Asysyam

“Sesungguhnya berbahagialah orang yang mensuciikan jiwanya, dan sungguh merugilah orang yang mengotori jiwanya”
Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Maret 2012

Prinsip dasar Spiritualitas



Pergi dari banyak ke satu
Dampak dari upaya kita jauh lebih kuat ketika kita berkonsentrasi upaya kita pada satu, bukan banyak.

Mana yang lebih efektif?

Menggali satu sumur untuk mengakses air yang adalah 10 meter atau menggali 10 sumur 1 meter masing-masing.
Diperoleh mil frequent flyer dari berbagai perusahaan penerbangan atau menempel hanya satu maskapai penerbangan.

Berikut ini adalah bagaimana prinsip ini bekerja tergantung pada berbagai jalur generik .

Jalan Aksi : Pada tahap awal, seorang pencari memberikan sedekah kepada pengemis beberapa. Pada tahap berikutnya, ia memfokuskan upaya pada satu penyebab tunggal seperti sumbangan ke sekolah atau rumah sakit.

Jalan Pengetahuan :

Setelah mempelajari teks-teks rohani dari berbagai filsafat zaman baru untuk teks-teks agama, seorang pencari akhirnya berubah menjadi satu pun yang memiliki persentase yang paling kebenaran spiritual di dalamnya.

Jalan Pengabdian :

Sebuah pencari berlangsung dari pergi ke tempat ziarah , membaca satu kitab ayat-ayat Suci .

Jalan Mengucapkan Asma Allah swt :

 Di sini, para pencari melantunkan asma Allah sebanyak-banyaknya dalam situasi apapun dari lisan atau dalam batin.

Jalan Guru (syeikh): Setelah mengunjungi beberapa auliya (wali), seorang pencari akhirnya dilihat hanya satu Guru  Terlepas dari jalan satu Spiritualitas berikut, kemajuan spiritual tidak benar-benar terjadi melebihi tingkat tertentu tanpa kasih karunia seorang guru.


Melakukan latihan rohani sesuai tingkat rohani atau kemampuan rohani

Kita harus memeriksa bahwa praktek rohani yang kita pilih adalah sebagai per kapasitas rohani kita atau tingkat spiritual. Seorang mahasiswa, yang telah lulus kelas 3, tidak akan mampu untuk duduk untuk ujian kelas 4 jika ia telah terus mempelajari hanya kelas 3 silabus.

Demikian juga para pencari spiritual harus mencoba untuk meningkatkan kapasitas mereka untuk melakukan latihan spiritual sehingga tidak terjebak pada satu tingkat dari latihan rohani.

Mari kita pergi melalui berbagai tahap perkembangan dari bentuk-bentuk ibadah yang lebih berat dengan bentuk yang lebih halus

sesuai tingkat pencari:

Pada tingkat awal kita merasa bahwa kita dapat membuat kontak dengan Ilahi hanya dengan pergi ke tempat ibadah dan melalui berdoa kepada Allah swt.
Selanjutnya kita merasakan hubungan dengan Ilahi tidak hanya melalui ritual-ritual tetapi melalui membaca Al-Qur'an sementara duduk di tempat ibadah.

Pada tahap berikutnya kami merasa bahwa bahkan, dan hanya mengalami getaran dalam sebuah masjid yang cukup untuk menyehatkan rohani seseorang.

Setelah ini kita pergi dapat melihat Kebesaran Allah swt dalam keindahan alam; tinggi di pegunungan, didanau yang tenang, dll

Pada tingkat yang lebih tinggi, Bahkan jika kita berada di tempat yang tidak menyenangkan seperti kumuh kotor atau di tengah-tengah zona perang, kita dapat merasakan selimut menghibur kehadiran Allah swt, dan dapat menyembah Dia ada di hadapan tenang hati kita.

Menawarkan kepada Allah swt sesuai bakat Anda atau kapasitas

Semua dari kita memiliki beberapa jenis sumber daya yang kita miliki. Ini telah diberikan kepada kita oleh Allah swt. Sebuah prinsip dasar dalam praktek spiritual adalah bahwa kita menggunakan sumber daya yang sama untuk melayani-Nya sebagai bagian dari latihan spiritual kita dan bertumbuh secara rohani. Sumber daya yang kita telah jatuh ke dalam empat kategori luas:

1. Tubuh kita

2. Kita kekayaan dan koneksi duniawi

3. Semua pikiran dan intelek

4. Semua indra keenam

Mari kita lihat keempat aspek dalam sedikit lebih detail:

1. Tubuh kita



Melayani dengan cara tubuh kita menggunakan tubuh kita untuk melayani Tuhan. Sebagai contoh:

Membersihkan tempat dan mendapatkan itu siap untuk kuliah pada Spiritualitas

Mengemudi pencari ke tempat tersebut

Memasang poster untuk mengiklankan kuliah pada Spiritualitas

2. Kita kekayaan dan koneksi duniawi



Sebuah contoh dari melayani Allah swt dengan menawarkan kekayaan dan koneksi duniawi masing-masing akan menjadi:

Membayar untuk tempat di mana sebuah wacana spiritual yang akan dilakukan

Mengatur untuk ceramah tentang Spiritualitas di sebuah lembaga yang satu adalah terkait dengan

3. Kami pikiran dan intelek



Menggunakan pikiran kita dan kecerdasan adalah tentang menggunakan proses kreatif dan intelektual kami untuk melayani Tuhan. Contoh ini akan mencakup:

Menggunakan akal kita untuk belajar Spiritualitas, memasukkannya ke dalam praktek dan kemudian memberitahu orang lain tentang hal itu

Menggunakan keterampilan menulis kami untuk menyebarkan Spiritualitas dengan menulis artikel tentang Spiritualitas

Membantu dalam memelihara catatan dan administrasi dari suatu peristiwa

4. Kami keenam akal



Beberapa dari kita telah berbakat dengan indra keenam sejak usia dini. Hal ini disebabkan latihan rohani . Tanggung jawab kita untuk menggunakannya hanya untuk memfasilitasi pertumbuhan rohani dalam diri kita dan orang lain. Penggunaan indra keenam kita perlu berada di bawah bimbingan seorang Guru Spiritual .

Dalam ringkasan, poin-poin berikut dapat disimpan dalam pikiran:

Dengan konsisten menawarkan apa yang kita miliki untuk melayani Allah swt sebagai bagian dari latihan rohani kita, kita tumbuh secara spiritual.

Bahkan jika seseorang tidak memiliki kekayaan atau kecerdasan yang tinggi ia masih dapat menawarkan tubuhnya dalam pelayanan kepada Allah dan dengan demikian bertumbuh secara rohani.

Empat jenis penawaran yang disebutkan di atas tidak saling eksklusif. Jika seseorang memiliki kecerdasan yang baik dan pemahaman yang kuat tentang Spiritualitas ia mungkin cenderung hanya untuk menawarkan inteleknya. Namun prinsip adalah tentang 'menawarkan semua apa yang telah'. Sebagai orang yang memiliki tubuh dan mungkin juga memiliki kekayaan tertentu, dia harus menawarkan bahwa seiring dengan inteleknya.

Dari semua penawaran, pikiran dan intelek adalah yang paling unggul melalui media yang satu dapat membantu orang lain memahami dan praktek Spiritualitas.


Melakukan latihan rohani yang relevan dengan waktu

Dalam semua hal dalam hidup ada waktu bagi mereka untuk terjadi. Jika hal yang benar terjadi pada waktu yang salah maka hasil yang diinginkan tidak tercapai. Misalnya, jika benih ditabur pada bulan-bulan kering bukan musim hujan, mereka tidak mengambil akar tidak peduli seberapa subur tanahnya. Demikian pula, praktek-praktek spiritual tertentu yang kondusif sesuai dengan era.




Satyayuga: Ini adalah era yang sangat murni ketika rata-rata tingkat spiritual seseorang adalah 70% (ini adalah tingkat dari auliya ()wali ). Orang-orang ini begitu murni spiritual bahwa Jalan Pengetahuan yang terbaik cocok untuk mereka karena mereka memiliki potensi untuk memahami arti spontan tersirat dari semua tulisan suci rohani.

Tretayuga: Ini adalah era ketika tingkat spiritual dari orang rata-rata turun sampai 55% dan sehingga mereka kehilangan potensi mereka untuk mengikuti Jalan Pengetahuan. Tapi mereka cukup mampu secara rohani untuk melakukan taubat dan muraqabah (meditasi) jenis yang membuat seorang pencari bermeditasi cukup lama untuk sebuah bukit semut untuk tumbuh di seluruh tubuhnya).

Dwaparyuga: Ada penurunan lebih lanjut dalam tingkat spiritual dan orang kehilangan potensi mereka untuk taubat yang ketat dan meditasi berkelanjutan. Jadi ilahi sehingga mereka akan mampu membuat kemajuan melalui ibadah ritual. sangat memakan waktu dan tenaga karena mereka harus dilakukan setelah mencari bahan yang tepat. Seiring dengan ini ada banyak langkah yang harus diikuti untuk detail terakhir. Tapi orang-orang religius cukup berpikiran untuk menghabiskan waktu, tenaga dan uang untuk melakukannya.

Kaliyuga: ini diterjemahkan sebagai 'Era perselisihan' dan merupakan periode berjalan. Tingkat spiritual orang rata-rata telah turun menjadi hanya 20%. Kemampuan kita untuk melakukan praktek-praktek spiritual di atas telah sangat berkurang. Tapi mengingat bergolak kali kita hidup di dalam dan luasnya polusi spiritual - Allah swt telah membuat ketentuan yang sederhana bagi kita untuk tetap bertumbuh secara rohani. Semua Dia ingin kita lakukan sebagai latihan spiritual, adalah mengulang Asma-Nya.


Maju dari bruto (nyata) untuk halus (tidak berwujud)

Prinsip ini menyatakan bahwa kita perlu untuk memperbaiki latihan rohani kita dengan pergi dari hanya tindakan fisik, berlatih pada tingkat yang lebih halus.

Sebuah latihan rohani halus lebih dahsyat daripada satu yang kotor. Ambil contoh, hubungan dimana dua orang berjabat tangan dalam persahabatan, sementara pada kenyataannya, mereka mungkin tidak saling menyukai. Tampilan fisik dari persahabatan hanyalah sebuah façade. Di sisi lain, dua orang mungkin merasa niat baik yang tulus terhadap satu sama lain meskipun mungkin tidak ada kontak fisik.

Demikian juga, ketika datang ke berlatih Spiritualitas, akan melalui gerakan ibadah ritual eksternal (tingkat fisik) dengan pengabdian tanpa perlu diganti dengan memiliki pengabdian dalam nyata bagi Allah swt, atau keinginan yang kuat untuk pertumbuhan rohani.

Ketika melakukan latihan rohani adalah penting untuk diingat bahwa setiap individu berbeda dan jadi apa yang bekerja untuk satu orang mungkin tidak bekerja bagi orang lain. Ketika mendaki gunung seorang pendaki berpikir setiap jalan adalah satu-satunya cara. Tapi ketika dia mencapai puncak gunung, dia menyadari bahwa ada jumlah tak terbatas cara yang bisa membawanya ke atas. Demikian juga ada banyak jalan adalah sebagai kepada Allah swt karena ada orang.

Jumat, 16 September 2011

Rezeki Jasmani dan Ruhani






Jadilah orang yang gigih memakmurkan waktu sesudah sholat Subuh hingga terbitnya matahari dan sesudah sholat Ashar hingga tengelamnya matahari.


Pada dua waktu yang mulia ini, dicurahkan anugerah Allah bagi orang-orang yang menghadapkan diri kepada-Nya.
...

Memakmurkan waktu setelah sholat Shubuh merupakan sebab yang terkuat untuk menarik rezeki jasmani, sedangkan setelah sholat Ashar merupakan sebab yang terkuat untuk menarik rezeki ruhani.


Begitulah, hal ini telah diuji oleh orang-orang yang terbuka mata hatinya dan para ‘arifin.


Disebutkan dalam sebuah hadits yang artinya sebagai berikut :


“Seseorang yang duduk pada tempat ia sholat, lalu berzikir kepada Allah setelah sholat Subuh, lebih cepat mendapatkan rezeki daripada mereka yang mencari di setiap penjuru bumi”.




