Asysyam

“Sesungguhnya berbahagialah orang yang mensuciikan jiwanya, dan sungguh merugilah orang yang mengotori jiwanya”
Tampilkan postingan dengan label Gerbang sufi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gerbang sufi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Maret 2012

HIKAYAT- HIKAYAT MISTIS


Bunglon dan Kelelawar   

Suatu kali pernah timbul pertentangan antara beberapa ekor kelelawar dan seekor bunglon.
Perkelahian antara mereka sudah sedemikian sengitnya, sehingga pertentangan itu sudah melampaui batas.
Para kelelawar setuju bahwa jika saat petang menjelang malam telah menyebar melalui ceruk lingkaran langit, dan matahari telah turun di hadapan bintang-bintang menuju lingkup terbenamnya matahari, mereka akan bersama-sama menyerang si bunglon dan, setelah menjadikannya tawanan mereka, menghukumnya sesuka hati dan melampiaskan dendam. Ketika saat yang dinantikan tiba, mereka menyerang dengan tiba-tiba, dan semuanya bersama-sama menyeret bunglon yang malang dan tak berdaya itu ke dalam sarang mereka. Dan malam itu mereka memenjarakannya.   Ketika fajar tiba, mereka bertanya-tanya apakah sebaiknya bunglon itu disiksa saja. Mereka semua setuju bahwa dia harus dibunuh, tetapi mereka masih merencanakan bagaimana cara terbaik untuk melaksanakan pembunuhan itu. Akhirnya mereka memutuskan bahwa siksaan yang paling menyakitkan adalah dihadapkan pada matahari. Tentu saja, mereka sendiri tahu bahwa tidak ada siksaan yang lebih menyakitkan, selain berada dekat dengan matahari; dan, dengan membuat analogi dengan keadaan mereka sendiri, mereka mengancam supaya dia memandang matahari. Bunglon itu, sudah pasti, tidak mengharapkan yang lebih baik lagi. 'Penghukuman' semacam itu persis seperti yang diinginkannya, sebagaimana dikatakan oleh Husayn Manshur,   Bunuhlah aku, kawan-kawanku, sebab dengan terbunuhnya diriku, aku akan hidup. Hidupku ada dalam kematianku, dan kematianku ada dalam hidupku. (keterangan: baris-baris ini terdapat dalam Al-Hallaj, 14.1)   Maka ketika matahari terbit, mereka membawanya keluar dari rumah mereka yang menyedihkan agar dia tersiksa oleh cahaya matahari, siksaan yang sesungguhnya merupakan jalan keselamatan baginya.  

Janganlah kamu mengira orang-orang yang gugur dalam peperangan di jalan Allah itu mati. Tidak! Bahkan mereka hidup. Mereka mendapat rizki dan Tuhannya. (QS 3:169)  

Kalau saja para kelelawar itu tahu betapa murah hati tindakan mereka terhadap bunglon itu, dan betapa mereka telah berbuat keliru, karena mereka justru memberinya kesenangan, mereka pasti akan mati sedih.

Bu-Sulayman Darani berkata, "Jika orang-orang yang lalai itu tahu betapa mereka telah mengabaikan kesenangan orang-orang yang sadar, mereka pasti akan mati karena kecewa." (dikutip dalam bahasa Persia 'Aththar, Tadzkirah, hal. 282).


Burung Hoopoe dan Burung Hantu

 Suatu kali ketika sedang terbang, burung hoopoe tiba di lingkungan beberapa burung hantu, lalu mampir di sarang mereka. Nah, sebagaimana yang dikenal baik oleh masyarakat Arab, burung hoopoe termasyhur karena ketajaman matanya, sementara burung-burung hantu itu pada siang hari buta. Burung hoopoe melewatkan malam itu bersama burung-burung hantu di dalam sarang mereka, dan mereka menanyainya tentang segala macam hal. Pada waktu fajar, ketika burung hoopoe berkemas dan siap untuk pergi, burung-burung hantu itu berkata, 'Kawanku yang malang! Sungguh aneh, apa yang akan kamu lakukan ini? Bisakah kita bepergian pada siang hari?'   'Ini mengherankan,' kata si hoopoe, 'Semua pekerjaan berlangsung pada siang hari.'   'Apakah kamu gila?' burung-burung hantu itu bertanya. 'Pada siang hari, dengan ketidakjelasan yang disebarkan matahari atas kegelapan malam, bagaimana kita bisa melihat?'   'Justru sebaliknya,' kata si hoopoe, 'Semua cahaya di dunia ini tergantung pada cahaya matahari, dan darinyalah segala sesuatu yang bersinar itu mendapatkan cahayanya. Sesungguhnya ia dinamakan "mata dari hari," sebab ia merupakan sumber cahaya.'   Tetapi burung-burung hantu itu mengira dapat mengalahkan logika si hoopoe dengan menanyakan mengapa tak seorang pun dapat melihat pada siang hari.   'Janganlah beranggapan bahwa lewat analogi dengan diri kalian sendiri setiap orang itu seperti kalian. Semua yang lain dapat melihat pada siang hari. Lihatlah aku. Aku dapat melihat, aku berada di dunia yang dapat dilihat, dapat diamati. Ketidakjelasan itu telah hilang, dan aku dapat mengenali permukaan yang cemerlang dengan jalan menyingkapkannya tanpa gangguan keragu-raguan.'   Ketika burung-burung hantu itu mendengar ini, mereka menjadi ribut menjerit-jerit dan, sambil bertengkar satu sama lainnya, mereka berkata, 'Burung ini berbicara tentang kemampuan melihat pada siang hari, ketika kita terserang kebutaan.' Dengan segera mereka menyerang si hoopoe dan melukainya dengan paruh dan cakar mereka. Mereka mengutuknya dengan memanggilnya 'si melek-siang-hari;' sebab kebutaan pada siang hari merupakan kewajaran di kalangan mereka. 'Jika kamu tidak menarik kembali perkataanmu,' mereka berkata, 'kamu akan dibunuh!'   'Jika aku tidak membuat diriku buta,' pikir si hoopoe, 'mereka akan membunuhku. Karena mereka merasakan kesakitan terutama pada mata mereka, kebutaan dan kematian akan terjadi secara serentak.' Dan kemudian, diilhami oleh pepatah, 'Berbicaralah dengan orang-orang sesuai dengan tingkat kecerdasan mereka,' dia menutup matanya dan berkata, 'Lihat! Aku menjadi buta seperti kalian.'   Melihat memang demikianlah halnya, mereka berhenti memukul dan melukai si burung hoopoe, yang menyadari bahwa mengungkap rahasia Ilahi di kalangan orang-orang yang tidak percaya sama saja dengan menyebarkan rahasia kekafiran mereka. Dan karenanya, sampai tiba waktu perpisahan, secara susah payah dia bertahan dengan berpura-pura buta dan berkata:   Berkali-kali aku mengatakan bahwa aku akan menyingkapkan semua rahasia di dunia yang fana ini.   Tetapi, karena takut akan pedang dan adanya hasrat untuk menyelamatkan diriku, [aku telah mengunci] bibirku dengan seribu paku.   Dia mengeluh dalam-dalam dan berkata, 'Dalam diriku ada banyak pengetahuan; jika aku melepaskannya, aku akan terbunuh.'   Jika selubung itu diangkat, aku tidak akan menjadi lebih yakin (catatan: perkataan ini diyakini berasal dari 'Ali ibn Abi Thalib).  

