Asysyam

“Sesungguhnya berbahagialah orang yang mensuciikan jiwanya, dan sungguh merugilah orang yang mengotori jiwanya”
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Oktober 2011

Kasih Ibu Sepanjang Masa


Kasih Ibu Sepanjang Masa

Seorang sarjana muda yang cerdas membuat aplikasi untuk posisi manajerial disebuah perusahaan besar. Dia lulus pada interview tahap pertama, dan tahap selanjutnya adalah interview dengan jajaran direksi.  Sang direktur menemukan prestasi-prestasi cemerlang dalam CV anak muda tersebut. Sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi, anak muda tersebut selalu mendapat peringkat pertama.

Melihat prestasi-prestasi tersebut, sang direktur pun bertanya: "Apakah Anda menerima beasiswa semasa sekolah dan kuliah?"

Anak muda itu menjawab : "Tidak pak....!"

Direktur bertanya lagi : "Apakah ayah Anda yang membayar biaya sekolah Anda?".
Anak muda itu menjawab : "Ayah saya telah meninggal dunia ketika saya baru berumur satu tahun. Seluruh biaya sekolah saya dibayarkan oleh Ibu saya.."

Lalu Direktur bertanya lagi : "Di mana ibumu bekerja?"
Dan anak muda itu menjawab : "Ibu saya bekerja sebagai seorang pencuci pakaian..."

Direktur itu meminta anak muda tersebut untuk menunjukkan tangannya. Dan anak muda itu memperlihatkan kedua tangannya yang sempurna dengan telapak tangan yang sangat halus. Melihat itu Direktur bertanya lagi : "Pernahkah Anda membantu ibu Anda mencuci pakaian sebelumnya?"

Anak muda itu menjawab : "Tidak pernah pak. Ibu saya selalu menginginkan saya belajar dan membaca banyak buku. Lagi pula, Ibu mencuci baju jauh lebih cepat ketimbang saya".

Direktur tersebut kemudian berkata : "Saya punya satu permintaan. Sekarang anda pulang dan ketika nanti anda sampai di rumah, cuci dan bersihkan tangan ibumu, kemudian temui saya besok pagi".

Anak muda tersebut merasa kesempatannya mendapat pekerjaan tersebut sangat besar. Karena itu ketika dia sampai di rumah, dengan begitu gembira ia meminta izin kepada ibunya agar ia boleh mencuci tangan beliau. Ibunya merasa sedikit asing, aneh, juga bahagia dan perasaan-perasaan lainnya bercampur jadi satu. Sang Ibu kemudian memberikan kedua tangannya kepada sang anak. Lalu anak muda tersebut membersihkan tangan Sang Ibu dengan perlahan.

Airmatanya mulai menetes saat itu. Ini pertama kalinya ia menyadari bahwa tangan ibunya sudah penuh dengan kerutan, dan terdapat banyak memar dan kapalan di sana sini . Beberapa memar sepertinya terasa begitu sakit, sampai-sampai Sang Ibu menggigil ketika memar tersebut dibersihkan.

Ini pertama kalinya anak muda tersebut menyadari bahwa kedua tangan yang sedang dibersihkan inilah yang digunakan Sang Ibu setiap hari untuk mencuci pakaian banyak orang, sehingga Sang Ibu dapat membiayai biaya sekolah anaknya.
Memar-memar dan kapalan yang ada di tangan Sang Ibu adalah harga yang harus dibayar atas kelulusan anak tersebut, atas prestasinya yang luar biasa, dan untuk masa depannya. Setelah selesai mencuci tangan Sang Ibu, anak muda tersebut diam-diam mencuci sisa baju yang belum sempat dicuci oleh ibunya. Dan malam itu, anak dan ibu tersebut berbincang sangat lama sekali.

Besok paginya, anak muda tersebut bergegas menemui sang direktur. Direktur tersebut menangkap airmata di wajah anak muda tersebut. Ia pun kemudian bertanya : "Bisa Anda ceritakan apa yang telah Anda lakukan kemarin dan apa pelajaran yang Anda dapat dari sana ?"

Anak muda tersebut menjawab : "Saya mencuci tangan Ibu saya, dan kemudian saya menyelesaikan sisa cucian Ibu yang belum tercuci ".

"Tolong ceritakan perasaan Anda ketika itu" ujar Direktur lagi. 

Lalu anak muda itu menjawab : " Pertama,  saya sekarang tahu apa arti apresiasi. Tanpa ibu saya, tidak akan pernah ada seorang saya hari ini. Kedua, saya baru menyadari betapa sulit dan beratnya Ibu menjalani pekerjaannya. Dan

dengan bekerja membantu Ibu, ternyata pekerjaan itu dapat meringankan beban Ibu. Ketiga, saya datang hari ini untuk mengapresiasi betapa penting dan bernilainya hubungan keluarga".

Mendengar itu lalu Direktur tersebut berkata : "Inilah yang saya cari dari seorang calon manager. Saya ingin merekrut seseorang yang dapat mengapresiasi dan menghargai bantuan orang lain, seseorang yang tahu persis perjuangan orang lain untuk mengerjakan sesuatu, dan seseorang yang tidak akan menempatkan uang sebagai tujuan hidup satu-satunya. Oleh karena itu mulai hari ini anda diterima bekerja disini...!".

Wa min Allah at Tawfiq

Sabtu, 19 Maret 2011

.::KISAH KOIN PENYOK ::.

Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sandang dan pangan.



Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan.



Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya

terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya.

“Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok,” gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank.



“Sebaiknya koin in Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,” kata teller itu memberi saran. Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya kekolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar.



Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples. Sesudah membeli kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.



Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata

pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu.

Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu.

Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang.



Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang.



Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.



Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, “Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi?”



Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.



Bila Kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?



Sebaliknya, sewajarnya kita bersyukur atas segala karunia hidup yang telah Tuhan berikan pada kita, karena ketika datang dan pergi kita tidak membawa apa-apa.

Minggu, 09 Januari 2011

Membeli Cinta

Aisyah r.a berkata bahwa beliau pernah mendengar Rosulullah SAW bersabda," Apabila harta kekayaan tidak terdapat sedekah sama sekali, maka ia akan membinasakannya".
  

Pernahkah terfikirkah oleh kita bahwa segala harta kekayaan yang kita kumpulkan sedikit demi sedikit hingga kemudian membukit, demikian juga segala jabatan dan kekuasaan yang dalam genggaman kita saat ini dan esok, akan musnah dalam sekejab diluar prediksi kita, sebabnya kelihatannya sepele KARENA KITA LUPA SEDEKAH.
Dikisahkan, seorang bangsawan mempunyai seorang pembantu setia yang telah bekerja padanya sedari kecil. Pembantu itu adalah anak yatim piatu terlantar yang dipungut oleh ayahnya di suatu tempat. Sedangkan si bangsawan adalah orang yang hidup berkelimpahan harta, gemar berfoya-foya, namun tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya yang miskin dan menderita.

Suatu hari, si majikan memberi tugas kepada si pembantu tersebut untuk pergi ke luar kota menagih utang. Sebelumnya, dengan nada pongah dia berpesan, “Pembantuku, setelah Kamu berhasil menagih semua uang itu, pergilah berkeliling kota untuk mencari dan membelikan barang yang belum aku miliki.”

Di dalam hati, si bangsawan tertawa geli. Sebab ide menugaskan si pembantu untuk mencari dan membelikan barang yang belum dipunyai, sebenarnya bertujuan untuk mempermainkan pembantunya demi menyombongkan dirinya sendiri. Hal itu dilakukan karena dia tahu bahwa di rumahnya yang indah dan dipenuhi dengan kekayaan yang berlimpah itu, tidak ada suatu barang berharga apapun yang tidak dimilikinya.

“Biarkan saja dia pusing dan kecapekan berjalan mencarikan barang buatku hahaha”. Serunya sambil tertawa-tawa dalam hati, membayangkan pembantunya akan frustasi.

Beberapa hari kemudian, saat pembantunya pulang, si bangsawan menyambutnya dengan antusias. Ia ingin tahu barang apa yang berhasil di beli oleh pembantunya. Tetapi alangkah, kaget dan marah ketika tahu bahwa uang yang berhasil ditagih, dihabiskan si pembantu dengan memberikan barang-barang kepada orang-orang miskin di sana. Tanpa mau mendengar alasannya, si pembantu dihukum cambuk. Kemudian ia juga dipotong gajinya, dan sejak saat itu, si bangsawan memperlakukan pembantu tersebut dengan kasar dan penuh makian.

Tiba suatu ketika, terjadi bencana alam yang luar biasa di sana. Seluruh harta si bangsawan musnah dan dia pun jatuh bangkrut. Karena musibah yang memporak-porandakan desa itu, kemudian si bangsawan memutuskan untuk pergi ke kota lain guna mencari kehidupan baru. Sementara, sang pembantu yang sering dicacinya, tetap setia mengikutinya.

Berhari-hari kemudian, setibanya mereka di sebuah kota, penduduk di sana menyambut mereka dengan baik dan ramah. Bahkan, banyak di antara mereka memberi makan dan tumpangan. Mendapat perlakuan yang sangat ramah tersebut, si bangsawan keheranan. Ia tidak menyangka akan mendapat perlakuan seperti itu. Lantas, ia pun bertanya kepada si pembantu.

Pembantu itu pun kemudian memberi penjelasan, “Tuanku, saya pernah kemari beberapa waktu lalu. Tuan pasti ingat, sewaktu memberi tugas kepada saya untuk memberikan barang yang belum Tuan miliki dari semua uang hasil tagihan. Uang itu telah saya belikan cinta kepada orang-orang yang membutuhkan bantuan saat itu. Sekarang, giliran merekalah yang menolong kita saat ini. Waktu itu Tuan telah punya semua barang, hanya satu barang yang Tuan belum miliki, yaitu cinta. Maka, waktu itu saya membelikanya untuk Tuan. Dan cinta itulah yang saat ini memberi kehidupan baru kepada kita. Semoga Tuan memahami dan tidak marah lagi atas tindakan saya waktu itu.”

Dengan mata berkaca-kaca, si bangsawan kemudian memeluk pembantu setianya itu. Ia pun berucap, “Sekarang aku baru sadar, aku adalah seorang kaya yang miskin… Miskin cinta, miskin perhatian pada orang lain. Terima kasih Sahabat… Maafkan aku. Aku telah memperlakukanmu dengan semena-mena. Padahal Engkau telah membelikan cinta yang tidak aku miliki. Sekarang, justru cinta itulah yang menolong kita untuk memulai kehidupan baru.”


Sahabat, Kita hidup di dunia ini tidak sendiri, namun saling bergantung satu sama lain. Kita sangat membutuhkan orang lain agar hidup kita tidak menjadi kaku dan monoton. Disadari atau tidak, manusia secara alami memiliki keterkaitan satu sama lain. Karena itu, apa yang kita lakukan pada orang lain dan apa yang kita perbuat saat ini, bisa memberi dampak yang terkadang tidak kita sangka di masa mendang.

Karena itu, apapun yang kita lakukan saat ini, harus kita pikirkan bagaimana pengaruhnya bagi orang lalin. Jika kita menebar kebaikan, niscaya kita pun akan mendapatkan balasan kebaikan itu. Memang, kadang tidak secara langsung. Kadang, balasan itu hadir saat kita sedang benar-benar membutuhkan.

Mari, kita asah naluri dan nurani kita agar makin terbiasa membantu orang lain. Dengan begitu, kita telah menanam banyak benih cinta yang buahnya kelak akan membawa kita pada kebahagiaan yang sesungguhnya.
 