Sumber : Adab Suluk Al-Murid, Al-Allamah Abdullah bin Alwi Al-Haddad

Jumat, 20 Mei 2011

Rahasia Fenomena Jin

jin

Dari segi bahasa ialah suatu yang tersembunyi atau terlindung.
Dari segi istilah(maksud sebenar) ialah sejenis makhluk yang tersembunyi di antara malaikat dan manusia, tidak ghaib betul seperti malaikat (tidak murni) tidak latiff tetapi boleh menyerupai dirinya sebagai murni dan tidak betul-betul ada roh serta berjisim seperti manusia, tetapi boleh menyerupai dirinya sebagai manusia ada roh dan berjisim, sebagai suatu tipu daya saja. Tidak diizin oleh Allah menyerupai rupa Nabi Muhammad s.a.w, dan tidak boleh mengaku dirinya sebagai Nabi Muhammad s.a.w. Untuk memudahkan faham dan sampai pemikiran orang awam, jin itu ialah laser yang tidak murni, kerana asal kejadiannya itu api Maarij dan angin Samuun yang suhu panasnya tidak boleh dinilai dengan suhu panas dunia.
Mafhum dari ayat Al- Quran;
a. Maksud ayat 26-27 Surah Al-Hijr :
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari tanah liat kering kontang yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk dan Kami telah ciptakan jin sebelum itu sebelum (diciptakan manusia) dari api yang sangat panas”
b. Maksud ayat 15 Surah Ar-Rahman :
“Dia menciptakan Jan (Jin) dari nyala api (pucuk api yang bernyala-nyala)
c. Maksud ayat 12 Surah Al-‘Araf :
“Engkau ciptakan aku (kata Iblis) dari api sedangkan Engkau ciptakan dia (Adam) dari tanah.
Dari Mafhum Hadis Nabi s.a.w. yang diriwayatkan oleh Imam Muslim r.a.
maksudnya:
“Malaikat diciptakan dari cahaya. Jan diciptakan dari lidah api sedangkan Adam diciptakan dari suatu yang telah disebutkan kepada kamu (tanah).”
Keterangan “Al-Maarij”
a. “Maarij” ertinya nyala api yang sangat kuat dan sangat panas suhunya atau “Al-Lahab” artinya jilatan api yang sudah bercampur antara satu sama lain yaitu merah, hitam, kuning dan biru.
(setengah ulama mengatakan “Al-Maarij itu ialah api yang sangat terang yang memiliki suhu panas yang sangat tinggi sehingga bercampur antara merah, hitam, kuning dan biru.”)
b. Al-Maarij – api yang bercampur warna.
c. Al-Maarij sama maknanya dengan “As-Samuun” iaitu api yang tidak berasap yang sangat tinggi suhu panasnya. Sementara As-Samuun ialah angin yang paling tinggi suhu panasnya. Angin samuun yang telah sebati dengan Al-Maarij itulah Allah jadikan Jan.
d. Hadis riwayat daripada Ibnu Mas’ud bermaksud :
“Angin Samuun ini hanyalah sebahagian daripada tujuh puluh bahagian dari angin yang sangat panas yang daripadanya Allah menjadikan Jan.”
Maka dari api inilah Allah Maha Perkasa lagi Maha Berkehendak dan Maha Berkuasa menciptakan kejadian Jin, yaitu dari sel atau atom atau nukleas-nukleas api. Kemudian Allah masukkan roh atau nyawa padanya jadilah dia hidup seperti yang dikehendaki pula oleh Allah dan dari situ diberi izin oleh Allah menzahirkan berbagai-bagai bentuk dan rupa yang disukainya dan dikehendakinya kecuali rupa Rasulullah s.a.w. mengikut tahap dan kemampuan masing-masing; dan diarah menerima syariat agama Islam sepertimana diarahkan manusia menerimanya. Bentuk rupa asalnya selepas dicipta dan ditiupkan rohnya itu hanyalah Allah dan Rasul-Nya saja yang mengetahuinya. Mengikut kata setengah ulama rupa, tabiat, kelakuan, perangai jin 80% ke 90% mirip kepada manusia. 10% ke 20% mirip kepada malaikat.
NABI saw mengatakan, ‘Jin terbahagi kepada tiga kelompok. Sepertiganya mempunyai sayap yang boleh membuatkan mereka terbang di udara. Sepertiga lainnya berbentuk ular dan anjing dan sepertiga lainnya boleh beralih dari satu kelompok ke kelompok lainnya.
CATATAN : Ditakhrij (dikeluarkan) oleh Al-Baihaqi dengan sanad sahih. Adapun redaksinya berbunyi sebagai berikut (terjemahannya) :
Dari Jabir Nafir, dari Abi Tsa’labah Al-Khuntsa ra, bahawasanya Rasulullah saw bersabda, (maksudnya) ‘Jin terbahagi dalam tiga kelompok’.
“Kelompok pertama adalah jin yang mempunyai sayap dan dapat terbang di udara. Kelompok yang kedua terdiri dari jin yang berbentuk ular dan anjing, sedangkan kelompok ketiga adalah yang boleh berubah bentuk dirinya.”
Dalam Al-Mustadrak, Al-Hakim meriwayatkan hadis yang senada dengan hadis yang diriwayatkan Al-Baihaqi. Tentang hadis ini, Al-Hakim mengatakan bahawa hadis tersebut sahih sanadnya, ditakhrijkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dalam sahihnya.
Menurut Adz-Dzahabi, hadis ini sahih. Hadis yang mirip dengan ia diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dalam tafsirnya, yang bermaksud : “Jin terbahagi tiga kelompok. Kelompok pertama yang ada di udara. Kelompok kedua adalah jin yang boleh naik-turun kehendak hati mereka, sedangkan kelompok ketiga adalah jin yang berbentuk ular dan anjing.”
Setiap kelompok dari ketiga kelompok ini membantu kelompok atau himpunan yang lain. Katakan saja misalnya, jin-jin yang terdiri dari anjing-anjing tadi secara keseluruhannya ia merupakan himpunan dari salah satu jenis jin.
Subhanallah! Diriwayatkan dari Imam Ibn ‘Abbas ra, hadis yang mendukung pendapat ini Ibn ‘Abbas mengatakan, “Anjing itu termasuk golongan jin. Ia merupakan salinan jin. Kalau dia mengendus-endus dekat makananmu, maka lemparkanlah makananmu ke arahnya, sebab dia mempunyai selera terhadapnya.” Lihat Ibn Manzhur, Lisan Al-Arab.]
Akan tetapi, yang berwarna hitam legam dengan dua bulatan putih di atas matanya, adalah jin sangat jahat yang boleh dibunuh. Kalau engkau melihat anjing seperti itu, jangan kau biarkan. Bunuh saja.”
Diriwayatkan dari Ibn Az-Zubair, dari Jabir bin Abdullah, katanya “Rasulullah saw memerintah kami untuk membunuh anjing sehingga ada seorang wanita yang datang dari dusun dengan membawa anjingnya yang kemudian kami bunuh. Kemudian Nabi saw melarang kami membunuh anjing, seraya mengatakan, ‘Bunuhlah yang hitam legam dengan dua titik putih (di atas matanya), sebab dia adalah syaitan.”
Hadis ini ditakhrijkan oleh Muslim dalam shahihnya. Hadis ini merupakan dalil bagi perintah membunuh anjing secara umum. Kemudian perintah ini dihapus (mansuh) dan dikhususkan pada anjing hitam legam, kerana ia adalah syaitan.
Dalam Syarahnya terhadap hadis ini, Imam An-Nawawi mengatakan, “Makna Al-Bahim (yang terdapat dalam hadis tersebut) adalah hitam legam. Sedangkan dua titik, adalah titik putih yang berada di atas kedua matanya, dan itu mudah diketahui. Lihat Shahih Muslim Syarh An-Nawawi, kitab Al-Musaqah Wa Al-Muzara’ah.’
Dalam Shahih Muslim, Bab Qadr Ma Yasturu Al-Mushalliy, diriwayatkan sebuah hadis dari Abdullah Ibn Ash-Shamit, dari Abu Dzar, bahawasanya Rasulullah saw berkata, “Bila salah seorang di antara kalian berdiri untuk solat, maka hendaknya dia membuat penghalang yang merupakan tanda bagi orang yang lalu.
Sebab, kalau dia tidak membuat tanda seperti itu, maka solatnya pasti akan diputuskan (diganggu) oleh keldai, kaum wanita dan anjing hitam.” Saya bertanya Abu Dzar, “Bagaimana halnya dengan anjing hitam dibandingkan dengan anjing merah atau coklat?” Abu Dzar menjawab, “Wahai anak saudaraku, aku pernah bertanya kepada Rasulullah seperti pertanyaanmu dan beliau menjawab, “Anjing hitam adalah syaitan’.”]
“Apakah anjing-anjing hitam tersebut awalnya memang merupakan bentuk asli syaitan yang diberikan Allah atau apakah ia mengambil bentuk seperti itu?”
“Boleh jadi memang Allah telah memberinya bentuk seperti itu. Hanya Allah Yang Maha Tahu. Akan tetapi jenis ini tidak boleh mengubah diri dalam bentuk yang lain. Mereka merupakan salah satu umat syaitan yang terkutuk yang tak terbilang banyaknya. Kerana Rasulullah saw memperbolehkan kita membunuhnya, maka bunuhlah ia.”
“Bagus. Itu tentang anjing. Kalau ular?”
“Terdapat banyak ular yang sesungguhnya adalah jin, dan banyak pula yang merupakan ular penjelmaan jin. Akan tetapi ada dua jenis ular dari kelompok ini yang sama sekali tidak boleh mengubah bentuk dirinya dalam bentuk lain. Kerana itu jangan engkau ragu-ragu membunuhnya. Kalau ia menyingkir, biarkan. Kalau tidak, maka sebutlah nama Allah dan mintalah perlindungan-Nya. Sesudah itu, bunuhlah ia.”
“Apa dua jenis ular tersebut?”
“Rasulullah saw telah menyampaikan kepada kita tentang keduanya. Yang pertama Al-Abtar dan yang kedua Dzu Ath-Thifyatayn’.
Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibn ‘Umar ra, bahawasanya beliau mendengar Rasulullah saw berkhutbah di mimbar. Rasulullah saw berkata, “Bunuhlah ular, bunuhlah Dzu Ath-Thifyatayn dan Al-Abtar, sebab kedua binatang itu menyembur mata dan menggugurkan kandungan.”
Di dalam Shahih Al-Bukhari juga diriwayatkan bahawa Nabi saw memerintahkan para sahabat membunuh ular dan sesudah itu melarang membunuh ular yang menghuni rumah, sebab mereka adalah jin-jin yang menetap di rumah-rumah itu.
Dalam Fat-h Al-Bari Ibn Hajar mengatakan, “Adapun perkataan Nabi yang berbunyi : ‘Bunuhlah Dzu Ath-Thifyatayn, “Adalah ular yang mempunyai dua garis putih di belakangnya.” Ibn Abd Al-Barr mengatakan, “Disebut-sebut bahawa, Dzu Ath-Thifyatayn adalah sejenis ular yang mempunyai dua garis putih di belakangnya, sedangkan Al-Abtar adalah ular buntung (tidak berekor).”
Asal mula Jin bernama “Jan”, beriman dengan Allah melahirkan keturunan yang beriman. Selepas itu menjadi kufur dan kekal dalam kufur melahirkan pula keturunan-keturunan yang kufur. Anak cucunya yang asal beriman itu ada yang kekal dalam beriman dan ada pula yang jadi kufur dan ada pula yang kembali beriman. Ada yang baik, ada yang jahat, ada yang soleh, ada yang tidak soleh, ada yang ‘alim lagi mukmin, ada yang kufur, ada yang murtad, munafik, fasiq dan zalim, ada yang masuk syurga dan ada yang masuk neraka.
Keadaan Jin/Rupa Jin
a. Ruang yang kecil boleh dipenuhi oleh berjuta-juta Jin.
b. Jin yang kekal dalam kafir dan jin Islam yang fasik – rupanya jelek-jelk yaitu rupa yang menakutkan dan mengerikan.
c. Jin Islam yang soleh rupanya elok-elok.
d. Bentuk-bentuk tubuh mereka itu ada yang pendek, ada yang terlalu tinggi, ada bermacam-macam warna putih, merah, biru, hitam dan sebagainya.
e. Jin Islam yang paling tinggi imannya paling tinggi solehnya dan paling baik amalannya dan paling luas ilmunya masih ada pada dirinya sifat-sifat mazmumah seperti takabbur, riak, ‘ujub dan sebagainya mudah menerima teguran dan pengajaran.
f. Manakala manusia yang paling jahat ialah manusia yang bersifat dengan kesemua sifat-sifat mazmumah seperti sombong, riak, takabbur, ‘ujub dan sebagainya. Mungkin inilah yang lazim dikatakan :
“Sebaik-baik Jin itu ialah sejahat-jahat manusia yang fasik”
Tetapi manusia yang paling jahat sulit atau susah menerima pangajaran dan teguran yang baik.
Jin sepertimana juga manusia berhajat kepada keturunan dan jumlahnya terlalu banyak dan tuturan kata berbagai-bagai loghat atau bahasa.
a. Ada ulama membagi jin-jin ini kepada yang menunggu kubur,
yang menunggu gua, yang menunggu mayat manusia,
yang menunggu hutan rimba, yang menunggu bukit, yang menunggu lautan
bukau, yang menunggu air mata air, tasik, kolam, teluk, kuala,
pulau dan sebagainya.
b. Jenis-jenis Jin :
1. Iblis : (Bapa) Pujaan kepada semua jenis jin dan syaitan
2. Asy-Syaitan : Syaitan-syaitan
3. Al-Maraddah : Pembisik(pewas-was)
4. Al-‘Afaariit : Penipu-penipu
5. Al-A’waan : Pelayan-pelayan
6. Al-Ghawwaasuun : Penyelam-penyelam
7. Al-Tayyaaruun : Penerbang-penerbang
8. At-Tawaabi’ : Pengikut-pengikut (Pengekor)
9. Al-Quranaa’ : Pengawan-pengawan
10. Al-‘Ummaar : Pemakmur-pemakmur
c. 7 Raja Jin (Alam) Bawah Yang Kafir
1. Mazhab
2. Marrah
3. Ahmar
4. Burkhan
5. Syamhurash
6. Zubai’ah
7. Maimon
d. 7 Raja Jin (Alam) Atas Yang Islam
1. Ruqiyaail
2. Jibriyaail
3. Samsamaail
4. Mikiyaail
5. Sarfiyaail
6. ‘Ainyaail
7. Kasfiyaail
e. Raja Jin yang menguasai kesemua jin-jin tersebut bernama THOTHAMGHI YAM YAAL.
f. Majoriti jin terdiri dari gulungan kafir. Islam hanya gulungan minoriti sepertimana manusia dibumi. 80-90% jin menyerupai manusia.
g. Anak-anak Iblis yang mempunyai kerajaan yang besar adalah lima orang :
1. Thubar – Merasuk manusia yang ditimpa musibah dan bala.
2. Daasim – Merasuk manusia untuk menceraikan ikatan silatul-rahim,
rumahtangga, keluarga, sahabat-handai, jemaah dll.
3. Al-‘Awar – Merasuk manusia untuk meruntuhkan akhlak, berzina,
minum arak, liwat, berjudi juga gejala sosial.
4. Mabsuut – Merasuk manusia dengan mengadu-domba, fitnah, dengki-
khianat, sum’ah dll.
5. Zalanbuur – Merasuk manusia dengan api pertengkaran permusuhan
pembunuhan.
h. 4 raja Jin Ifrit yang mempunyai kerajaan yang besar yang menjadi menteri
kepada Nabi Allah Sulaiman a.s. (Jin yang paling jahat)
1. Thamrith
2. Munaliq
3. Hadlabaajin
4. Shughal
i. Sementara malaikat yang mengawal kesemua jin-jin di atas bernama Maithotorun yang bergelar QUTBUL JALALAH
Perbezaan di antara perkataaan Jin, Ifrit Dan Syaitan
a. Perkataan jin ditujukan kepada segala makhluk halus yang tersembunyi di antara malaikat dan manusia dan ianya tidak kelihatan oleh manusia. Pengetahuan mereka lebih luas dan panjang umurnya.
b. Perkataan Ifrit pula ditujukan kepada satu gulungan jin yang sangat kuat dan bijak menipu dan sangat busuk hati terhadap manusia. Gulungan ini tersangat sombong lagi amat durhaka.
c. Perkataan syaitan ialah ditujukan kepada satu gulungan jin yang sangat sombong lagi durhaka, pengacau dan menjadi musuh utama manusia dan mendapat kutukan Allah hingga kiamat.
d. Perkataan Iblis ialah ditujukan kepada satu jin yang sangat kuat taatnya dalam beribadah kepada Allah sehingga ia di angkat oleh Allah menjadi ketua atau qutub kepada seluruh malaikat dan jin, kemudian ia dilaknat oleh Allah menjadi makhluk yang agung kufurnya kepada Allah, oleh sebab angkuh dan takbur dirinya di atas asal usul kejadiannya terhadap kejadian Adam a.s yang dilantik menjadi khalifah Allah yang terakhir di alam ini.
e. Firman Allah bermaksud :
“Iblis menjawab : Sebab Engkau telah menghukum saya dengan tersesat, saya akan menghalang halangi mereka dari jalan-Mu Yang Lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari depan dan dari belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka. Engkau tak akan mendapati kebanyakan dari mereka bersyukur (taat).”
Bermula dari saat itulah syaitan melancarkan gerakan permusuhan dengan manusia sehingga kiamat. Allah menjelaskan 3 jenis permusuhan syaitan dengan manusia :
i. Kejahatan (As-Suu’) : Iaitu berkenaan dengan dosa-dosa (maksiat) hati dan segala anggota badan.
ii. Kekejian (Al-Fahsyaa’) : Iaitu kejahatan yang lebih buruk atau jahat lagi, kekejian ini adalah sebahagian kedurhakaan
(maksiat) kepada Allah.
iii. Berbohong terhadap Allah.
Ä Kecepatan bergerak Jin melebihi cepat gerak cahaya dalam satu saat.
Ä Umur jin tersangat panjang dan ada yang beribu tahun lama hidupnya.
Ä Jumlah banyaknya jin iaitu seluruh manusia daripada Adam sehingga kiamat x haiwan-haiwan x batu-batu x pasir-pasir dalam bumi dan tumbuh-tumbuhan ini hanya 1/10 jumlah keseluruhan Jin. Manakala jumlah keseluruhan jin ialah 1/10 jumlah keseluruhan malaikat. Jumlah keseluruhan malaikat hanya Allah dan Rasul-Nya sahaja yang maha mengetahui.
Ä Alam kediaman Jin ialah lautan, daratan, udara dan “Alam Mithal” suatu alam yang antara alam manusia dan alam malaikat. Jika ditakdir diberi oleh Allah s.w.t. kepada kita melihatnya jika jarum yang jatuh dari atas tidak jatuh di atas bumi hanya jatuh di atas belakang-belakang mereka.
Ä Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadis Nabi s.a.w. bermaksud :
“Apabila kamu menghadapi malam atau kamu telah berada di sebahagian malam maka tahanlah anak-anakmu kerana sesungguhnya syaitan berkeliaran ketika itu dan apabila telah berlalu suatu ketika malam maka tahanlah mereka dan tutuplah pintu-pintu rumahmu serta sebutlah nama Allah, padamkanlah lampu-lampu serta sebutkan nama Allah, ikatkan minumanmu serta sebutkan nama Allah dan tutuplah sisa-sisa makananmu serta sebutkan nama Allah (ketika menutupnya)”.
(Maksudnya syaitan-syaitan tidur di waktu siang dalam cahaya dan sinar sehingga menjelang petang merupakan saat mereka berkeliaran mencari rezeki baik lelaki atau perempuan, kanak-kanak atau dewasa.)
Kejadian makhluk mengikut apa yang difahamkan bahawa :
a. Asalnya kejadian manusia itu ialah campuran :
i. Jisim Kathif iaitu tanah dan air.
ii. Jisim Syafaf iaitu murni – api dan angin.
iii. Nurani iaitu roh, akal, nafsu dan hati yang dinamakan “Latifatur-
Rabbaniah”. Sesuai dengan manusia sebaik-baik kejadian dan ciptaan Allah
dan khalifah Allah.
b. Manakala kejadian Jin pula :
i. Jisim Syafaf murni iaitu api dan angin.
ii. Nurani-iaitu roh, akal, nafsu dan hati yang sesuai dan sepadan dengan
kejadian jin.
c. Binatang : i. Jisim Kathif
ii. Jisim Syafaf
d. Batu-batu dan tumbuhan : Jisim Kathif semata-mata.
e. Malaikat : Nurani semata-mata.
Kata setengah Ulama : ‘Azazil itu bukanlah moyang jin, sebenarnya satu jin yang paling ahli dikalangan jin yang diangkat menjadi ketua ahli-ahli kepada jin dan malaikat. Dia menjadi angkuh dan takabbur di atas keilmuan, ketaqwaan dan banyak ibadat serta asal-usul kejadiannya. Maka Allah melaknatnya menjadi kafir dengan nama Iblis.
a. Iblis apabila menyentuh paha kanan dan paha kirinya terbit 33 biji telor. Dalam setiap biji telor itu ada 33 pasang benihnya. Tiap-tiap pasang itu apabila menyentuh paha kanan dengan paha kiri terbit pula seperti dahulunya begitulah sehingga kiamat.
b. Jin pula apabila disentuh alat kelamin lelaki dengan alat kelamin perempuan terus mengandung dan beranak terus mukallaf. Begitulah berlaku sehingga kiamat.
c. Bunian atau lebih masyhur dikalangan orang-orang Melayu dipanggil “Orang Ghaib” ialah hasil campuran lelaki atau perempuan Jin dengan lelaki atau perempuan manusia maka anak daripada hasil itu dikenali dengan nama Bunian mengikut manusia dalam beberapa perkara dan mengikut jin dalam beberapa perkara pula. Bunian ini selalu datang kepada manusia dengan memberi berbagai-bagai perkara atau pertolongan antaranya :
1. Keris-keris.
2. Batu-batu yang dikatakan berhikmat.
3. Jenis-jenis ubat-ubatan.
4. Juga mengajar cara-cara berubat samada melalui bomoh, pawang atau bidan.
d. Jin merasuk manusia melalui berbagai-bagai rupa dan cara dan manusia menggunakan khidmat jin untuk membuat khianat kepada sesama manusia pun melalui berbagai-bagai rupa dan cara juga.
e. Seperti juga manusia biasa yang berada dalam tingkat-tingkat Iman, Ilmu dan amalan yang berasaskan kepada Awam, Khawas, Khawasil-khawas, maka jin juga berada dalam gulungan tersebut :
1. Jin Islam yang Awam.
2. Jin Islam yang Khawas.
3. Jin Islam yang Khawasil-khawas.
f. Gulungan jin kafir kebanyakannya beragama Yahudi, Kristian, Komunis dan sedikit daripada mereka beragama Buddha, Majusi serta tidak beragama.
g. Gulungan Jin yang kafir dan jin Islam yang awam segera datang memberi pertolongan kepada manusia samada dalam mimpi atau di dalam jaga. Lazimnya pertolongan itu yang membawa kepada rosak aqidah.
h. Manusia yang bersahabat dengan jin akan berperangai seperti sahabat-sahabat jin yang bertaulan dengannya samada kafir, Islam yang awam, khawas atau khawasil-khawas.
i. Di dunia semua jin boleh melihat manusia manakala manusia yang khawas atau khawasil-khawas sahaja boleh melihat jin selain para Nabi dan Rasul. Sementara di akhirat pula semua manusia mukmin ahli syurga boleh melihat jin manakala jin yang khawas atau khawasil-khawas sahaja yang boleh melihat manusia.
j. Jin Islam yang awam atau jin kafir suka merasuk manusia yang awam dengan berbagai-bagai cara kerana pada pandangan mereka manusia-manusia yang awam itu bukanlah manusia sebenarnya sebaliknya adalah rupa seekor binatang. Manusia yang khawas dan khawasil-khawas, jin tidak dapat merasuk mereka tetapi mereka itu datang pula untuk bersahabat.
k. Manusia yang selamat dari gangguan jin, iblis atau syaitan ialah manusia yang setiap waktu dan masa berada dalam Tauhid Allah melalui lidah, anggota dan hati, iaitu berada dalam aqidah syariat dan akhlak Rasulullah. Jalan paling dekat untuk berada dalam tauhid Allah itu hendaklah kita jadikan diri kita serta mereka-mereka yang setiap waktu masa dan ketika berada dalam Tauhid Allah iaitu Nabi Muhammad s.a.w., sekelian Nabi-nabi dan Rasul a.s., sahabat-sahabat agung Rasulullah, ahli keluarga Rasulullah, para-para kekasih Allah samada yang masih hidup atau yang sudah mati, nescaya akan menyampaikan diri kita zahir dan batin berada dalam tauhid Allah di semua tempat waktu dan masa melalui anggota, lidah dan hati seumpama mereka, yakni selamat daripada gangguan-gangguan jin-jin Islam atau kafir, iblis, syaitan atau seumpamanya.
l. Kata ulama :
“Kun Ma’allah fain lam takun ma’allah, fakun ma’a man ma’allah fainnahu yu shiluka ilallah”
Maksudnya : “Hendaklah jadikan diri kamu serta Allah maka jika kamu tidak boleh jadikan diri kamu serta Allah hendaklah jadikan diri kamu serta mereka yang serta Allah, maka sesungguhnya yang demikian itu akan menyampaikan diri kamu kepada Allah”
m. Diri manusia mukmin yang menjadi kekasih Allah itu menjadi “Kalbu Alam” atau “Jantung “Alam” atau “Pusat Alam” yang dikurnia Allah daya atau kuasa graviti mengikut darjah ketinggian Iman, ilmu dan amalannya disisi Allah. Diri-diri yang lain itu hanyalah di bawah atau di dalam kuasa atau graviti mereka.
Ä Kata Syeikh Abdul Wahhab Asy-Sya’rani di dalam kitabnya Yawaqitu wal Jawahir, bahawa bersahabat dan bersekedudukan dengan jin itu sangat keji. Katanya, “Barangsiapa memilih dan melebihkan sekedudukan dengan jin daripada sekedudukan dengan ulama, maka orang itu sangat jahil. Kerana yang lebih ghalib atas jin itu adalah perbuatannya dan perkataannya berlebih-lebihan dan dusta jua seperti kelakuan manusia yang fasik. Maka orang yang berakal lari ia daripada bersahabat dan bersekedudukan dengan dia, seperti larinya daripada bersahabat dan sekedudukan dengan manusia yang fasik.”
Katanya lagi : “Tiada sekali-kali aku lihat akan seseorang yang sekedudukan dengan jin itu beroleh kebajikan kerana asal kejadiannya itu api dan api itu sangat banyak geraknya itu datanglah berlebih-lebihan perbuatan dan perkataan orang itu.”
Katanya lagi : “Bahawa jin itu terlebih keras fitnahnya atas yang sekedudukan dengan dia daripada manusia.”
Berkata Syeikh Muhyuddin Arabi di dalam kitabnya Futuhat. “Adalah orang yang sekedudukan (bersahabat) dengan jin itu tiada beroleh ilmu akan Allah. Kerana jin itu sangat jahil akan Allah dan akan sifat-Nya.” Dan terkadang menyangka oleh orang yang sekedudukan dengan dia itu bahawa segala perkara yang dikhabarkan oleh jin itu daripada barang yang berlaku di dalam alam itu adalah “KARAMAH” daripada Allah Ta’ala baginya. Maka sangkaannya itu adalah batil dan hanya adalah yang kesudahan pemberian jin kepada manusia itu, bahawa diberitahu akan segala khasiat tumbuh-tumbuhan dan khasiat batu dan khasiat segala isim dan huruf, maka iaitu dibilangkan daripada Ilmu Kimia jua, iaitu ilmu yang dicela oleh syarak kerana meninggal atau membelakangkan ilmu fardhu ain yang dituntut oleh syarak mempelajari serta beramal dengannya.
Katanya lagi : “Sesetengah yang telah terjawab bahawasanya banyak orang sekedudukan dengan jin itu jadilah takabbur atas segala manusia itu dan barangsiapa takabbur dimurkai Allah Ta’ala akan dia dan dimasukkan ke dalam neraka seperti yang tersebut dalam beberapa ayat Quran dan Hadis Nabi s.a.w.”

