-mata, serta dengan leluasa membelakangkan Tuhan.. Mereka melebarkan teori dan filsafat melalui urutan dalil pendahuluan, dan mengambil kesimpulan dengan rekaan aqli yang tidak akan pernah mencapai maksud yang diinginkan.. Maka semua filsafat mereka penuh dengan kesempitan dan keterbatasan.. Barangsiapa yang meyakininya, maka terpasunglah dia kepadanya.. Orang yang hidup dengan keyakinan seperti itu akan nampak seperti sempurna, namun hakikatnya mereka berjalan tempang, penuh kesempitan dan keterbatasan.. Bagaimana engkau melihat air yang menghilangkan dahaga itu, wahai ‘Ali As-Satir..?”
‘ALI :-
“Hakikatnya air itu bukanlah yang sebenar-benar matlamat Hidup.. Melainkan sebab lahiriah dari pencorakan kehidupan semata.. Itu masihlah termasuk zahir, yang batinnya adalah Dzat Wajibul Wujud.. Sesungguhnya orang yang terbelenggu dengan sebab lahiriah, maka dia sebenarnya telah mencampakkan dirinya sendiri kepada hal yang memperdayakan dan membinasakan..”
AL-RUMI :-
“Lihatlah cahaya yang menegak dari atas dan merata ke seluruh hamparan bumi.. Hidup yang menghidupi dalam tarian jiwa rohani.. Yang diiringi gendang dzikir kerinduan alam semesta.. Tabuhlah gendang mu dan kayuhlah sampan mu ke samudera hijau.. Lihatlah ikan-ikan yang beraneka warna dan ragam, namun janganlah engkau terpedaya dengannya.. Di tengah samudera hijau itu, engkau akan melihat cahaya permata tiram yang menyilau terang.. Gapailah, dan bawalah ke zaman mu..”
‘ALI :-
“Tunjukkanlah aku jalan ke sana, wahai Sang Air Hidup..”
Al-Rumi menarik tangan ku melintasi seluruh samudera hijau yang menyilau.. Memperlihatkan gedung Ilmu Allah yang terpasak di tengah samudera dalam.. Mengimbangi.. Al-Rumi terus memberikan palajaran..
“Renangilah ke seluruh samudera hijau
Dalam damai sejahtera tarian asyik
Diiringi gendang irama syahdu
Yang menggunung pun akan rebah
Saat terpanggil panggilan Kaabah..”
~ Sayyid Hidayatullah ~
AL-RUMI :-
“Wahai ‘Ali As-Satir, perdengarkanlah dengan telinga batin mu.. Dan leburkanlah nyanyian ku ini sehingga ke dalam jiwa rohani mu.. Ketahuilah, bahawa inilah mara bahaya yang sedang membelenggu para seniman dan pemikir di zaman mu..”
‘ALI :-
“Aku sedang mendengarnya, wahai Sang Air Hidup (Al-Rumi).. khabarkanlah..”
AL-RUMI :-
“Sesungguhnya bagi seorang seniman atau pemikir, kehalusan puisi, kelembutan dalam bait kata-kata, keindahan dalam irama melodi, dan kesempurnaan dalam menggambarkan sesuatu, adalah merupakan sebuah sarana penyampaian filsafat-nya yang dalam dan penuh dengan makna tersembunyi.. Melalui sarana itu, maka mereka akan lebih mudah meresapkan sesuatu masuk ke dalam jiwa manusia sekitarnya.. Bah kan, ianya sangat berpengaruh dalam segenap lapisan masyarakat..”
‘ALI :-
“Lalu di mana kesalahannya, wahai Sang Air Hidup (Al-Rumi)..? Khabarkanlah pada ku yang fakir ini..”
AL-RUMI :-
“Wahai ‘Ali As-Satir, perhatikanlah kata-kata ku ini.. Sesungguhnya seluruh ilmu ciptaan manusia dan hikmah yang berkiblatkan kepada Yunani dan barat, hanya akan membuatkan seseorang menjadi semakin jauh dari kebenaran Allah, serta hanya akan mengakibatkan manusia menjadi semakin bodoh, tertipu, terbelenggu, dan hanya mengagumi dirinya sendiri.. Ketahuilah bahawa itu semua hanyalah kulit yang kosong dan hampa.. Barangsiapa yang sangat mendambakan kebahagiaan hakiki, maka hendaklah dia menjauhi filsafat Yunani dan barat, walau kebanyakkan orang justeru menganggapnya sebagai hikmah.. Ini adalah kerana semua filsafat Yunani dan barat hanyalah sebuah hasil dari khayalan dan gambaran akal mereka, serta tidak memperolehi sinar cahaya DZAT MAULANA YANG MAHA AGUNG.. Hasil filsafat dari khayalan dan gambaran itu hanyalah terbit dari prasangka dan rasa keraguan, yang merupakan satu dari halangan terbesar menghalangi kedekatan manusia dengan Tuhan.. Inilah mara bahaya besar yang sedang berulang kembali menyelubungi dan membelenggu zaman mu..”