Agar mereka menyembah Allah yang mengungkapkan segala yang terpendam di langit dan di bumi serta mengetahui apa-apa yang disembunyikan dan dinyatakan. (QS 27:25)  

Jelaslah, tidak sesuatu pun yang tidak dari Kami perbendaharaannya. Dan Kami tidak mengaruniakan semua kebutuhan itu, kecuali dengan kadar yang serba tertentu. (QS 15:21 )


Burung Merak Raja di Bawah Keranjang 

 Seorang raja mempunyai sebuah taman, yang sepanjang empat musim selalu ditumbuhi tanam-tanaman yang wangi, hijau subur dan menyenangkan. Air mengalir berlimpah-limpah melaluinya, dan segala macam burung bernyanyi dari dahan-dahan pohon. Setiap hal yang baik dan indah yang dapat kita bayangkan terdapat di dalam taman itu. Dan di antara semuanya itu ada sekelompok burung merak yang cantik.   Sekali waktu sang raja mengambil salah seekor burung merak, dan memerintahkannya agar ia dimasukkan ke dalam kantung kulit supaya bulu-bulunya tidak dapat dilihat, sehingga ia tidak dapat mengagumi keindahannya sendiri dengan cara apa pun. Dia juga memerintahkan agar burung merak itu ditempatkan di bawah sebuah keranjang yang hanya mempunyai satu lubang, melalui lubang itu sedikit biji-bijian dapat dituangkan ke dalamnya untuk makanannya.   Lama waktu berlalu. Burung merak itu lupa pada dirinya sendiri, sang raja, taman, dan burung-burung merak lainnya. Ia melihat pada dirinya sendiri. Burung tersebut tidak melihat apa-apa kecuali kantung kulit yang kotor itu. Ia mulai menyukai tempat tinggalnya yang gelap dan jelek; ia percaya di dalam hatinya bahwa tidak mungkin ada tempat yang lebih besar dari ruangan di dalam keranjang itu, sedemikian rupa sehingga ia menganggapnya sebagai keyakinan bahwa jika ada orang menyatakan tentang suatu kehidupan, tempat tinggal atau kesempurnaan di luar yang ia ketahui, maka ia menganggapnya sebagai kekafiran mutlak, omong kosong besar dan kebodohan yang murni.   Sekalipun demikian, setiap kali angin segar berhembus, dan harumnya bunga-bunga dan pepohonan, violet (= sejenis tumbuhan yang bunganya berbau harum), melati dan tumbuhan rempah-rempah sampai ke hidung burung itu, ia merasakan kesenangan yang mengejutkan melalui lubang itu. Timbul kekhawatiran di dalam hatinya. Ia merasakan adanya hasrat untuk pergi dan kerinduan batin, tetapi ia tidak tahu dari mana kerinduan itu berasal, sebab, kecuali kantung kulit itu, ia tidak mengetahui apa-apa; selain keranjang itu, tidak ada dunia lain; selain biji-bijian itu, tidak ada makanan lain. Ia telah melupakan semuanya. Ketika sekali-sekali ia mendengar suara burung-burung merak bernyanyi, dan burung-burung lain berlagu, kerinduan dan hasratnya timbul; tetapi ia tidak terbangunkan oleh suara-suara burung-burung itu atau hembusan angin. Pernah ia bergairah memikirkan sarangnya.
Angin sepoi-sepoi bertiup menyentuhku dan hampir mengucapkan kata-kata, 'aku adalah kurir untukmu dari kekasihmu.'
 Lama sekali ia memikirkan apa sesungguhnya angin yang harum itu, dan darimanakah bunyi-bunyian yang indah itu datang.
Wahai kilat yang menyambar, dari perlindungan siapa engkau muncul?
Tetapi ia tidak sadar-sadar juga, meskipun sepanjang masa itu kesenangan tetap tinggal di hatinya.
Ah, kalau saja Laila sekali saja mengirimkan salam karunianya, meskipun diantara kami terbentang debu dan bebatuan besar.   Salam kegembiraanku akan merupakan jawabnya, atau akan menjeritlah kepadanya si burung hantu, burung sakit yang memekik di tengah keremangan kuburan.
  Burung merak itu bodoh, karena ia telah lupa kepada dirinya dan juga tanah airnya.
... janganlah hendaknya kamu bertingkah seperti orang yang melupakan Allah, yang mengakibatkan Allah membuat mereka lupa diri pula. (QS 59:19)
  Setiap kali hembusan angin atau suara-suara datang dari taman, timbul hasrat dalam diri si burung merak tanpa mengetahui mengapa demikian.   Kedua baris ini adalah karya seorang penyair:  
Kilat Ma'arra bergerak di tengah malam, ia melewati malam di Rama yang melukiskan kebosanannya.   Ia benar-benar menyedihkan para penunggang, kuda-kudanya, unta-unta, dan terus bertambah menyedihkan, hingga ia hampir menyedihkan pelana-pelana catatan: baris-baris ini berasal dari Al-Ma'arri, Siqth al-Zand. hal. 51).
  (14) Ia tetap kebingungan selama beberapa waktu, sampai suatu hari sang raja memerintahkan agar burung itu dilepaskan dari keranjang dan kantung kulitnya untuk dibawa menghadapnya.  
Peristiwa kebangkitan itu terjadi hanya dengan satu kali tiupan sangkakala saja. (QS 37:19)  
Apakah dia tidak mengetahui, apabila nanti sudah dibangkitkan segala isi kubur? Dan telah terungkap segala isi kalbu? Sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu maha mengetahui keadaannya. (QS 100:9-11)
  Ketika burung keluar dari penutupnya, burung merak itu melihat dirinya berada di tengah-tengah taman. Ketika memandang bulu-bulunya sendiri, dan melihat taman beserta aneka ragam bunganya, atmosfir dunia, kesempatan untuk berjalan kesana-kemari dan terbang tinggi, serta semua suara, irama, bentuk dan berbagai benda yang ada, ia berdiri mendesah seakan-akan tak sadarkan diri (ejakulasi teofanik 'syath' yang terkenal dari Husayn ibn Manshur Al-Hallaj).  
Wahai, sungguh aku menyesali kelalaianku dalam memenuhi kewajiban kepada Allah. (QS 39.56)  
Lalu Kami singkapkan tabir yang menutupi matamu, maka pandanganmu menjadi lepas jelas. (QS 50:22)  
Mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal ketika itu kamu melihat orang yang sedang melepaskan nyawanya itu, sedangkan Kami lebih dekat lagi kepadanya daripada kamu, namun kamu tidak melihat? (QS 56:83-85)  
Jangan berbuat begitu, kelak kamu akan tahu akibatnya. Sekali lagi, jangan berbuat begitu, kelak kamu akan tahu juga akibatnya. (QS 102:3-4)

Sabtu, 03 Desember 2011

BAHASA RAHASIA III: BATU FILOSUF

BAHASA RAHASIA III: BATU FILOSUF

Di kedalaman samudera, ada kekayaan tiada tara.
Namun jika engkau mencari keselamatan,
di pantailah tempatnya.
(Sa'di, Gulistan)

Robert of Chester, seorang berkebangsaan Inggris yang belajar di Spanyol Islam, memperkenalkan alkimia ke dunia Kristen zaman Pertengahan dalam sebuah buku yang diselesaikannya pada tahun 1144 M. Buku ini merupakan terjemahan dari sebuah buku berbahasa Arab. Sebagaimana dilihat oleh Profesor Holmyard (Alchemy, London, 1957, hlm. 103), dengan jelas ia menyatakan dalam bukunya bahwa pada masa itu, ilmu ini tidak dikenal di "Dunia Latin".

Sejak masa ini telah terjadi pergulatan antara dua penafsiran "seni" itu. Apakah makna istilah itu secara harfiah, ataukah merupakan suatu sistem pengembangan mental atau spiritual? Kita hampir tidak bisa menghindari kenyataan bahwa istilah ini dipahami baik dalam pengertian kimiawi dan cara penciptaan (benda) yang seringkali luput dari perhatian peneliti. Akibatnya adalah muncul beberapa klaim bahwa alkimia adalah perintis ilmu kimia, yang secara eksklusif terkait dengan penciptaan "Batu Filosuf". Sementara yang lain menyatakan bahwa istilah itu muncul dari upaya-upaya awal untuk menyepuh atau mencetak logam dan mengubahnya menjadi emas atau perak. Yang lainnya menyatakan bahwa istilah itu merupakan suatu seni yang rumit dan hanya terkait dengan berbagai potensi kesadaran manusia.

Fakta-fakta jauh kurang kompleks daripada apa-apa yang muncul pada orang yang tidak terkait dengan kiasan Sufi bersama apa yang seringkali hanya sebagai bacaan turunan. Pertama kali yang harus diingat adalah bahwa orang-orang yang secara serampangan dikelompokkan sebagai ahli alkimia, dan yang karyanya seringkali diperlakukan sebagai suatu keutuhan, ternyata membentuk berbagai jenis orang yang berbeda-beda, yang bekerja pada jalur disiplin yang berbeda atau analog.