Jumat, 18 Maret 2011

Yakjuj & Makjuj

Nama Yakjuj dan Makjuj disebut sebanyak dua kali di dalam al-Quran, iaitu di dalam surah al-Kahfi ayat 94 dan surah al-Anbiya ayat 96. Di dalam surah al-Kahfi diterangkan bahawa Yakjuj dan Makjuj adalah orang-orang yang membuat kerosakan di muka bumi yang ditakuti oleh suatu kaum yang tinggal di antara dua pergunungan sehingga ketika Zulkarnain datang ke tempat itu, kaum tersebut memohon kepadanya agar dibuatkan tembok penghalang daripada serangan mereka.
Di dalam surah al-Anbiya, disebutkan bahawa Yakjuj dan Makjuj itu akan segera turun dengan cepat dari tempat yang tinggi ketika tembok penghalang mereka terbuka sebagai tanda telah dekatnya kedatangan janji Allah s.w.t.


Al-Quran tidak menerangkan siapa sebenarnya Yakjuj dan Makjuj, daripada bangsa dan keturunan mana mereka itu. Al-Quran hanya menjelaskan sifat-sifat mereka, iaitu kaum pembuat kerosakan di bumi; kalau tembok penghalang dibuka, mereka akan turun mengalir seperti mengalirnya air bah, dan apabila tembok penghalang kukuh, mereka tidak masuk dan tidak dapat membuat kerosakan. Oleh kerana itu timbullah beberapa tafsiran, antara lain:


(1)  Ahmad Mustafa al-Maragi dalam kitab tafsirnya menyatakan bahawa Yakjuj adalah berbangsa Tartar, dan Makjuj adalah berbangsa Mongol. Mereka berasal daripada satu bapa yang bernama Turk, tempat tinggal mereka di bahagian utara Asia. Daerah mereka memanjang dari Tibet dan China sampai ke Laut Baku Utara, di barat sampai Turkestan.