‘ALI :-
“Sangat benar perkataan mu, wahai Sang Air Hidup (Al-Rumi).. Lalu apakah saran mu pada ku dalam menjalani zaman ku ini, wahai Sang Air Hidup.. Apakah aku harus menukarkan air yang menghilangkan dahaga, dengan cahaya yang menyuluh kegelapan..?”
AL-RUMI :-
“Itulah sebabnya kenapa para Nabi diturunkan.. Kemudian disambung oleh para Waliullah.. Sehinggalah sampai ke zaman mu, dan engkaulah yang sedang memikulnya.. Iaitu menukarkan air yang menghilangkan dahaga, dengan cahaya yang menyuluh kegelapan.. Ada pun hikmah yang diajarkan para Nabi dan para Waliullah, adalah merupakan sebuah hikmah yang hakiki.. Kerana hikmah yang diajarkan itu memperolehi sinar dari DZAT MAULANA YANG MAHA AGUNG.. Siapa saja yang mendapatkannya, maka dia benar-benar memperolehi banyak kebajikan dan kesejahteraan.. Inilah yang tidak diperolehi oleh ajaran filsafat Yunani dan barat yang mendahulukan kepentingan duniawi semata-mata, serta dengan leluasa membelakangkan Tuhan.. Mereka melebarkan teori dan filsafat melalui urutan dalil pendahuluan, dan mengambil kesimpulan dengan rekaan aqli yang tidak akan pernah mencapai maksud yang diinginkan.. Maka semua filsafat mereka penuh dengan kesempitan dan keterbatasan.. Barangsiapa yang meyakininya, maka terpasunglah dia kepadanya.. Orang yang hidup dengan keyakinan seperti itu akan nampak seperti sempurna, namun hakikatnya mereka berjalan tempang, penuh kesempitan dan keterbatasan.. Bagaimana engkau melihat air yang menghilangkan dahaga itu, wahai ‘Ali As-Satir..?”
‘ALI :-
“Hakikatnya air itu bukanlah yang sebenar-benar matlamat Hidup.. Melainkan sebab lahiriah dari pencorakan kehidupan semata.. Itu masihlah termasuk zahir, yang batinnya adalah Dzat Wajibul Wujud.. Sesungguhnya orang yang terbelenggu dengan sebab lahiriah, maka dia sebenarnya telah mencampakkan dirinya sendiri kepada hal yang memperdayakan dan membinasakan..”
AL-RUMI :-
“Lihatlah cahaya yang menegak dari atas dan merata ke seluruh hamparan bumi.. Hidup yang menghidupi dalam tarian jiwa rohani.. Yang diiringi gendang dzikir kerinduan alam semesta.. Tabuhlah gendang mu dan kayuhlah sampan mu ke samudera hijau.. Lihatlah ikan-ikan yang beraneka warna dan ragam, namun janganlah engkau terpedaya dengannya.. Di tengah samudera hijau itu, engkau akan melihat cahaya permata tiram yang menyilau terang.. Gapailah, dan bawalah ke zaman mu..”
‘ALI :-
“Tunjukkanlah aku jalan ke sana, wahai Sang Air Hidup..”
Al-Rumi menarik tangan ku melintasi seluruh samudera hijau yang menyilau.. Memperlihatkan gedung Ilmu Allah yang terpasak di tengah samudera dalam.. Mengimbangi.. Al-Rumi terus memberikan palajaran..
“Renangilah ke seluruh samudera hijau
Dalam damai sejahtera tarian asyik
Diiringi gendang irama syahdu
Yang menggunung pun akan rebah
Saat terpanggil panggilan Kaabah..”
~ Sayyid Hidayatullah ~
Selasa, 22 Maret 2011
Tanpa Cinta, Segalanya Tak Bernilai
Jika engkau bukan seorang pencinta, maka jangan pandang hidupmu adalah
hidup. Sebab tanpa Cinta, segala perbuatan tidak akan dihitung pada Hari
Perhitungan nanti. Setiap waktu yang berlalu tanpa Cinta, akan menjelma
menjadi wajah yang memalukan dihadapanNya.
Burung-burung Kesedaran telah turun dari langit dan terikat pada bumi
sepanjang dua atau tiga hari. Mereka merupakan bintang-bintang di langit
agama yang dikirim dari langit ke bumi. Demikian pentingnya Penyatuan
dengan Allah dan betapa menderitanya Keterpisahan denganNya.
Wahai angin, buatlah tarian ranting-ranting dalam zikir hari yang kau
gerakkan dari Persatuan. Lihatlah pepohonan ini ! Semuanya gembira
bagaikan sekumpulan kebahagiaan. Tetapi wahai bunga ungu, mengapakah
engkau larut dalam kepedihan ? Sang lili berbisik pada kuncup : “Matamu
yang menguncup akan segera mekar. Sebab engkau telah merasakan
bagaimana Nikmatnya Kebaikan.”