Kamis, 02 Desember 2010

Kisah seorang kiai mencari JODOH ditempat PELACURAN

Kiai Marwan, adalah seorang kiai dari Nganjuk. Kiai ini sudah hampir mendekati lima puluh tahun usianya, tetapi masih membujang. Keinginan untuk berkonsentrasi sebagai Kiai tanpa menghiraukan urusan dunia termasuk wanita, membuatnya menjadi bujang lapuk. Tapi soal kebutuhan penyaluran syahwat, tetap saja mengusik setiap hari. Apalagi kalau ia berfikir, siapa nanti yang meneruskan pesantrennya kalau ia tidak punya putra ?
Dengan segala kejengkelan pada diri sendiri dan gemuruh jiwanya, akhirnya Kiai Marwan melakukan istikhoroh, mohon petunjuk kepada Allah, siapa sesungguhnya wanita yang menjadi jodohnya?
Petunjuk yang muncul dalam istikhoroh, adalah agar Kiai Marwan mendatangi sebuah komplek pelacuran terkenal di daerahnya. “Disanalah jodoh anda nanti…” kata suara dalam istikhoroh itu.
Tentu saja Kiai Marwan menangis tak habis-habisnya, setengah memprotes Tuhannya. Kenapa ia harus berjodoh dengan seorang pelacur ? Bagaimana kata para santri dan masyarakat sekitar nanti, kalau Ibu Nyainya justru seorang pelacur? “Ya Allah…! Apakah tidak ada perempuan lain di dunia ini ?”
Dengan tubuh yang gontai, layaknya seorang yang sedang mabuk, Kiai Marwan nekad pergi ke komplek pelacuran itu. Peluhnya membasahi seluruh tubuhnya, dan jantungnya berdetak keras, ketika memasuki sebuah warung dari salah satu komplek itu. Dengan kecemasan luar biasa, ia memandang seluruh wajah pelacur di sana, sembari menduga-duga, siapa diantara mereka yang menjadi jodohnya.
Dalam keadaan tak menentu, tiba-tiba muncul seorang perempuan muda yang cantik, berjilbab, menenteng kopor besar, memasuki warung yang sama, dan duduk di dekat Kiai Marwan. “Masya Allah, apa tidak salah perempuan cantik ini masuk ke warung ini?” kata benaknya.
“Mbak, maaf, Mbak. Mbak dari mana, kok datang kemari ? Apa Mbak tidak salah alamat ?” tanya Kiai Marwan pada perempuan itu. Perempuan itu hanya menundukkan mukanya. Lama-lama butiran airmatanya mulai mengembang dan menggores pipinya. Sambil menatap dengan mata kosong, perempuan itu mulai mengisahkan perjalanannya, hingga ke tempat pelacuran ini. Singkat cerita, perempuan itu minggat dari rumah orang tuanya, memang sengaja ingin menjadi pelacur, gara-gara ia dijodohkan paksa dengan pria yang tidak dicintainya.
“Masya Allah…. Masya Allah… Mbak.. Begini saja Mbak, Mbak ikut saya saja .…” kata Kiai Marwan, sambil mengisahkan dirinya sendiri, kenapa ia pun juga sampai ke tempat pelacuran itu. Dan tanpa mereka sadari, kedua makhluk itu akhirnya sepakat untuk berjodoh.
Kisah tentang kiai Marwan ini sesungguhnya merupakan refleksi dari rahasia Allah yang hanya bisa difahami lebih terbuka dari dunia Sufi.
Hal ini menggambarkan bagaimana dunia jiwa, dunia moral, dunia keindahan dan kebesaran Ilahi, harus direspon tanpa harus ditimbang oleh fakta-fakta normatif sosial yang terkadang malah menjebak moral seorang hamba Allah.
Sebab tidak jarang, seorang Kiai, sering mempertaruhkan harga dirinya di depan pendukungnya, ketimbang mempertaruhkan harga dirinya di depan Allah. Dan begitulah cara Allah menyindir para Kiai, dengan menampilkan Kiai Marwan ini.

Selasa, 23 November 2010

Kisah Rasulullah Saw dan buah limau


Suatu hari Rasulullah SAW didatangi oleh seorang wanita. Ketika itu baginda bersama beberapa orang sahabat. Wanita itu membawa beberapa buah limau sebagai hadiah untuk baginda. Sungguh bagus buahnya. Siapa yang melihat pasti akan tergiur. Baginda menerimanya dengan senyum gembira. Hadiah itu dimakan oleh Rasulullah SAW buah demi buah dengan tersenyum. Biasanya Rasulullah SAW makan bersama dengan para sahabat, namun kali ini tidak. Tidak sebuah limau pun beliau berikan kepada para sahabat. Rasulullah SAW terus memakannya.
Setiap kali beliau makan buah limau selalu diiringi dengan senyuman, hingga habislah seluruh buah limau itu tanpa menawarkan sedikitpun kepada para sahabat.
Kemudian wanita itu meminta diri untuk pulang, diiringi ucapan terima kasih dari baginda. Para sahabat agak heran dengan sikap Rasulullah SAW itu. Lalu mereka bertanya. Dengan tersenyum Rasulullah SAW menjelaskan. -
“Tahukah engkau, sebenarnya buah limau itu amat masam saat pertama kali saya merasakannya. Bila kalian turut makan bersama, saya khawatir ada di antara kalian yang akan memelototkan mata atau memarahi wanita tersebut. Saya khawatir dia akan tersinggung. Sebab itu saya habiskan semuanya. -
Begitulah akhlak yang mulia dari Rasulullah SAW. Baginda tidak mau meremehkan pemberian dari seseorang sekalipun pemberian itu dari orang-orang yang tak seiman. Akhirnya wanita itu pulang dengan hati yang kecewa. -
Mengapa wanita itu kecewa ? Sebenarnya ia bertujuan ingin mempermainkan Rasulullah SAW dan para sahabat dengan memberi hadiah limau yang masam. Namun usahanya tak berhasil. Rencana busuknya akhirnya dikalahkan oleh akhlak mulia Rasulullah SAW.

Senin, 15 November 2010

"Itu Baik"


Ini kisah persahabatan dua anak manusia. Yang seorang adalah putra presiden, yang lain pemuda rakyat jelata bernama Irun. Persahabatan ini sudah terjalin sejak mereka masih di bangku sekolah. Irun punya kebiasaan yang kadang menjengkelkan. Apa pun peristiwa yang terjadi di depannya selalu dianggap positif. "Itu Baik" katanya senantiasa.
Hari itu seperti yang sering mereka lakukan, Irun  menemani sahabatnya berburu. Tugasnya membawa senapan dan mengisi peluru agar selalu siap digunakan. Entah kenapa, barangkali belum terkunci secara sempurna, setelah diserahkan kepada sahabatnya senapan itu meletus. Akibatnya cukup fatal. Ibu jari putra presiden terkena terjangan peluru dan putus.

Melihat itu Tanpa sadar dengan kalemnya Irun berkomentar. "Itu Baik" Kontan sahabatnya naik pitam. "Bagaimana Kau ini! Jempolku putus tertembak, malah dibilang Baik. Brengsek..!!" Agaknya, kali ini kelakuan Irun  tak termaafkan. Ia dijebloskan ke penjara.
Beberapa bulan kemudian, sang putra presiden kembali pergi berburu ke Afrika. Malang, ia tersesat di hutan lebat dan ditangkap suku primitif yang masih kanibal. Malam harinya, dalam keadaan terikat ia akan dibakar untuk disantap ramai-ramai. Anehnya, mendadak ia dibebaskan. Belakangan ketahuan, suku tersebut pantang memangsa makhluk yang organ tubuhnya tidak lengkap.
Nasib baik itu membuat sang putra presiden termenung. Ia teringat kembali peristiwa ketika jempolnya putus tertembak lantaran ulah Irun. Ia kemudian menemui Irun di penjara.
"Ternyata Kau benar. Ada baiknya jempolku tertembak," katanya sambil menceritakan peristiwa yang baru saja dialaminya di Afrika. "Aku menyesal telah memenjarakanmu."
"Oh, tidak!' Bagiku, ini Baik!""Bagaimana kau ini? Memenjarakan teman kau bilang baik?""Kalau aku tidak dipenjara, pasti saat itu aku bersamamu."
Kisah satir ini mengingatkan pada pernyataan Randolph Bourne, intelektual Amerika yang juga anak didik John Dewey. Katanya, seorang teman itu memang dipilih untuk kita berdasarkan hukum perasaan yang tersembunyi, bukan oleh kehendak sadar kita si manusia.

Selasa, 05 Oktober 2010

KISAH KYAI BIJAK

MBAH YAI WANDI VS HITUNGAN JAWA

Mbah Wandi, nama lengkapnya Suwandi, mungkin bagi sebagian kalangan santri pesantren, nama itu jawa sekali, kira-kira kalau nama itu diawali dengan embel-embel kyai, Kyai Suwandi, sepertinya kurang pas. Namun Mbah Wandi yang satu ini memiliki banyak kridit point untuk disebut kyai. Alumni sekaligus menantu dari Pesantren Bungkuk Singosari yang merupakan Pesantren tertua di Malang ini, meski tidak memiliki santri secara khusus, namun beliau yang juga ketua idaroh ahlu toriqah di Turen Malang ini, sering menjadi tempat rujukan bagi masyarakat sekitarnya.

Suatu hari, seorang perempuan mengadu kepadanya karena calon suami yang dipilihnya tidak disetujui oleh keluarga calon suami. Berdasar hitungan jawa, hasil yang didapat adalah malapetaka. Sementara perempuan itu dengan calonnya seperti tidak dapat lagi di pisahkan karena sudah runtang-runtung kemana-mana! Mendengar keluhan itu, Mbah Wandi kemudian menemui orang tua perempuan itu sebut saja pak sholeh untuk diajak berunding. Dalam perundingan itu Mbah Wandi melontarkan usulan kepada pak sholeh, ‘anak perempuanmu ini kalau dibiarkan ndak baik lho, dengan pria pilihannya itu sudah saling suka dan sudah kemana-mana berdua. Lha kalau keluarga si pria itu menolak menikahkan anaknya dengan anakmu karena alasan hitungan jawa, bagaimana kalau tanggal lahir anak sampeyan dirubah saja yang kira-kira hitungan jawanya menjadi baik. gimana?’ Mendengar hal itu, pak sholeh menyetujui kemudian mengambil sebuah kitab lusuh dan menuliskan angka-angka dipinggirnya. Dibawanya kitab lusuh itu kerumah orang tua calon menantunya. Dihadapan calon besannya itu, pak sholeh itu menyatakan ‘sebenarnya tanggal lahir anak saya yang ada di ijazah itu keliru, saya baru ingat kalau tanggal lahir anak saya itu saya catat di kitab saya ini’ seraya membuka kitab dan menunjukkan angka-angka kelahiran ke calon besan. Setelah menghitung-hitung, calon besan inipun kemudian berkata : ‘lha kalo tanggal lahirnya yang ini ya ndak papa, kalo gitu kita jadikan aja pernikahan mereka berdua.!’ Setelah mencapai kesepakatan dengan calon besan tentang tanggal pernikahan, dengan tersenyum-senyum pak Sholeh pulang dan bergumam. ‘Wah satu kosong untuk Mbah Wandi atas hitungan jawa!’



GUS IDRIS VS MBAH MAIMUN ZUBAIR



Suatu hari Gus Idris, putra Kyai Jamaluddin Tambakberas bersama beberapa temannya, sowan ke ndalem Kyai Maimun Zubair Sarang Rembang. Kebetulan pas di Pondok Al Anwar Rembang baru selesai selamatan di Musholla. Gus Idrispun bersama temannya dipersilahkan untuk ikut menyantap hidangan yang diletakkan dalam nampan besar. Karena tamu dari jauh, Kyai Maimun berkenan mempersilahkan sendiri kepada Gus Idris dan kawan-kawan. Namun cara mempersilahkan yang disampaikan Kyai Maimun agak berbeda; “Kamu mau jadi kyai ndak?” Gus Idris dkkpun kemudian serentak menjawab : ”nggih Yai!” Kemudian Kyai Maimun berkata : “Kalo kepingin jadi kyai, ayo habiskan makanan di nampan itu jangan sampai tersisa!” seraya kundur dulu ke rumah. Rombongan tamu dari Tambakberas inipun membelalakkan mata, karena nasi dan lauknya begitu banyak dalam nampan besar, mereka berfikir apa ya kuat menghabiskan makanan sekian banyaknya. Tapi tak urung merekapun serentak berkata : “nggih Yai!”. Akhirnya dengan agak memaksa-maksa merekapun menghabiskan seluruh nasi di nampan besar yang tersedia dihadapan mereka. Begitu mereka selesai bersantap, Kyai Maimun kembali menghampiri dan bertanya:” sudah habis?” Gus Idris dkk menjawab : “sampun Kyai!” Kyai Maimun sambil tersenyum simpul berkata : “Saya kasih tahu ya, Kyai itu makannya ndak banyak-banyak!” Lhooo?! Seluruh rombongan termasuk Gus Idrispun kaget, bingung bercampur malu. Mereka berusaha menghabiskan makanan demi bisa menjadi Kyai, malah akhirnya didawuhi seperti itu. Waduh, dengan menahan rasa sakit perut karena kekenyangan, Gus Idris dkk hanya bisa bengong, tidak tahu harus berkata-kata apa! Hehe Gus Idris dikerjai Yai Maimun! Kyai kok dilawan.