Dalam pelbagai zaman, bangsa-bangsa ini sering menyerang, membuat kerosakan di muka bumi dan menghancurkan bangsa-bangsa lain. Di antara mereka terdapat bangsa-bangsa yang kejam, turun dari bukit-bukit di Asia Tengah dan pergi ke Eropah pada masa dahulu, seperti bangsa Semith, Simeria, dan Hun. Mereka banyak menyerang negeri-negeri China dan Asia Barat. Dengan munculnya Temujin yang dikenal dengan nama Genghis Khan“Raja Alam”, pada awal abad ke-7 H / 12 M, berikutan tenteranya yang perkasa keluar jauh ke Asia Tengah. Ia menundukkan China Utara kemudian pergi ke negeri-negeri Islam, lalu menundukkan Sultan Qutbuddin bin Armilan, salah seorang raja Seljuk yang menganut aliran Khawarij. Genghis Khan melakukan kekejaman yang belum pernah berlaku sebelumnya di negeri tersebut


(2)  Musnad Imam Ahmad bin Hanbal (Imam Hanbali), seperti dikutip Ibnu Kasir menyebutkan bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud: “Nuh memiliki tiga orang anak, iaitu Sam, nenek moyang orang Arab; Ham, nenek moyang orang Sudan; dan Yafis, nenek moyang orang Turk.” Menurut sebahagian ulama, Yakjuj dan Makjuj adalah keturunan Yafis, putera Nuh ini. Demikian juga pendapat Nasafi, seorang ahli fekah, usul fekah dan tafsir yang bermazhab Hanafi yang menyatakan bahawa Yakjuj berasal daripada suku Turk, manakala Makjuj pula berasal daripada suku Jail serta Dailam keturunan Yafis yang membuat kerosakan di muka bumi. Mereka tidak mati dan masing-masing memiliki seribu keturunan yang diperlengkapi dengan senjata.


(3)  Hamka pula memberi tafsiran bahawa Yakjuj dan Makjuj adalah segala gerakan yang telah dan akan merosakkan dunia ini. Oleh hal yang demikian, baik diri, keluarga, mahupun negara serta bangsa wajib mendirikan tirai besi sebagai benteng agar Yakjuj dan Makjuj tidak dapat masuk. Mungkin Yakjuj dan Makjuj dapat ditafsirkan sebagai berfikiran jahat, bermaksud buruk, dan ideologi yang menyesatkan yang dianuti sebahagian manusia. Manusia yang menganutnya dengan kelicikan kejahatannya boleh mempergunakan manusia sesamanya sebagai alat untuk merosakkan bumi ini. Sebab itu, fikiran yang baik, cita-cita yang mulia, dan ideologi yang sihat harus ditanam dengan teguh pada setiap diri, keluarga, dan negara serta bangsa untuk membentengi Yakjuj dan Makjuj. Yakjuj dan Makjuj laksana air, senantiasa mencari tempat untuk masuk walaupun hanya sebesar lubang jarum.

Tanya Jawab dengan Syaikh Nazim Mengenai Melawan Ego

Mawlana Syaikh Nazim Adil al-HaqqaniLefke, Cyprus 


BismillahirRohman nirRohim

Tanya : Apa yang menjadi kesengsaraan spiritual terbesar dalam hidup Anda dan bagaimana Anda meresponnya? Apa yang telah menjadi tantangan terbesar dalam hidup Anda?

Jawab Mawlana Syaikh Nazim : Hal tersulit bagi saya adalah ego (nafsu) saya. Dan halangan tersulit di depan manusia adalah ego/nafsu mereka. Ego/nafsu tak pernah bertanya apakah ia memerlukan perbaikan atau tidak. Ego/nafsu selalu mengklaim, "Saya adalah sempurna dan mereka adalah tidak sempurna". Karena itu, dari awal hingga akhir Anda harus memerangi ego/nafsu Anda, agar ia menyerah dan menerima bahwa dirinya tidaklah sempurna. Kesempurnaan adalah bagi ruh-ruh kita. Kesempurnaan manusia tidaklah berdasarkan atas ego/nafsu mereka, karena ego/nafsu berasal dari dunia hewan, milik bumi, sedangkan kesempurnaan manusia adalah lewat ruh-ruh mereka, karena ruh berasal dari Langit. Tapi, selalu saja ego/nafsu kita berada di depan ruh kita dan berkata, "Saya sudah sempurna."
Kenapa Anda berada dalam kesempurnaan? Apa kesempurnaan Anda? Apakah dapat mengangkat beban yang berat ke atas adalah suatu kesempurnaan? Dapat berlari- itukah kesempurnaan? Untuk melompat- itukah kesempurnaan? Berenang- itukah kesempurnaan? Untuk membunuhi orang-orang- itukah kesempurnaan? Makan berlebihan, minum berlebihan, bersenggama berlebihan- itukah kesempurnaan? Tidak, itu semua bukan kesempurnaan! Ego/nafsu kita selalu berkata, "Oh, sang juara, mengangkat, bergulat, atau bertinju." Demikian pikir mereka. Semua itu hanyalah dari ego/nafsu! Apa itu? Itukah kesempurnaan bagi manusia? Sayangnya, manusia mengejar kebodohan itu. Itu semua bukanlah kesempurnaan.
Mereka hanya membuat-buat kesempurnaan. Kesempurnaan, kesempurnaan sejati hanyalah bagi ruh, dan mereka berlarian mengejar sifat-sifat yang menjadi milik binatang? Menyelenggarakan Olimpiade! Apa itu olimpiade, untuk apa ini? Orang-orang telah menjadi dungu saat ini, gila. Orang-orang abad 21, berlarian dari satu Olimpiade ke Olimpiade yang berikutnya. Apa itu? Itukah kesempurnaan? Memberikan medali, berbuat seperti ini, bertepuk tangan, kebodohan apa itu? Orang-orang telahkehilangan kesempurnaan sejati manusia yang dimilikinya lewat ruh-ruh mereka. Mereka mengejar ego/nafsu, dan ego selalu datang dan berkata, "Saya adalah sempurna". Sempurna untuk apa? "Karena saya dapat berlari 100 meter. Rekor baru, Juara." Ini adalah bodoh. Kebodohan macam apa itu?
Bagaimana orang-orang dapat mencapai kedamaian dengan kebodohan macam itu. Kedamaian membutuhkan kesempurnaan. Kedamaian datang dari kesempurnaan dan orang-orang malah berlari menuju arah yang lain. Ego/nafsu selalu melawan ruh. Ruh ingin pergi ke atas, ego meminta untuk turun ke bawah. Inijelas bagi Anda, Anda mengerti?

Tanya : Teks suci doa yang mana yang memiliki makna spiritual terbesar bagi diri Anda?

Jawab : Sebagaimana telah saya katakan padanya, kami berusaha untuk membawa manusia menuju jalan Surga. Dan target sejati kami adalah untuk menyelamatkan manusia dari tangan-tangan nafsu/egonya.
Ego dapat diumpamakan seperti gurita. Anda tahu gurita? Di laut. Guritamemiliki banyak tangan, jika menangkap sesuatu seperti ini. Tidak mungkin untuk menyelamat kan seseorang yang dibelit gurita, jika Anda tidak memotong semua tangan gurita itu. Anda tak dapat menyelamatkan nya. Dan ego adalah seperti gurita yang menutupi mereka, selesai. Jika tak seorang pun dari luar menolong mereka, mereka akan habis. Sang gurita akan memakan mereka. Dan demikian pula ego/nafsu kita memakan diri kita, dengan cara yang mengerikan.(Membaca semua juz), karena kamimemiliki Kitab Suci, 30 Juz, dan setiap juz memberikan suatu kekuatan untuk menyelamatkan manusia dari tangan-tangan gurita ego mereka. Karena itulah, kami menggunakan ke-30 juz, setiap 30 hari sekali(maksudnya mengkhatamkan 30 juz Quran setiap 30 hari, penj.) sekali lagi dan sekali lagi.

Tanya : Apakah maksud dari eksistensi manusia, tujuan dari hidup manusia?

Jawab : Anda boleh bertanya pada Sang Pencipta. Anda bisa bertanya pada Ia yang menciptakan manusia. Anda dapat bertanya? Ego Anda akan berkata, "Maksud dari penciptaan adalah untuk menikmati diriku sendiridengan makan, minum, dengan Olimpiade, dengan segala sesuatu- itu adalah maksud penciptaan." Bagaimana dengan ruh Anda? Tak ada ruh. Saya di sini? Saat saya ada di sini, Anda tak dapat bicara tentang ruh. Kapan saya mesti bicara? Saya tidak tahu. Anda mengerti?

Tanya : Apa yang menjadi komponen-komponen praktis dari suatu hidup yang suci?

Jawab : Hidup sejati adalah dengan ruh-ruh kita. Ego/nafsu akan habis dan musnah dengan kematian, sedangkan ruh-ruh kita tak akan pernah musnah dan lenyap. Jadi, hidup yang bahagia, hidup yang kekal, dan kekekalan adalah bagi ruh-ruh kita, bukan buat wujud fisik kita. Karena itulah, manusia mestilah mencari kehidupan kekal mereka, tapi halangan terbesar di hadapan mereka adalah ego/nafsu. Dengan ego/nafsu, manusia tak akan pernah mencapai kekekalan.

Tanya : Apa yang menjadikan suatu hidup suci?

Jawab : Dengan menyelamatkan diri Anda dari tangan-tangan nafsu. Jika Anda telah selamat dari ego/nafsu dan tangannya, Anda akan meraih suatu hidup yang suci. Hidup yang suci hanya melalui Langit, bukan di atas bumi. Karena itulah, orang-orang suci berada di Langit, manusia lain di atas bumi. Tanya :Apa yang menjadi pesan utama Islam kepada Muslim dan yang lainnya? Jawab : Seperti sudah saya katakan. Kami tidak membuat suatu perbedaan di antara manusia. Semua manusia memiliki badan yang dilengkapi dengannafsu/ego dan ruh. Dan ratusan ribu nabi-nabi telah datang, yang mereka inginkan hanyalah menyelamatkan manusia dari tangan-tangan gurita ego, dan membuat mereka bebas untuk naik ke Surga, ke kekekalan, menuju maqam kekekalan mereka.
Jadi, tidak ada perbedaan antara kenabian (nubuwwah) dan nabi-nabi. Target utama setiap nabi adalah untuk menyelamatkan manusia dari tangan ego mereka, tapi manusia selalu memperlakukan mereka dengan keburukan,dan berkata, "Kami tidak mau melakukan ini, kami bahagia dengan ego kami, dengan kesenangan-kesenangan fisik kami, kami bahagia. Kenapa kau menyuruh kami kepada jalan yang lain?" Non-Muslim memiliki ego dan nafsu, Muslim pun memiliki ego/nafsu, Non-Muslim mempunyai ruh, Muslim pun mempunyai ruh. Setiap orang yang membebaskan ruh mereka telah mencapai tujuan atau gelar sejati mereka.Jangan pernah memberikan otoritas (pengaruh/kekuasaan, penj.) pada manusia, jika mereka tidak berusaha untuk menyelamatkan diri mereka sendiri terlebih dahulu. Jadi, kami tidaklah memerangi Non-Muslim, kami berperang melawan ego-ego/nafsu-nafsu yang mencegah manusia mencapai maqam surgawi mereka, atau mencegah mereka meraih dasar hidup kekal mereka.
Tidak, kami bukanlah musuh dari siapa pun, bukan! Musuh kami, musuh bersama kita adalah ego-ego kita. Kenapa mesti saya memerangi Anda? Untuk apa? Itu adalah suatu kebodohan. Saya hanya ingin menyelamatkan Anda daritangan-tangan ego Anda agar Anda menemukan jalan Anda menuju hidup yang kekal.

Tanya : Adakah suatu kebajikan esensial, sifat-sifat baik yang menjadi pokok di mana kebajikan lainnya bergantung?

Jawab : Semuanya akan menjadi jelek dan memburuk, jika Anda mengikuti ego/nafsu Anda. Anda harus menyingkirkannya, karena nafsu/ego meracuni hidup kita. Jika Anda tidak menyingkirkan ego Anda, hidup Anda di sini dan di akhirat akan teracuni. Karena itu, yang terpenting adalah memerangi ego kita, untuk menyingkirkannya dan berusaha untuk melakukan apa yang ruh Anda perintahkan.

Tanya : Bagaimana Anda melawan ego Anda sendiri?

Jawab : Itu adalah ajaran-ajaran Langit, yang tidak dapat Anda pelajari di universitas mana pun. Tidak. Universitas hanya membesarkan ego kita, memberi gelar-doktor, magister, professor. Ini dan itu. Gelar-gelar itu hanya menyenangkan ego kita, membuat ukuran ego menjadi semakin dan semakin besar. Kami ingin untuk membuat ukuran ego/nafsu menjadi makin kecil, kecil, kecil, sampai sini.

Tanda Tanda Hari Kiamat

Kepastian datangnya hari kiamat hanya Allah swt yang mengetahui. Sebagaimana firman-Nya: “Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang, Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan.” (QS. Thaha:15). Dengan demikian tiada seorang pun mengetahui kapan hari kiamat akan tiba. Allah swt hanya memberikan tanda-tanda menjelang datangnya kiamat.

Berdasarkan hadits-hadits Rasulullah saw, tanda-tanda hari kiamat sebagai berikut:
1.    Tanda-tanda shugra (kecil), yang sebagian di antaranya sudah tampak dalam kehidupan sekarang ini:

    * Ajaran Islam kurang diperhatikan dan bahkan ditinggalkan oleh kaum Muslim.
    * Jumlah ulama (ahli agama) yang sesungguhnya semakin sedikit, sebaliknya banyak orang bodoh yang mengaku ulama dan menyesatkan umat.
    * Perzinahan dilakukan terang-terangan dan sudah menjadi suatu kebiasaan di masyarakat luas.
    * Begitu pula mabuk-mabukan yang banyak dilakukan seolah bukan perbuatan yang diharamkan.
    * Jumlah wanita semakin lebih banyak dibandingkan dengan pria, dan mereka sudah tidak malu lagi berpakaian setengah telanjang.
    * Banyak wanita yang berdandan/berpenampilan seperti pria, begitu juga sebaliknya.
    * Umat manusia berlomba menumpuk kekayaan dengan jalan yang tidak halal serta maraknya praktek riba.
    * Para orangtua menjadi budak dan diperlakukan sewenang-wenang oleh anak-anaknya.
    * Semakin banyak fitnah yang menimpa umat Islam.
    * Semakin sering terjadi bencana alam, pembunuhan, dan peperangan.
    * Banyaknya perceraian.
    * Bermewah-mewah dalam membangun masjid sementara jamaahnya sedikit, serta saling membanggakan keindahan masjid.