Resep-resep tukang emas, yang berasal dari zaman kuno, tidak membuktikan bahwa istilah alkimia tidak digunakan oleh para pengikut mistik. Dua orang yang masing-masing dianggap telah memperoleh obat mujarab, bisa jadi yang satu adalah seorang dukun, sementara lainnya adalah seorang guru mistik. Banyak sekali bukti dalam literatur Abad Pertengahan yang menunjukkan suatu pergulatan tetap menuju suatu pengembangan mental, yang tertulis dalam istilah yang bersifat alkimia.

Kesalahan ini tidak diluruskan ketika ahli kimia Perancis, M.P.E. Berthelot mengkaji sejumlah besar dokumen-dokumen alkimia pada tahun 1888 dan 1893. Ia menemukan bahwa dokumen tertua yang bisa ditemukan telah berusia dua ribu tahun. Selain itu ia menemukan buku-buku yang memuat resep-resep metalurgi untuk mengolah dan menyepuh logam dari para pengrajin dimana teks-teks itu bercampur dengan sejumlah teks tentang keruhanian. Sebelum para pembaca buku dilahirkan, orang telah menyimpulkan bahwa alkimia merupakan sejenis penyimpangan, suatu kemerosotan dari metalurgi dan merupakan ilmu kimia kuno yang dipraktekkan oleh orang-orang Yunani di Mesir.

Bahan-bahan itu tidak dikaji dengan pandangan bahwa alkimia merupakan istilah yang diadopsi oleh sebuah madzhab ta'lim (teaching school) untuk memproyeksikan pesannya yang disampaikan dalam bahasa alegoris dan secara keseluruhan berasal dari luar konteks metalik.

Kepustakaan alkimia, yang dikumpulkan sebagai satu fenomena, begitu banyak sehingga seumur hidup bisa dihabiskan untuk memahaminya. Ia mencakup berbagai pemalsuan yang relatif masuk akal dalam bahasa Yunani, Latin, Arab dan pada masa berikutnya dalam bahasa-bahasa Barat. Tulisan-tulisan ini kadangkala tidak jelas (tidak mudah dimengerti), terbatas pada simbolisme dan dikemukakan dengan kiasan serta khayalan kabur seperti naga, warna-warna yang berubah, pedang berkilat, logam dan planet-planet.

Anggapan bahwa keinginan akan perubahan (logam) merupakan suatu usaha yang muncul akibat suatu kesalahpahaman dari dokumen kesenian itu, sebenarnya tidak memadai untuk menjelaskan penggunaan istilah itu oleh para ahli alkimia. Jika kita membaca kata-kata dalam bahasa Arab yang dipilih padanannya dalam bahasa Latin oleh para penterjemah, kita bisa menilai apakah kata-kata Latin itu mencoba perubahan logam yang sesungguhnya atau penggunaan istilah-istilah itu secara berbeda. Dengan kata lain, kita bisa menceritakan tentang para ahli kimia dari para ahli spiritual. Ini merupakan salah satu sarana yang bisa mengungkap cerita tentang alkimia pada Abad Pertengahan.

Kita harus mulai dari tahapan awal, yaitu bapak alkimia sebagaimana kita telah mengenalnya, Jabir ibnu al-Hayyan. Jabir telah diakui baik oleh para ahli alkimia Arab maupun Eropa sebagai bapak ilmu ini sejak abad kedelapan. Sejak masa itu, semua alkimia seperti yang kita kenal mengandung doktrin tentang tiga unsur -- garam, sulfur dan air raksa (merkuri). Ketiga unsur ini harus digabungkan secara tepat untuk menghasilkan "Emas Filosofis". Banyak ahli alkimia menekankan, seseorang bahkan bisa mengatakan semuanya, bahwa substansi-substansi ini bukanlah substansi yang sama dengan yang kita kenal sebagai garam, sulfur dan air raksa. Selain itu Geber, demikianlah Jabir dikenal di Barat, seperti dicatat oleh Profesor Holmyard sebagai telah memperkenalkan doktrin tentang sulfur dan air raksa yang "tampaknya tidak dikenal oleh orang-orang kuno".

Sebagaimana telah dipraktekkan sejak abad kedelapan, alkimia identik dengan Jabir ibnu al-Hayyan. Siapakah dia sebenarnya; apakah maksudnya tentang sulfur dan air raksa? Menurut buku-buku berbahasa Latin maupun Arab, Jabir dijuluki as-Sufi.2

Dalam karya-karyanya, ia mengakui Imam Ja'far ash-Shadiq (700-765) sebagai gurunya dan membicarakannya dengan penuh rasa hormat. Sementara Ja'far ash-Shadiq adalah seorang guru Sufi (mursyid) besar dan namanya muncul di hampir semua "silsilah-riwayat" dari ajaran Sufisme serta oleh para pakar seperti Rumi dan al-Ghazali disebut sebagai alkimia. Bahkan al-Ghazali menamakan salah satu karya terpentingnya dengan Kaimiya'us-Sa'adah (Kimia Kebahagiaan). Ibnu Arabi menyatakan bahwa "Nama-nama Keagungan" disebut dengan emas dan perak.

Apakah sebenarnya Batu Sofistikal, Batu Para Filosuf yang akan mengubah logam-logam dasar menjadi logam mulia? Apa yang harus kita lakukan di sini adalah menterjemahkan kembali kata-kata tertentu ke dalam bahasa Arab, melihat penggunaan teknisnya di kalangan Sufi dan mencari apa sebenarnya yang dimaksud Jabir.

Menurut para Sufi, pembaharuan kembali dari satu bagian esensial kemanusiaan merupakan tujuan manusia. Pemisahan manusia dari esensinya merupakan sebab ketimpangan dan penderitaannya. Pencarian hidupnya adalah pemurnian dari unsur-unsur yang tidak berguna dan pembangkitan (unsur) emasnya. Sarana untuk mencapainya terdapat dalam diri manusia -- inilah yang dimaksud dengan "Batu Filosuf ". Kata Arab untuk batu berkaitan dengan kata "tersembunyi, terlarang". Oleh karena itu, simbol batu diadopsi sesuai dengan aturan wajar dari asonansi di kalangan Sufi.

Di Barat, batu -- sesuatu yang tersembunyi dan begitu kuat, juga disebut dengan Azoth. Azoth ditelusuri oleh para Orientalis kepada salah satu dari dua kata -- adz-Dzat, yang berarti esensi atau realitas dalam; atau pada kata zibaq, yang berarti merkuri. Menurut Sufi, batu adalah dzat (esensi) yang begitu kuat sehingga ia bisa mengubah apa saja yang bersentuhan dengannya. Ia merupakan esensi manusia yang memiliki sifat ketuhanan. Ia merupakan "sinar matahari" yang mampu mengangkat kemanusiaan pada tahapan berikutnya.

Kita bisa melangkah lebih jauh dari ini. Tiga unsur itu bergerak menuju penciptaan dzat setelah diproses melalui "kerja" sebagai terjemahan dari kata "amal". Unsur-unsur ini adalah sulfur (kibrit, homonim dari kata kibirat, "kebesaran", "keagungan"); garam (milhun, homonim dari kata milhun, "kebaikan", "pengetahuan"); dan merkuri (zibaq, memiliki akar kata yang sama untuk kata "membuka", "membongkar").3

Jika kita tidak tahu bagaimana kata-kata ini digunakan dan juga padanannya, maka kita tidak bisa mengungkap alkimia. Ibnu Arabi sendiri mengungkapkan dua maknanya ketika ia mengatakan bahwa sulfur berarti ketuhanan; merkuri berarti alam. Interaksi dalam proporsi yang tepat akan menghasilkan Azoth, esensi yang dimuliakan. Terjemahan ke dalam bahasa Latin menghilangkan asonansi yang dimiliki karya-karya Sufi, tetapi penafsirannya berlanjut (untuk kepentingan orang-orang non-Arab) pada kitab-kitab berbahasa Persia, seperti Kimiyya'us-Sa'adah karya al-Ghazali.

Penyebaran ajaran alkimia juga dinyatakan telah berada pada para guru kuno, sebagian dari mereka namanya disebutkan. Mereka ini termasuk Hermes, menurut para penulis Timur dan Barat, yang oleh orang-orang Arab dikenal dengan nama Idris. Para penulis dan praktisi menerima penyebaran itu dari Hermes sampai tingkatan tertentu sehingga alkimia sering disebut dengan "Seni-Hermetik" dan demikianlah coraknya sejak mereka menerima asalnya dari orang-orang Arab.