Yunus AS - Dua Puluh Tahun Menanam Benih

Yunus AS meninggalkan ayahnya dengan perasaan sedih, ia tahu dalam hatinya bahwa mereka tidak akan bertemu lagi di dunia ini. Ia bergabung dengan sebuah karavan menuju Niniveh. Yunus AS adalah seorang yang murni dan lugu. Ia tidak cocok dengan para perampok yang menunggunya di sepanjang jalan. Dalam waktu singkat ia telah kehilangan seluruh barang miliknya. Ia memasuki Niniveh hanya dengan berbekal beberapa koin di sakunya. Yunus AS menemukan dirinya berada di daerah pinggiran kota di mana sebagian besar penduduknya bekerja dengan tanah liat. Seseorang yang berbicara dengan bahasa yang dimengertinya membawanya menghadap ke seorang tua, ia adalah pembuat tembikar khusus untuk raja. Orang tua ini sedang mencari seseorang untuk diajari membuat tembikar. Tak satu pun anak-anaknya yang tertarik. Yunus AS bersedia menjadi murid ahli pembuat tembikar ini.

Setelah beberapa saat orang tua itu menjadi sakit. Ia tahu bahwa ia tengah sekarat. Ia memperkenalkan Yunus AS, yang sekarang telah menjadi seorang pembuat tembikar terlatih, kepada raja dan mengatakan bahwa ia adalah penerusnya. Raja menyukai Yunus AS dan setelah ia mengeceknya, ia pun mempercayainya. Ia memberikan sebuah tempat di dekat istana dan mereka pun menjadi sahabat. Yunus AS membuat benda-benda yang sangat indah untuk raja, berbeda dengan yang lain, mereka belum pernah melihat karya-karya seperti itu sebelumnya. Di Niniveh semua objek didekorasi dengan wajah-wajah jin yang menyeramkan dan monster yang sedang marah. Hal itu membuat takut orang-orang yang melihatnya. Yunus AS membuat karya-karya yang indah yang penuh dengan keramahan alam. Yunus AS mempelajari bahasa Assyria dan menetap di sana. Ia tidak pernah berbicara tentang agama karena orang-orang Assyria merupakan para penyembah berhala dan mereka tidak mempunyai kesabaran terhadap Tuhan yang tidak dapat
mereka lihat dan mereka sentuh.

Setelah beberapa saat Yunus AS mendengar kematian ayahnya dan ia menjadi rindu untuk pulang ke kampung halaman, mengunjungi keluarganya. Ia meminta izin pada raja untuk pulang. Raja sebenarnya agak enggan untuk menyetujuinya. Sesuatu memperingatkan kepada Yunus AS bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan desanya. Yunus AS menasihati para penumpang karavan untuk tidak memasuki desa itu. Tetapi mereka kelaparan dan mereka pun tetap masuk. Yunus AS menunggu tetapi tak satu pun dari mereka yang kembali. Ia kemudian melanjutkan perjalanannya sendirian. Beberapa saat kemudian ia bertemu dengan satu batalion tentara yang menuju desa itu. Yunus AS memperingatkan mereka bahwa ada wabah penyakit yang tidak bisa disembuhkan, yang dapat menewaskan korbannya dengan cepat di desa itu. Para tentara itu berterima kasih kepadanya. Yunus AS meminta mereka untuk menyalami raja untuknya dan mereka melanjutkan perjalanan dengan arah yang berbeda.

Malam itu Yunus AS mempunyai mimpi yang menyeramkan. Ia melihat ayahnya, seolah-olah ia tidak pernah melihatnya selama hidupnya. Ayahnya sangat marah. Ia berteriak pada anaknya, "Mengapa engkau meninggalkan Niniveh? Engkau dikirim ke sana oleh Allah SWT. Izin-Nya-lah yang engkau butuhkan untuk pergi, bukan izin dari raja. Dan Allah SWT tidak memberimu izin. Cepat kembali dan berusahalah untuk lebih sabar."

Yunus AS melihat ke sekeliling dan akhirnya ia kembali ke Niniveh. Ia melihat seberkas cahaya dari langit turun mendatanginya. Semakin dekat ia semakin besar sampai ia mengenali bahwa itu adalah Malaikat Jibril AS. Ia memberitahu Yunus AS bahwa Allah SWT telah memilihnya menjadi nabi-Nya dan bahwa para pengikutnya dan pekerjaannya terletak di Niniveh.

Dalam perjalanan pulang, Yunus AS merasa dirinya diperlakukan sebagai seorang pahlawan. Semua orang menganggapnya telah mencegah masuknya wabah penyakit ke negeri itu. Yunus AS mulai bicara kepada mereka tentang Allah SWT. Raja berpikir bahwa Yunus AS sudah menjadi gila karena terkena wabah penyakit itu. Para penduduk Niniveh menertawainya tetapi mereka tidak menyakitinya karena ia telah menyelamatkan negeri itu. Selama dua puluh tahun Yunus AS berbicara tentang Allah SWT kepada penduduk Assyria, tentang Sang Pencipta mereka, Yang menguasai alam nyata dan gaib. Tak satu pun penduduk yang percaya. Yunus AS seringkali merasa putus asa, tetapi Jibril AS datang memberinya semangat. Itu semua adalah rencana Allah SWT.

Suatu hari Jibril AS datang dan mengatakan kepada Yunus AS bahwa akhir sudah dekat. Ia harus pergi menemui raja dan mengatakan kepadanya bahwa kota ini mempunyai waktu empat puluh hari untuk percaya kepada Allah SWT atau Allah SWT akan mengirimkan kehancuran kepada mereka. Raja menjadi marah dan mengancam Yunus AS. Tetapi tidak ada orang yang kelihatannya memberi Yunus AS pikiran kedua.

Empat puluh hari telah berlalu dan di pagi hari dari hari keempat puluh Yunus AS tidak tahan lagi, "Aku pergi, tinggalkan orang-orang ini menerima hukuman mereka," ia berteriak. Ia lalu menaiki kapal, pergi meninggalkan Niniveh menuju laut lepas di mana ia dapat melihat lumba-lumba yang dicintainya. Kapal baru saja mengibarkan layar ketika angin kencang berhembus yang mengakibatkan kapal terlempar ke setiap penjuru. Seekor ikan raksasa muncul dari dalam laut seolah-olah akan menghancurkan kapal itu. Yunus AS tahu bahwa badai itu dikirim untuk menghukum para penduduk Niniveh tetapi ikan itu dikirimkan untuknya. Sekali lagi Yunus AS meninggalkan Niniveh tanpa seizin Tuhannya. Ia telah kehilangan kesabaran dan kasih sayang kepada umatnya. Para pelaut lalu melemparkan Yunus AS ke laut dan mereka melihat ikan raksasa itu menelannya. Kapal lalu berlayar dengan selamat dan badai itu terus melaju menuju Niniveh.

Sekarang ikan itu berada di bawah perintah Allah SWT untuk menelan Yunus AS, tetapi ia tidak diizinkan untuk memakannya. Yunus AS diperintahkan untuk berkhalwat di dalam perut ikan itu. Selama empat puluh hari berada di dalam kegelapan perut ikan itu, di kedalaman laut yang hitam, di bawah langit yang tak bermatahari, Yunus AS berdoa memohon ampun. Ia mengucapkan kalimat zikir, "La ilaha illa Anta, subhanaka inni kuntu minazh-zhaalimiin." 'Tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.' [21:87]. Pada akhirnya Allah SWT mengampuninya.

Sementara itu awan badai datang menghampiri Niniveh dan sebuah mukjizat terjadi. Selama dua puluh tahun Yunus AS menanam benih dan dalam waktu sekejap, kini mereka mulai tumbuh. Raja Niniveh dan para penduduknya melihat awan gelap itu dan mereka mulai percaya. Mereka berdoa kepada Allah SWT untuk menyelamatkan mereka dari kehancuran. Tetapi tentu saja mereka tidak tahu bagaimana cara berdoa atau apa yang harus diucapkan, sementara Yunus AS, nabi mereka, kini entah di mana. Tetapi awan gelap itu melewati kota, matahari muncul kembali dan tak ada yang hancur kecuali berhala-berhala mereka yang hancur berkeping-keping di kuil mereka.

Yunus AS melengkapi khalwatnya selama empat puluh hari di perut ikan dan kemudian ia dimuntahkan di tepi pantai dalam keadaan telanjang dan kedinginan. Kulitnya berkerut dan melunak karena terlalu lama terkena air dan panas matahari membakarnya. Kemudian Allah SWT menjadikan sejenis pohon tumbuh dengan daun yang besar untuk menutupi Yunus AS dan untuk menaunginya. Seorang penggembala yang tinggal di dekat situ memberinya makanan dan air dan menceritakan bahwa Niniveh selamat dari kehancuran. Yunus AS menjadi geram dengan kabar itu. Kemudian Allah SWT memerintahkan (alam) agar pohon tadi mengering dan mati. Yunus sedih kehilangan pohonnya. Kemudian Allah SWT menegurnya karena ia lebih memedulikan pohon itu dibandingkan dengan sebuah kota yang penuh dengan makhluk Allah SWT paling sempurna, yaitu manusia. Lagi-lagi Yunus AS memohon ampun kepada Tuhannya.

Dengan bantuan penggembala itu, yang akhirnya menjadi orang kepercayaannya, Yunus AS menempuh perjalalan kembali ke Niniveh. Di sana ia menemukan raja dan para penduduk kini telah terbuka hati mereka terhadap ajarannya. Ia mengajarkan mereka untuk beribadah dan memperkenalkan mereka tentang Hukum Allah SWT. Mereka membangun masjid-masjid (rumah-rumah tempat bersujud kepada Allah) di mana berhala-berhala dulunya berada, dan mereka menyembah Tuhan Yang Mahaesa yang telah menciptakan mereka dan mengampuni mereka.

Yunus AS menikah dan mempunyai anak-anak. Ia adalah salah satu dari dua orang nabi yang mendapat kebahagiaan melihat kaumnya berubah menjadi orang-orang yang beriman. Nabi Muhammad SAW adalah nabi yang satunya. Yunus AS wafat dan dimakamkan di tempat di mana ia hidup.

Kelihatannya aneh bahwa Yunus AS yang merupakan seorang nabi beberapa kali melakukan perbuatan yang tidak disukai oleh Tuhannya. Dikatakan bahwa dengan Kehendak Allah SWT, setiap nabi paling sedikit pernah membuat satu kesalahan sepanjang hidupnya, kecuali nabi terakhir, Muhammad Mustafa SAW, yang diciptakan sebagai satu-satunya manusia yang sempurna.

Semoga Allah SWT memberkati Yunus AS dan memberinya kedamaian.

Sabtu, 02 Oktober 2010

Luqmanul Hakim

Dalam sebuah riwayat menceritakan, pada suatu hari Luqman Hakim telah masuk ke dalam pasar dengan menaiki seekor himar, manakala anaknya mengikut dari belakang. Melihat tingkah laku Luqman itu, setengah orang pun berkata, "Lihat itu orang tua yang tidak bertimbang rasa, sedangkan anaknya dibiarkan berjalan kaki."

Setelah mendengarkan desas-desus dari orang ramai maka Luqman pun turun dari himarnya itu lalu diletakkan anaknya di atas himar itu. Melihat yang demikian, maka orang di passar itu berkata pula, "Lihat orang tuanya berjalan kaki sedangkan anaknya sedap menaiki himar itu, sungguh kurang adab anak itu."