2.    Tanda-tanda kubra (besar)

    * Waktu berputar semakin cepat, sehingga setahun terasa sebulan, sebulan terasa seminggu.
    * Matahari terbit di sebelah barat.
    * Keluarnya Dajjal, yaitu sosok pembohong yan g menutupi kebenaran.
    * Adanya Ya’juj dan Ma’juj, yaitu segolongan umat manusia yang mempunyai kekuatan besar dan berpikiran sesat.
    * Turunnya Imam Mahdi ke dunia untuk meluruskan syari’at Islam dan menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah saw.
    * Turunnya Nabi Isa as. dari langit yang akan memperjuangkan kebenaran bersama Imam Mahdi. Dialah yang menumpas Dajjal serta mengajak umat manusia mengesakan Allah swt dan menyambah-Nya.
    * Hilangnya Al Quran dari mashaf san hati umat manusia hingga hilang pedoman.

Tanda-tanda kecil datangnya hari kiamat secara umum datang lebih dahulu dari tanda-tanda besar, serta sebagiannya sudah terjadi. Jika tanda-tanda besar muncul telah muncul satu, maka akan diikuti tanda-tanda yang lainnya, yaitu yang pertama kali muncul adalah terbitnya matahari dari barat. Demikianlah kita sebagai umat manusia hendaknya mempersiapkan diri sebaik mungkin dengan  taat dan takwa kepada Allah swt, karena bagaimanapun juga tanda-tanda kecil datangnya kiamat telah banyak terjadi dan itu semua sebagai peringatan agar manusia sadar dan bertaubat.

Misteri Letak Penjara Ya' Juj dan Ma' Juj

“Mereka berkata; “Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya-juj dan Ma-juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka ?”

QS. Al-Anbiya: 96

“Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya-juj dan Ma-juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (Hari berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir. (Mereka berkata); “Aduhai celakalah kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang zhalim.”

Ya-juj dan Ma-juj dalam Hadits

Dari Zainab Binti Jahsh -isteri Nabi SAW, berkata;
“Nabi SAW bangun dari tidurnya dengan wajah memerah, kemudian bersabda; “Tiada Tuhan selain Allah, celakalah bagi Arab dari kejahatan yang telah dekat pada hari kiamat, (yaitu) Telah dibukanya penutup Ya-juj dan Ma-juj seperti ini !” beliau melingkarkan jari tangannya. (Dalam riwayat lain tangannya membentuk isyarat 70 atau 90), Aku bertanya; “Ya Rasulullah SAW, apakah kita akan dihancurkan walaupun ada orang-orang shalih ?” Beliau menjawab; “Ya, Jika banyak kejelekan.”
(HR. Ahmad, Al-Bukhari dan Muslim)

Jenis dan Asal Usul Ya-juj dan Ma-juj dalam QS. Al-Kahfi : 94

Ya-juj dan Ma-juj menurut ahli lughah ada yang menyebut isim musytaq (memiliki akar kata dari bhs. Arab) berasal dari AJAJA AN-NAR artinya jilatan api. Atau dari AL-AJJAH (bercampur/sangat panas), al-Ajju (cepat bermusuhan), Al-Ijajah (air yang memancar keras) dengan wazan MAF’UL dan YAF’UL / FA’UL. Menurut Abu Hatim, Ma-juj berasal dari MAJA yaitu kekacauan. Ma-juj berasal dari Mu-juj yaitu Malaja. Namun, menurut pendapat yang shahih, Ya-juj dan Ma-juj bukan isim musytaq tapi merupakan isim ‘Ajam dan Laqab (julukan). Para ulama sepakat, bahwa Ya-juj dan Ma-juj termasuk spesies manusia.

Mereka berbeda dalam menentukan siapa nenek moyangnya. Ada yang menyebutkan dari sulbi Adam AS dan Hawa atau dari Adam AS saja. Ada pula yang menyebut dari sulbi Nabi Nuh AS dari keturunan Syis/At-Turk menurut hadits Ibnu Katsir. Sebagaimana dijelaskan dalam tarikh, Nabi Nuh AS mempunyai tiga anak, Sam, Ham, Syis/At-Turk. Ada lagi yang menyebut keturunan dari Yafuts Bin Nuh. Menurut Al-Maraghi, Ya-juj dan Ma-juj berasal dari satu ayah yaitu Turk, Ya-juj adalah At-Tatar (Tartar) dan Ma-juj adalah Al-Maghul (Mongol), namun keterangan ini tidak kuat. Mereka tinggal di Asia bagian Timur dan menguasai dari Tibet, China sampai Turkistan Barat dan Tamujin.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhwhpM7uLPBFTVS4WPC3jYmprd6KofbWi88GW-n7J62Fln11Elht76pLPAXNB4qnrvivCkSLYKzvDZZZwai9W1SbEMAu-MLvjXxHLyFueheQ6KOki-Tm0ZRZMGYcfAdYUNEm7QoQGjMWj-C/s320/GogAndMagog.jpg

Mereka dikenal sebagai Jengis Khan (berarti Raja Dunia) pada abad ke-7 H di Asia Tengah dan menaklukan Cina Timur. Ditaklukan oleh Quthbuddin Bin Armilan dari Raja Khuwarizmi yang diteruskan oleh anaknya Aqthay. “Batu” anak saudaranya menukar dengan negara Rusia tahun 723 H dan menghancurkan Babilon dan Hongaria. Kemudian digantikan Jaluk dan dijajah Romawi dengan menggantikan anak saudaranya Manju, diganti saudaranya Kilay yang menaklukan Cina. Saudaranya Hulako menundukan negara Islam dan menjatuhkan Bagdad pada masa daulah Abasia ketika dipimpin Khalifah Al-Mu’tashim Billah pertengahan abad ke-7 H / 656 H.

Ya-juj dan Ma-juj adalah kaum yang banyak keturunannya. Menurut mitos, mereka tidak mati sebelum melihat seribu anak lelakinya membawa senjata. Mereka taat pada peraturan masyarakat, adab dan pemimpinnya. Ada yang menyebut mereka berperawakan sangat tinggi sampai beberapa meter dan ada yang sangat pendek sampai beberapa centimeter. Konon, telinga mereka panjang, tapi ini tidak berdasar.

Pada QS. Al-Kahfi:94, Ya-juj dan Ma-juj adalah kaum yang kasar dan biadab. Jika mereka melewati perkampungan, membabad semua yang menghalangi dan merusak atau bila perlu membunuh penduduk. Karenya, ketika Dzulkarnain datang, mereka minta dibuatkan benteng agar mereka tidak dapat menembus dan mengusik ketenangan penduduk.

Siapakah Dzulkarnain ? Menurut versi Barat, Dzulkarnain adalah Iskandar Bin Philips Al-Maqduny Al-Yunany (orang Mecedonia, Yunani). Ia berkuasa selama 330 tahun. Membangun Iskandariah dan murid Aristoteles. Memerangi Persia dan menikahi puterinya. Mengadakan ekspansi ke India dan menaklukan Mesir. Menurut Asy-Syaukany, pendapat di atas sulit diterima, karena hal ini mengisyaratkan ia seorang kafir dan filosof.

Sedangkan al-Quran menyebutkan; “Kami (Allah) mengokohkannya di bumi dan Kami memberikan kepadanya sebab segala sesuatu.” Menurut sejarawan muslim Dzulkarnain adalah julukan Abu Karb Al-Himyari atau Abu Bakar Bin Ifraiqisy dari daulah Al-Jumairiyah (115 SM - 552 M.). Kerajaannya disebut At-Tababi’ah. Dijuluki Dzulkarnain (Pemilik dua tanduk), karena kekuasaannya yang sangat luas, mulai ujung tanduk matahari di Barat sampai Timur. Menurut Ibnu Abbas, ia adalah seorang raja yang shalih.

Ia seorang pengembara dan ketika sampai di antara dua gunung antara Armenia dan Azzarbaijan. Atas permintaan penduduk, Dzulkarnain membangun benteng. Para arkeolog menemukan benteng tersebut pada awal abad ke-15 M, di belakang Jeihun dalam ekspedisi Balkh dan disebut sebagai “Babul Hadid” (Pintu Besi) di dekat Tarmidz. Timurleng pernah melewatinya, juga Syah Rukh dan ilmuwan German Slade Verger. Arkeolog Spanyol Klapigeo pada tahun 1403 H. Pernah diutus oleh Raja Qisythalah di Andalus ke sana dan bertamu pada Timurleng. “Babul Hadid” adalah jalan penghubung antara Samarqindi dan India.

Benarkah Tembok Cina adalah Tembok Zulkarnain ?

Banyak orang menyangka itulah tembok yang dibuat oleh Zulkarnain dalam surat Al Kahfi. Dan yang disebut Ya’juj dan Ma’juj adalah bangsa Mongol dari Utara yang merusak dan menghancurkan negeri-negeri yang mereka taklukkan. Mari kita cermati kelanjutan surat Al Kahfi ayat 95-98 tentang itu.

Zulkarnain memenuhi permintaan penduduk setempat untuk membuatkan tembok pembatas. Dia meminta bijih besi dicurahkan ke lembah antara dua bukit. Lalu minta api dinyalakan sampai besi mencair. Maka jadilah tembok logam yang licin tidak bisa dipanjat.

Ada tiga hal yang berbeda antara Tembok Cina dan Tembok Zulkarnain. Pertama, tembok Cina terbuat dari batu-batu besar yang disusun, bukan dari besi. Kedua, tembok itu dibangun bertahap selama ratusan tahun oleh raja-raja Dinasti Han, Ming, dst. Sambung-menyambung. Ketiga, dalam Al Kahfi ayat 86, ketika bertemu dengan suatu kaum di Barat, Allah berfirman,

“Wahai Zulkarnain, terserah padamu apakah akan engkau siksa kaum itu atau engkau berikan kebaikan pada mereka.” Artinya, Zulkarnain mendapat wahyu langsung dari Tuhan, sedangkan raja-raja Cina itu tidak. Maka jelaslah bahwa tembok Cina bukan yang dimaksud dalam surat Al Kahfi. Jadi di manakan tembok Zulkarnain?

Beberapa Penelitian Tembok Ya’ Juj

Abdullah Yusuf Ali dalam tafsir The Holy Qur’an menulis bahwa di distrik Hissar, Uzbekistan, 240 km di sebelah tenggara Bukhara, ada celah sempit di antara gunung-gunung batu. Letaknya di jalur utama antara Turkestan ke India dengan ordinat 38oN dan 67oE. Tempat itu kini bernama buzghol-khana dalam bahasa Turki, tetapi dulu nama Arabnya adalah bab al hadid. Orang Persia menyebutnya dar-i-ahani. Orang Cina menamakannya tie-men-kuan. Semuanya bermakna pintu gerbang besi.

Hiouen Tsiang, seorang pengembara Cina pernah melewati pintu berlapis besi itu dalam perjalanannya ke India di abad ke-7. Tidak jauh dari sana ada danau yang dinamakan Iskandar Kul. Di tahun 842 Khalifah Bani Abbasiyah, al-Watsiq, mengutus sebuah tim ekspedisi ke gerbang besi tadi. Mereka masih mendapati gerbang di antara gunung selebar 137 m dengan kolom besar di kiri kanan terbuat dari balok-balok besi yang dicor dengan cairan tembaga, tempat bergantung daun pintu raksasa. Persis seperti bunyi surat Al Kahfi. Pada Perang Dunia II, konon Winston Churchill, pemimpin Inggris, mengenali gerbang besi itu.

Apa pun tentang keberadaan dinding penutup tersebut, ia memang terbukti ada sampai sekarang di Azerbaijan dan Armenia. Tepatnya ada di perunungan yang sangat tinggi dan sangat keras. Ia berdiri tegak seolah-olah diapit oleh dua buah tembok yang sangat tinggi. Tempat itu tercantum pada peta-peta Islam mahupun Rusia, terletak di republik Georgia.

Al-Syarif al-Idrisi menegaskan hal itu melalui riwayat penelitian yang dilakukan Sallam, staf peneliti pada masa Khalifah al-Watsiq Billah (Abbasiah). Konon, Al-Watsiq pernah bermimpi tembok penghalang yang dibangun Iskandar Dzul Qarnain untuk memenjarakan Ya’juj-Ma’juj terbuka.

Mimpi itu mendorong Khalifah untuk mengetahui perihal tembok itu saat itu, juga lokasi pastinya. Al-Watsiq menginstruksikan kepada Sallam untuk mencari tahu tentang tembok itu. Saat itu sallam ditemani 50 orang. Penelitian tersebut memakan biaya besar. Tersebut dalam Nuzhat al-Musytaq, buku geografi, karya al-Idrisi, Al-Watsiq mengeluarkan biaya 5000 dinar untuk penelitian ini.

Rombongan Sallam berangkat ke Armenia. Di situ ia menemui Ishaq bin Ismail, penguasa Armenia. Dari Armenia ia berangkat lagi ke arah utara ke daerah-daerah Rusia. Ia membawa surat dari Ishaq ke penguasa Sarir, lalu ke Raja Lan, lalu ke penguasa Faylan (nama-nama daerah ini tidak dikenal sekarang). Penguasa Faylan mengutus lima penunjuk jalan untuk membantu Sallam sampai ke pegunungan Ya’juj-Ma’juj.

27 Hari Sallam mengarungi puing-puing daerah Basjarat. Ia kemudian tiba di sebuah daerah luas bertanah hitam berbau tidak enak. Selama 10 hari, Sallam melewati daerah yang menyesakkan itu. Ia kemudian tiba di wilayah berantakan, tak berpenghuni. Penunjuk jalan mengatakan kepada Sallam bahwa daerah itu adalah daerah yang dihancurkan oleh Ya’juj-Ma’juj tempo dulu. Selama 6 hari, berjalan menuju daerah benteng. Daerah itu berpenghuni dan berada di balik gunung tempat Ya’juj-Ma’juj berada.

