Asysyam

“Sesungguhnya berbahagialah orang yang mensuciikan jiwanya, dan sungguh merugilah orang yang mengotori jiwanya”
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 November 2010

Renungan Hidup















Persoalan Sepele [RENUNGAN]


Sepasang pengantin baru tengah berjalan bergandengan tangan di sebuah Taman pada suatu malam musim panas yang indah, seusai makan malam.
Mereka sedang menikmati kebersamaan yang menakjubkan tatkala mereka Mendengar suara di kejauhan: "Kuek! Kuek!"
"Dengar," kata is istri, "Itu pasti suara ayam." "Bukan, bukan. Itu suara bebek," kata is suami. "Nggak, aku yakin itu ayam," is istri bersikeras. "Mustahil. Suara ayam itu 'kukuruyuuuk!', bebek itu 'kuek! Kuek!' Itu bebek, Sayang," kata is suami dengan disertai gejala-gejala awal Kejengkelan.
"Kuek! Kuek!" terdengar lagi. "Nah, tuh! Itu suara bebek," kata is suami. "Bukan, Sayang. Itu ayam. Aku yakin betul," tandas is istri, sembari Menghentakkan kaki.
"Dengar ya! Itu a... DA... Lah... Be... Bek, B-E-B-E-K. Bebek! Mengerti?" is suami berkata dengan gusar. "Tapi itu ayam," masih saja is istri bersikeras. "Itu jelas-jelas bue... Bek, kamu... Kamu...."
Terdengar lagi suara, "Kuek! Kuek!" sebelum is suami mengatakan sesuatu Yang sebaiknya tak dikatakannya. Si istri sudah hampir menangis, "Tapi itu ayam...." Si suami melihat air Mata yang mengambang di pelupuk Mata istrinya, Dan Akhirnya.... Wajahnya melembut Dan katanya dengan mesra, "Maafkan aku, Sayang. Kurasa kamu benar. Itu memang suara ayam kok." "Terima kasih, Sayang," kata is istri sambil menggenggam tangan Suaminya. "Kuek! Kuek!" terdengar lagi suara di hutan, mengiringi mereka berjalan Bersama dalam cinta.
Maksud dari cerita bahwa is suami akhirnya sadar adalah: siapa sih yang Peduli itu ayam atau bebek? Yang lebih penting adalah keharmonisan Mereka, yang membuat mereka dapat menikmati kebersamaan pada malam yang Indah itu.
Berapa banyak pernikahan yang hancur hanya gara-gara persoalan sepele? Berapa banyak perceraian terjadi karena hal-hal "ayam atau bebek"? Ketika Kita memahami cerita tersebut, Kita akan ingat apa yang menjadi Prioritas Kita.
Pernikahan jauh lebih penting ketimbang mencari siapa yang benar tentang apakah itu ayam atau bebek. Lagi pula, betapa sering Kita merasa yakin, amat sangat mantap, mutlak bahwa Kita benar, namun belakangan ternyata Kita salah? Lho, siapa tahu? Mungkin saja itu adalah ayam yang direkayasa genetik sehingga bersuara seperti bebek!
Flowers Scraps

Dibalik Kisah Antara Cinta dan kawan [RENUNGAN]


~When you touch someone with your spirit,and in turn they touch your soul with their heart~

Satu hari CINTA & KAWAN berjalan dalam kampung...
Tiba-tiba CINTA terjatuh dalam telaga...Kenapa?
Karena....CINTA itu buta...

Lalu KAWAN pun ikut terjun dalam telaga...Kenapa?
Karena... KAWAN akan buat apa saja demi CINTA!

Di dalam telaga CINTA hilang...Kenapa?
Karena... CINTA itu halus, mudah hilang kalau tak dijaga
,sukar dicari apa lagi dalam telaga yang gelap...
Sedangkan KAWAN masih lagi tercari-cari dimana CINTA dan terus menunggu...Kenapa?
Karena... KAWAN itu sejati dan akan kekal sebagai KAWAN yang setia...

Naah.. Betul kan ??
Jadi, hargailah KAWAN kita selagi kita terasa dia BERARTI...
Walau kita punya couple, teman still paling setia. Walau kita punya harta banyak, teman still paling berharga.