Sebaik saja mendengar kata-kata itu, Luqman pun terus naik ke atas belakang himar itu bersama-sama dengan anaknya. Kemudian orang ramai pula berkata lagi, "Lihat itu dua orang menaiki seekor himar, adalah sungguh menyiksakan himar itu."

Oleh kerana tidak suka mendengar percakapan orang, maka Luqman dan anaknya turun dari himar itu, kemudian terdengar lagi suara orang berkata, "Dua orang berjalan kaki, sedangkan himar itu tidak dikendarai."

Dalam perjalanan mereka kedua beranak itu pulang ke rumah, Luqman Hakim telah menasihati anaknya tentang sikap manusia dan telatah mereka, katanya, "Sesungguhnya tiada terlepas seseorang itu dari percakapan manusia. Maka orang yang berakal tiadalah dia mengambil pertimbangan melainkan kepada Allah S.W.T saja. Barang siapa mengenal kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangannya dalam tiap-tiap satu."

Kemudian Luqman Hakim berpesan kepada anaknya, katanya, "Wahai anakku, tuntutlah rezeki yang halal supaya kamu tidak menjadi fakir. Sesungguhnya tiadalah orang fakir itu melainkan tertimpa kepadanya tiga perkara, yaitu tipis keyakinannya (iman) tentang agamanya, lemah akalnya (mudah tertipu dan diperdayai orang) dan hilang kemuliaan hatinya (keperibadiannya), dan lebih celaka lagi daripada tiga perkara itu ialah orang-orang yang suka merendah-rendahkannya."

Jaminan Rizki ALLAH SWT


Al-kisah ada seorang imam besar yang taat dan ahli hikmah. Beliau sungguh ingin membuktikan kepada dirinya sendiri juga kepada seluruh umat manusia, bahwa Allah selalu memberikan rizki dimanapun kita berada.

Akhirnya pada suatu waktu pergilah ia ke hutan dengan tidak membawa bekal sedikitpun.Dia memasuki sebuah gua yang ada dalam hutan tersebut. Dia benar-benar mencari tempat yang jarang di jangkau manusia,ia berdiam diri di ujung gua tersebut...

Sungguh Allah Maha Maha Pengasih dan Penyayang...

Hingga suatu waktu, cuaca sangat buruk dan turunlah hujan yang sangat lebat dan angin yang kencang. Dan ternyata, sekelompok kafilah tengah melintas di hutan tersebut sehingga mereka tidak bisa meneruskan perjalanan. Akhirnya mereka istirahat dan tanpa sengaja mereka memasuki gua yang mana Imam Jahidi ada di dalamnya. Ketika mereka memasuki gua tersebut mereka tidak menyangka sebelumnya, bahwa ada orang yang lebih dulu masuk ke dalamnya. Akhirnya kafilah tersebut melihat seorang manusia yang sedang terdiam dengan keadaan yang sangat memprihatinkan.

Dengan lantang pimpinan kafilah memerintahkan kepada anak buahnya untuk memberikan makanan kepadanya! tetapi sungguh membingungkan..., karena Imam Jahidi tidak bergerak sama sekali, dia hanya diam seribu bahasa. Melihat hal tersebut, salah seorang dari mereka berkata..,wahai sahabat, mungkin dia kedinginan..? sehingga tubuhnya begitu kaku seperti ini..? akhirnya salah seorang dari mereka memberikan mantelnya yang hangat untuk meyelimuti Imam Jahidi, sementara yang lain membuat tungku api untuk menghangatkan badannya.

Tetapi apa yang terjadi...? Ia tetap diam tak bergerak sedikitpun. Salah seorang dari mereka berkata kembali "mungkin ia terlalu lama menahan lapar sehingga giginya mengetat..! maka dibuatkanlah untuknya susu yang segar dengan buah-buahan yang segar pula. Tetapi semua itu tidak merubah keadaan.

Karena merasa kasihan, dua orang dari kafilah tersebut mengambil sebuah pisau dan sendok untuk membuka mulut Imam Jahidi..., namun sebelum mereka akan membuka dengan paksa mulutnya terbuka dan Imam Jahidi tertawa sehingga membuat kaget orang yang ada disekitarnya..."Apakah kamu gila...?"

Imam Jahidi menjawab dengan lantang "tidak" aku tidak gila..! Sungguh Allah Maha Luas Rizki-Nya. (Dechiwa'98)

Saudara, Kekayaan dan Amal Perbuatan

Kata Kumail, "Saya bersama-sama Ali telah berjalan ke arah padang pasir pada suatu hari. Dia telah mendekati tanah perkuburan yang terdapat di situ sambil berkata, "Ya ahli-ahli kubur ! Wahai kamu yang telah menghuni di tempat sunyi ini ! Bagaimanakah keadaan kamu di dunia sana ?Setahu kami segala harta peninggalan kamu telah habis dibahagi-bahagikan, anak-anak kamu telah menjadi yatim dan janda-janda yang kamu tinggalkan telahpun berkahwin semula. Sekarang ceritakan sedikit perihal diri kamu."

Kemudian sambil menoleh kepada saya, dia berkata, "Ya Kumail! Seandainya mereka boleh bercakap sudah tentu mereka akan mengatakan sebaik-baik bekalan ialah taqwa."

Airmata berhamburan dari kedua-dua belah matanya. Katanya lagi, "Ya Kumail, perkuburan merupakan tempat menyimpan segala perbuatan manusia. Tetapi kita menyedari hakikat ini hanya selepas memasukinya."

Mengikut sebuah hadith tiap-tiap manusia akan menemui perbuatan-perbuatannya yang baik. Perbuatan-perbuatan baiknya itu akan berupa seorang manusia yang akan menjadi sahabat dan penawar hatinya. Sebaliknya kejahatan-kejahatannya akan berupa seekor binatang yang buruk yang mengeluarkan bau yang busuk dan yang menambahkan kesengsaraannya.

Nabi s.a.w telah bersabda dalam sebuah hadith, "Hanya tiga benda saja yang mengikuti seseorang ke kuburnya; harta-bendanya, kaum kerabatnya dan amal perbuatannya. Harta benda dan karib kerabatnya akan kembali selepas upacara pemakamannya. Yang tinggal bersama-samanya hanyalah amalannya saja."

Pada suatu hari Nabi s.a.w telah bertanya kepada para sahabatnya, "Tahukah kamu tentang perhubunganmu dengan saudaramu, kekayaan dan amal perbuatanmu ?"

Sahabat-sahabat semua ingin mendengar penjelasan baginda. Nabi pun berkata, "Hubungan itu dapat diumpamakan dengan hubungan seorang manusia dengan tiga orang adik-beradiknya.

Apabila manusia akan mati dia pun memanggil salah seorang daripada saudara-saudaranya tadi lalu berkata, "Saudara, engkau tahu keadaan aku bukan? Apakah pertolongan yang dapat engkau berikan aku ?"

Saudaranya menjawab, "Aku akan memanggil doktor untuk merawati kamu dan aku akanmenjaga kamu. Kalau engkau mati, aku akan mandikan kamu, mengkafankan kamu serta mengusung jenazahmu ke perkuburan. Kemudian aku akan mendoakan kamu. Saudaranya ini ialah kaum kerabatnya.

Pertanyaan yang sama dikemukakan kepada saudaranya yang kedua. Jawabannya "Aku akan berada bersama-sama dengan engkau selama engkau masih bernyawa. Setelah engkau meninggal, aku akan pergi kepada orang lain." Saudaranya yang kedua ini ialah harta kekayaannya.

Apabila pertanyaan itu dihadapkan kepada saudaranya yang ketiga, dia menjawab, "Aku tidak akan meninggalkan kamu walaupun di dalam kubur. Aku akan bersama-sama kamu ke tempat itu. Ketika amal perbuatanmu dipertimbangkan, aku akan memberatkan perbuatanmu yang baik." Saudara yang terakhir ini ialah amal keaikan yang telah dilakukan. Sekarang yang mana satu yang menjadi pilihanmu?"

Jawab para sahabat, "Ya Rasulullah tidak ragu lagi yang saudaranya yang terakhir ialah yang paling berguna untuk dirinya."

Jumat, 01 Oktober 2010

Balasan Orang Yang Takut Kepada Rabb-nya

Yahya bin Ayyub berkata, “Ada seorang pemuda di Madinah yang amat dikagumi oleh ‘Umar bin al-Khaththab RA. Suatu malam, seusai shalat ‘Isya, pemuda ini keluar lalu muncullah di hadapannya seorang wanita yang menyodorkan dirinya sehingga tergoda jugalah hatinya, lalu wanita itu berlalu.

Dia mengikuti jalannya dari belakang hingga sampai ke depan pintunya, lalu melirik-lirik karena malu dengan hatinya dan ketika itulah dia teringat ayat Allah (artinya),

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaithan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” “ (al-A’râf:201).

setelah membacakan ayat itu, dia jatuh pingsan. Lantas, si wanita itu membuka pintu dan melihat kondisinya seperti sudah jadi mayat, lantas dibantu oleh pembantu perempuannya, mereka berdua mengangkatnya hingga sampai ke pintu rumahnya sendiri.

Tak berapa lama, keluarlah ayahnya dan menyaksikan anaknya tergeletak di depan pintu. Sang anak kemudian dibawa masuk, lantas tersadar. Kemudian dia menanyakan kepada sang anak, “Apa yang telah terjadi denganmu, wahai anakku?.”

Sang anak tidak memberitahukan kejadian yang sebenarnya namun ayahnya nampak tetap ngotot hingga akhirnya dia menceritakan duduk perkaranya. Ketika sampai pada ayat yang dibacanya tadi, dia kembali jatuh pingsan yang sangat serius hingga menghembuskan nafas terakhir.

Kisah kematiannya ini sampai ke telinga ‘Umar RA., maka dia berkata, “Kenapa kalian tidak memberitahuku perihal kematiannya.?” Kemudian dia pergi menuju kuburannya, berdiri seraya memanggil,

“Wahai fulan! “ ‘Dan bagi orang yang takut saat menghadap Tuhannya ada dua surga.’ “ [ar-Rahmân:46].”

Lalu dia mendengar suara yang berasal dari dalam kuburan itu, “Wahai ‘Umar, Rabbku telah memberinya padaku.”

Terdapat versi lain dari riwayat mengenai kisah ini, yaitu :

“Ada seorang pemuda pada masa ‘Umar bin al-Khaththab RA., yang selalu datang ke masjid dan beribadah di sana. Lantas suatu ketika, ada seorang pembantu perempuan yang jatuh cinta padanya dan hal itu membuat hatinya tergetar. Kemudian setelah itu, dia ingat kepada Allah dan melihat kesalahan-kesalahannya sehingga membuatnya jatuh pingsan. Lalu datanglah pamannya yang membawanya ke rumahnya. Tatkala siuman, dia berkata,

“Wahai pamanda, pergilah ke hadapan ‘Umar lalu sampaikanlah salamku untuknya serta katakan kepadanya, ‘Apa balasan orang yang takut saat menghadap Rabb-nya.?’”

Lalu sang pamanpun memberitahu ‘Umar yang lantas mengunjunginya namun ternyata dia sudah meninggal dunia. Maka, berkatalah ‘Umar, “Dia mendapatkan dua surga.”

(SUMBER: “al-Maw’id Jannât an-Na’îm“ karya Ibrâhîm bin ‘Abdullah al-Hâzimy, h.59-60 sebagai yang dinukil dari kitab “Rawdlah al-Muhibbîn“ karya Ibn al-Qayyim)

10 Wasiat Allah kepada Nabi Musa as

Abul-Laits Assamarqandi meriwayatkan kepada sanadnya dari Jabir bin Abdillah r.a. berkata Rasulullah S.A.W bersabda : "Allah S.W.T. telah memberikan kepada Nabi Musa bin Imran a.s. dalam alwaah 10 bab :
Wahai Musa jangan menyekutukan aku dengan suatu apa pun bahwa aku telah memutuskan bahwa api neraka akan menyambar muka orang-orang musyrikin.