Sallam kemudian pergi menuju pegunungan Ya’juj-Ma’juj. Di situ ia melihat pegunungan yang terpisah lembah. Luas lembah sekitar 150 meter. Lembah ini ditutup tembok berpintu besi sekitar 50 meter. Dalam Nuzhat al-Musytaq, gambaran Sallam tentang tembok dan pintu besi itu disebutkan dengan sangat detail (Anda yang ingin tahu bentuk detailnya, silakan baca: Muzhat al-Musytaq fi Ikhtiraq al-Afaq, karya al-Syarif al-Idrisi, hal. 934 -938).

Al-Idrisi juga menceritakan bahwa menurut cerita Sallam penduduk di sekitar pegunungan biasanya memukul kunci pintu besi 3 kali dalam sehari. Setelah itu mereka menempelkan telinganya ke pintu untuk mendengarkan reaksi dari dalam pintu. Ternyata, mereka mendengar gema teriakan dari dalam. Hal itu menunjukkan bahwa di dalam pintu betul-betul ada makhluk jenis manusia yang konon Ya’juj-Ma’juj itu.

Ya’juj-Ma’juj sendiri, menurut penuturan al-Syarif al-Idrisi dalam Nuzhat al-Musytaq, adalah dua suku keturunan Sam bin Nuh. Mereka sering mengganggu, menyerbu, membunuh, suku-suku lain. Mereka pembuat onar, dan sering menghancurkan suatu daerah. Masyarakat mengadukan kelakuan suku Ya’juj dan Ma’juj kepada Iskandar Dzul Qarnain, Raja Macedonia. Iskandar kemudian menggiring (mengusir) mereka ke sebuah pegunungan, lalu menutupnya dengan tembok dan pintu besi.

Menjelang Kiamat nanti, pintu itu akan jebol. Mereka keluar dan membuat onar dunia, sampai turunnya Nabi Isa al-Masih.

Dalam Nuzhat al-Musytaq, al-Syarif al-Idrisi juga menuturkan bahwa Sallam pernah bertanya kepada penduduk sekitar pegunungan, apakah ada yang pernah melihat Ya’juj-Ma’juj. Mereka mengaku pernah melihat gerombolan orang di atas tembok penutup. Lalu angin badai bertiup melemparkan mereka. Penduduk di situ melihat tubuh mereka sangat kecil. Setelah itu, Sallam pulang melalui Taraz (Kazakhtan), kemudian Samarkand (Uzbekistan), lalu kota Ray (Iran), dan kembali ke istana al-Watsiq di Surra Man Ra’a, Iraq.

Ia kemudian menceritakan dengan detail hasil penelitiannya kepada Khalifah. Kalau menurut penuturan Ibnu Bathuthah dalam kitab Rahlat Ibn Bathuthah pegunungan Ya’juj-Ma’juj berada sekitar perjalanan 6 hari dari Cina. Penuturan ini tidak bertentangan dengan al-Syarif al-Idrisi. Soalnya di sebelah Barat Laut Cina adalah daerah-daerah Rusia

kisah seorang Muslim jihad

Berikut adalah kisah seorang Muslim jihadi Amerika, Samir Khan. Setelah bekerja beberapa tahun di sektor media jihad di Amerika, dia berkemas dan hijrah ke Yaman untuk membantu mujahidin. Tulisan ini merupakan penjelasan tentang betapa bahagia dirinya menjadi pengkhianat bagi Amerika dan mengapa dia memilih mengambil keputusan tersebut.

Setelah keimananku berubah 180 derajat, aku tahu aku tidak bisa lagi tinggal di Amerika sebagai warga negara yang taat. Keyakinanku telah mengubahku menjadi pemberontak terhadap imperialisme Washington. Keimanan dan keyakinanku membuatku mampu melakukan penyerangan terhadap tiran terbesar dari jaman kita. Ini membuat mereka marah dan kecewa, sementara aku dibuatnya damai dan bahagia. Apa yang dahulu dan terus menerus mereka lakukan di negeri-negeri Muslim, menurutku, merupakan hal yang tidak bisa diterima oleh agamaku. Mereka menaruh dan menyokong regim-regim boneka, membujuk mereka supaya melakukan kesepakatan, memperkuat militer mereka, kesemuanya itu dilakukan agar mereka dapat memperluas tujuan politik mereka untuk mendirikan pemerintah penguasa yang berceceran di mana-mana hari ini yang akan menyertakan dalam kebijakannya pembatasan perlawanan Islam yang memperjuangkan tatanan Islam yang adil. Dalam proses ini hingga saat ini, mereka dengan bebasnya menodai negeri Islam dengan sengaja, merampok apa saja yang mereka mau, dan melakukan pembunuhan demi ‘demokrasi’ mereka sementara boneka keledai mereka terus menangkapi, membunuhi dan menyiksa orang-orang yang punya sedikit ghirah untuk membela negera Islam mereka.

Aku putuskan untuk mengambil pena dan menuliskan pemikiran dan perasaanku tentang perilaku koboi Amerika di negeri-negeri Islam. Aku tahu bahwa aku harus tetap di bawah koridor hukum tentang kebebasan berbicara, tetapi pada saat yang sama, aku tahu kebenaran sejati tidak akan pernah sampai ke khalayak kecuali dan sampai aku berada di atas hukum itu.

Kemudian, aku berhijrah ke Yaman, negeri keimanan dan kebajikan. Setelah menghabiskan waktu beberapa lama di Sana’a sebagai guru Bahasa Inggris, aku pun bergerak diam-diam. Aku bersyukur kepada Allah dan aku menertawai badan intelijen yang selalu mengawasiku selama beberapa tahun tersebut. Kembali ke North Carolina, FBI mengutus seorang mata-mata untukku yang berpura-pura masuk Islam; akulah yang mempersaksikan syahadat orang ini dan tetap membimbingnya. Pada satu waktu, dia bongkar kedoknya, dan diungkapnya identitasnya sendiri. Juga ada beberapa tindakan pengawasan rutin lain dan pada salah satu tindakan tersebut, mereka menjebakku agar menghadapi omelan seorang agen yang berpura-pura menjadi orang dungu yang membenciku dengan tulisan-tulisan online-ku. Aku tahu aku harus segera keluar dari Amerika sebelum FBI menangkapku dengan alasan-alasan konyol sebagaimana telah mereka lakukan terhadap orang-orang seperti Tariq Mehanna. Bahkan ketika di Sana’a, aku ketahui salah satu agen mereka tengah memata-mataiku di dekat hotel tempat aku tinggal. Begitu aku tinggalkan Sana’a, aku terkejut betapa mudahnya mereka semua terpedaya dengan penyamaranku. Dalam pengalamanku berhijrah dari Amerika ke Yaman, aku mengira akan dihentikan dan ditahan. Tetapi kesulitan terbesar yang aku hadapi–itupun bila ia layak dianggap sebagai kesulitan–adalah tertahannya aku selama tiga puluh menit lebih untuk mendapatkan ijin naik pesawat di North Carolina karena, sebagaimana diungkapkan sang resepsionis kepadaku, aku tengah diawasi. Sampai sekarang, aku masih tak percaya bila mengingatnya; maksudku, aku cukup terbuka tentang keyakinanku di dunia maya dan tak perlu jadi ilmuwan jenius untuk mengetahui bahwa dalam hatiku aku adalah al Qaeda. Hal itu membuatku yakin bahwa bila Allah ingin melindungi kita, maka tidak ada seorang pun di muka bumi yang dapat mencelakai kita. Aku pun terus mendapati hikmah ini dalam pengalaman-pengalamanku berdekatan dengan kematian di kemudian hari.

Aku ingat ketika aku dalam perjalanan dari Sana’a, yang terasa begitu lama, dalam sebuah mobil ke salah satu basis mujahidin, ikhwan yang menyetir mobil kami memutar salah satu nasyid berulang-ulang. Nasyid itu berjudul ‘Sir ya bin Ladin’. Aku sudah tahu nasyid ini sebelumnya, tetapi ada yang lain ku rasakan waktu itu. Nasyid itu mengulang-ulang bait yang mengingatkan kita untuk memerangi para tiran dunia demi memenangkan negeri-negeri Islam. Nasyid itu juga mengingatkan pendengarnya bahwa Syaikh Usama bin Ladin adalah pemimpin peperangan global ini. Aku menoleh keluar jendela ke rumah tinggi yang terbuat dari lumpur di kolong langit yang indah dan menutup mataku ketika angin berhembus di sela-sela rambutku. Aku tarik nafas panjang dan menghembuskannya. Pada saat itu, aku sadari bahwa seluruh hidupku akan berubah dengan salah satu dari banyak keputusanku ini. Aku sedang dalam proses untuk secara resmi menjadi pengkhianat bagi negara tempat aku tumbuh selama sebagian besar hidupku. Aku berpikir tentang banyak kemungkinan dampak yang mungkin ditimbulkannya terhadap kehidupanku; namun apapun itu, aku sudah siap menghadapinya. Itu karena aku adalah orang yang yakin bahwa seruan agar Islam berkuasa di dunia modern tidak akan semudah berjalan di atas karpet merah ataupun berkendara menembus lampu hijau. Aku sepenuhnya sadar bahwa sampai anggota badan kita terpisah, tulang-tulang kita remuk dan darah kita tertumpah kita baru bisa mewujudkannya. Setiap orang yang mengatakan selain ini hanyalah orang-orang yang tidak siap berkorban sebagaimana pengorbanan yang dilakukan para pahlawan dan jawara.

Ketika mataku menatap putaran misterius bukit pasir, aku teringat akan teka-teki jihad dalam dunia kontemporer. Sangat mengesankan ketika kita ketahui bahwa para gerilyawan mampu melawan kekuatan adidaya global dengan bekal seadanya yang mengakibatkan kerugian besar di pihak musuh, mengeringnya perekonomian musuh dan meningkatnya dukungan luas bagi mujahidin.

Setelah beberapa waktu berlalu bersama mujahidin, segera aku ketahui bahwa kesuksesan tidak bergantung pada kerja yang kita jalani dari pukul sembilan sampai pukul lima, tidak pula ia bergantung pada harta yang sudah kita kumpulkan, serta bukan juga pada seberapa jauh kita menempuh studi di perguruan tinggi. Semua itu memang layak dihargai, tetapi setelah berkumpul bersama mujahidin, terbukalah mataku bahwa alasan kita hidup tidak ada sangkut pautnya dengan semua ini. Satu-satunya hal yang penting bagiku di seluruh dunia ini, lebih besar bahkan dari sebelumnya, adalah kondisi hatiku ketika aku mati. Dari perspektif Islam, bila hati tercemar dengan kerakusan, kesombongan, kecongkakan, kekikiran, dan sejenisnya, maka sulit bagi kita untuk bisa masuk surga. Sehingga, keterlibatanku dalam jihad membuatku lebih fokus pada kondisi jiwaku supaya dapat diterima oleh Rabb semesta karena kematian mengelilingi jihad meski jaminan kematian bukan di sana. Penyimpangan terhadap fokus ini hanya akan membuatku dalam kehancuran, bahkan bila kumiliki separuh dunia sekalipun. Inilah pesanku kepada orang-orang yang berkuasa di negeri-negeri Muslim.

Bagaimana aku bisa menjadi pengkhianat bagi diriku sendiri dengan mengabaikan pengembaraan suci ini? Maka, hidup dengan diriku sendiri pun hanya akan seperti ikan yang dikeluarkan dari air. Oleh karena itu, hanya air mata haru dan kebahagiaan besar yang membuncah dalam hatiku demi mendengar bahwa Amerika menyebutku teroris oleh sebab kecintaanku untuk mengoreksi dan meluruskan jiwaku supaya menjadi lebih baik. Aku sudah menjadi pengkhianat demi menggapai kecintaanku. Bukti apa lagi yang kita butuhkan bahwa Amerika dan sekutu-sekutunya membenci orang-orang Islam yang hanya ingin menerapkan agamanya?

Aku selalu tertawa ketika awal Ramadhan menjelang di Amerika dan sang Presiden akan menghabiskan beberapa menit untuk menyampaikan betapa mengagumkannya Islam; sampai-sampai terlihat seolah dia sendiri mau menjadi seorang Muslim. Aku tertawa karena mereka menunjukkan wajah ini di negara mereka, dan wajah lain mereka tampilkan di Irak, Afghanistan, dan Teluk Guantanamo. Setelah tahu apa yang sudah diperbuat Amerika di dunia Islam, mengapa seorang Muslim tidak mau menjadi pengkhianat? Saya sungguh mempertanyakan kejujuran iman kita bila kita sampai berpikir dua kali untuk menentang Amerika entah secara langsung ataupun tidak. Daftar kejahatan mereka teramat panjang bila kita bicara tentang apa yang telah mereka perbuat terhadap dunia Islam. Kebocoran terbaru satu dokumen setebal 92.000 halaman tentang kejahatan Amerika dan realitas peperangan di Afghanistan hanyalah satu goresan di permukaan. Amerika punya sejarah panjang pembantaian dan penjajahan atas ummat Islam, tetapi regim Amerika masih saja kebingungan dengan pertanyaan: mengapa Usama bin Ladin menyerang kita? Amerika, pernah sedikit belajar: mungkin kamu sudah melakukan sesuatu. Maka mestinya tidak lagi mengherankan bila orang-orang Muslim di tengah kalian – seperti Nidal Hassan, Faisal Shahzad, dan lainnya – menjadi pengkhianat bangsa kalian karena kelakuan kalian. Bila kalian tidak mau menghabiskan sisa nyawa kalian dengan selalu khawatir untuk mencegah serangan lain, maka lakukanlah nasihat dari redaktur Wikileaks, Julian Assange: “Bila pasukan AS merasa malu karena mereka telah membunuh orang tanpa melalui proses peradilan atau karena mereka telah ikut dalam terbunuhnya kaum sipil; bila mereka merasa malu dengan itu, maka mestinya mereka merubah perilaku mereka.”[1]

Dengan apa yang sudah disebutkan, maka statusku sebagai pengkhianat tidak sepenuhnya merupakan reaksi terhadap kejahatan Amerika. Inti dari apa yang aku lakukan benar-benar berdasarkan pada pendirian agama tanpa maksud-maksud politik. Aku memulai jalan ini sebagai seorang aktivis Islam yang tidak meyakini perlawanan terhadap pemerintahan manapun karena, sebagaimana aku yakini saat ini, melakukan perlawanan bersenjata tidak mungkin bisa dilakukan ummat Islam saat ini. Aku sudah tahu bahwa pemerintah dunia modern tidak begitu senang dengan negara yang berdasar pada syari’ah yang menjadikan jihad sebagai bagian dari kebijakan asingnya. Namun, hal itu tidak membuatku ragu akan kewajiban Islamku secara umum untuk berusaha mendirikan Negara Islam. Ayat ke-sembilan Surat as-Saff menjadi ilhamku: {Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci.}. Aku memahami ayat ini dengan pengertian bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wassallam diutus dengan misi untuk menyebarkan Islam ke dunia; tidak hanya mengamalkannya di dalam rumah atau masjid, melainkan untuk menjadikannya sistem kerja pemerintahan yang akan membentuk keseluruhan masyarakat berdasarkan panduan dari Al Qur’an dan As Sunnah.