Di manapun, jalan untuk mencapai Kesucian Hati adalah melalui Kerendahan
Hati. Hingga dia akan sampai pada jawaban “YA” dalam pertanyaan :
“Bukankah Aku ini Rabbmu ?”
Sabtu, 29 Januari 2011
Heaven's Secrets
no one knows the way.
Never say
profound humans
can't be found.
Just because
you're kept out of
heaven's secrets
you think everyone
is like you.
You claim skill in every art
and knowledge of every science,
Yet you cannot even hear
what your own heart is telling you.
Until you can hear that simple voice
How can you be a keeper of secrets?
How can you be a traveller on this path?
Maulana Jalaludin Rumi
Senin, 03 Januari 2011
Karya - Karya Maulana Djalaluddiin Rumi,

SEBERAPA JAUH ENGKAU DATANG!
Sesungguhnya, engkau adalah tanah liat. Dari bentukan mineral, kau menjadi sayur-sayuran. Dari sayuran, kau menjadi binatang, dan dari binatang ke manusia. Selama periode ini, manusia tidak tahu ke mana ia telah pergi, tetapi ia telah ditentukan menempuh perjalanan panjang. Dan engkau harus pergi melintasi ratusan dunia yang berbeda.
JALAN
Jalan sudah ditandai.
Jika menyimpang darinya, kau akan binasa.
Jika mencoba mengganggu tanda-tanda jalan tersebut,
kau melakukan perbuatan setan.
EMPAT LAKI-LAKI DAN PENERJEMAH
Empat orang diberi sekeping uang.
Pertama adalah orang Persia, ia berkata, "Aku akan membeli anggur."
Kedua adalah orang Arab, ia berkata, "Tidak, karena aku ingin inab."
Ketiga adalah orang Turki, ia berkata, "Aku tidak ingin inab, aku ingin uzum."
Keempat adalah orang Yunani, ia berkata, "Aku ingin stafil."
Karena mereka tidak tahu arti nama-nama tersebut, mereka mulai bertengkar. Mereka memang sudah mendapat informasi, tetapi tanpa pengetahuan.
Orang bijak yang memperhatikan mereka berkata, "Aku tidak dapat memenuhi semua keinginan kalian, hanya dengan sekeping uang yang sama. Jika kalian jujur percayalah kepadaku, sekeping uang kalian akan menjadi empat; dan keempatnya akan menjadi satu."
Mereka pun tahu bahwa sebenarnya keempatnya dalam bahasa masing-masing, menginginkan benda yang sama, buah anggur.
AKU ADALAH KEHIDUPAN KEKASIHKU
Apa yang dapat aku lakukan, wahai ummat Muslim?
Aku tidak mengetahui diriku sendiri.
Aku bukan Kristen, bukan Yahudi,
bukan Majusi, bukan Islam.
Bukan dari Timur, maupun Barat.
Bukan dari darat, maupun laut.
Bukan dari Sumber Alam,
bukan dari surga yang berputar,
Bukan dari bumi, air, udara, maupun api;
Bukan dari singgasana, penjara, eksistensi, maupun makhluk;
Bukan dari India, Cina, Bulgaria, Saqseen;
Bukan dari kerajaan Iraq, maupun Khurasan;
Bukan dari dunia kini atau akan datang:
surga atau neraka;
Bukan dari Adam, Hawa,
taman Surgawi atau Firdaus;
Tempatku tidak bertempat,
jejakku tidak berjejak.
Baik raga maupun jiwaku: semuanya
adalah kehidupan Kekasihku ...
BURUNG HANTU DAN ELANG RAJA
Seekor elang kerajaan hinggap di dinding reruntuhan yang dihuni burung hantu. Burung-burung hantu menakutkannya, si elang berkata, "Bagi kalian tempat ini mungkin tampak makmur, tetapi tempatku ada di pergelangan tangan raja." Beberapa burung hantu berteriak kepada temannya, "Jangan percaya kepadanya! Ia menggunakan tipu muslihat untuk mencuri rumah kita."
DIMENSI LAIN
Dunia tersembunyi memiliki awan dan hujan,
tetapi dalam jenis yang berbeda.
Langit dan cahaya mataharinya, juga berbeda.
Ini tampak nyata,
hanya untuk orang yang berbudi halus --
mereka yang tidak tertipu oleh kesempurnaan dunia yang semu.
MANFAAT PENGALAMAN
Kebenaran yang agung ada pada kita
Panas dan dingin, duka cita dan penderitaan,
Ketakutan dan kelemahan dari kekayaan dan raga
Bersama, supaya kepingan kita yang paling dalam
Menjadi nyata.
KESADARAN
Manusia mungkin berada dalam keadaan gembira, dan manusia lainnya berusaha untuk menyadarkan. Itu memang usaha yang baik. Namun keadaan ini mungkin buruk baginya, dan kesadaran mungkin baik baginya. Membangunkan orang yang tidur, baik atau buruk tergantung siapa yang melakukannya. Jika si pembangun adalah orang yang memiliki pencapaian tinggi, maka akan meningkatkan keadaan orang lain. Jika tidak, maka akan memburukkan kesadaran orang lain.