Sejarawan Arab Spanyol, Said of Toledo (w. 1069), menceritakan tradisi Thoth atau Hermes ini: "Orang-orang bijak menegaskan bahwa semua ilmu yang sangat kuno berasal dari Hermes pertama, yang tinggal di Sa'id, di bagian atas Mesir. Orang-orang Yahudi menyebutnya Enoch dan orang Muslim menyebutnya Idris. Ia adalah orang pertama yang berbicara tentang bahan dari dunia yang lebih unggul dan tentang gerakan-gerakan planet. Ia membangun kuil untuk menyembah Tuhan... obat-obatan dan syair adalah keahliannya ... (Ia) mengingatkan tentang suatu bencana api dan air karena Banjir ... Setelah Banjir semua ilmu, termasuk alkimia dan ilmu sihir, dibawa ke Memphis, di bawah Hermes kedua yang lebih termasyhur."4

Hermes Ketiga yang Agung, dan sangat mungkin mewakili tiga guru yang berbeda, bukan saja penemu alkimia yang terkenal itu. Namanya muncul di antara para guru kuno dalam apa yang sekarang disebut sebagai jalan (Tarekat) para Sufi. Dengan kata lain, baik para Sufi maupun ahli alkimia mengklaim Hermes sebagai penemu ilmu mereka. Maka Ja'far ash-Shadiq sang Sufi, Jabir sang Sufi dan Hermes sang Sufi termasyhur, dianggap oleh para ahli alkimia baik di Timur maupun Barat sebagai guru mereka.

Cara-cara pemusatan, penyulingan, pematangan dan pencampuran dengan nama-nama kimiawi, niscaya merupakan suatu pengaturan jiwa dan tubuh untuk menghasilkan seorang manusia, bukan hasil yang bersifat kimiawi. Adanya peniru yang mempraktekkan kimia fisik juga tidak diragukan. Tetapi juga benar bahwa sampai akhir-akhir ini (dan di beberapa tempat mereka masih ada), ada orang-orang yang percaya bahwa hal-hal spiritual mempunyai persamaan fisikal.

Siapakah Ja'far ash-Shadiq, mursyid dan guru Jabir itu? Ia tidak lain adalah Imam Keenam, keturunan Nabi Muhammad saw melalui Fathimah. Banyak orang percaya bahwa ia adalah penghubung langsung yang menyampaikan rahasia ajaran batin Islam, yang diajarkan Muhammad sendiri, yaitu Sufisme.

Dalam jangka waktu lama Jabir bin al-Hayyan adalah sahabat dekat keluarga al-Barmaki, wazir-wazir Harun ar-Rasyid. Keluarga Barmaki adalah keturunan para pendeta yang tinggal di kuil-kuil Budha Afghanistan dan mereka memegang ajaran kuno yang disampaikan kepada mereka dari wilayah itu. Harun ar-Rasyid sendiri adalah sahabat para Sufi, dan ada contoh-contoh yang mencatat berbagai kunjungan kehormatannya kepada para mursyid Sufi.

Anggapan bahwa ajaran alkimia berasal dari Mesir langsung dalam berbagai tulisan Thoth atau sejenisnya, tidaklah penting untuk tesis ini. Menurut tradisi Sufi, ajaran itu disampaikan melalui Dzun-Nun al-Mishri (Raja Ikan), salah seorang guru Sufi termasyhur pada masa klasik.

Siapakah Hermes, atau bagaimana ia secara umum digambarkan? Ia adalah dewa yang membawa ruh-ruh orang mati ke dunia dan membawa pesan-pesan dari para dewa. Ia adalah perantara antara dunia kedewataan dengan dunia nyata. Seperti merkuri, ia bergerak dengan kecepatan sangat tinggi sehingga bisa menafikan waktu dan tempat, sama seperti yang dicapai oleh pengalaman batin. Ia adalah seorang atlet, manusia dewasa. Karena itulah ia dipandang sebagai "manusia sempurna" Sufi dari segi jasmaninya. Dalam statusnya yang lebih awal, ia tampil sebagai pria dewasa, tua dan bijaksana, dianggap sebagai hasil pengembangan diri yang benar. Ia menciptakan lirik dan sebagaimana dilakukan para Sufi lainnya, menyebabkan perubahan pada para pendengarnya melalui musik. Ia mampu menidurkan raksasa melalui serulingnya, suatu tindakan yang dianggap sebagai indikasi hipnotis dari sosok Hermes sebagai suatu ciri Sufi. Kaitan hipnotis ini dengan mistisisme maupun pengobatan jelas terlihat.

Pelestarian dan penyampaian ajaran kuno itu tertanam kuat dalam sosok Hermes ini. Ia mempunyai kembaran perempuan -- Sesheta -- yang dikaitkan dengan bangunan kuil dan pemelihara Kitab hikmah kuno. Seperti wujud manusia yang memberikan ilham dari para Sufi dan Kebenaran Sufi (Simurgh), ia digambarkan sebagai seekor burung. Kadangkala ia adalah seorang manusia berkepala burung Ibis, dimana kepala menunjukkan aspirasi atau pencapaian jiwa, yang terletak di kepala.

Dunia ini tercipta melalui sebuah kata dari Thoth -- delapan karakter (empat disimbolkan sebagai dewa, empat sisanya sebagai dewi) yang dibuat dari sebuah suara yang diucapkannya. Sifat kelipatan delapan dari ajaran Sufi disimbolkan dengan diagram oktagonal dari kata hoo, suara Sufi.

Dewa-dewi atau legenda apa pun mungkin telah berbaur dengan berbagai kepribadian Hermes, Merkuri dan Thoth, tetapi unsur-unsur utama yang menghubungkan antara manusia dan Tuhan, hikmah, musik, huruf dan obat-obatan tetap ada.

Dalam sosok tritunggal itu -- orang Mesir, Yunani dan Romawi -- seperti telah disamakan dengan sosok serupa, hubungannya dengan suatu bentuk hikmah yang telah disampaikan kepada manusia dari sumber-sumber ketuhanan yang tetap terlihat. Secara pasti hal ini jauh lebih komprehensif dibandingkan format alkimia yang diberikan kepadanya pada masa berikutnya.

Selama berabad-abad, orang-orang dibingungkan oleh ajaran yang terkenal dari ketiga Hermes yang agung itu. Ajaran itu terpahat di atas sebuah "Lempengan Batu Zamrud" yang oleh orang-orang Arab disebut sebagai prinsip-dalam besar dari Karya Agung. Ini merupakan otoritas puncak dari para ahli alkimia dan mungkin bisa disampaikan sebagai berikut:

Kebenaran, kepastian, yang terpercaya, tanpa kesalahan. Apa yang di atas sama seperti apa yang di bawah. Apa yang di bawah sama seperti apa yang di atas. Keajaiban dan kesatuan harus diraih. Segala sesuatu terbentuk dari kontemplasi kesatuan dan segalanya lahir dari kesatuan melalui adaptasi. Orangtuanya adalah Matahari dan Bulan. Ia dilahirkan oleh angin dan dibesarkan oleh bumi. Segala ketakjuban berasal darinya dan mempunyai kekuatan sempurna. Lemparkan ia ke bumi, menyatukan kekuatan atas dan bawah. Dengan demikian engkau akan memiliki iluminasi dari semua dunia dan kegelapan akan sirna. Ini merupakan kekuatan dari semua kekuatan -- ia menguasai yang lembut dan menembus yang padat. Inilah cara-cara penciptaan dunia. Di masa depan, berbagai perkembangan yang mengagumkan akan muncul dan inilah jalannya.
Akulah Hermes, Guru (Hikmah) Tritunggal, dinamakan demikian karena Aku memegang Tiga unsur dari semua hikmah. Dengan demikian mengakhiri pengungkapan kerja Matahari.

Ini sama dengan diktum Sufi (Pengantar pada Persepsi Ja'far ash-Shadiq): "Manusia adalah mikrokosmos, ciptaan makrokosmos -- kesatuan. Semua berasal dari Yang Esa. Dengan menyatukan kekuatan kontemplasi, semua bisa diraih. Esensi ini harus dipisahkan dari tubuh, kemudian digabungkan dengan tubuh. Inilah kerja. Mulailah dengan dirimu sendiri dan akhirilah dengan semua. Di depan manusia, di belakang manusia, (adalah) transformasi."