Taatlah kepada-Ku dan kedua orang tuamu nescaya Aku peliharamu dari sebarang bahaya dan akan Aku lanjutkan umurmu dan Aku hidupkan kamu dengan penghidupan yang baik.

Jangan sekali-kali membunuh jiwa yang Aku haramkan kecuali dengan hak nescaya akan menjadi sempit bagimu dunia yang luas dan langit dengan semua penjurunya dan akan kembali engkau dengan murka-Ku ke dalam api neraka.

Jangan sekali-kali sumpah dengan nama-Ku dalam dusta atau durhaka sebab Aku tidak akan membersihkan orang yang tidak mensucikan Aku dan tidak mengagung-agungkan nama-Ku.

Jangan hasad dengki dan irihati terhadap apa yang Aku berikan kepada orang-orang, sebab penghasut itu musuh nikmat-Ku, menolak kehendak-Ku, membenci kepada pembahagian yang Aku berikan kepada hamba-hamba-Ku dan sesiapa yang tidak meninggalkan perbuatan tersebut, maka bukan daripada-Ku.

Jangan menjadi saksi terhadap apa yang tidak engkau ketahui dengan benar-benar dan engkau ingati dengan akalmu dan perasaanmu sebab Aku menuntut saksi-saksi itu dengan teliti atas persaksian mereka.

Jangan mencuri dan jangan berzina isteri jiran tetanggamu sebab nescaya Aku tutup wajah-Ku daripadamu dan Aku tutup pintu-pintu langit daripadanya.

Jangan menyembelih korban untuk selain dari-Ku sebab Aku tidak menerima korban kecuali yang disebut nama-Ku dan ikhlas untuk-Ku.

Cintailah terhadap sesama manusia sebagaimana yang engkau suka terhadap dirimu sendiri.

Jadikan hari Sabtu itu hari untuk beribadat kepada-Ku dan hiburkan anak keluargamu. Kemudian Rasulullah S.A.W bersabda lagi : "Sesungguhnya Allah S.W.T menjadikan hari Sabtu itu hari raya untuk Nabi Musa a.s. dan Allah S.W.T memilih hari Juma'at sebagai hari raya untukku."

Kamis, 30 September 2010

Kisah Ruh Dengan Malaikat Maut

Dalam sebuah hadis bahwa apabila Allah SWT mengkehendaki seseorang mukmin itu dicabut nyawanya, maka akan datanglah malaikat maut. Apabila malaikat maut hendak mencabut ruh orang mukmin itu dari arah mulut maka keluarlah zikir dari mulut orang mukmin itu dengan berkata: “Tidak ada jalan bagimu mencabut ruh orang ini melalui jalan ini, kerana orang mukmin ini sentiasa menjadikan lidahnya berzikir kepada Allah SWT.”



Setelah malaikat maut mendengar penjelasan itu, maka dia pun kembali kepada Allah SWT dan menjelaskan apa yang diucapkan oleh lidah orang mukmin itu lalu Allah SWT berfirman yang bermaksud: “Wahai malaikat mau, kamu cabutlah ruhnya dari arah lain”



Sebaik sahaja malaikat maut mendapat perintah Allah SWT, maka malaikat maut pun cuba mencabut ruh orang mukmin itu dari arah tangan, tetapi keluarlah sedekah dari tangan orang mukmin itu, keluarlah usapan kepala anak-anak yatim dan keluarlah penulisan ilmu maka berkata tangan : “Tidaklah ada jalan bagimu untuk mencabut ruh orang mukmin ini dari arah in, tangan ini telah mengeluarkan sedekah, tangan ini mengusap kepala anak-anak yatim dan tangan ini juga menulis ilmu pengetahuan.



Oleh kerana malaikat maut gagal lagi untuk mencabut ruh orang mukmin itu dari arah tangan, maka malaikat maut mencuba pula dari arah kaki, malangnya malaikat maut juga gagal melakukannya sebab kaki berkata: “Tidak ada jalan bagimu dari arah ini kerana kaki ini sentiasa berjalan berulang alik mengerjakan solat dengan berjemaah dan kaki ini juga berjalan menghadiri majlis-majlis ilmu.”



Apabila malaikat maut gagal mencabut dari arah kaki, maka malaikat maut cuba pula dari arah telinga, sebaik sahaja malaikat maut menghampiri telinga, maka telinga pun berkata: “Tidak ada jalan bagimu dari arah ini, kerana telinga ini sentiasa mendengar bacaan Al-Qur’an dan Zikir”.



Akhir sekali malaikat maut coba mencabut ruh orang mukmin itu dari arah mata, tetapi baru sahaja beliau hendak menghampiri mata, maka mata pun berkata: “Tidak ada jalan bagimu dari arah ini, sebab mata ini sentiasa melihat beberapa mushaf dan kitb-kitab”



Apabila malaikat maut gagal menjalankan perintahnya, maka dia pun kembali kepada Allah SWT dan memberitahu masalah yang dihadapinya walaupun semua cara telah dilakukan.



Kemudian Allah SWT berfirman yang bermaksud : “Wahai malaikatKu, tulislah AsmaKu di telapak tanganmu dan tunjukkanlah kepada ruh orang yang beriman itu.”



Sebaik sahaja mendapat perintah Allah SWT, maka malaikat maut pun pergi menghampiri ruh orang itu dan menunjukkan Asma Allah SWT, sebaik sahaja ruh melihat Asma Allah, (terbitlah rasa) kecintaannya kepada Allah SWT, maka keluarlah ruh tersebut dari arah mulut dengan tenang dan damai.



Haha . . Luar Biasa.. Ternyata sedekah dapat membuat kita selamat dari malaikat maut untuk sementara waktu
ceritanya bener bener menarik dan penuh manfaat yang bisa diambil.

Nabi Daud AS

Terdapat perumpamaan dalam hadits qudsi sebagai berikut :
Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah mewahyukan kepada Daud as. dengan firman-Nya: “Wahai Daud, perumpamaan dunia yaitu laksana bangkai di mana anjing-anjing berkumpul mengelilinginya, menyeretnya kian kemari. Apakah engkau senang menjadi seekor anjing, lalu ikut bersama mereka menyeret bangaki itu kian kemari? Wahai Daud ! Berlemah-lembutlah dalam pembicaraan dan berlaku sederhanalah dalam berpakaian. Kemasyhuran namamu di antara khalayak ramai tidak akan identik selama-lamanya (dengan yang diperoleh) di akhirat.
(Hadits Qudsi Riwayat Al-Madani di dalam kitabnya)
Daud yang dimaksudkan dalam hadits di atas ialah Nabi dan Rosululloh, bapak Nabi Sulaiman a.s. yang bersambung keturunannya sampai kepada Nabi Ibrahim al-Khalil a.s.
Beliau termasuk orang yang paling banyak beribadat dan bertaqarrub kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Karena itu Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri pernah menyebut-nyebut nama Nabi Daud dalam sabda-sbada beliau :
“Dialah manusia yang paling banyak beribadat.”
Dan telah bersabda Rosululloh Shallahu ‘Alaihi wa Sallam:
“Shaum yang paling disukai Alloh ialah shaum Daud dan sholat yang paling disukai Alloh ialah sholat Daud. Ia tidur setengah malam, lalu bangun (melakukan sholat malam) selama sepertiganya, kemudian tidur lagi sepeernamnya. Ia shaum satu hari dan berbuka stu hari (demikianlah dilakukannya sepanjang tahun) dan ia tidak pernah mundur setapak pun apabila bertemu dengan (musuhnya).”
(HR. Syaikhani)
“Shaumlah seperti shaumnya Daud, sesungguhnya ia orang yang paling banyak beribadah.”
(HR. Syaikhani)
“Daud pernah shaum setengah tahun.”
(HR. Syaikhani)
Sebagian do’a Daud ialah :
” Ya Alloh sesungguhnya aku memohon agar dapat mencintai-Mu, mencintai orang yang mencintai-Mu, dan beramal dengan amal yang dapat menyampaikanku untuk cinta pada-MU. Ya Alloh jadikanlah kecintaanku kepada-Mu melebihi kecintaanku kepada diriku, kepada ahliku (isteri dan anak) dan kepada air yang dingin (di saat panas terik di padang pasir).
Di dalam al-Qur’an, Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam beberapa ayat tentang Daud :
“Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud karunia dari Kami. (Kami berfirman) : “Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang kali bersama Daud.” Dan pula Kami telah melunakkan besi untuknya.
(QS. 34 Saba ‘ : 10)
“Hai Daud ! Sesungguhnya Kami menjadikan kamu kholifah (penguasa) di muka bumi. Berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan haq.
(QS. 38 Shad : 26)
Dan Kami telah memberikan kepada Daud (kitab) Zabur.
(QS. 17 al-Isra : 55)
Nabi Daud a.s. ketika hidup dalam usia seratus tahun masih segar-bugar, kuat beribadah, berjuang dan beramal. Perhatikanlah sabda Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam :
“Tidak seorang pun makan makanan yang paling baik dari hasil usaha tangannya sendiri. Sesungguhnya Nabi Daud makan makanan hasil usaha tangannya sendiri.
Lebih dari itu beliau mempunyai suara emas yang merdu bak buluh perindu. Ketika Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendengar qira’at sahabatnya, Abu Musa al-Asy’ari, pada suatu tengah malam, beliau merasa kagum, dan ketika bertemu dengannya, spontan beliau bersabda :
“Benar-benar engkau telah diberi suara seruling dari seruling Nabi Daud.”
Alloh Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan kepada Nabi Daud a.s. dengan perantara malaikat Jibril a.s. mengenai dunia. Dunia penuh dengan syahwat hawa nafsu rendah dan kesedapan yang menjijikkan. Betapa hinanya yang menyalah gunakan dunia atau menyimpang dari garis yang telah ditentukan. Bagaikan anjing yang mengerumuni bangakai busuk dan berebutan menariknya kian kemari.
Nabi Daud diperingatkan Alloh Subhanahu wa Ta’ala agar jangan berbuat seperti anjing atau menjadi anjing yang ikut bersama-sama anjing lainnya memperebutkan bangakai busuk yang sangat jijik itu. Dunia yang dilukiskan menjijikkan itu berada dekat dengan diri kita di alam fana ini, selalu mengganggu kita dan mendorong untuk menguasai dengan cara yang tidak ada buah dan hasilnya di akhirat. Dunia seperti itu mendorong kita untuk bersenang-senang dengan berbagai maksiat, teramsuk juga berfoya-foya atau bermewah-mewah yang berlebih-lebihan.
Lawan dari dunia menjijikkan itu ialah kehidupan yang memberika haisl dan buah di akhirat. Hasil ini diperoaleh melalui jalan yyg telah ditetapkan Alloh Subhanahu wa Ta’ala halal dimakan, halal digunakan dan halal pula diperolehnya. Inilah dunia baik yang tidak dimaksudkan dalam Hadits qudsi di atas.
Mengenai dunia yang fana ini dalam al-Qur’an Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
” Dan berilah perumpamaan kepada mereka, kehidupan dunia bagai air hujan yang Kami turunkan dari lanit. Sehingga karenanya menjadi subur tumbuh-tumbuhan di muka bumi kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering diterbangkan angin. Dan Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
(QS. 18 al-Kahfi:45)
“Sesungguhnya perumpaman kehidupan duniawi seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit. Karena air itu tumbuhlah dengan suburnya tanam-tanaman bumi, diantaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Apabila bumi itu telah sempurna keindahannya dan berhias diri dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti dapat menguasainya (dapat memetik hasilnya), tiba-tiba datanglah kepadanya adzab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit,seakan-akan belumpernah tumbuh sejak kemaren. Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat (kami) kepada orang-orang yang suka berfikir
(QS. 10 Yunus :24)
Jelaslah menurut ayat di atas bahwa dunia ini dan kehidupannya adalah sementara saja, subur menggiurkan tetapi setelah sampai batas waktunya, dunia ini sirna fana.
Alloh Subhanahu wa Ta’ala memberikan bimbingan dan petunjuk kepada nabi Daud a.s. untuk melaksanakan akhlaq yang terpuji.
1. Mengucapkan kata-kata yang lemah lembut, manis, tenang dan memberi manfaat kepada manusia dapat membangkitkan rasa kasih sayang dan kemanusiaan yang tinggi, jangan kasar, sembrono atau sombong. Kalimat yang baik itu bagaikan pohon yang subur, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit, dan buahnya subur setiap musim.
Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri bersabda mengenai kata-kata yang baik:
“Jagalah dirimu dari api neraka, meskipun hanya dengan seiris kurma. Apabila seiris kurma itu pun tidak dimilikinya, hendaklah berbicara dengan baik.”
Seorang laki-laki berkata kepada Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam :
“Ceritakanlah kepadaku sesuatau yang memastikan aku masuk surga”. Lalu Nabi saw. menerangkannya:”Yang memastikan masuk surga ialah : memberiakn makanan, menyebarkan salam dan berbicara dengan baik.”
Menurut riwayat lain:
“Berilah makanan, sebarkanlah salam, berbicara dengan baik, lakukanlah sholat malam di saat orang-orang sedang tidur nyenyak, niscaya engaku dapat masuk surga dengan sejahtera.”
Berlaku sederhana dalam hal berpakaian, tidak perlu pakaian yang mahal-mahal, yang mewah-mewah, yang terlalu indah kelihatannya, tidak perlu juga banyak-banyak (melebihi kadar keperluannya).
Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu. pernah ditanya : “Apakah pakaian yang baik untuk dipakai ?’ Beliau menerangkan : “Yaitu pakaian yang kiranya tidak dicemoohkan oleh orang yang budi pekertinya rendah dan tidak pula kiranya dicela oleh orang-orang yang bijaksana”. Orang itu bertanya lagi : “Jadi yang bagaimana?” Jawabnya: “Yaitu sedang saja, terlalu murah pun tidak terlalu mahal pun tidak”.
Tsauban pernah bertanya kepada Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Apakah yang memadai bagiku dalam kehidupan di dunia ini, ya Rosululloh?” Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab : “Sesuatu yang dapat menghilangkan rasa laparmu, menutup auratmu, mempunyai rumah tempat berteduh, dan memiliki kendaraan akan lebih baik lagi.”
Tidak menyalah gunakan kehidupan dunia sehingga menyimpang dari garis yang telah ditetapkan. Prestasi yang dicapai di dunia tidak akan identik dengan pahala yang akan diperoleh dialam akhirat, apabila prestasi itu di salah gunakan dan tidak ikhlas karena Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Apabila seseorang memperoleh kemasyhuran dunia atas dasar riya, ingin disanjung, untuk bermegah-megah, maka kelak di akhirat tidak akan diperolehnya lagi, bahkan sebaliknya, siksa akan menimpa.
Alangkah baiknya apabila kita dapat memperoleh kedua-duanya baik prestasi di dunia ataupun di akhirat. Caranya, yaitu dengan bersungguh-sungguh berusaha memperolehnya dan menggunakannya dengan beramal shalaih, ikhlas dan penuh taqwa kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala.
Ya Robbana, jadikanlah kehidupan dunia kami bermanfaat bagi kami di saat menghadap kepada-Mu kelak di yaumil akhir.
Dinukil dari kitab hadits qudsi pola pembinaan akhlaq muslim ( K.H.M Ali Usman, H.A.A.Dahlan, Prof. DR. H.M.D. Dahlan)