Ketika pandanganku berubah terkait kewajiban jihad pada jaman ini–bahwa ia tetap merupakan kewajiban individu (fardu `ain) atas semua Muslim di dunia sampai negeri-negeri kita bisa kita rebut kembali dari para penjajah–melalui keyakinan yang benar-benar ilmiah dari nash-nash syar’I (bukan kebencian besar terhadap kebijakan asing Amerika), aku tahu pada waktu itu bahwa agamaku mewajibkanku untuk memerangi Amerika dan sekutu-sekutunya karena Islam tidak malu untuk menyatakan siapa sesungguhnya yang penjajah. Aku tidak perlu bermajelis dengan ulama terpandang untuk memastikan hal ini karena bukti-bukti syar’i yang mendukung pendapat ini tetap tak terbantahkan semenjak fatwa dari Syaikh Abdullah Azzam tersebar luas; dan pada banyak orang yang aku uji, aku melihat ketakutan dan penolakan di raut muka mereka karena, sederhana saja, kebenaran itu menyakitkan karena mengharuskan pengorbanan dari kita agar bisa menjadikannya maujud.

Aku pengkhianat bagi Amerika karena agamaku mengharuskan demikian, {meskipun orang musyrik membenci}. Aku benar-benar bangga menjadi bagian dari agama ini dan mengapa seorang Muslim tidak mau (menjadi pengkhianat—penerj.)? Islam punya jawaban terhadap permasalahan hidup dan inilah yang menyatukan kemanusiaan demi kebaikan. Ritual tahunan haji hanyalah salah satu contoh dari hal ini. Islam mewajibkan dominasi dan setelah delapan puluh sekian tahun hidup di dunia pasca-khilafah, aku pikir sudah waktunya bagi orang-orang Islam untuk bersatu guna meruntuhkan segala penghalang. Penghalang yang paling besar dari penghalang-penghalang ini saat ini jelas Amerika. Amerika-lah yang punya basis militer dan intelijen yang tersebar luas di seluruh negeri kita untuk membantu melindungi pemerintahan kliennya dari orang-orang Islam yang berusaha menegakkan Islam. Amerikalah yang telah membunuh jutaan ummat Islam di seluruh dunia dan bisa tetap melenggang bebas. Dalam kasus negara Israel yang opresif, Israel tidak akan pernah seperti sekarang ini tanpa bantuan besar militer dan keuangan dari Amerika.

Seorang pengkhianat bisa terpuji ataupun terhina. Baik dan buruknya ditentukan oleh agenda politik tertentu di mata orang. Pengkhianat Islam, bagaimana pun juga, hanya akan mendapat kerugian baik di dunia dan akhirat; jenis pengkhianat yang disukai Amerika untuk diajak bekerjasama. Keindahan Islam telah mengajarkan bahwa kemuliaan ada pada keistiqomahan dalam memegang prinsip-prinsip kemenangan dan kehinaan ada pada ketakmampuan untuk berpegang teguh pada kebajikan. Kebajikan bukanlah menghadapkan wajah kita ke Timur atau ke Barat, melainkan keimanan kita kepada Allah yang tetap teguh apapun konsekuensinya.

Oleh karenanya, aku bangga menjadi pengkhianat di mata Amerika sebagaimana aku bangga menjadi seorang Muslim; dan aku menjadikan kesempatan ini untuk menyatakan ikrar keberpihakan (bai`at) dan bai’at mujahidin Semenanjung Arab kepada sang singa buas, jawara jihad, hamba Allah yang sederhana, syaikh kami tercinta, Usama bin Ladin, semoga Allah melindungi beliau. Sungguh, beliaulah orang yang telah menggoncangkan singgasana para tiran dunia. Kami bersumpah untuk mengobarkan jihad selama sisa hidup kami sampai kami dapat menegakkan Islam di seluruh dunia atau menemui Rabb kami sebagai pembawa panji Islam.

Dan betapa terpuji, penuh tantangan dan nikmatnya kehidupan semacam ini dibandingkan kehidupan orang-orang yang hanya duduk-duduk, bekerja dari pukul sembilan sampai pukul lima?

[1] Assange, J. (2010, Agustus). Wikileaks. BBC World News.

Team MuslimDaily.net
www.lintastanzhim.com

Kehancuran Israel

Dan Telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab KU: "Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar". ( Al-Isra : 4).



Meramal Kehancuran Israel


AYAT INI terkandung di dalam surah Al-Isra, yang jumlahnya adalah 111 ayat, yang juga diturunkan di Makkah. Dinamakan surah Al-Isra' karena pada ayat pertamanya mengisahkan tentang perjalanan Isra-Mi'raj nabi Muhammad saw yang belum pernah dilakukan oleh nabi-nabi sebelumnya, bahkan oleh makhluk Allah yang mana pun setelah itu.

Topik utama surah al-Isra tak terlepas dari masalah akidah seperti ghalibnya surah-surah 'Makiyah' lain. Surah ini juga mengisahkan beberapa hal penting yang berkisar syariat ibadah, keluhuran akhlak, etika, nilai-nilai spiritual, isyarat penting dan beberapa catatan sejarah. Di kesempatan ini Penulis berfokus pada masalah ayat keempat yang meramalkan kehancuran bangsa Bani Israil di muka bumi ini.

Pendapat ahli tafsir

1. Al-Maraghi menulis: yang dimaksud dengan membuat 'kerusakan dua kali' ialah pertama menentang hukum Taurat, membunuh nabi Yusya' dan memenjarakan Armia. Kedua yaitu membunuh nabi Zakaria dan bermaksud untuk membunuh nabi Isa a.s. Akibat perbuatan tersebut, Jerusalem dihancurkan.

2. Dalam "Fi Zhilal al-Quran", syeikh Sayyid Quthb menjelaskan ayat tersebut: "ketetapan (yang di maksud) ialah penghabaran dari Allah mengenai sesuatu yang akan terjadi pada mereka dari sudut pandang Allah Yang Maha tahu akan kesombongan mereka. Bukan ketetapan (pemaksaan) yang timbul dari perbuatan mereka sebab Allah swt tak mungkin memberi ketetapan untuk menghancurkan seseorang dengan membinasakannya (Innallaaha laa ya'muru bil fahsyaa.... [sesungguhnya Allah tidak memerintahkan keburukan]). Allah Maha tahu apa yang akan terjadi 'dari sesuatu yang ada', sebab ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, dan 'akan adanya sesuatu' yang bakal terjadi. Kalau dikaitkan pada pengetahuan manusia, tentu sesuatu itu belum terjadi dan tidak menyingkapkan tabir sesuatu pun. Allah swt memutuskan kepada Bani Israil melalui kitab yang diturunkan kepada nabi Musa as bahawa: mereka akan dihancurkan DUA KALI selama mereka di muka bumi ini. Mereka akan menggunakan kesombongannya serta menguasai tanah suci. Ketika mereka sedang leka memusnahkan bumi ini, Allah mengutuskan salah seorang hamba pilihan-Nya untuk menyucikan kehormatan mereka dengan menghancurkan mereka sehancur-hancurnya!

3. Penulis buku Shofwat al-Bayan li Ma'ani al-Quran mengatakan: Dan Telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil artinya Kami wahyukan kepada Bani Israil dalam arti Kami ajari dan Kami mengkhabarkan di dalam Taurat tentang dua kali kerusakan yang akan terjadi pada mereka, tempatnya di negeri Syam. Menurut mufassir ini, kerusakan yang dimaksudkan adalah di dalam dua keadaan: Pertama, merubah Taurat dan tidak mau mengamalkannya, menahan dan melukai Armia ketika mengabarkan tentang nabi Muhammad SAW. Kedua membunuh nabi Zakariya as dan Yahya as.

Bebebapa Indikasi Nubuwwat dalam Al-Quran:

Wa Qadhaina - Dan Telah Kami tetapkan

Qadha dalam bahasa Arab artinya menghukum, memerintahkan atau memberitahu tentang sesuatu ketetapan dan memutuskannya. Maksudnya ialah memutuskan sesuatu baik secara perkataan mahupun dengan perbuatan. Kadang kala qadha juga bermakna mencipta, memperkirakan, berekreasi dan menyelesaikan segala urusan. Qadha lebih khusus daripada qadar karena qadha adalah keputusan dari taqdir. Dengan kata lain qadar ialah takdir sedangkan qadha ialah memutuskan dan memastikan apa yang sudah ditakdirkan, sedangkan qadar ialah sesuatu yang belum qadha (diputuskan) maka masih boleh diharapkan lagi pembelaan dari Allah. Namun apabila sudah qadha (diputuskan) tidak akan ada lagi pembelaan dan cara menghindarinya.

Kata kerja qadhaina pada ayat di atas bermakna ikhbar (informasi), bukan ijbar (memaksa). Ini berkaitan dengan ilmu Allah swt, suatu ilmu yang syumuli (maha luas) dan meliputi segala-segalanya, baik yang lalu, masa kini, mahupun masa yang akan datang. Semua itu milik-Nya, dan karenanya segala bentuk waktu tadi di mata Allah selalu "sedang terjadi" sebab sang waktu adalah ciptaan-Nya sendiri. Sang Khaliq meliputi semua makhluk-Nya. Sedangkan semua ciptaan-Nya, termasuk manusia yang lemah tiada berdaya, tak akan mampu memberi batasan sang Khaliq. Masa depan dalam sudut pandang (ilmu) manusia ialah sesuatu yang belum pernah terjadi, sedangkan menurut ilmu Allah ia "ada" dan memang "nyata". Karena ia ada dan nyata, maka tidak hairanlah jika Allah mengetahui pasti bahawa Bani Israil akan binasa di muka bumi... bahkan dua kali! Mereka mengimplementasikan segala kesombongannya itu pada bangsa-bangsa lain di muka bumi ini, wabilkhusus "tanah suci" Palestin. Ketika mereka sudah benar-benar mencapai puncak keserakahan, Allah swt akan "mengutus" seorang hamba pilihan-Nya yang akan menaklukkan, menghancurkan dan menghinakan mereka selamanya.

..."Kepada Bani Israil"

Israil adalah Ya'qub bin Ishaq bin Ibrahim. Tiga rentetan nama ini semuanya nabi-nabi Allah yang diutus ke muka bumi. Arti nama Israil ialah 'hamba Allah', namun tidak diketahui pasti sejarahnya selain fakta yang menunjukkan bahawa ia dilahirkan di masa datuknya yang masih hidup, iaitu Ibrahim alaihissalam. Beliau (Israil alias nabi Ya'qub) meninggal dunia di Mesir di samping anaknya yaitu Yusuf as. Beliau disebut Abul Asbath 'Bapak Sabath', dan dari sinilah kemudian anak-cucunya disebut Banu atau Bani Israil. Israil, nama lain dari Ya'qub, menetap di negara Mesir selama 24 tahun. Sebelum meninggal, ia sempat berwasiat kepada anaknya, Yusuf as, agar ia dikebumikan di samping ayahnya, Ishaq as. Yusuf memenuhi amanat tersebut: beberapa saat setelah Ya'qub wafat, ia langsung mengangkat orang tuanya di dalam peti ke tanah Palestin, di samping pusara datuknya.

Beberapa kalangan pengkaji menyebut bahawa Yahudi sekarang ini merupakan keturunan nabi Ya'qub. Padahal Yahudi sama seperti agama-agama sebelumnya terdiri dari para pemeluk agama yang berasal dari ras, suku, etnis, budaya dan bangsa-bangsa lain yang ada di bumi ini. Ada pula yang mengastakan kemurniaan darah Yahudi dari percampuran darah lain. Tuduhan-tuduhan tersebut dapat disangkal dengan mudah oleh ilmu genetika. Kehadiran keturunan-keturunan Yahudi dari berbagai suku, bangsa dan ras pada saat ini adalah bukti tentang keragaman asal-usul Yahudi yang berperingkat.

Terbukti bahawa Yahudi Khazar (Yahudi Rusia dan Eropa Timur) sudah mencapai 92% Yahudi dunia. Khazar ialah bangsa di zaman kuno yang akar sejarahnya dimulai dari Turki, Mongol, dan Tatar yang hidup di wilayah antara lembah Folga dan lembah Danob, laut hitam dan laut Qazwin, dan tiada kaitannya dengan bangsa Arab ataupun asal-usul percampuran. Bangsa ini hidup di dua abad, iaitu abad ke-2 dan abad ke-10 Masihi di kerajaan pagan sekitar laut Qazwin yang dikenal dengan nama kerajaan Khazar. Jalannya pemecah Eropa Timur adalah melalui rangkaian perang yang telah berlangsung berabad-abad.

Pada pertengahan abad 8 Masihi (tepat pada tahun 740 Masihi) para pendeta Yahudi datang ke kerajaan Khazar menawarkan sesuatu. Mereka meminta kepada raja Khazar yang dikala itu bernama raja Bulan untuk menerima Yahudi sebagai agamanya. Tak lama kemudiannya Bulan masuk agama Yahudi. Seiring dengan masuknya sang raja ke dalam agama Yahudi, kerajaan itu memaksa seluruh penduduknya untuk beragama Yahudi pula. Sejak saat itu agama Yahudi adalah rasmi sebagai agama kerajaan.

Di abad-10 Masihi pemerintahan Rusia tetap bertahan dari inovasi kerajaan Khazar yang terus memguasai negara itu. Namun sebagian besar penduduknya berhijrah ke negara-negara Eropah Timur. Sebahagian diantaranya berpindah ke Eropah Barat, Amerika dan Amerika Latin. Memang masih ada yang bertahan di sana, namun mereka hanyalah representasi Yahudi imperium kaisar Rusia. Mereka inilah yang kemudian disebut dengan nama Eskanazim (Saknag) alias "Yahudi Eropa Timur".