DIA TIDAK DI TEMPAT LAIN
Salib dan ummat Kristen, ujung ke ujung, sudah kuuji.
Dia tidak di Salib.
Aku pergi ke kuil Hindu, ke pagoda kuno.
Tidak ada tanda apa pun di dalamnya.
Menuju ke pegunungan Herat aku melangkah,
dan ke Kandahar Aku memandang.
Dia tidak di dataran tinggi
maupun dataran rendah. Dengan tegas,
aku pergi ke puncak gunung Kaf (yang menakjubkan).
Di sana cuma ada tempat tinggal
(legenda) burung Anqa.
Aku pergi ke Ka'bah di Mekkah.
Dia tidak ada di sana.
Aku menanyakannya kepada Avicenna (lbnu Sina) sang filosuf
Dia ada di luar jangkauan Avicenna ...
Aku melihat ke dalam hatiku sendiri.
Di situlah, tempatnya, aku melihat dirinya.
Dia tidak di tempat lain.
MEREKA YANG TAHU, TIDAK DAPAT BICARA
Kapan pun Rahasia Pemahaman diajarkan kepada semua orang
Bibir-Nya dijahit melawan pembicaraan tentang Kesadaran.
JOHA DAN KEMATIAN
Seorang anak laki-laki menangis dan berteriak di belakang jenazah ayahnya, ia berkata, "Ayah! Mereka membawamu ke tempat di mana tidak ada pelindung lantai. Di sana tidak ada cahaya, tidak ada makanan; tidak ada pintu maupun bantuan tetangga..."
Joha, diperingatkan karena penjelasan tampaknya mencukupi, berteriak kepada ayahnya sendiri:
"Orangtua yang dihormati oleh Allah, mereka diambil ke rumah kami!"
KECERDASAN DAN PEMAHAMAN SEJATI
Kecerdasan adalah bayangan dari Kebenaran obyektif
Bagaimana bayangan dapat bersaing dengan cahaya matahari?
REALITAS SEJATI
Di sini, tidak ada bukti akademis di dunia;
Karena tersembunyi, dan tersembunyi, dan tersembunyi.
JIWA MANUSIA
Pergilah lebih tinggi -- Lihatlah Jiwa Manusia!
PELEPASAN MENIMBULKAN PEMAHAMAN
Wahai Hati! Sampai dalam penjara muslihat,
kau dapat melihat perbedaan antara Ini dan Itu,
Karena pelepasan seketika dari Sumber Tirani;
bertahan di luar
KAU DAN AKU
Nikmati waktu selagi kita duduk di punjung, Kau dan Aku;
Dalam dua bentuk dan dua wajah -- dengan satu jiwa,
Kau dan Aku.
Warna-warni taman dan nyanyian burung memberi obat keabadian
Seketika kita menuju ke kebun buah-buahan, Kau dan Aku.
Bintang-bintang Surga keluar memandang kita --
Kita akan menunjukkan Bulan pada mereka, Kau dan Aku.
Kau dan Aku, dengan tiada 'Kau' atau 'Aku',
akan menjadi satu melalui rasa kita;
Bahagia, aman dari omong-kosong, Kau dan Aku.
Burung nuri yang ceria dari surga akan iri pada kita --
Ketika kita akan tertawa sedemikian rupa; Kau dan Aku.
Ini aneh, bahwa Kau dan Aku, di sudut sini ...
Keduanya dalam satu nafas di Iraq, dan di Khurasan --
Kau dan Aku.
DUA ALANG-ALANG
Dua alang-alang minum dari satu sungai.
Satunya palsu, lainnya tebu.
AKAN JADI APA DIRIKU?
Aku terus dan terus tumbuh seperti rumput;
Aku telah alami tujuhratus dan tujuhpuluh bentuk.
Aku mati dari mineral dan menjadi sayur-sayuran;
Dan dari sayuran Aku mati dan menjadi binatang.
Aku mati dari kebinatangan menjadi manusia.
Maka mengapa takut hilang melalui kematian?
Kelak aku akan mati
Membawa sayap dan bulu seperti malaikat:
Kemudian melambung lebih tinggi dari malaikat --
Apa yang tidak dapat kau bayangkan.
Aku akan menjadi itu.
RASUL
Rasul adalah mabuk tanpa anggur:
Rasul adalah kenyang tanpa makanan.
Rasul adalah terpesona, takjub:
Rasul adalah tidak makan maupun tidur
Rasul adalah raja di balik jubah kasar:
Rasul adalah harta benda dalam reruntuhan.
Rasul adalah bukan dari angin dan bumi:
Rasul adalah bukan dari api dan air.
Rasul adalah laut tanpa pantai:
Rasul adalah hujan mutiara tanpa menalang.
Rasul adalah memiliki ratusan bulan dan langit:
Rasul adalah memiliki ratusan cahaya matahari.
Rasul adalah bijaksana melalui Kebenaran:
Rasul adalah bukan sarjana karena buku.