Selasa, 28 September 2010

Kisah : Bukti Sulitnya Melepas Cinta Dunia Walau Ditukar Surga

Di Kota suci Madinah, saat Rasul masih hidup, tersebutlah seorang pria miskin yang sedang melintas di sebuah kebun kurma. Hari itu di merasa lapar dan tidak harta yang dimiliki untuk sekadar membeli makanan. Saat dia berjalan dan melamun di kebun kurma itu tanpa sengaja dia tertubruk dengan jumputan buah kurma yang menjuntai hampir menyentuh tanah. Pria itupun khilaf dan tak kuasa menahan diri memetik dan memakannya.
Saat itu juga kesialan menimpa dirinnya. Perbuatannya itu diketahui pemilik kebun yang segera menghardiknya dan mengacungkan parang. Kesialan itu semakin bertambah karena ternyata pemilik kebun kurma itu sangat kikir. “Aku akan bawa kamu dan adukan kamu kepada Rasulullah. Biar tanganmu dipotong”. Pria miskin itu tidak bisa berbuat banyak karena merasa bersalah. “Tapi apakan tanganku akan dipotong hanya karena sebuah kurma?”. Ia membatin seraya pasrah digiring oleh sang pemilik kebun.
“Ya Rasul potong tangan orang ini. Ia telah mencuri di kebunku!”. Pemilik kebun itu berkata pada Rasulullah seraya menenteng pria miskin di sebelah tangannya. “Apa yang kau curi, wahai saudaraku?” Rasul Saw bertanya dengan penuh kesabaran. ” Maafkan aku yaa Rasulullah. Aku telah mencuri sebutir kurma dari kebun bapak ini. AkuKhilaf, ya Rasul. ..Aku lapar”. Pemuda itu mengiba.
Rasul Saw menghela nafas sejenak. Kali in pandangannya ditujukan kepada sang pemilik kebun. “Hmm…rupanya hanya sebutir kurma. Mengapa tidak kau infakkan saja kepadanya sehingga engkau mendapatkan kebaikan dan pahala yang berlipat?.” Rasul bertanya dan menunggu jawaban dari sang pemilik kebun.”Tidak yaa Rasulullah. Orang ini harus diberi pelajaran. Kalai dibiarkan nanti menjadi kebiasaan. Aku tidak mau menginfakkan kurma itu. Aku memilih agar orang ini dipotong tangannya saja!”. Ia menyergah.
“Infakkan wahai saudaraku…!” Atau maukan kau aku tawarkan yang lebih hebat lagi..?infakkan pohon kurma yang lebat itu, dan engkau akan mendapat surga karenanya..”. Rasul menerbitkan senyum dari sudut bibirnya tanda optimistis menunggu respon dari sang pemilik kebun.
Sang pemilik kebun menerawang sesaat. Kepalanya diangkat ke arah langit. Ia menimbang-nimbang kebenaran janji yang baru saja disebutkan Rasulullah untuknya. Terakhir iapun menghelakan nafas sambil berujar,” Surga ya Rasulullah?!. Apakah sedemikian remeh kau tawarkan surga hanya dengan sebatang kurma?. Tidak…Aku tidak menginginkannya!” Bantah pemikik kebun itu tak percaya.
Rasul Saw tersentak, tak terbayang olehnya kekikiran yang dimiliki oleh salah seorang umatnya. Namun Allah SWT tidak akan membiarkan hati rasul berubah sedih. Lalu terdengar tutur seorang pria yang juga turut hadir dalam kesempatan itu.”Wahai pemilik kebun, apabila engkau tidak mau meneriwa tawaran Rasulullah mengapa tidak engkau jual saja padaku?:
Rasulullah dan pemilik kebun itu tertegun. Pada saat bersamaan keduanya menoleh pada sumber suara. Pemilik kebun itu berkata padanya,” Aku tidak akan menjual pohon kurma itu dengan harga yang murah, wahai saudaraku?’. Kesombongan itu terdengar dalam nada suaranya. “Berapa yang kau minta demi pohon kurma itu?”. Sumber suara menunjukkan keseriusannya.”Aku akan tukar pohon kurma lebatku itu dengan 40 batang pohon kura. Ayo! Bagaimana? Apakah kamu mau membelinya?”
Harga yang amat hebat dan fantastis dan tidak masuk akan. Sebuah harga yang muncul dari sifat kekikiran yang membawa pada ketamakan. Namun kenikmatan surga tidaklah sebanding dengan mahalnya dunia. Pria itu lalu membalas,” Baik, aku akan membeli pohon kurma itu dengan 40 batang kurma yang aku miliki. Bahkan, jika engaku meminta lebih dari itu, aku pun akan membelinya demi mendapatkan surga di akhirat nanti”
Akhirnya dijuallah pohon itu dengan 40 batang pohon kurma lainya. Kemudian pembeli pohon tadi mengikhlaskan kurma yang telah dimakan oleh pria miskin tadi sebagai infak. Sementara si pemilik kebun pelit telah mendapatkan keuntungan dunia yang berkali lipat. Namun karena kekikirannya, ia telah menyia-nyiakan ajakan Rasulullah demi mendapatkan surga di sisi Allah Ta’ala
Kejadian ini kemudian menyebabkan turunnya (asbabun nuzul) beberapa surat Al-Lail
فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى (٥)وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى (٦)فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى (٧)وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى (٨)وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى (٩)فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى (١٠)وَمَا يُغْنِي عَنْهُ مَالُهُ إِذَا تَرَدَّى (١١
Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan Adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup Serta mendustakan pahala terbaik, Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa. (QS. Al Lail (92): 5-11
Dengan menyimak kisah ini, kita dapat membuktikan bahwa betapa susahnya untuk melepaskan diri dari kecintaan terhadap dunia. Lihatlah…saat itu yang menawarkan surga adalah Rasulullah langsung. Dan karena harta yang berlimpah dan sangat dicintai, maka kesempatan langkah untuk mendapatkan surga yang tak terkira dan kekal pun dilepaskan. Apalagi di jaman sekarang..Rasulullah telah meninggalkan kita…Dunia semakin penuh kesemrawutan dalam memperebutkan dunia.
Semoga tulisan saya ini bermanfaat dan memberikan kita pelajaran….termasuk saya yang sedang mencari dan mencari sebuah arti kebenaran Islam
Wassalam

Senin, 27 September 2010

Kisah Nabi Khidir



Sikap Kepatuhan
Nabi Khidir ditugaskan membimbing Nabi Musa yang hidup dizamannya, sebagaimana kita sekarang wajib menyampaikan dakwah kepada orang lain disekeliling kita. Beliau tidak dikurniakan Mukjizat seperti Nabi Musa sebaliknya diajarkan ilmu secara Laduni. Hal ini turut dimiliki Para Wali Allah dan Alim Ulama yang dianugerahkan Allah Ilmu Makrifat serta Kasyaf. Golongan ini selalu berhati-hati untuk tidak membusungkan dada dengan Ilmu yang mereka miliki. Sifat Warak dan merendah diri pada beliau inilah yang diamalkan oleh para Wali Allah seperti Syekh Abdul Qadir Jailani yang namanya senantiasa disebut-sebut sampai hari ini walaupun telah wafat ribuan tahun yang lampau.
Salah satu kisah Al-Qur’an yang sangat mengagumkan dan dipenuhi dengan misteri, kisah seorang hamba yang Allah SWT memberinya rahmat dari sisi-Nya dan mengajarinya ilmu. Yang mana kisah tersebut terdapat dalam surah al-Kahfi di mana ayat-ayatnya dimulai dengan cerita Nabi Musa, yaitu:
“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: ‘Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan-jalan sampai bertahun-tahun.” (QS. al-Kahfi: 60)