Jika bisa dipastikan bahwa ada sesuatu seperti ajaran tentang logam yang menyerupai alkimia dan bahwa terdapat alkimia spiritual tanpa percobaan-percobaan kimiawi, masih ada poin lain yang terlewatkan para komentator. Jabir (atau para pengikutnya, paling tidak sebagian mereka adalah para Sufi) sebenarnya melakukan penelitian kimiawi. Mereka mencapai berbagai penemuan yang diakui sebagai dasar ilmu kimia modern. Bagi pikiran modern, ini berarti bahwa mereka mencoba menciptakan Batu Filosuf -- mencoba perubahan metalik yang sesungguhnya. Bisakah mereka melalui tahun-tahun percobaan dan menahan kesabaran menghadapi berbagai kemunduran yang dihadapi semua ahli alkimia, kecuali kalau mereka yakin bahwa ada kemungkinan secara teoritis untuk berhasil? Apakah mereka melakukan berbagai percobaan semacam ini semata-mata sebagai orang buta, dalam masyarakat yang enggan terhadap kegiatan keagamaan individual, dengan menciptakan suatu kepalsuan yang begitu sempurna sehingga mereka benar-benar harus mencoba transmutasi logam?

Ada dua cacat yang berkembang dalam menghadapi berbagai kenyataan untuk bisa dipahami. Pertama, adalah bahwa orang-orang cenderung menilai orang lain di masa lalu menurut penilaian mereka sendiri. Kedua, adalah kesulitan yang biasa dihadapi oleh teoritisi luar -- sebab ia tidak berada di dalam pintu madzhab Sufi. Para Sufi mempunyai suatu tradisi yang dipertahankan selama berabad-abad. Tradisi ini bisa dirangkum dalam istilah "amal". Suatu amal Sufistik mungkin tampak tidak ilmiah sesuai dengan standar-standar kontemporer, meskipun demikian ia diterapkan secara luas. Seorang pencari (Salik) diberi suatu tugas untuk disempumakan. Tugas ini (upaya) bisa jadi suatu problem alkimia, atau mungkin suatu upaya untuk mencapai kesimpulan dari suatu usaha yang tidak mungkin diraih. Untuk pengembangan dirinya, ia harus melakukan amalan itu dengan keimanan yang utuh. Dalam proses perencanaan dan pelaksanaan seluruh upaya ini, ia akan mencapai pengembangan spiritualnya. Upaya yang bersifat alkimia atau lainnya mungkin tidak berhasil, tetapi ini merupakan kerangka kerja dimana di dalamnya istiqamah dan penerapannya, mental dan pengembangan moralnya dilaksanakan. Sampai pada tingkatan ini, upaya itu adalah suatu tambahan. Sejauh upaya itu permanen baginya dan untuk seumur hidupnya, maka ia sama sekali bukan upaya tambahan, sebab ia menjadi jangkar permanen dan kerangka rujukannya. Upaya ini hampir seperti semangat dari setiap upaya kompetitif yang dilaksanakan dalam olah raga atau pendakian gunung atau bahkan dalam budaya lahiriah, dalam masyarakat-masyarakat lainnya. Gunung atau pengembangan otot merupakan poin-poin yang ditetapkan, tetapi mereka bukan unsur yang secara aktual diubah oleh upaya itu. Mereka hanyalah wahana, bukan tujuan. Semua konsep itu mungkin terlihat aneh, tetapi secara menyeluruh didasarkan pada logikanya sendiri. Ia bukanlah kerangka kerja yang diubah melalui upaya, tetapi ia adalah wujud manusia sendiri. Jadi pengembangan wujud manusia itulah yang diperhitungkan, bukan yang lain.

Ketika konsep Sufistik tentang evolusi kesadaran manusia itu dipahami, maka unsur-unsur lainnya akan masuk ke dalamnya. Dengan semangat yang sama, mungkin bisa dikatakan bahwa di beberapa sekolah, bahasa Latin diajarkan untuk mengembangkan suatu bagian pikiran. Seorang pengamat luar atau pengamat sastra mungkin akan mengatakan bahwa studi tentang bahasa Latin merupakan salah satu pekerjaan yang paling kecil manfaatnya. Semuanya bergantung pada penggunaan kata "bermanfaat". Akhir-akhir ini saya mendengar seseorang mengatakan bahwa merokok adalah "suatu mekanisme untuk mengkonsumsi tembakau". Maka dipandang dari satu sudut semata, perokok itu seperti sebuah mobil yang mungkin bisa dipandang sebagai sarana untuk membakar bensin. Dalam pernyataan ini, fungsi-fungsinya yang lain telah dikesampingkan, tetapi bagaimanapun bisa dikatakan bahwa pernyataan itu tetap benar dalam konteks yang sempit.

Ada sebuah kiasan Sufi tentang alkimia yang menarik karena hubungannya dengan pemikiran Barat. Ada seorang ayah yang memiliki beberapa anak malas. Menjelang ajalnya ia mengatakan kepada mereka bahwa mereka akan menemukan hartanya di ladangnya. Mereka menggali ladang itu dan tidak menemukan apa pun. Lalu mereka menanam gandum dengan hasil panen yang berlimpah. Selama beberapa tahun mereka melakukan hal itu. Mereka tidak menemukan emas, tetapi secara tidak langsung mereka semakin kaya dan sekaligus terbiasa dengan kerja keras. Pada akhirnya mereka menjadi petani yang tulus dan melupakan penggalian untuk mencari emas.

Maka pencarian emas melalui cara-cara alkimia memperoleh hasil yang berbeda dari hal-hal yang mula-mula dicari. Tak ayal lagi cerita ini dikenal di Barat, sebab cerita ini sesungguhnya dikutip oleh Bacon maupun Boerhaave, seorang ahli kimia abad ketujuh belas, yang menekankan arti penting kerja untuk tujuan itu. Dalam De Augumentis Scientiarum-nya, Bacon mengatakan, "alkimia seperti orang yang mengatakan kepada anak-anaknya, bahwa ia telah menanam emas untuk mereka di kebun anggurnya. Mereka menggali dan tidak menemukan emas. Namun pekerjaan (penggalian) itu telah merubah lahan itu sesuai dengan akar-akar anggur dan menghasilkan panen berlimpah."

Dalam buku Speculum Alchemiae yang ditulis pada abad ketiga belas, yang dikaitkan dengan Bacon, memberikan suatu isyarat tentang teori evolusioner alkimia, "Saya harus mengatakan kepada Anda bahwa Alam ini selalu berpotensi dan berjuang menuju kesempurnaan Emas: tetapi banyak peristiwa yang terjadi, dalam proses itu, mengubah logam."

Sementara para komentator Sufi mengatakan tentang sajak-sajak evolusioner ("Manusia pertama kali lahir dalam bentuk mineral"): "Logam manusia harus diolah dan diperluas."

Fungsi "Batu Filosuf " sebagai obat universal dan sumber kesejahteraan menunjukkan aspek lain dari alkimia spiritual yang sangat sesuai dengan berbagai prosedur Sufi. Kenyataan yang menarik di sini adalah bahwa dalam tradisi Sufi, batu atau obat mujarab adalah suatu keadaan jiwa yang dikonsentrasikan oleh dokter dalam dirinya sendiri dan dipindahkan ke pasiennya melalui wahana jiwanya. Jika beberapa catatan Barat tentang para pasien yang bertahan hidup karena batu itu dibaca dengan asumsi demikian, maka kita bisa melihat apa sebenarnya batu itu. Setelah pikiran terpusat dan dipindahkan dengan cara tertentu (garam, merkuri dan sulfur digabungkan), hasilnya adalah batu -- kekuatan tertentu. Batu ini sekarang diproyeksikan kepada pasien yang sembuh itu.

Baru (kekuatan) rahasia (sebab tersembunyi dalam pikiran) merupakan sumber dan esensi kehidupan itu sendiri.