Rasul adalah melebihi keyakinan dan kesangsian:
Karena Rasul apakah ada 'dosa' atau 'kebaikan'?
Rasul berangkat dari Ketiadaan:
Rasul telah tiba, benar-benar berangkat.
Rasul adalah, Tersembunyi, Wahai Syamsuddin!
Carilah, dan temukan - Rasul!
KEBENARAN
Nabi bersabda bahwa Kebenaran telah dinyatakan:
"Aku tidak tersembunyi, tinggi atau rendah
Tidak di bumi, langit atau singgasana.
Ini kepastian, wahai kekasih:
Aku tersembunyi di kaibu orang yang beriman.
Jika kau mencari aku, carilah di kalbu-kalbu ini."
ILMU PENGETAHUAN
Pengetahuan akan Kebenaran lenyap dalam pengetahuan Sufi. Kapan manusia akan memahami ucapan ini?
DEBU DI ATAS CERMIN
Hidup/jiwa seperti cermin bening; tubuh adalah debu di atasnya. Kecantikan kita tidak terasa, karena kita berada di bawah debu.
TINDAKAN DAN KATA-KATA
Aku memberi orang-orang
apa yang mereka inginkan.
Aku membawakan sajak karena mereka
menyukainya sebagai hiburan.
Di negaraku, orang tidak menyukai puisi.
Sudah lama aku mencari orang yang
menginginkan tindakan, tetapi
mereka semua ingin kata-kata.
Aku siap menunjukkan tindakan pada kalian;
tetapi tidak seorang pun akan menyikapinya.
Maka aku hadirkan padamu -- kata-kata.
Ketidakpedulian yang bodoh
akhirnya membahayakan,
Bagaimanapun hatinya satu denganmu.
KERJA
Kerja bukan seperti yang dipikirkan orang.
Bukan sekadar sesuatu yang
jika sedang berlangsung, kau
dapat melihatnya dari luar.
Seberapa lama kita, di Bumi-dunia,
seperti anak-anak
Memenuhi lintasan kita dengan debu dan batu dan serpihan-serpihan?
Mari kita tinggalkan dunia
dan terbang ke surga,
Mari kita tinggalkan kekanak-kanakan
dan menuju ke kelompok Manusia.
RUMAH
Jika sepuluh orang ingin memasuki sebuah rumah, dan hanya sembilan yang menemukan jalan masuk, yang kesepuluh mestinya tidak mengatakan, "Ini sudah takdir Tuhan."
Ia seharusnya mencari tahu apa kekurangannya.
BURUNG HANTU
Hanya burung bersuara merdu yang dikurung.
Burung hantu tidak dimasukkan sangkar
UPAYA
Ikat dua burung bersama.
Mereka tidak akan dapat terbang,
kendati mereka tahu memiliki empat sayap.
PENCARIAN
Carilah mutiara, saudaraku, di dalam tempurung;
Dan carilah keahlian diantara manusia di dunia.
TUGAS INI
Kau mempunyai tugas untuk dijalankan. Lakukan yang lainnya, lakukan sejumlah kegiatan, isilah waktumu secara penuh, dan jika kau tidak menjalankan tugas ini, seluruh waktumu akan sia-sia.
KOMUNITAS CINTA
Komunitas Cinta tersembunyi diantara orang banyak;
Seperti orang baik dikelilingi orang jahat.
SEBUAH BUKU
Tujuan sebuah buku mungkin sebagai petunjuk. Namun kau dapat juga menggunakannya sebagai bantal; Kendati sasarannya adalah memberi pengetahuan, petunjuk, keuntungan.
Ia berkata, "Siapa itu berada di pintu?"
Aku berkata, "Hamba sahaya Paduka."
Ia berkata, "Kenapa kau ke mari?"
Aku berkata, "Untuk menyampaikan hormat padamu, Gusti."
Ia berkata, "Berapa lama kau bisa bertahan?"
Aku berkata, "Sampai ada panggilan."
Aku pun menyatakan cinta, aku mengambil sumpah
Bahwa demi cinta aku telah kehilangan kekuasaan.
Ia berkata, "Hakim menuntut saksi kalau ada pernyataan."
Aku berkata, "Air mata adalah saksiku, pucatnya wajahku adalah buktiku."
Ia berkata, "Saksi tidak sah, matamu juling."
Aku berkata, "Karena wibawa keadilanmu mataku terbebas dari dosa."
Syair religius di atas adalah cuplikan dari salah satu puisi karya penyair sufi terbesar dari Persia, Jalaluddin Rumi. Kebesaran Rumi terletak pada kedalaman ilmu dan kemampuan mengungkapkan perasaannya ke dalam bahasa yang indah. Karena kedalaman ilmunya itu, puisi-puisi Rumi juga dikenal mempunyai kedalaman makna. Dua hal itulah --kedalaman makna dan keindahan bahasa-- yang menyebabkan puisi-puisi Rumi sulit tertandingi oleh penyair sufi sebelum maupun sesudahnya.