Rabu, 29 September 2010

Emas dan Permata [RENUNGAN]

Beberapa waktu yang lalu, di Mesir hidup seorang sufi tersohor bernama Zun-Nun.
Seorang pemuda mendatanginya dan bertanya, "Guru, saya tak mengerti mengapa orang seperti anda mesti berpakaian apa adanya, amat sangat sederhana. Bukankah di masa seperti ini berpakaian sebaik-baiknya amat perlu, bukan hanya untuk penampilan namun juga untuk banyak tujuan lain."
Sang sufi hanya tersenyum; ia lalu melepaskan cincin dari salah satu jarinya, lalu berkata, "Sobat muda, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi lebih dahulu lakukan satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah ke pasar di seberang sana. Bisakah kamu menjualnya seharga satu keping emas?"
Melihat cincin Zun-Nun yang kotor, pemuda tadi merasa ragu, "Satu keping emas? Saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu."
"Cobalah dulu, sobat muda. Siapa tahu kamu berhasil."
Pemuda itu pun bergegas ke pasar. Ia menawarkan cincin itu kepada pedagang kain, pedagang sayur, penjual daging dan ikan, serta kepada yang lainnya. Ternyata, tak seorang pun berani membeli seharga satu keping emas. Mereka menawarnya hanya satu keping perak. Tentu saja, pemuda itu tak berani menjualnya dengan harga satu keping perak. Ia kembali ke padepokan Zun-Nun dan melapor, "Guru, tak seorang pun berani menawar lebih dari satu keping perak."
Zun-Nun, sambil tetap tersenyum arif, berkata, "Sekarang pergilah kamu ke toko emas di belakang jalan ini. Coba perlihatkan kepada pemilik toko atau tukang emas di sana. Jangan buka harga, dengarkan saja bagaimana ia memberikan penilaian."
Pemuda itu pun pergi ke toko emas yang dimaksud. Ia kembali kepada Zun-Nun dengan raut wajah yang lain. Ia kemudian melapor, "Guru, ternyata para pedagang di pasar tidak tahu nilai sesungguhnya dari cincin ini. Pedagang emas menawarnya dengan harga seribu keping emas. Rupanya nilai cincin ini seribu kali lebih tinggi daripada yang ditawar oleh para pedagang di pasar."
Zun-Nun tersenyum simpul sambil berujar lirih, "Itulah jawaban atas pertanyaanmu tadi sobat muda. Seseorang tak bisa dinilai dari pakaiannya. Hanya "para pedagang sayur, ikan dan daging di pasar" yang menilai demikian. Namun tidak bagi 'pedagang emas'.
Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang, hanya bisa dilihat dan dinilai jika kita mampu melihat ke kedalaman jiwa. Diperlukan kearifan untuk menjenguknya. Dan itu butuh proses wahai sobat mudaku. Kita tak bisa menilainya hanya dengan tutur kata dan sikap yang kita dengar dan lihat sekilas. Seringkali yang disangka emas ternyata loyang dan yang kita lihat sebagai loyang ternyata emas."

Hidup: Sebuah Penantian Tanpa Memegang Nomor Antrian (Bag. I: Tujuan Hidup)

Disadari atau tidak, kadang kita memandang judul yang saya tulis tak lebih suatu kalimat hiperbolik untuk menarik pembaca untuk lebih terhanyut ke dalam kata demi kata dan kalimat yang terus dirangkai dan disambung hingga berakhirnya tulisan ini. Memang dari pemilihan frase kalimat untuk judul yang terpampang di atas secara jujur terbersit niat untuk itu. Akan tetapi cobalah dibaca 2 atau 3 kali dengan hati yang bersih dan pikiran yang lebih terfokus untuk memahaminya. Sesungguhnya memang begitulah gambaran hidup itu.
Beberapa minggu sebelum tulisan ini dibuat, 3 kali saya mengalami berita kematian dari rekan kerja dan tetangga di kampung saya. Usia mereka masih muda, meninggalnya mendadak dan tanpa disangka sebelumnya. Dan yang paling membuat saya trenyuh adalah mereka bertiga meninggalkan anak-anak yang masih kecil. Inalillahi wa innailaihi roji’un. Sementara itu manusia-manusia di luar sana masih sibuk dalam sepak terjangnya. Kericuhan dimana-mana, keserakahan merajalela, rasa malu mulai hilang, terang-terangan untuk memaksakan kepentingannya dengan berbagai cara, walaupun itu terekspos media dan dilihat banyak khalayak. Harta dan kekuasaan menjadi kiblat baru. Agama hanya menjadi identitas yang tercetak rapi  dalam tanda pengenal dan Al-Quran hanya menjadi pajangan di jaman yang serba digital.
Lalu kenapa kita hidup? Apakah kita akan lalai hingga menunggu panggilan itu? Marilah kita mencoba gali konsep hidup Muslim dari Al-Qur’an