Kalimat yang samar menunjukkan bahwa Musa telah bertekad untuk meneruskan perjalanan selama waktu yang cukup lama kecuali jika beliau mampu mencapai majma’ al-Bahrain (pertemuan dua buah lautan). Seandainya tempat itu harus disebutkan niscaya Allah SWT akan rnenyebutkannya. Namun Al-Qur’an al-Karim sengaja menyembunyikan tempat itu, sebagaimana Al-Qur’an tidak menyebutkan kapan itu terjadi. Begitu juga, Al-Qur’an tidak menyebutkan nama-nama orang-orang yang terdapat dalam kisah itu karena adanya hikmah yang tinggi yang kita tidak mengetahuinya. Kisah tersebut berhubungan dengan suatu ilmu yang tidak kita miliki, karena biasanya ilmu yang kita kuasai berkaitan dengan sebab-sebab tertentu. Dan tidak juga ia berkaitan dengan ilmu para nabi karena biasanya ilmu para nabi berdasarkan wahyu. Kita sekarang berhadapan dengan suatu ilmu dari suatu hakikat yang samar; ilmu yang berkaitan dengan takdir yang sangat tinggi; ilmu yang dipenuhi dengan rangkaian tabir yang tebal. Di samping itu, bahkan Al-Qur’an sengaja menyembunyikan pahlawan dari kisah ini.
Allah SWT mengisyaratkan hal tersebut dalam firman-Nya:
“Seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.”(QS. al-Kahfi: 65)
Al-Qur’an al-Karim tidak menyebutkan siapa nama hamba yang dimaksud, yaitu seorang hamba yang dicari oleh Musa AS agar ia dapat belajar darinya. Nabi Musa adalah seorang yang diajak bebicara langsung oleh Allah SWT dan ia salah seorang ulul azmi dari para rasul. Beliau adalah pemilik mukjizat tongkat dan tangan yang bercahaya dan seorang Nabi yang Taurat diturunkan kepadanya tanpa melalui perantara. Namun dalam kisah ini, beliau menjadi seorang pencari ilmu yang sederhana yang harus belajar kepada gurunya dan menahan penderitaan di tengah-tengah belajarnya itu yang didalam hadis yang suci disebutkan bahwa ia adalah Khidir as. Musa berjalan bersama hamba yang menerima ilmunya dari Allah SWT tanpa sebab-sebab penerimaan ilmu yang biasa kita ketahui. Mula-mula Khidir menolak ditemani oleh Musa. Khidir memberitahu Musa bahwa ia tidak akan mampu bersabar bersamanya. Akhirnya, Khidir mau ditemani oleh Musa tapi dengan syarat, hendaklah ia tidak bertanya tentang apa yang dilakukan Khidir sehingga Khidir menceritakan kepadanya. Khidir merupakan simbol ketenangan dan diam; ia tidak berbicara dan gerak-geriknya menimbulkan kegelisahan dan kebingungan dalam diri Musa. Sebagian tindakan yang dilakukan oleh Khidir jelas-jelas dianggap sebagai kejahatan di mata Musa; sebagian tindakan Khidir yang lain dianggap Musa sebagai hal yang tidak memiliki arti apa pun; dan tindakan yang lain justru membuat Musa bingung dan membuatnya menentang. Meskipun Musa memiliki ilmu yang tinggi dan kedudukan yang luar biasa namun beliau mendapati dirinya dalam keadaan kebingungan melihat perilaku hamba yang mendapatkan karunia ilmunya dari sisi Allah SWT.
Ilmu Musa yang berlandaskan syariat menjadi bingung ketika menghadapi ilmu hamba ini yang berlandaskan hakikat. Syariat merupakan bagian dari hakikat. Terkadang hakikat menjadi hal yang sangat samar sehingga para nabi pun sulit memahaminya. Kisah ini menunjukam bahwa adanya hamba-hamba Allah SWT yang bukan termasuk nabi dan syuhada namun para nabi dan para syuhada “cemburu” dengan ilmu mereka. Kisah ini di awali pada saat Nabi Musa as berbicara di tengah-tengah Bani Israil. Ia mengajak mereka untuk menyembah Allah SWT dan menceritakan kepada mereka tentang kebenaran. Setelah beliau menyampaikan pembicaraannya, salah seorang Bani Israil bertanya: “Apakah ada di muka bumi seseorang yang lebih alim darimu wahai Nabi Allah?” Dengan nada emosi, Musa menjawab: “Tidak ada.” Allah SWT tidak setuju dengan jawaban Musa. Lalu Allah SWT mengutus Jibril untuk bertanya kepadanya: “Wahai Musa, tidakkah engkau mengetahui di mana Allah SWT meletakkan ilmu-Nya?” Musa mengetahui bahwa ia terburu-buru mengambil suatu keputusan. Jibril kembali berkata kepadanya: “Sesungguhnya Allah SWT mempunyai seorang hamba yang berada di majma’ al-Bahrain yang ia lebih alim daripada kamu.” Musa bertanya bagaimana ia dapat menemui orang alim itu. Kemudian ia mendapatkan perintah untuk pergi dan membawa ikan di keranjang. Ketika ikan itu hidup dan melompat ke lautan maka di tempat itulah Musa akan menemui hamba yang alim. Akhirnya, Musa sampai di tempat di mana ikan itu melompat. Di sanalah mereka mendapatkan seorang lelaki yang dijelaskan oleh Al-Qur’an:
“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba -hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahrnat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. “
Inilah aspek yang penting dalam kisah itu. Kisah itu terfokus pada sesuatu yang ada di dalam jiwa, bukan tertuju pada hal-hal yang bersifat fisik atau lahiriah. Allah SWT berfirman:
“Maka tatkala mereka berjalan sampai ke pertemuan dua buah laut itu, maka mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu. Tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: ‘Bawalah kemari makanan kita; sesungguhnya kita merasa letih karena perjalanan hita ini.’ Muridnya menjawab: ‘Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali setan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.’ Musa berkata: ‘Itulah (tempat) yang kita cari; lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. “(QS. al-Kahfi: 61-65)
Firman Allah SWT dalam surah al-Kahfi:
“Musa berkata kepadanya: ‘Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu ?’ Dia menjawab: ‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?’ Musa berkata: ‘Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun.’ Dia berkata: ‘Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.’” (QS. al-Kahfi: 66-70)
Allah SWT berfirman:
“Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidir melobanginya. Musa berkata: ‘Mengapa kamu melobangi perahu itu yang akibatnya hamu menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.’ Dia (Khidir) berkata: ‘Bukankah aku telah berkata: ‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku.’ Musa berkata: ‘Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku.’ Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidir membunuhnya. Musa berkata: ‘Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih itu, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar.’ Khidir berkata: ‘Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan sabar bersamaku?’ Musa berkata: ‘Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah engkau memperbolehkan aku menyertairnu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur kepadaku.’ Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidir menegakkan dinding itu. Musa berkata: ‘Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.’ Khidir berkata: ‘Inilah perpisahan antara aku dengan kamu. Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin dan kami khawatir bahwa dia ahan mendorong orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki supaya Tuhan mereha mengganti bagi mereka dengan anak yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam dari hasih sayangnya (kepada ibu dan bapaknya). Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya seseorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakuhannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.’” (QS. al-Kahfi: 71-82)
Hamba saleh itu menyingkapkan dua hal pada Musa: ia memberitahunya bahwa ilmunya, yakni ilmu Musa sangat terbatas, kemudian ia memberitahunya bahwa banyak dari musibah yang terjadi di bumi justru di balik itu terdapat rahmat yang besar.
Demikianlah bahwa nikmat terkadang membawa sesuatu bencana dan sebaliknya, suatu bencana terkadang membawa nikmat. Banyak hal yang lahirnya baik temyata justru di balik itu terdapat keburukan. Mula-mula Nabi Allah SWT Musa menentang dan mempersoalkan tindakan hamba Allah SWT tersebut, kemudian ia menjadi mengerti ketika hamba Allah SWT itu menyingkapkan kepadanya maksud dari tindakannya dan rahmat Allah SWT yang besar yang tersembunyi dari peristiwa-peristiwa yang terjadi.
(dari berbagai sumber)
Kesimpulan :
1. Suatu ilmu yang dijalankan oleh para ahli Sufi tidak semuanya harus dipertanyakan karena sudah mengandung hakikat bukan lagi syari’at.
2. Kepatuhan dan kesabaran adalah kunci dari Ilmu hakikat, karena dari kepatuhan dan kesabaran itulah ke-Ikhlasan akan muncul tanpa disadari.

7 Langit & 7 Malaikat Penjaga



Kisah Sahabat Nabi Telah diceritakan oleh Ibnu al-Mubarak tentang seorang laki-laki yang bernama Khalid bin Ma’dan, dimana ia pernah bertanya kepada Mu’adz bin Jabal ra., salah seorang sahabat Nabi Muhammad saw.

“Wahai Mu’adz! Ceritakanlah kepadaku suatu hadits yang telah engkau dengar langsung dari Rasulullah saw., suatu hadits yang engkau hafal dan selalu engkau ingat setiap harinya disebabkan oleh sangat kerasnya hadits tersebut, sangat halus dan mendalamnya hadits tersebut. Hadits yang manakah yang menurut engkau yang paling penting?”

Kemudian, Khalid bin Ma’dan menggambarkan keadaan Mu’adz sesaat setelah ia mendengar permintaan tersebut, “Mu’adz tiba-tiba saja menangis sedemikian rupa sehingga aku menduga bahwa beliau tidak akan pernah berhenti dari menangisnya. Kemudian, setelah beliau berhenti dari menangis, berkatalah Mu’adz: Baiklah aku akan menceritakannya, aduh betapa rinduku kepada Rasulullah, ingin rasanya aku segera bersua dengan beliau”

Selanjutnya Mu’adz bin Jabal ra. mengisahkan sebagai berikut, “Ketika aku mendatangi Rasulullah saw., beliau sedang menunggangi unta dan beliau menyuruhku untuk naik di belakang beliau. Maka berangkatlah aku bersama beliau dengan mengendarai unta tersebut. Sesaat kemudian beliau menengadahkan wajahnya ke langit, kemudian bersabdalah Rasulullah saw.:”

“Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah yang memberikan ketentuan (qadha) atas segenap makhluk-Nya menurut kehendak-Nya, ya Mu’adz!”. Aku menjawab, “Labbaik yaa Sayyidal Mursaliin”.

“Wahai Mu’adz! Sekarang akan aku beritakan kepadamu suatu hadits yang jika engkau mengingat dan tetap menjaganya maka (hadits) ini akan memberi manfaat kepadamu di hadhirat Allah, dan jika engkau melalaikan dan tidak menjaga (hadits) ini maka kelak di Hari Qiyamah hujjahmu akan terputus di hadhirat Allah Ta’ala!”

“Wahai Mu’adz! Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala telah menciptakan tujuh Malaikat sebelum Dia menciptakan tujuh lelangit dan bumi. Pada setiap langit tersebut ada satu Malaikat yang menjaga khazanah, dan setiap pintu dari pintu-pintu lelangit tersebut dijaga oleh seorang Malaikat penjaga, sesuai dengan kadar dan keagungan (jalaalah) pintu tersebut.

Maka naiklah al-Hafadzah (malaikat-malaikat penjaga insan) dengan membawa amal perbuatan seorang hamba yang telah ia lakukan semenjak subuh hari hingga petang hari. Amal perbuatan tersebut tampak bersinar dan menyala-nyala bagaikan sinar matahari, sehingga ketika al-Hafadzah membawa naik amal perbuatan tersebut hingga ke Langit Dunia mereka melipat gandakan dan mensucikan amal tersebut. Dan ketika mereka sampai di pintu Langit Pertama, berkatalah Malaikat penjaga pintu kepada al-Hafadzah: “Pukulkanlah amal perbuatan ini ke wajah pemiliknya! Akulah ‘Shaahibul Ghiibah’, yang mengawasi perbuatan ghiibah (menggunjing orang), aku telah diperintah oleh Rabb-ku untuk tidak membiarkan amal ini melewatiku untuk menuju ke langit yang berikutnya!”

Kemudian naiklah pula al-Hafadzah yang lain dengan membawa amal shalih diantara amal-amal perbuatan seorang hamba. Amal shalih itu bersinar sehingga mereka melipat-gandakan dan mensucikannya. Sehingga ketika amal tersebut sampai di pintu Langit Kedua, berkatalah Malaikat penjaga pintu kepada al-Hafadzah: “Berhentilah kalian! Pukulkanlah amal perbuatan ini ke wajah pemiliknya, karena ia dengan amalannya ini hanyalah menghendaki kemanfaatan duniawi belaka! Akulah ‘Malakal Fakhr’, malaikat pengawas kemegahan, aku telah diperintah Rabb-ku untuk tidak membiarkan amal perbuatan ini melewatiku menuju ke langit berikutnya, sesungguhnya orang tersebut senantiasa memegahkan dirinya terhadap manusia sesamanya di lingkungan mereka!”. Maka seluruh malaikat mela’nat orang tersebut hingga petang hari.