Rumi memang bukan sekadar penyair, tetapi ia juga tokoh sufi yang berpengaruh pada zamannya. Rumi adalah guru nomor satu tarekat Maulawiah --sebuah tarekat yang berpusat di Turki dan berkembang di daerah sekitarnya. Tarekat Maulawiah pernah berpengaruh besar dalam lingkungan Istana Turki Utsmani dan kalangan seniman pada sekitar tahun l648.
Sebagai tokoh sufi, Rumi sangat menentang pendewa-dewaan akal dan indera dalam menentukan kebenaran. Pada zamannya, ummat Islam memang sedang dilanda penyakit itu.
Bagi kelompok yang mengagul-agulkan akal, kebenaran baru dianggap benar bila mampu digapai oleh indera dan akal. Segala sesuatu yang tidak dapat diraba oleh indera dan akal, cepat-cepat mereka ingkari dan tidak diakui.
Padahal, menurut Rumi, justru pemikiran semacam itulah yang dapat melemahkan iman kepada sesuatu yang ghaib. Dan karena pengaruh pemikiran seperti itu pula, kepercayaan kepada segala hakekat yang tidak kasat mata, yang diajarkan berbagai syariat dan beragam agama samawi, bisa menjadi goyah.
Rumi mengatakan, "Orientasi kepada indera dalam menetapkan segala hakekat keagamaan adalah gagasan yang dipelopori kelompok Mu'tazilah. Mereka merupakan para budak yang tunduk patuh kepada panca indera. Mereka menyangka dirinya termasuk Ahlussunnah. Padahal, sesungguhnya Ahlussunnah sama sekali tidak terikat kepada indera-indera, dan tidak mau pula memanjakannya."
Bagi Rumi, tidak layak meniadakan sesuatu hanya karena tidak pernah melihatnya dengan mata kepala atau belum pernah meraba dengan indera. Sesungguhnya, batin akan selalu tersembunyi di balik yang lahir, seperti faedah penyembuhan yang terkandung dalam obat. "Padahal, yang lahir itu senantiasa menunjukkan adanya sesuatu yang tersimpan, yang tersembunyi di balik dirinya. Bukankah Anda mengenal obat yang bermanfaat? Bukankah kegunaannya tersembunyi di dalamnya?" tegas Rumi.
WAFAT
Semua manusia tentu akan kembali kepada-Nya. Demikianlah yang terjadi pada Rumi. Penduduk Konya tiba-tiba dilanda kecemasan, gara-gara mendengar kabar bahwa tokoh panutan mereka, Rumi, sakit keras. Meski menderita sakit keras, pikiran Rumi masih menampakkan kejernihannya.
Seorang sahabatnya datang menjenguk dan mendo'akan, "Semoga Allah berkenan memberi ketenangan kepadamu dengan kesembuhan." Rumi sempat menyahut, "Jika engkau beriman dan bersikap manis, kematian itu akan bermakna baik. Tapi kematian ada juga kafir dan pahit."
Pada 5 Jumadil Akhir 672 H dalam usia 68 tahun Rumi dipanggil ke rahmatullah. Tatkala jenazahnya hendak diberangkatkan, penduduk setempat berdesak-desak ingin menyaksikan. Begitulah kepergian seseorang yang dihormati ummatnya.
TULISAN DI BATU NISAN JALALUDDIN AR-RUMI
Ketika kita mati, jangan cari pusara kita di bumi, tetapi carilah di hati manusia.
Aku mati sebagai mineral
dan menjelma sebagai tumbuhan,
aku mati sebagai tumbuhan
dan lahir kembali sebagai binatang.
Aku mati sebagai binatang dan kini manusia.
Kenapa aku harus takut?
Maut tidak pernah mengurangi sesuatu dari diriku.
Sekali lagi,
aku masih harus mati sebagai manusia,
dan lahir di alam para malaikat.
Bahkan setelah menjelma sebagai malaikat,
aku masih harus mati lagi;
Karena, kecuali Tuhan,
tidak ada sesuatu yang kekal abadi.
Setelah kelahiranku sebagai malaikat,
aku masih akan menjelma lagi
dalam bentuk yang tak kupahami.
Ah, biarkan diriku lenyap,
memasuki kekosongan, kasunyataan
Karena hanya dalam kasunyataan itu
terdengar nyanyian mulia;
"Kepada Nya, kita semua akan kembali"
Apa Yang mesti Ku lakukan
Apa yang mesti kulakukan, O Muslim? Aku tak mengenal didiku sendiri
Aku bukan Kristen, bukan Yahudi, bukan Gabar, bukan Muslim
Aku bukan dari Timur, bukan dari Barat, bukan dari darat, bukan dari laut,
Aku bukan dari alam, bukan dari langit berputar,
Aku bukan dari tanah, bukan dari air, bukan dari udara, bukan dari api,
Aku bukan dari cahaya, bukan dari debu, bukan dari wujud dan bukan dari hal
Aku bukan dari India, bukan dari Cina, bukan dari Bulgaria, bukan dari Saqsin,
Aku bukan dari Kerajaan Iraq, bukan dari negeri Korazan.