Tujuan Hidup
Sering kali dalam berorganisasi atau dalam pengelolaan manajerial, sangat jarang ada yang melewatkan untuk membuat dan merumuskan visi dan misi. Bahkan tak jarang visi dan misi itu selalu dikenalkan kepada segenap anggota organisasi atau dalam pengkaderan. Visi dan misi tersebut bahkan dicetak ke dalam sebuah pajangan berfigura yang rapi dan besar, atau ke dalam buku saku yang menjadi pegangan anggota organisasinya. Perumusan visi dan misi inipun dilakukan dengan mencurahkan segenap pikiran para perumusnya. Bagaimana dengan perumusan visi dan misi itu organisasi dapat berjalan dan berkembang sampai mencapai tujuannya.
Tapi, bagaimana dengan visi dan misi hidup individu manusia? Apakah manusia sempat untuk memikirkan atau mencurahkan segenap pikiran, apakah sebenarnya tujuan hidupnya (yang hakiki?). Justru dalam mengurus visi dan misi dirinya sendiri, kebanyakan manusia lalai. Seharusnyalah sejak jaman dalam pendidikan, orang tualah yang menanamkan visi dan misi itu. Akan tetapi apakah visi dan misi yang ditanamkan itu adalah visi dan misi yang hakiki diajarkan dalam Agama Islam? Seringkali malah sejak kecil pikiran kita dijejali dengan kalimat-kalimat yang sebenarnya merupakan rasa kasih sayang, namun salah sasaran seperti  ini: “Nak, besok kalau sudah besar mudah-mudahan hidupmu enak, tentram, tidak kurang sandang pangan”. Cobalah disimak, kalimat ini akan dicerna menjadi sebuah visi bagi sang manusia kecil. Penafsiran yang salah selanjutnya adalah hidup yang enak dan tentram adalah memiliki banyak harta dan kekuasaan. Akibat selanjutnya adalah ketika ia sudah dewasa, dia akan melaksanakan misi untuk meraih harta dan kekuasaan itu. Seiring dengan tersesatnya manusia, maka dikhawatirkan ketika ajal menjemputnya, sang manusia gagal melaksanakan tujuan/visi hidupnya yang hakiki.
Tujuan hidup manusia sebenarnya sudah sering diucapkan di dalam akhir doa seorang muslim, yakni yang sering disebut doa sapu jagat. Visi hidup manusia dalam doa ini adalah kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sering kali doa ini dijadikan sebagai penutup doa tanpa didalami atau ditelaah apa maksud kandungan doa ini. Doa ini bukan hanya merupakan permohonan, tapi juga suatu tekad yan kuat untuk meraihnya. Lebih tepat lagi, doa ini adalah suatu ikrar bahwa sang manusia yang mengucapkannya akan selalu berusaha keras untuk mencapai tujuan ini.
Jadi, tujuan hidup yang hakiki dalam Islam terdiri dari tujuan hidup vertikal dan horisontal. Tujuan hidup vertikal adalah meraih ridha Allah semata (dicapai dalam kehidupan akhirat). Ridha Allah-lah visi pertama kita hidup. dengan mencari ridha Allah, maka hidupnya akan benar-benar mendapatkan kepuasan. Kepuasan ini sudah tidak dipungkiri lagi adalah sebagai balasan yang telah dijanjikan Allah di akhirat, yakni kenikmatan hidup di surga. Tidak kurang Allah menyebutkan janji-janji-Nya ini di dalam Al-Qur’an secara berulang-ulang. Namun, tidak kurang pula manusia memandang janji-janji dari Dzat Yang Maha Menepati Janji-Nya sebagai hal yang masih bias. Justru kenikmatan di dunia dan nyata di depan mata namun fana ini mampu untuk memudarkan janji Allah yang kekal tersebut (baca tulisan saya mengenai kisahnya di jaman Rasul). Berulang-ulang Allah dalam Al-Qur’an menyebutkan janji-Nya tentang balasan bagi orang-orang yang mempunyai tujuan hidup mencari ridha Allah. Surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya dan kekalnya manusia kelak di dalamnya. Disamping itu, kepuasan karena mencari ridha Allah bagi yang mencapai tingkat makrifat yang tinggi juga sudah didapatkan di dunia karena dengan mengharap ridah Allah, ia mendapatkan ketenangan batin.
Mari kita simak sejenak ayat-ayat yang terkait dengan tujuan hidup verikal manusia ini (mencari ridha Allah):
Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, Yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, Padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha tinggi. Dan kelak Dia benar-benar mendapat kepuasan. (QS Al-Lail, 92: 17-21)
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah Sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadanya. yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya. (QS Al-Bayyinah, 98:7-8)

Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya. (Al-Baqarah, 2 : 207)

Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), Maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan). (Al-Baqarah, 2 : 272)


Sedangkan, tujuan hidup yang kedua adalah tujuan horisontal, yakni menjadi rahmat bagi alam. Tujuan horisontal ini sifatnya komprehensif. Dimulai dari tujuan hidup individu yang bertujuan untuk mewujudkan kehidupan yang baik atau hidup berbahagia. Lalu bagi keluarga adalah mewujudkan keluarga sakinah yang hidup dengan tenteram. Bagi masyarakat agar terwujud masyarakat yang hidup dalam suasana damai. Bagi Bangsa dan negara adalah bertujuan untuk mewujudkan negeri yang adil dan makmur, negeri yang baik dalam ampunan Allah SWT. Bagi Dunia internasional, ialah mewujudkan perdamaian antar bangsa. Terakhir adalah bagi dunia akhirat adalah bertujuan agar hidup dalam keadaan hasanah atau dalam kebaikan dan terjauhkan dari azab yang pedih
Marilah kita simak sejenak ayat-ayat yang terkait dengan tujuan hidup horisontal manusia (Menjadi Rahmat bagi Alam)
Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (Al-Anbiyaa, 21:107)
Keterangan: “kamu” dalam ayat ini memang ditujukan untuk Rasulullah, namun karena Rasulullah adalah suri tauladan bagi manusia, maka ayat ini terikat untuk yang mukmin.

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik] dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (An-Nahl, 16:97)

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir (Ar-Ruum, 30:21)

Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Al-A’raaf, 7: 96)

Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka Yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan yang Maha Pengampun”(As-Saba’, 34:15)

Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu d isisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal (Al-Hujurat, 49: 13)

Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan Kami, berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa neraka”[Al-Baqarah, 2: 201)
Semoga, dari tulisan awal yang bertema tentang hidup ini, sedikit bisa meluruskan apa hakikat hidup itu sebenarnya. Dan semoga dari tulisan ini, kita segera meluruskan apakah sebenarnya tujuan hidup kita ini.
Bersambung…..(Bag. II: Tugas dan Fungsi Hidup)