Penelitian historis mutakhir telah menemukan fakta bahwa alkimia yang menggunakan berbagai idea dan simbolisme serupa, telah dipraktekkan di Cina sejak abad kelima S.M. Para sarjana Cina, Jepang dan Barat mengklaim bahwa pengembangan alkimia di Cina pada mulanya adalah bersifat spiritual dan baru pada perkembangan selanjutnya, aspek metalurgi itu muncul. Adalah mungkin bahwa para pengrajin logam mengambil tema itu dari para pendeta Taois dan bukan dari jalan lain, sebagaimana dugaan langsung cenderung untuk mempercayainya. Banyak gagasan-gagasan alkimia, jika bukan semuanya, sebagai suatu proses spiritual adalah muncul dalam ajaran orang bijak Cina, yaitu Lao Tzu, pendiri Taoisme, yang kemungkinan dilahirkan pada tahun 604 S.M.

Kita juga menemukan teori elixir (obat mujarab), yaitu tentang suatu persiapan atau cara yang bisa memberikan keabadian, pada para filosuf Cina yang dihubungkan dengan alkimia, dan dalam Atharva Veda Hindu yang berusia lebih dari 1000 S.M. Para filosuf Cina secara khusus menyatakan bahwa ada tiga alkimia, sebagaimana dicatat Profesor Read. Pertama adalah untuk menghasilkan usia panjang melalui cairan emas; kedua, adalah untuk menghasilkan suatu ramuan yang mengandung sulfur merah dalam pembuatan emas; ketiga adalah untuk mengubah logam-logam lainnya menjadi emas.5

Dr. O.S. Johnson dalam buku A Study of Chinese Alchemy, yang diselesaikannya di Universitas California, merinci beberapa bahan pokok yang telah disarikan dari sumber-sumber Cina tentang ilmu kuno ini dan kesetaraannya dengan pencarian keabadian melalui upaya pengembangan diri manusia.

Ahli alkimia Cina Lu Tsu (yang dikutip William A.P. Martin, The Lore of Cathay, 1901, hlm. 59) memberikan sesuatu yang oleh sebagian penulis telah diduga sebagai upaya sengaja untuk mengaburkan perubahan "proses kimiawi". Dengan sorotan dari apa yang telah disebutkan, bahwa hal ini bisa dibaca secara langsung sebagai suatu rujukan pada pengembangan esensi manusia. Hal ini hanya membingungkan jika seseorang berusaha menemukan instruksi laboratorium, "Aku harus menanami ladangku sendiri dengan rajin. Di dalamnya ada kuman spiritual yang mungkin hidup seribu tahun. Bunganya seperti emas kuning. Kuncupnya tidak besar, tetapi benihnya bulat dan seperti mutiara bening. Pertumbuhannya bergantung pada tanah dari istana pusat, tetapi irigasinya harus dialirkan dari sumber mata air yang lebih tinggi. Setelah sembilan tahun penanaman, akar dan cabang mungkin bisa dicangkokkan ke langit yang lebih tinggi."

Kata-kata ini Jika diterjemahkan ke dalam istilah-istilah Sufi akan terbaca: "Manusia harus mengembangkan upayanya sendiri menuju pertumbuhan evolusioner yang memantapkan kesadarannya. Di dalam dirinya, ia memiliki suatu esensi, awalnya kecil, bercahaya dan berharga. Perkembangan bergantung kepada manusia, tetapi harus dimulai dari seorang guru. Jika pikiran diolah dengan benar dan tepat, maka kesadaran akan beralih pada tataran yang agung."

Bagi mereka yang tertarik terhadap hal-hal semacam kronologi, maka hal-hal sebelumnya tampaknya menjadi suatu indikasi bahwa seperti yang dikatakan para Sufi, ajaran mereka tidak ada batas waktunya dan menyentuh masa lampau yang terjauh. Dalam sajak-sajak bangsa Arya kuno sekitar 2000 S.M., ada berbagai indikasi tentang perumusan doktrin yang akhirnya dipandang sebagai doktrin Sufi dengan pengertian pelaksanaan praktek-praktek tertentu dari sublimasi dan pengembangan. Penghasilan logam juga disebutkan di sini.

Para ahli alkimia Barat menyadari bahwa mereka tengah mengejar suatu tujuan internal (batin). Hal ini jelas terlihat dari nasehat dan berbagai ilustrasi kiasan yang tak terhitung jumlahnya dalam karya-karya mereka. Kiasan alkimiawi sama sekali tidak sulit dipahami jika seseorang mengetahui simbolisme Sufi. Pada abad ketujuh belas, seribu tahun setelah masa Jabir, sang Perintis (Jabir dilahirkan sekitar tahun 721 M.), para ahli alkimia Eropa menyimpan daftar para mursyid secara berurutan yang mengingatkan pada "silsilah spiritual" Sufi. Salah satu hal yang paling menarik dari fakta ini adalah bahwa rantai silsilah ini merujuk kepada orang-orang yang terkait dengan tradisi Sufistik dan Islam (Spanyol), meskipun demikian tidak mempunyai nama yang sama: Dalam catatan itu, kita menemukan nama Muhammad, Jabir, Hermes, Dante dan Roger Bacon.

Penelitian terakhir menunjukkan bahwa bahan-bahan Sufi adalah sumber karya iluminis Dante, seperti Divine Comedy. Akan tetapi afiliasi Sufistiknya pasti telah diketahul oleh para ahli kimia sepanjang masa. Raymond Lully, tokoh mistik Agung, berkali-kali dikutip sebagai seorang ahli alkimia. Bahkan dari karya-karyanya, kita mengetahui bahwa latihan-latihannya sebenarnya diambil para Sufi dan sebagian namanya ia sebutkan.

Para Sufi iluminis (isyraqi) Arab dan Yahudi menyebutkan secara berurutan, seperti "Hermes" (menyimbolkan hikmah tertua, yang asalnya bersifat surgawi), Muhammad (beberapa anggota keluarga dan sahabatnya), Jabir atau salah satu sahabatnya, kemudian tarekat-tarekat modern. Para ahli alkimia Barat-Latin menelusuri ajaran mereka dari Hermes ke Jabir, setelah itu melalui para iluminis. Bacon adalah salah satunya, Lully adalah yang lain, begitu juga para praktisi (iluminis) Barat lainnya.

Konsep Sufi untuk meraih kesatuan dari keanekaragaman dengan menyatukan jiwa kemudian menyatukan kesadaran batin, melalui seorang "guru" yang akan memberikan kunci,6 melalui penerapan yang tepat dari homonim garam, sulfur dan merkuri -- untuk meraih "cahaya", menurut para iluminis -- berulang kali ditemukan dalam doktrin alkimiawi.

Hanya karena penyembunyiannya di dalam ungkapan-ungkapan alkimiawi itulah yang menghalanginya untuk diserang sebagai kemajuan manusia dalam (bentuk) upaya pribadi yang berada di luar gereja. Di sini ada sebuah contoh tipikal, bagian dari suatu diagram alkimiawi yang menyimbolkan Amal/Kerja, dalam Viridarium Chymicum -- sebuah koleksi besar yang diterbitkan pada tahun 1624:

Semua kerja filsafat. Hal-hal yang dulunya terbatas dalam berbagai bentuk, sekarang terlihat dalam satu bentuk. Permulaannya adalah Mursyid/Guru (secara literal berarti "yang lebih tua") dan ia membawa Kunci. Sulfur dengan Garam dan Merkuri akan memberikan kekayaan.
Ungkapan samar ini bersifat simbolis dan seharusnya diterapkan pada ajaran rahasia tentang penyempurnaan diri dan alkimianisasi manusia ditekankan sejauh penults itu berani mengucapkan kalimat terakhir, dengan mengingatkan tentang hal-hal yang bertentangan dengan alkimia fisikal:

Jika engkau tidak melihat apa pun di sini, maka engkau tidak akan mampu mencari lebih jauh. Engkau akan buta, meskipun engkau berada di tengah-tengah cahaya.
Apa yang lebih dari sekadar menarik, baik bagi Barat maupun Timur adalah bahwa alkimia bukanlah suatu tradisi steril yang diulang-ulang, yang semata-mata bersandar pada ajaran kuno. Ia secara terus-menerus diperbaharui dari ajaran-ajaran orang yang berhubungan dengan kajian Sufi. Hal ini dibuktikan dengan suksesi nama-nama secara konstan yang muncul dan banyak dari nama-nama itu bisa ditelusuri sebagai memiliki hubungan dengan para Sufi, madzhab-madzhab Sufi atau yang menggunakan terminologi Sufi. Sebagai contoh, Bacon tidak hanya membaca karya-karya yang berhubungan dengan Jabir. Ia pergi ke Spanyol dan menemukan sumber itu sebagaimana yang kita ketahul dari berbagai kutipannya dari ajaran-ajaran Sufi yang disusun oleh para Sufi iluminis abad kedua belas. Lully tidak hanya mempelajari praktek Sufisme dan menjalankan latihan tertentu, tetapi melanjutkan pengetahuan ini agar menjadi sebuah nama yang terus-menerus disebutkan oleh para ahli alkimia pada masa berikutnya. Kecenderungan yang sama dilanjutkan oleh Paracelsus dan lain-lain.