Dan naiklah al-Hafadzah dengan membawa amal seorang hamba yang lain. Amal tersebut demikian memuaskan dan memancarkan cahaya yang jernih, berupa amal-amal shadaqah, shalat, shaum, dan berbagai amal bakti (al-birr) yang lainnya. Kecemerlangan amal tersebut telah membuat al-Hafadzah takjub melihatnya, mereka pun melipat-gandakan amal tersebut dan mensucikannya, mereka diizinkan untuk membawanya. Hingga sampailah mereka di pintu Langit Ketiga, maka berkatalah Malaikat penjaga pintu kepada al-Hafadzah: “Berhentilah kalian! Pukulkanlah amal ini ke wajah pemiliknya! Akulah ‘Shaahibil Kibr’, malaikat pengawas kesombongan, aku telah diperintah oleh Rabb-ku untuk tidak membiarkan amal perbuatan seperti ini lewat dihadapanku menuju ke langit berikutnya! Sesungguhnya pemilik amal ini telah berbuat takabbur di hadapan manusia di lingkungan (majelis) mereka!”

Kemudian naiklah al-Hafadzah yang lainnya dengan membawa amal seorang hamba yang sedemikian cemerlang dan terang benderang bagaikan bintang-bintang yang gemerlapan, bagaikan kaukab yang diterpa cahaya. Kegemerlapan amal tersebut berasal dari tasbih, shalat, shaum, haji dan umrah. Diangkatlah amalan tersebut hingga ke pintu Langit Keempat, dan berkatalah Malaikat penjaga pintu langit kepada al-Hafadzah: “Berhentilah kalian! Pukulkanlah amal ini ke wajah, punggung, dan perut dari si pemiliknya! Akulah ‘Shaahibul Ujbi’, malaikat pengawas ‘ujub (mentakjubi diri sendiri), aku telah diperintah oleh Rabb-ku untuk tidak membiarkan amalan seperti ini melewatiku menuju ke langit berikutnya! Sesungguhnya si pemilik amal ini jika mengerjakan suatu amal perbuatan maka terdapat ‘ujub (takjub diri) didalamnya!”

Kemudian naiklah al-Hafadzah dengan membawa amal seorang hamba hingga mencapai ke Langit Kelima, amalan tersebut bagaikan pengantin putri yang sedang diiring diboyong menuju ke suaminya. Begitu sampai ke pintu Langit Kelima, amalan yang demikian baik berupa jihad, haji dan umrah yang cahayanya menyala-nyala bagaikan sinar matahari. Maka berkatalah malaikat penjaga pintu kepada al-Hafadzah: “Berhentilah kalian! Pukulkanlah amal perbuatan ini ke wajah pemiliknya dan pikulkanlah pada pundaknya! Akulah ‘Shaahibul Hasad’, malaikat pengawas hasad (dengki), sesungguhnya pemilik amal ini senantiasa menaruh rasa dengki (hasad) dan iri hati terhadap sesama yang sedang menuntut ilmu, dan terhadap sesama yang sedang beramal yang serupa dengan amalannya, dan ia pun juga senantiasa hasad kepada siapapun yang berhasil meraih fadhilah-fadhilah tertentu dari suatu ibadah dengan berusaha mencari-cari kesalahannya! Aku telah diperintah oleh Rabb-ku untuk tidak membiarkan amalan seperti ini melewatiku untuk menuju ke langit berikutnya!”

Kemudian naiklah al-Hafadzah dengan membawa amal perbuatan seorang hamba yang memancarkan cahaya yang terang benderang seperti cahaya matahari, yang berasal dari amalan menyempurnakan wudhu, shalat yang banyak, zakat, haji, umrah, jihad, dan shaum. Amal perbuatan ini mereka angkat hingga mencapai pintu Langit Keenam. Maka berkatalah malaikat penjaga pintu ini kepada al-Hafadzah: “Berhentilah kalian! Pukulkanlah amal perbuatan ini ke wajah pemiliknya, sesungguhnya sedikitpun ia tidak berbelas kasih kepada hamba-hamba Allah yang sedang ditimpa musibah (balaa’) atau ditimpa sakit, bahkan ia merasa senang dengan hal tersebut! Akulah ‘Shaahibur-Rahmah’, malaikat pengawas sifat rahmah (kasih sayang), aku telah diperintahkan Rabb-ku untuk tidak membiarkan amal perbuatan seperti ini melewatiku menuju ke langit berikutnya!”

Dan naiklah al-Hafadzah dengan membawa amal perbuatan seorang hamba yang lain, amal-amal berupa shaum, shalat, nafaqah, jihad, dan wara’ (memelihara diri dari perkara-perkara yang haram dan subhat/meragukan). Amalan tersebut mendengung seperti dengungan suara lebah, dan bersinar seperti sinar matahari. Dengan diiringi oleh tiga ribu malaikat, diangkatlah amalan tersebut hingga mencapai pintu Langit Ketujuh. Maka berkatalah malaikat penjaga pintu kepada al-Hafadzah: “Berhentilah kalian! Pukulkanlah amalan ini ke wajah pemiliknya, pukullah anggota badannya dan siksalah hatinya dengan amal perbuatannya ini! Akulah ‘Shaahibudz-Dzikr’, malaikat pengawas perbuatan mencari nama-diri (ingin disebut-sebut namanya), yakni sum’ah (ingin termashur). Akulah yang akan menghijab dari Rabb-ku segala amal perbuatan yang dikerjakan tidak demi mengharap Wajah Rabb-ku! Sesungguhnya orang itu dengan amal perbuatannya ini lebih mengharapkan yang selain Allah Ta’ala, ia dengan amalannya ini lebih mengharapkan ketinggian posisi (status) di kalangan para fuqaha (para ahli), lebih mengharapkan penyebutan-penyebutan (pujian-pujian) di kalangan para ulama, dan lebih mengharapkan nama baik di masyarakat umum! Aku telah diperintah oleh Rabb-ku untuk tidak membiarkan amalan seperti ini lewat dihadapanku! Setiap amal perbuatan yang tidak dilakukan dengan ikhlash karena Allah Ta’ala adalah suatu perbuatan riya’, dan Allah tidak akan menerima segala amal perbuatan orang yang riya’!”

Kemudian naiklah al-Hafadzah dengan membawa amal perbuatan seorang hamba berupa shalat, zakat, shaum, haji, umrah, berakhlak baik, diam, dan dzikrullah Ta’ala. Seluruh malaikat langit yang tujuh mengumandang-kumandangkan pujian atas amal perbuatan tersebut, dan diangkatlah amalan tersebut dengan melampaui seluruh hijab menuju ke hadhirat Allah Ta’ala. Hingga sampailah dihadhirat-Nya, dan para malaikat memberi kesaksian kepada-Nya bahwa ini merupakan amal shalih yang dikerjakan secara ikhlash karena Allah Ta’ala.

Maka berkatalah Allah Ta’ala kepada al-Hafadzah, “Kalian adalah para penjaga atas segala amal perbuatan hamba-Ku, sedangkan Aku adalah Ar-Raqiib, Yang Maha Mengawasi atas segenap lapisan hati sanubarinya! Sesungguhnya ia dengan amalannya ini tidaklah menginginkan Aku dan tidaklah mengikhlashkannya untuk-Ku! Amal perbuatan ini ia kerjakan semata-mata demi mengharap sesuatu yang selain Aku! Aku yang lebih mengetahui ihwal apa yang diharapkan dengan amalannya ini! Maka baginya laknat-Ku, karena ini telah menipu orang lain dan telah menipu kalian, tapi tidakklah ini dapat menipu Aku! Akulah Yang Maha Mengetahui perkara-perkara yang ghaib, Maha Melihat segala apa yang ada di dalam hati, tidak akan samar bagi-Ku setiap apa pun yang tersamar, tidak akan tersembunyi bagi-Ku setiap apa pun yang bersembunyi! Pengetahuan-Ku atas segala apa yang akan terjadi adalah sama dengan Pengetahuan-Ku atas segala yang baqa (kekal), Pengetahuan-Ku tentang yang awal adalah sama dengan Pengetahuan-Ku tentang yang akhir! Aku lebih mengetahui perkara-perkara yang rahasia dan lebih halus, maka bagaimana Aku dapat tertipu oleh hamba-Ku dengan ilmunya? Bisa saja ia menipu segenap makhluk-Ku yang tidak mengetahui, tetapi Aku Maha Mengetahui Yang Ghaib, maka baginya laknat-Ku!”

Maka berkatalah malaikat yang tujuh dan 3000 malaikat yang mengiringi, “Yaa Rabbana, tetaplah laknat-Mu baginya dan laknat kami semua atasnya!”, maka langit yang tujuh beserta seluruh penghuninya menjatuhkan la’nat kepadanya.

Setelah mendengar semua itu dari lisan Rasulullah saw. maka menagislah Mu’adz dengan terisak-isak, dan berkata, “Wahai Rasulullah! Engkau adalah utusan Allah sedangkan aku hanyalah seorang Mu’adz, bagaimana aku dapat selamat dan terhindar dari apa yang telah engkau sampaikan ini?”

Berkatalah Rasulullah saw., “Wahai Mu’adz! Ikutilah Nabi-mu ini dalam soal keyakinan sekalipun dalam amal perbuatanmu terdapat kekurangan. Wahai Mu’adz! Jagalah lisanmu dari kebinasaan dengan meng-ghiibah manusia dan meng-ghiibah saudara-saudaramu para pemikul Al-Qur’aan. Tahanlah dirimu dari keinginan menjatuhkan manusia dengan apa-apa yang kamu ketahui ihwal aibnya! Janganlah engkau mensucikan dirimu dengan jalan menjelek-jelekan saudara-saudaramu! Janganlah engkau meninggikan dirimu dengan cara merendahkan saudara-saudaramu! Pikullah sendiri aib-aibmu dan jangan engkau bebankan kepada orang lain”

“Wahai Mu’adz! Janganlah engkau masuk kedalam perkara duniamu dengan mengorbankan urusan akhiratmu! Janganlah berbuat riya’ dengan amal-amalmu agar diketahui oleh orang lain dan janganlah engkau bersikap takabbur di majelismu sehingga manusia takut dengan sikap burukmu!”

“Janganlah engkau berbisik-bisik dengan seseorang sementara di hadapanmu ada orang lain! Janganlah engkau mengagung-agungkan dirimu dihadapan manusia, karena akibatnya engkau akan terputus dari kebaikan dunia dan akhirat! Janganlah engkau berkata kasar di majelismu dan janganlah engkau merobek-robek manusia dengan lisanmu, sebab akibatnya di Hari Qiyamah kelak tubuhmu akan dirobek-robek oleh anjing-anjing neraka Jahannam!”

“Wahai Mu’adz! Apakah engkau memahami makna Firman Allah Ta’ala: ‘Wa naasyithaati nasythan!’ (‘Demi yang mencabut/menguraikan dengan sehalus-halusnya!’, An-Naazi’aat [79]:2)? Aku berkata, “Demi bapakku, engkau, dan ibuku! Apakah itu wahai Rasulullah?”

Rasulullah saw. bersabda, “Anjing-anjing di dalam Neraka yang mengunyah-ngunyah daging manusia hingga terlepas dari tulangnya!”

Aku berkata, “Demi bapakku, engkau, dan ibuku! Ya Rasulullah, siapakah manusia yang bisa memenuhi seruanmu ini sehingga terhindar dari kebinasaan?”

Rasulullah saw. menjawab, “Wahai Mu’adz, sesungguhnya hal demikian itu sangat mudah bagi siapa saja yang diberi kemudahan oleh Allah Ta’ala! Dan untuk memenuhi hal tersebut, maka cukuplah engkau senantiasa berharap agar orang lain dapat meraih sesuatu yang engkau sendiri mendambakan untuk dapat meraihnya bagi dirimu, dan membenci orang lain ditimpa oleh sesuatu sebagaimana engkau benci jika hal itu menimpa dirimu sendiri! Maka dengan ini wahai Mu’adz engkau akan selamat, dan pasti dirimu akan terhindar!”

Khalid bin Ma’dan berkata, “Sayyidina Mu’adz bin Jabal ra. sangat sering membaca hadits ini sebagaimana seringnya beliau membaca Al-Qur’aan, dan sering mempelajari hadits ini sebagaimana seringnya beliau mempelajari Al-Qur’aan di dalam majelisnya”.

Cari Blog Ini