Aku bukan dari dunia in ataupun dari akhirat, bukan dari Sorga ataupun Neraka
Aku bukan dari Adam, bukan dari Hawa, bukan dari Firdaus bukan dari Rizwan
Tempatku adalah Tanpa tempat, jejakku adalah tak berjejak
Ini bukan raga dan jiwa, sebab aku milik jiwa Kekasih
Telah ku buang anggapan ganda, kulihat dua dunia ini esa
Esa yang kucari, Esa yang kutahu, Esa yang kulihat, Esa yang ku panggil
Ia yang pertama, Ia yang terakhir, Ia yang lahir, Ia yang bathin
Tidak ada yang kuketahui kecuali :Ya Hu" dan "Ya man Hu"
Aku mabok oleh piala Cinta, dua dunia lewat tanpa kutahu
Aku tak berbuat apa pun kecuali mabok gila-gilaan
Kalau sekali saja aku semenit tanpa kau,
Saat itu aku pasti menyesali hidupku
Jika sekali di dunia ini aku pernah sejenak senyum,
Aku akan merambah dua dunia, aku akan menari jaya sepanjang masa.
O Syamsi Tabrizi, aku begitu mabok di dunia ini,
Tak ada yang bisa kukisahkan lagi, kecuali tentang mabok dan gila-gilaan.
Bertasbihlah dengan Bersyukur kepada Allah dan Bersabarlah
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Kau adalah Yusuf dari waktu dan matahari dari langit!
Keluarlah dari selokan dan penjara, dan tunjukkan wajahmu!
Yunusmu akan menderita jika berada di dalam perut paus:
Tiada jalan untuk membebaskannya selain bertasbih dengan bersyukur kepada Allah.
Jika Yunus tidak bertasbih kepada-Nya,
maka perut ikan akan terus memenjarakannya hingga Hari Pembalasan.
Dengan Mengagungkan Allah, terus-menerus dan penuh harap, maka ia akan dibebaskan.
Apakah yang dimaksud dengan Mengagungkan Allah? Yaitu mengenali tanda Hari Alastu.
Jika engkau telah lupa bagaimana perjanjian tasbihmu pada waktu itu,
maka dengarkanlah tasbih para wali dan nabi;
Dengarkanlah tasbih Ikan dari Laut Illaahiyyah.
Dia yang telah melihat Allah, maka itulah iman sebenarnya.
Dia yang telah melihat Laut Illaahiyyah adalah seekor Ikan.
Dunia ini merupakan bagian dari lautan, sedang tubuh ini adalah salah satu jenis ikannya;
Dan jiwa Yunus telah terperangkap dari melihat cahaya Pagi.
Jika engkau Mengagungkan Allah, maka engkau akan dibebaskan dari ikan:
Namun jika tidak, maka engkau akan dimakan, lalu hilang lenyap bagaikan asap.
Kebenaran Spiritual begitu melimpah ruah di dalam lautan dunia;
Kau tak akan bisa melihat mereka bahkan jika mereka berenang mendatangimu.
Karena itu, ketika getaran air dari gerakan ikan mendekatimu,
maka bukalah lebar-lebar matamu dan lihat mereka;
Bahkan jika kau tak berhasil melihat mereka dengan jelas,
setidaknya kau telah mendengar tasbih mereka kepada Allah.
Latihan sabar merupakan inti dari segala tasbih.
Bersabarlah, karena itu merupakan tasbih tertinggi (Alhamdulillaah) kepada Allah.
Tiada pengagungan yang lebih tinggi selain sabar;
Bersabarlah; sabar merupakan kunci untuk menghibur hati.
Kesabaran bagai Jembatan bagi jiwa-jiwa setelah raganya mati,
harus disebrangi untuk menuju Cahaya Langit.
Untuk setiap lelaki tampan ada seorang guru yang jelek;
Jika engkau tidak menghiraukan ajarannya, maka engkau tak akan memiliki laki-laki itu:
Laki-laki tampan dan gurunya yang jelek, harus berjalan beriringan.
Odes, Teachings of Rumi, terjemahan Inggris oleh Andrew Harvey.
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Kau adalah Yusuf dari waktu dan matahari dari langit!
Keluarlah dari selokan dan penjara, dan tunjukkan wajahmu!
Yunusmu akan menderita jika berada di dalam perut paus:
Tiada jalan untuk membebaskannya selain bertasbih dengan bersyukur kepada Allah.
Jika Yunus tidak bertasbih kepada-Nya,
maka perut ikan akan terus memenjarakannya hingga Hari Pembalasan.
Dengan Mengagungkan Allah, terus-menerus dan penuh harap, maka ia akan dibebaskan.
Apakah yang dimaksud dengan Mengagungkan Allah? Yaitu mengenali tanda Hari Alastu.
Jika engkau telah lupa bagaimana perjanjian tasbihmu pada waktu itu,
maka dengarkanlah tasbih para wali dan nabi;
Dengarkanlah tasbih Ikan dari Laut Illaahiyyah.