Sebuah Cerita tentang Pencitraan

Saat saya masih baru “berpetualang” di dunia broadcasting di sebuah televisi swasta nasional, suatu ketika saya ditempatkan untuk menjalankan progran sketsa komedi. Saat pertama kali shooting program (tidak secara live), sangat tergambar jelas bahwa acara yang sejatinya adalah mengandalkan humor sebagai nilai jual kepada pemirsa di rumah dalam kenyataannya sangat “garing” dan membosankan. Namun tidak tergambar jelas dari mimik sang produser dan production assistant senior saya, sebuah  kegelisahan akan jeleknya tayangan shooting tersebut.
Usut punya usut, sampailah saya dalam tahap editing dalam sebuah kamar editing yang canggih. Dari situlah, dengan cutting bagian-bagian yang tidak penting, sangat “garing” dan dengan menambahkan sound effect suara tertawa, tepuk tangan dan celetukan pada moment yang sangat tepat, maka terciptalah output tayangan sketsa komedi sangat lucu dan enak ditonton. Dan lebih mencengangkan lagi, rating dan share tayangan yang merupakan tolok ukur respon penonton terhadap tayangan tersebut benar-benar tinggi.
—–0000—-
Mungkin anda masih bertanya-tanya, kenapa jlutrungan prolog dengan judul sekilas tidak ada hubungan. Namun dari situlah sebenarnya saya menggambarkan dahsyatnya sebuah pencitraan. Ya, pencitraan sekarang menjadi trend yang sangat berkembang pesat di masa sekarang ini di mana sebuah kepentingan menjadi mudah untuk dideteksi jika tidak ditutup dengan sebuah tabir yang rapi karena batasan pandangan publik sudah benar-benar dibuka lebar oleh berbagai media yang benar-benar “ganas” dalam pemberitaannya.
Dalam kaidah yang sangat harfiah, pencitraan diidentikan dengan iklan. Awalnya, pengguna iklan adalah sebuah lembaga yang memproduksi suatu barang dan jasa yang menjadikan iklan itu menjadi salah satu alat pemasaran (seringkali pada taraf perusahaan yang mempunyai deferensiasi produk banyak, iklan/pencitraan terhadap perusahaan juga dilakukan). Dengan paradigma tersebut, membuat suatu iklan sama dengan membuat suatu citra yang baik,  padahal titik awal dari kedua hal tersebut adalah berbeda. Iklan secara normatif adalah sebuah pengenalan diri dari ada menjadi ada, atau dari suatu yang semula begini menjadi sesuatu yang begitu. Iklan juga berarti mengenalkan suatu manfaat/kegunaan yang ditawarkan yang perlu diketahui agar pemirsa iklan bisa mengetahui manfaat itu. Selanjutnya ketika respon pemirsa iklan mencoba barang dan jasa itu, maka kepuasan yang dicapai konsumen itu akan melahirkan suatu publisitas yang akan menyebarkan citra yang baik akan kebenaran iklan tersebut. Harapan lebih lanjut adalah akhir dari proses tersebut akan menimbulkan pencitraan yang baik pada sang produsen atau disebut juga Godwill perusahaan
Jadi secara normatif, alur hubungan sebuah iklan dan pencitraan adalah sebagai berikut:

Pencitraan normatif ini sebenarnya sudah dicontohkan dalam tingkah lalu seorang pemuda yang hidup abad ke-6 Masehi bernama Muhammad saat Ia berdagang bersama pamannya di negeri Syam. Dengan mempraktekkan kejujuran dalam melakukan transaksi, mendeskripsikan barang dagangan dengan sebenar-benarnya dan memperhatikan kebutuhan timbal balik, dimana pertemuan kebutuhan pihak yakni pembeli yang mencari manfaat yang benar-benar terukur sesuai yang ia cari dan mampu ia beli dengan kebutuhan penjual yang menginginkan margin keuntungan dari hasil perdagangannya. Pertemuan kebutuhan tersebut menimbulkan sinergi perasaan  kedua pihak sama-sama untung. Dengan mekanisme tersebut timbulah sebuah pencitraan yang baik atas diri sang pemuda dengan disematkannya gelar Al-Amin.
Namun seiring dengan bergulirnya jaman dan gesekan kepentingan, pencitraan yang secara normatif adalah merupakan hasil yang nyata dari sebuah proses yang berurutan ternyata sekarang berubah arti menjadi sebuah usaha dengan berbagai cara untuk merebut opini yang baik dari masyarakat. Dalam kalimat yang lebih lugas pencitraan ini bisa berarti adalah usaha membuat agar publik beropini sesuai yang diharapkan walaupun pada kenyataannya tidak demikian. Dampak yang ditimbulkan sudah cukup jelas, yakni pencitraan menjadi “bungkus” yang mempercantik “isi” yang belum tentu bagus. Dengan bergesernya makna dari sebuah pencitraan inilah yang membuat pencitraan menjadi kebohongan yang terselubung dan menjerumuskan. Walaupun modal yang dikeluarkan untuk pencitraan ini sangatlah besar, namun para pelaku pencitraan (ke depan, pencitraan yang dibahas merupakan pencitraan yang sudah diubah maknanya) sudah membuat suatu kalkulasi yang tajam bahwa hasil yang dinikmati akan sangat besar sebagaimana kepentingan besar dibalik pencitraan tersebut.
Pencitraan Diri
Seiring bergulirnya jaman dan gesekan kepentingan pula, pengguna pencitraan juga mulai bergeser. Pada jaman orde baru, dalam ranah politik belum begitu mengenal apa yang disebut pencitraan diri. Hal itu disebabkan akses media dan pengetahuan publik terhadap ranah politik benar-benar telah “dikebiri”. Namun setelah era reformasi (saya lebih melihatnya sebagai era liberalisasi), dimana orang-orang yang akan duduk dalam jajaran eksekutif maupun legeslatif harus berebut suara rakyat, maka pencitraan diri menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan. Pencitraan yang sebelumnya hanya laku untuk dunia pemasaran produk, sekarang merebak ke dalam pencitraan personal yang lebih banyak untuk memenuhi kepentigan pragmatis. Sejak itu, bisnis pencitraan mengalami booming yang sangat fantastis.
Ilustrasi yang saya gambarkan dalam prolog tulisan itulah gambaran kekuatan pencitraan yang sangat dahsyat. Pencitraan yang sangat “baik” mampu merubah dan mengendalikan opini publik yang melihatnya. Sama juga seperti ilustrasi editing program tayangan saya ulas dalam prolog, pencitraan yang “baik” adalah membuang bagian-bagian buruk/tidak penting untuk dilihat, mengumpulan bagian-bagian yang baik yang layak untuk ditampilkan, lalu memberi “efek” kreatif yang bisa memperindah dan merubah tampilan diri menjadi sangat jauh berubah. Dan…”rating” yang ditunggu seyogyanya adalah hasil perolehan suara yang kelak mampu mengembalikan modal pencitraan yang mahal itu.
Pencitraan negatif (Black Champaign)
Belum puas dengan itu semua, tumbuh lagi satu cabang ketidakberesan hasil pengaburan pencitraan normatif. Ketidakberesan itu adalah black champaign. Jika dirasa citra dari lawan yang dianggap bisa menghalangi untuk meloloskan kepentingannya, maka black champaign adalah solusi yang pakai untuk digunakan. Black champaign merupakan usaha untuk memperburuk citra obyek yang dituju.
Tentu saja dalam melakukan black champaign ini harus benar-benar kreatif dan berhati-hati. Kekeliruan dan ketidakhatian dalam melakukannya justru akan menjadi boomerang bagi sang penebar black champaign. Jika black champaign berhasil dilakukan, maka opini publik akan objek yang dituju akan menjadi jelek. Oleh karena itu, upaya ini dalam bahasa “intelektual” bisa disebut sebagai pembunuhan karakter. Karena sang obyek akan mengalami dampak yang sangat buruk dan akan mengalami kesulitan untuk melepaskan diri dari “citra buruk” yang disematkan pada dirinya oleh sang pelaku black champaign.
Berpikir lebih Global
Sedikit menyeruak dan melongok melebihi batas, pencitraan juga merupakan wahana yang sangat populer untuk digunakan. Jika subyek dan obyek sudah meluas seperti sebuah kumpulan kepentingan besar seperti sebuah negara, penguasaan sumber daya atau bahkan ideologi, maka pencitraan yang bermain adalah sebuah pencitraan tingkat tinggi yang dimainkan sebuah kepentingan yang sangat besar.
Namun, tujuan dari penggunaan pencitraan ini sudah bukan lagi hanya semata-mata untuk menarik simpati atau mencari dukungan dari sasaran pencitraan, namun lebih daripada itu skenario yang besar dan terencana ada dibalik pencitraan ini. Tergantung dari tujuan apa yang diskenariokan, apakah ingin menyematkan citra buruk, ingin memecah belah persatuan, ataukan merubah pola pikir. Kesemua tujuan antara tersebut adalah sama, yakni memperlemah golongan yang dicitrakan buruk dan memperkuat kedudukan yang dicitrakan baik. Dan hasil akhir yang dituju semuanya bermuara pada tercapainya kepentingan pembuat pencitraan.
Dan sesungguhnya alat pencitraan ini jauh lebih efektif dan efisien digunakan daripada menggunakan kekuatan fisik atau senjata. Sedikit melongok ke belakang, yakni sejarah di jaman imperalisme, betapa kemampuan sebuah pencitraan mampu mengadu domba kekuatan besar bumi nusantara. Lalu cobalah sedikit mempelajari sejarah sampai timbul sebutan Kaum Moro di Philipina yang artinya orang yang buta huruf, jahat, tidak bertuhan dan huramentados (tukang bunuh). Sedikit maju beberapa saat ini tentu kita semakin bingung dengan yang namanya teroris, HAM, dan “sebangsanya”. Mana yang sebenar-benar teroris, mana yang pembela HAM atau penginjak-injak HAM, mana yang menjunjung demokrasi atau mana yang mencederai demorasi. Kesemuanya itu telah dilambari dengan bungkus pencitraan yang dikemas dengan rapi.
Kembali Duduk dan Sedikit Merenung
Apa yang ditekankan dalam tulisan ini adalah bahwa sekarang ini kita hidup dalam sebuah lintasan pencitraan. Perubahan pola pikir dan berujung pada tingkah laku adalah hasil respon dari semua input yang diterima. Oleh karena itu apa yang kita lihat, kita dengar dan kita rasakan haruslah benar-benar difilter agar kebenaranlah yang benar-benar diterima. Jika sekarang kita belum beranjak kritis dan sudah terombang-ambing oleh banyaknya pencitraan yang berhembus di sekitar kita, makah mulailah dari sekarang carilah pegangan yang hakiki dan melatih diri untuk siap merespon sebuah pencitraan. Dan jika anda sudah memahami bagaimana cara menerima sebuah pencitraan, maka anda juga perlu menahan diri untuk tidak mengatakan suatu keburukan seseorang karena tanpa disadari anda sudah menyematkan citra yang buruk pada seseorang yang belum tentu benar. Biarlah sekarang kita kembali lagi ke Khitah, bahwa citra baik atau buruk itu muncul dan terlihat sendiri dari ahklak/tingkah laku.