Sedangkan Yahudi non-Khazar kurang dari 8% dari populasi Yahudi dunia saat ini. Mereka adalah Yahudi Asia-Afrika dan negara-negara Andalusia yang dikenal dengan sebutan Esaradim (Sparadim). Ini bukti lain dari sanggahan terhadap satu jenis bahawa Yahudi terhindar dari percampuran darah dengan kasta-kasta lain di luar darah aslinya. Juga bukti yang memperkuatkan kegagalan suatu teori bahawa Yahudi berkait langsung dengan nabi yang mulia, Ya'qub alaihissalam. Satu tuduhan yang tentu saja ditentang oleh ilmu agama, terlebih lagi ilmu sejarah.

Di sini kitab suci hanya menyebut satu komuniti yang memiliki tingkatan keegoan tinggi yang dengan lancang sering menyatakan keyakinan yang salah bahawasanya hanya merekalah bangsa yang terpilih, anak-anak dan kekasih-Nya sedangkan makhluk-makhluk di luar komunitinya laksana binatang berkepala manusia sehingga mereka layak menjadi pelayan mereka. Tuhan, kata mereka, adalah Tuhannya Israel dan bangsa Israel saja. Sedangkan di luar mereka, tidak memiliki Tuhan sama sekali. Dengan alasan itulah mereka menghalalkan apa saja, darah, kehormatan, harta dan tanah milik orang lain. Mereka halalkan apa saja, sebab itu merupakan bentuk taqarub mereka kepada tuhan. Padahal, kasta tidak ada nilaiannnya dalam pandangan Allah, karena yang penting adalah ketakwaan dan keimanan seseorang. Dalam pandangan Allah, orang-orang terpilih adalah orang-orang yang tetap mengikuti agama Ibrahim, tanpa memandang kasta dan jenis.

Salah satu dari kenyataan mereka- "kami adalah bangsa pilihan Tuhan, anak-anak Tuhan, kekasih Tuhan." Kesombongan yang luar biasa. Karena itu Allah berfirman: Dan Telah kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: "Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar".

Kamu akan Membuat Kerusakan di Muka Bumi ini Dua Kali!

Pendapat yang paling bernas menyebut bahawa dua kali kerusakan yang dimaksudkan tentunya perlakuan yang terlarang dan yang terkejam diantara kejahatan-kejahatan lain yang pernah mereka lakukan sepanjang sejarah. Pendapat ini beranggapan bahawa berbuat onar merupakan bahagian yang dipisahkan dari mainframe psikologis mereka. Karena itu pada ayat selanjutnya al-Quran menyebut: "dan sekiranya kamu kembali kepada (kedurhakaan) niscaya Kami kembali (mengazabmu) dan Kami jadikan neraka Jahannam penjara bagi orang-orang yang tidak beriman." (QS. Al-Isra [17]: 8).



Kerosakkan Pertama yang paling dahsyat dilakukan kaum Bani Israil menurut kalangan ahli tafsir, ialah saat mereka berada di Madinah. Ketika itu mereka kembali menghadap Rasul dan menolak dakwahnya. Mereka sempat melobi Rasulullah, lalu kemudian membatalkan secara sebelah pihak seluruh kesepakatan yang dibuat bersama. Sejajar dengan pengkhianatan tersebut, mereka bekerjasama dengan kaum pagan untuk mengatasi Rasulullah saw. Tidak hanya itu, mereka bahkan berusaha meracuni dan membunuh Rasulullah saw, namun berkat pertolongan-Nya usaha mereka tidak berhasil. Sekalipun demikian, pengkhianatan demi pengkhianatan yang dilakukan Yahudi Bani Qainuqa, Bani Nadhir, Bani Quraizhah, dan Yahudi Khaibar tetap berlangsung. Lalu Rasulullah memerintahkan agar mereka disingkirkan secara total dari jazirah Arab. Sejak saat itulah jazirah Arab suci dari Yahudi-Yahudi pembangkang.

Kerusakkan besar-besaran yang kedua yang dilakukan Yahudi dimulai di bumi Palestin, tepatnya di tahun 1649. Saat itu mereka mendirikan gerakan Zionis di Inggeris yang menyeru para penganut Yahudi untuk pulang ke tanah Palestin setelah pemulihan selama 1600 tahun. Oleh karena itu mereka mulai menghimpunkan action-plan berupa menghancurkan negara khilafah islamiyah yang saat itu tengah berjaya. Rencana tersebut terlaksana, khilafah Islam itu dipecah melalui serangkaian perang yang berkecamuk tanpa henti. Negara-negara yang bersistem khilafah itu dipenggal menjadi 75 negara dan negara-negara kecil. Lalu di tangan Barat negara-negara itu ditawan dan dijajah satu persatu. Di tahun 1799 mereka menyeru imigrasi ke Palestin dan bermukim di tanah milik Palestin tahun 1854 melalui tekanan negara-negara Barat. Kemudian mereka mendirikan Persatuan Israel Dunia di Perancis tahun 1860. Di tengah-tengah cengkaman penjajah di tanah Arab, mulailah pemusatan besar-besaran kaum Yahudi di tanah Palestin.

Lalu di tahun 1895 seorang Yahudi berkelahiran Austria, Hertzel menerbitkan sebuah buku "Jews State" dan menggelar Konferens Zionis pertama di tahun 1897. Konferens selanjutnya masih terus digilap hingga kini. Melalui konferens tersebut, Yahudi berhasil mendalangi Perang Dunia I dan II sehingga Inggeris mendeklarasikan Perjanjian Balfoure di tahun 1917 dan mengetuai Revolusi Komunis di Rusia pada tahun yang sama.

Melalui mandat Inggeris, rencana penundukan Yahudi dunia di tanah suci Palestin berjalan mulus. Kesemuanya merupakan konspirasi global Yahudi di seluruh dunia baik tersembunyi atau terang-terangan. Lalu di tahun 1924 negara khilafah islamiyah benar-benar berakhir. Seiring dengan keruntuhan itu, empat tahun kemudian kaum Yahudi mendirikan negara Zionis dengan sombongnya. Empat kali perang berkecamuk sengit dengan korban nyawa yang tidak berdosa melalui serangan yang tidak berperikemanusiaan. Perang tersebut menimbulkan kerusakkan besar di wilayah itu sehingga keadaannya menjadi lebih teruk daripada berpuluh-puluh tahun sebelumnya.

Apa yang terjadi di bumi Palestin sepanjang abad, dan realisasi operasi militer di akhir Julai 2006 berupa penyerangan membabi buta terhadap negara berdaulat Lebanon tanpa mengindahkan kecaman dunia internasional, merupakan bukti keserakahan, kesombongan, kejahatan dan sikap arogan yang sangat terlalu. Sekali lagi nubuwwat (ramalan) al-Quran yang tersimpan 1400 tahun terbukti lagi:

Dan Telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: "Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar". Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka bermaharajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana. Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar. Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri. Dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai. (Al-Isra : 4-8).

Ayat ini turun lebih dari 14 abad yang lalu, akan tetapi kejahatan, keangkuhan dan tindakan babarian Israel di jantung wilayah Arab hari ini dan seterusnya akan mereka lakukan tanpa akhir. Kebiadaban pengganas Israel dan perasaan tinggi hati dengan serangkaian penghancuran terhadap infrastruktur di beberapa tempat di Palestin dan Lebanon merupakan saksi paling tepat akan keberanan al-Quran. Dengan demikian, janji Allah sudah benar-benar dekat: dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya (Yusuf : 21).

Keajaiban akal fikiran

SATU unsur sangat menonjol pada penciptaan manusia ialah akal fikiran yang menjadikan insan makhluk istimewa berbanding yang lain sehingga layak menggalas amanah sebagai khalifah di bumi.

Islam memandang tinggi akal fikiran kerana ia sumber segala ilmu malah banyak disebut dalam al-Quran.

"Jika Kami turunkan al-Quran ini ke atas sebuah gunung, nescaya engkau lihat gunung itu tunduk serta pecah belah kerana takut kepada Allah. Contoh perbandingan ini Kami kemukakan kepada umat manusia, supaya mereka memikirkannya." (a-Hasyr:21)

Keutamaan akal fikiran ini ditegaskan Rasulullah s.a.w dalam dalam satu hadis daripada Ibnu Hibban, maksudnya: "Berfikir sesaat lebih baik daripada beribadat setahun."

Dalam satu kisah, Abu Said al-Khudri menyampaikan sabda Rasulullah yang bermaksud: "Berilah hak matamu di bidang ibadat!"

Sahabat bertanya: "Apakah hak mata di bidang ibadat itu wahai Rasulullah?" Jawab Rasulullah: "Membaca al-Quran, memikirkan isinya dan mengambil pengajaran keajaiban kandungannya."

Wahab bin Munabih pula berkata: "Semakin tajam seseorang itu berfikir, semakin berilmulah dia dan apabila dia berilmu, semakin banyaklah amalnya."

Al-Ghazali berkata, akal itu mulia dan menjadikan manusia mulia. Melalui akal, manusia mendapat ilmu.


Ibn Khaldun bersetuju akal fikiran (quwwah natiqah) membezakan antara manusia dengan makhluk lain.

Menurut Aristotle, jiwa manusia adalah hakikat diri manusia dan potensi berfikir adalah sebahagian darinya, sementara orang bijak pandai berkata 'berfikir itu pelita hati.'

Hasan al-Basri r.h berkata: "Sesungguhnya golongan yang berfikir mereka sentiasa mengulangi apa yang mereka ingati, sehinggalah hati mereka dapat berbicara dengan kata-kata hikmah."

Lukman al-Hakim berkata: "Sesungguhnya dengan lamanya duduk, aku akan lebih memahami untuk berfikir dan panjang berfikir, petunjuk jalan ke syurga."

Imam al-Ghazali menyifatkan akal fikiran sebagai sumber, tempat terbit dan asas ilmu. Ilmu pula apabila dinisbahkan kepada akal ibarat buah kepada pokok, cahaya kepada matahari, pandangan kepada mata.

Beliau memberikan empat kategori mengenai akal:

i. Akal merujuk kepada suatu sifat yang membezakan manusia dari sekalian haiwan. Akal dalam erti kata ini adalah sifat semula jadi manusia.

ii. Akal merujuk kepada ilmu daruri, terhasil apabila seorang mencapai usia tamyiz. Ilmu daruri ialah ilmu membolehkan dikenali perkara wajib, mustahil dan harus pada akal. Contohnya, mustahil seorang manusia di dua tempat pada satu masa.

iii. Akal merujuk kepada ilmu pengetahuan diperoleh melalui uji kaji dan pengalaman hidup.

iv. Akal merujuk kepada kesempurnaan sifat akal, apabila ia mengetahui akibat setiap perkara dan mengekang syahwat dari menurut kelazatan sementara.

Apabila keadaan ini terhasil pada diri seseorang, dia dipanggil 'manusia berakal' kerana yang memandu tindakannya ialah kesedaran dan keinsafan terhadap perbuatannya, bukan dorongan hawa nafsu.

Merujuk kepada kategori ketiga, iaitu ilmu yang dipelajari dari pengalaman, perbezaan antara manusia berpunca daripada kemampuan asli akal itu sendiri dan pengalaman dilalui.

Bagi kategori keempat, perbezaan manusia kerana berbeza kemampuan mengekang nafsu. Manusia memiliki keupayaan berbeza dalam hal ini, bahkan seseorang mungkin berupaya mengekang nafsu dalam perkara tertentu dan tidak dalam hal lain.

Faktor yang boleh dikaitkan dengan akal fikiran dalam perbezaan ini ialah ilmu yang menyedarkan seseorang mengenai kemudaratan, akibat hawa nafsu. Seorang yang berilmu lebih mampu menjauhi maksiat berbanding si jahil kerana lebih tahu kemudaratannya.

Akal fikiran membolehkan manusia menilai baik dan buruk, mampu membezakan di antara yang benar dan palsu, bersih dan kotor, untung atau rugi, malah memandu untuk mengenal diri dan Penciptanya.

Penggunaan daya fikir yang tinggi dan lebih serius membolehkan manusia mencapai ketamadunan dan kemajuan dalam pelbagai lapangan.

Umat Islam satu ketika mampu meraih kegemilangan apabila menggunakan kemampuan daya fikir yang tinggi, sebagaimana ditonjolkan tokoh Muslim seperti Jabir bin Haiyan, al-Kindi, al-Khwarizmi, al-Farabi dan banyak lagi.



Al-Kindi (801-873) misalnya, cukup terkenal di Barat dengan nama Alkindus, seorang cerdik pandai Arab dalam pelbagai bidang, terutama sains, astrologi, kosmologi, logik, matematik, muzik, fizik, psikologi dan meteorologi.

Kisah seorang Barat, Isaac Newton (1643-1927), iaitu seorang ahli fizik, matematik, falsafah dan astronomi yang terkenal dengan penemuan formula graviti wajar juga diambil pengajaran.

Sejak lahir beliau tidak pernah melihat bapanya bekerja sebagai petani, kerana beberapa bulan sebelum lahir bapanya meninggal. Kehidupan beliau sangat susah, namun masih berpeluang mendapat ijazah sarjana muda pada usia 22 tahun.

Pada suatu malam, beliau berjalan-jalan di sekitar kebun sambil berfikir dan memerhatikan keadaan sekeliling. Tanpa sedar, fikirannya berakhir pada satu persoalan; mengapa bulan bergerak mengelilingi bumi?

Selepas letih berjalan dan tidak mendapat jawapan, beliau berehat di bawah pohon epal. Tiba-tiba buah epal jatuh berdekatannya.

Kejadian itu menimbulkan persoalan di dalam benaknya. Mengapa buah itu harus jatuh tepat di bawahnya dan tidak ke sekitarnya atau ke atas?

Beliau berfikir lagi hingga menemui satu kesimpulan, iaitu buah epal jatuh ke bawah kerana adanya tarikan dari bumi dan daya seperti itu dinamakan daya graviti. Ia bukan saja berlaku pada bumi, malah planet lain termasuk bulan, bintang dan matahari mempunyai daya gravitinya.

Demikianlah dengan kemampuan dan kehebatan akal fikiran. Bahkan, dengan fikiran yang sihat dapat memupuk keimanan kepada Allah serta menolak perkara bersifat tahyul dan khurafat.

url artikel: http://grenbara.bravejournal

Cari Blog Ini