Paracelsus, yang mengembara ke Timur dan memperoleh latihan Sufi di Turki, memperkenalkan berbagai istilah Sufi ke dalam pemikiran Barat. Istilah Azoth-nya identik dengan istilah adz-Dzat-nya Sufi (diucapkan dalam bahasa Persia dan oleh karena itu diucapkan dengan az-zaut dalam hampir semua sajak Sufi). Paragranum sebenarnya merupakan Latinisasi dari ilmu tentang sifat batin dari segala sesuatu.

Karena ada Reformasi (Gereja), Paracelsus harus berhati-hati di dalam mengungkapkan pemikirannya, sebab ia sedang memproyeksikan suatu sistem psikologis yang berbeda dari cara-cara Katholik maupun Protestan. Di satu tempat ia mengatakan, "Bacalah di dalam hati, sampai di masa datang agama yang benar akan datang!" Ia juga menggunakan analogi "anggur" dari Sufisme dalam merujuk pada pengetahuan batin. Akibatnya ia dituduh sebagai pemabuk. Hanya dari sudut pandang Sufi sajalah bagian ucapannya ini bisa diterima:

"Marilah kita memisahkan diri dari semua upacara, konjurasi (hal-hal yang bersifat magis), penyucian, dan seterusnya, serta semua delusi serupa dan meletakkan hati, keinginan dan kepercayaan kita semata-mata pada batu yang benar ... jika kita membuang egoisme, maka pintu akan terbuka bagi kita, dan dengan demikian misteri akan terungkap." (Philosophia Occulta).

Ia bahkan mengutip ajaran Sufi:

"Keselamatan tidak dicapai melalui puasa, memakai pakaian tertentu maupun dengan mencambuk diri. Ini merupakan takhayul dan kemunafikan. Tuhan menciptakan segala sesuatu ini murni dan suci, manusia tidak perlu menyucikannya ..." (Ibid.).
Banyak para okultis (orang yang mempraktekkan ilmu sihir), disamping adanya hal ini, tetap mencoba mengikuti berbagai gagasan alkimiawi dan cabalistik (hal-hal bersifat rahasia) yang dihubungkan dengan Paracelsus.

Henry Cornelius Agrippa (dilahirkan tahun 1486) adalah contoh lain dari apa yang oleh para Sufi disebut sebagai "perintis" (rahbin). Ia diduga telah menjadi seorang ahli alkimia dan magic, dan bahkan sampai saat ini ada orang-orang yang mencoba meraih kebenaran melalui sistem magis yang dikaitkan dengannya. Ia menulis tentang metode Raymond Lully, yang mengajarkan tentang Hermes dan niscaya mengetahui interpretasi Sufis tentang alkimia.

Mereka yang mengikutinya dan memandangnya sebagai penipu, sama-sama menguji kembali kata-katanya dengan sorotan Sufi. Ia mengatakan tentang alkimia, "Inilah kebenaran dan filsafat rahasia tentang keajaiban alam. Untuk itu, kuncinya adalah pemahaman -- karena semakin tinggi kita membawa pengetahuan kita, maka semakin agung nilai pencapaian kita dan kita melakukan hal-hal terbesar dengan lebih mudah." Batu dari para ahli alkimia yang mengikuti "Seni" itu secara literal adalah "sia-sia dan rekaan", selama mereka mempraktekkan seni itu secara harfiah, sebab "adalah semangat batin yang ada di dalam diri kita itulah yang bisa melakukan apa saja, yang mampu dilakukan para ahli matematika yang agung, ahli magis yang luar biasa, ahli alkimia yang mengagumkan dan ahli nujum yang mempesonakan."

Karena hal ini sejauh yang bisa dilakukan seorang Sufi, terutama yang dikelilingi oleh orang-orang yang ingin mempercayai hal-hal supranatural dalam suatu bentuk yang maujud, dan karena agama ortodoks memiliki kepentingan tertentu untuk mempertahankan supranaturalisme dalam bentuk yang tidak masuk akal, maka tidaklah mengejutkan jika orang-orang seperti Agrippa dianggap sebagai ahli magis atau orang gila.

Catatan kaki:

1 "Batu Filosuf" adalah istilah yang terkait dengan alkimia, yang pada intinya adalah proses transformasi logam menjadi emas. Tetapi istilah ini bisa berarti transformasi spiritual (pent.).

2 alkimia pada Abad Pertengahan disebut dengan nama "Seni-Sofis".

3 Paracelsus (1493-1541) mencatat: "Merkuri adalah ruh, sulfur adalah jiwa dan garam adalah tubuh."

4 Bandingkan dengan Asin Palacios, Ibn Masarra, hlm. 13.

5 Dr. John Read, Prelude to Chemistry, London, 1936.

6 Norton (abad kelima belas) meletakkan prinsip bahwa rahasia-rahasia 'alkimia suci' hanya bisa diajarkan secara verbal kepada para pemula yang dipilih oleh seorang guru dan diangkat secara ketuhanan -- dan arti dari 'satu juta orang sulit mendapati tiga orang yang ditakdirkan bagi alkimia'." (J. Read, op.cit., hlm. 178).

Senin, 21 Maret 2011

aku Adalah Musuhku

Aku Adalah Musuhku Danu Indra Satya / 22 Th-Ex Trainer Super Memory Amaul Husna
Dia dihadapkan pada terlampau banyaknya sajian spiritual. Memilih, telah menjadi kemestiannya jika tidak ingin terus diguncang oleh kagalauan batinnya. Itu pun harus tepat. Sebab sesuatu yang dikecam banyak orang belum

tentu sesat dan tidak mesti sesuatu yang dipuja oleh massa adalah yang terbaik. Ia kumpulkan beragam hidangan spiritual dari yang beraksentuase meditasi, ISQ, supranatural, metafisika, hipnotis hingga NLP (Neuro Linguistic Programing).

Setelah semua dicicipi, akhirnya semua ditinggalkan yang dipilihnya adalah Dunia Sufi. kenapa Dunia Sufi ? karena disana ia temukan kebenaran Islam dan pencerahannya sekaligus. Sesudah berbai’at pada tarekat Syadziliyyah tuntutan yang lebih bersifat akademik untuk menjelaskan manusia dan kemanusiaan, hidup dan kehidupan tak lagi menjadi penting, sebab baginya kini yang terpenting bagaimana menginternalisasikan warisan teladan Nabi Muhammad Saw dan ajaran-ajaran besar para Sufi Besar kedalam jiwa serta mewujudkannya dalam ranah kehidupan sehari-hari. “Ternyata dalam Dunia Sufi semua masalah ada jawabannya,” begitu pengakuannya, beberapa kali ditegaskan pada Majalah Cahaya Sufi.

>Mencari Islam dan Allah swt
Danu Indra Satya (22) satu dari ribuan remaja perkotaan yang beruntung. Beruntung karena ia masih memiliki kesetiaan; dalam berkomitmen, dalam religi dan kiblat nilai. Namun semua itu dilaluinya bukan dengan mudah. Ia tersulut oleh kehampaan batin yang mendorongnya jauh berjalan, memasuki lorong panjang yang senyap, sunyi dan sesekali terasa gersang, diamuk gelisah. Ia sempat menolak Islam; sebagai agama “turunan” kedua orang tuanya; sebagai perangkat ajaran dari langit dan final dalam memberi jawaban atas persoalan hidup. Ia baru melihat jawaban Islam atas persoalan baru sebatas tingkatan ideal dan terasa mentah, terutama, ketika ditarik ke bumi dalam tataran sosiologis dan psichologis.