Dia yang telah melihat Allah, maka itulah iman sebenarnya.
Dia yang telah melihat Laut Illaahiyyah adalah seekor Ikan.
Dunia ini merupakan bagian dari lautan, sedang tubuh ini adalah salah satu jenis ikannya;
Dan jiwa Yunus telah terperangkap dari melihat cahaya Pagi.
Jika engkau Mengagungkan Allah, maka engkau akan dibebaskan dari ikan:
Namun jika tidak, maka engkau akan dimakan, lalu hilang lenyap bagaikan asap.
Kebenaran Spiritual begitu melimpah ruah di dalam lautan dunia;
Kau tak akan bisa melihat mereka bahkan jika mereka berenang mendatangimu.
Karena itu, ketika getaran air dari gerakan ikan mendekatimu,
maka bukalah lebar-lebar matamu dan lihat mereka;
Bahkan jika kau tak berhasil melihat mereka dengan jelas,
setidaknya kau telah mendengar tasbih mereka kepada Allah.
Latihan sabar merupakan inti dari segala tasbih.
Bersabarlah, karena itu merupakan tasbih tertinggi (Alhamdulillaah) kepada Allah.
Tiada pengagungan yang lebih tinggi selain sabar;
Bersabarlah; sabar merupakan kunci untuk menghibur hati.
Kesabaran bagai Jembatan bagi jiwa-jiwa setelah raganya mati,
harus disebrangi untuk menuju Cahaya Langit.
Untuk setiap lelaki tampan ada seorang guru yang jelek;
Jika engkau tidak menghiraukan ajarannya, maka engkau tak akan memiliki laki-laki itu:
Laki-laki tampan dan gurunya yang jelek, harus berjalan beriringan.
Odes, Teachings of Rumi, terjemahan Inggris oleh Andrew Harvey.
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Menjadi Sebuah Lautan
Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Setiap bentuk yang engkau lihat menggambarkan keasliannya dari alam Ilahiyah. Jika hilang, apa masalahnya? Keaslian milik Keabadian. Jangan berduka cita atas setiap kehilangan dan penderitaan..
Air akan senantiasa memancari dari sumbernya. Sumber dan airnya tidak akan pernah berhenti mengalir, jadi kenapa berduka? Hatimu adalah sebuah sumber; sungai demi sungai teraliri airnya dari sana. Buanglah semua kedukaan selamanya dan tetaplah berusaha terus-menerus secara konsisten mencari dan meminum air dari sumbernya. Jangan takut. Airnya tidak terbatas, tak akan habis.
Ketika engkau datang ke dunia, sebelumnya sebuah tangga telah ditempatkan, sehingga engkau bisa menapaki setapak demi setapak anak tangganya. Pertama sekali, engkau dalam keadaan mati; kemudian menjadi suatu tanaman; lalu bertransformasi menjadi seekor hewan. Dalam perjalanan panjang, engkau bertransformasi menjadi seorang manusia, yang, dikaruniai dengan pengetahuan, kecerdasan, dan keimanan. Selanjutnya, engkau menjadi malaikat. Kemudian engkau akan selesai dengan dunia dan akan berada di Dalam Cahaya Surga. Pergilah, masuklah ke Dalam. Lewati Samudra, hingga perhentian terakhir – dirimu – menjadi sebuah Lautan.
“Odes”, Maulana Jalaal al-Diin Ruumi
Setiap bentuk yang engkau lihat menggambarkan keasliannya dari alam Ilahiyah. Jika hilang, apa masalahnya? Keaslian milik Keabadian. Jangan berduka cita atas setiap kehilangan dan penderitaan..
Air akan senantiasa memancari dari sumbernya. Sumber dan airnya tidak akan pernah berhenti mengalir, jadi kenapa berduka? Hatimu adalah sebuah sumber; sungai demi sungai teraliri airnya dari sana. Buanglah semua kedukaan selamanya dan tetaplah berusaha terus-menerus secara konsisten mencari dan meminum air dari sumbernya. Jangan takut. Airnya tidak terbatas, tak akan habis.
Ketika engkau datang ke dunia, sebelumnya sebuah tangga telah ditempatkan, sehingga engkau bisa menapaki setapak demi setapak anak tangganya. Pertama sekali, engkau dalam keadaan mati; kemudian menjadi suatu tanaman; lalu bertransformasi menjadi seekor hewan. Dalam perjalanan panjang, engkau bertransformasi menjadi seorang manusia, yang, dikaruniai dengan pengetahuan, kecerdasan, dan keimanan. Selanjutnya, engkau menjadi malaikat. Kemudian engkau akan selesai dengan dunia dan akan berada di Dalam Cahaya Surga. Pergilah, masuklah ke Dalam. Lewati Samudra, hingga perhentian terakhir – dirimu – menjadi sebuah Lautan.
“Odes”, Maulana Jalaal al-Diin Ruumi
Langganan:
Postingan (Atom)