Senin, 27 September 2010

Renungan 6 Pertanyaan

Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya.

Lalu Imam Al Ghozali bertanya....

Pertama,

"Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?”. Murid-muridnya menjawab \"orang tua,guru,kawan,dan sahabatnya".

Imam Ghozali menjelaskan semua jawapan itu BENAR. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "MATI". Sebab itu sememangnya janji Allah SWT bahawa setiap yang bernyawa pasti akan mati (Ali Imran 185)

Kedua....

"Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?". Murid -muridnya menjawab "negara Cina, bulan, matahari dan bintang-bintang".

Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahawa semua jawapan yang mereka berikan itu adalah BENAR. Tapi yang paling benar adalah "MASA LALU". Walau dengan apa cara sekalipun kita tidak dapat kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.

Ketiga....

"Apa yang paling besar di dunia ini?". Murid-muridnya menjawab "gunung, bumi dan matahari".

Semua jawapan itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah “NAFSU" (Al A'Raf 179).

Maka kita harus berhati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.

keempat

"Apa yang paling berat di dunia ini?". Ada yang menjawab "besi dan gajah".

Semua jawapan adalah benar, kata Imam Ghozali, tapi yang paling berat adalah "MEMEGANG AMANAH" (Al Ahzab 72). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak dapat memegang amanahnya.

Kelima

"Apa yang paling ringan di dunia ini?"... Ada yang menjawab \"kapas, angin,debu dan daun-daunan". Semua itu benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah MENINGGALKAN SHOLAT. Gara-gara pekerjaan, kita meninggalkan sholat; gara-gara bermesyuarat, kita meninggalkan sholat.

keenam

"Apakah yang paling tajam di dunia ini?"... Murid-muridnya menjawab dengan serentak, "pedang". Benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling tajam adalah "LIDAH MANUSIA". Karena melalui lidah, Manusia selalunya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.

Cari Blog Ini