“Dimasa-masa SMA saya mengidap kehampaan batin.
Saya mencari penawarnya dalam Islam tapi tidak ditemukan. Disamping mencari islam, pada saat yang sama, saya mempertanyakan kesempurnaan Islam sebagai agama yang paling benar. Kalau Islam agama paling benar dan sempurna pasti tak ada cacat didalamnya. Saya tergelitik untuk mencari dan menemukan kesempurnaan itu,” tutur Danu mengawali pembicaraan yang sebelumnya sempat melakukan aksi tutup mulut, menolak diwawancarai Cahaya Sufi. Ia ditemui, tengah malam, usai mengikuti dzikir dikediaman salah seorang Imam khushushiyyah dibilangan Kebayoran Lama Jakarta Selatan beberapa waktu lalu. Sepertinya Danu masih menganggap sopan orang yang meragukan keagamaannnya sendiri. “Keraguan tanda kedalaman iman dan kesejatian cinta,” begitu perasaan sebenarnya yang ada dalam diri Danu terhadap Islam. Kecintaannya terhadap Islam terbukti ketika ia menolak keras pernyataan Anand Krishna yang menyamakan Islam dengan agama dan aliran kepercayaan yang ada.

Meski Anand dikenal dengan pernyataan-pernyataannya yang sejuk dan mendamaikan seperti, “Saya tidak berusaha untuk mengumpulkan anggota-anggota atau pengikut. Saya tidak tertarik pada domba, saya tidak mencari kepada Allah swt. Saya berusaha untuk membina para gembala. Sesungguhnya, saya tidak dapat berbuat lain, selain meletakkan cermin dihadapan Anda. Ketika Anda melihat saya, Anda melihat diri Anda sendiri. keadaan Anda sekarang mungkin mencerminkan masa lalu saya. Keadaan saya sekarang dapat menjadi masa depan Anda. Masa depan saya masih merupakan sebuah misteri. Jadi, jangan mencoba untuk menjual saya. Jangan jadikan saya sebagai seorang mesias lainnya, saya hadir di sini bukan untuk memenuhi standar-standar Anda, dan saya juga tidak mengharapkan hal yang demikian dari Anda. Datanglah dan mari kita berbagi. Saya akan berbagi dengan Anda apa yang saya miliki dan Anda dapat berbagi dengan saya apa yang Anda miliki. Kita semua adalah para sahabat,”

Danu tak bergeming, masih tetap dengan sikapnya, lakum diinukum wa liya diin, itu jalanmu dan aku memiliki jalanku sendiri, demikian kira-kira prinsip yang di pegang Danu.
Pengalaman itu malah semakin membuat Danu bergairah mencari Islam. Ia tak ragu mempelajari Islam ke berbagai kelompok spiritualitas yang berbeda nama dengan aturan main yang tidak sama pula. Ia juga menjalankan praktik-praktik mistik dari yang berpola meditasi hingga zikir dan tantra. Kundalini pun pernah ia dalami.

Keterlibatannya diberagam ajaran spiritual dari berbagai kelompok mistik itu, mengubah pergumulan pemikirannya yang semula sebatas pada Islam, beralih pada tema tentang Allah swt. Ia dihantui pertanyaan-pertanyaan tentang Allah swt yang ditemukannya ketika bermeditasi dan melampaui pengalaman trance masuk ke alam non dualitas. “Saya bertanya, itu benar-benar Allah swt atau alam khayal saya saja? Lantas apa bedanya Allah swt dengan imajinasi? Apa bedanya imajinasi bawah sadar dengan wujud Allah swt yang hakiki,” ungkap Danu mengenang.

Cukup sampai disini ? Tidak. Untuk menguji “temuan-temuan” nya Danu melakukan anti tesa dengan mengikuti pelatihan ESQ yang dipimpin Ari Ginandjar. Oleh Ari ia dipercaya untuk mengelola Fosmagz, majalah terbitan ESQ. Di sela-sela itu ia pun mendalami psikologi terapi hypnosis pada dua psikiater yang mumpuni dalam model pikiran ilmiah alam bawah sadar dan hypnoterapi, Ananta dan dokter Arya. Puncaknya, Danu belajar kepada seorang master hypnoterapi dari Amerika, Julie Griffin. “Saya memang pencari yang liberal, Mas” aku Danu.

Hingga ada satu kejadian dimana batinnya terperanjat dalam sebuah tugas jurnalisme. Nara sumber, seorang Guru Tasawuf, yang akan diwawancara tiba-tiba berkata pada Danu bahwa semua yang didapat dan dipelajari nya dari ESQ, tak pernah menghantarnya pada Allah swt. Danu hanya bisa tergagap mendapat pernyataan itu. Bagaimana tidak, proses wawancara saja belum dimulai, Guru Tasawuf yang dalam ceramah-ceramah dan kesehariannya berpenampilan low profile seketika saja, dengan tegas, melontarkan kata-kata yang tidak di duga Danu sebelumnya.

“Sebenarnya saya hanya ingin mewawancarai beliau. Eh malah saya mendapat pernyataan yang sangat nyelekit dan membuat saya sock. ESQ tidak bikin kamu sampai pada Allah !. ESQ hanya memberi kamu peta, tapi tidak memandumu !,” cerita Danu, mengutip ucapan guru Tasawuf yang Sufiolog itu.
Alih-alih berita yang didapat, kata-kata “O, iya ?” menelusup ke hati Danu, mengendap lalu menjadi pertanyaan besar.
Pertanyaan besar itu seperti obor yang apinya terbuat dari bahan bakar keabadian, terus menyala dan menggelorakan rasa ingin tahu Danu atas kebenaran kata-kata yang sempat membuat batinnya terperanjat. Danu selalu memikirkan kata-kata itu selama berbulan-bulan sebab Danu memang tak ingin pengetahuan yang didapatnya setelah melawati perjuangan panjang hanya serupa bunga plastik, indah tapi palsu, indah namun mudah membosankan.

Pertanyaan besar yang lahir dari pernyataan tandas, tegas dan tak terduga itu mendorong Danu untuk mempelajari tasawuf, terutama fikiran-fikiran Imam Ibnu ‘Atha’illah yang tertuang dalam kitab al-hikam. Walau demikian bukan berarti Danu membiarkan begitu saja pertanyaan-pertanyaan seputar Islam dan Allah swt yang bertahun-tahun menggelayuti pikirannya hilang ditelan udara hampa. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu terus di carinya, bahkan ia masih selau melakukan antitesa terhadap setiap tesa yang ia temukan.

Menyimpan isu kesesatan tasawuf. Sejak itu Danu selalu aktif mendatangi majelis-majelis dimana Guru Tasawuf itu menggelar pengajiannya, mulai dari majelis yang memanfaatkan kediaman salah seorang pengamal tarekat Syadziliyyah, H. Syahrir, persis dibelakang ITC Permata Hijau, Jln. Masjid An-Nur Kebon Nanas No.13 Kebayoran Lama Jakarta Selatan, sampai Hotel Maha Rani dan Kampus Biru (keduanya ada dibilangan Mampang Jakarta Selatan) serta Masjid Baitul Ihsan Bank Indonesia yang letaknya tak jauh dari Monas (Monumen Nasional) dan Istana Negara. Bukankah jika tasawuf itu begitu penting dalam Islam, sudah pasti Allah dan Rasul-Nya akan memerintahkan manusia (setidaknya umat Islam) untuk belajar tasawuf ? Bukankah Allah berfirman: “…Pada hari ini telah Aku (Allah) sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu….” (Al Maa-idah:3).

Bukankah Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya perkataan yang paling baik adalah kitab Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah Saw, dan perkara yang paling buruk adalah perkara yang baru (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah tersesat” ( H.R Muslim ).

Danu sepertinya terpana pada firman Allah dan Sabda Rasul yang hanya dilihat pada letterlijk nya saja. Wajar jika ia kemudian pernah menganggap tasawuf sebagai sesuatu yang bid’ah, ganjil dan menyimpang. Itulah kenapa hatinya meragu pada tasawuf. Danu benar-benar tidak ingin meletakkan harapan berakhirnya kegelisahan akal dan batinya pada tasawuf. Lalu akhir yang ditunggu-tunggu itu pun tak benar-benar sanggup membawanya menuju titik akhir.[pagebreak]
>Terjawab semua
Betapa manusia adalah makhluk yang gemar mencari, gemar berjalan jauh cuma untuk menuai kebingungan karena yang gelap dan yang terang itu sama-sama bisa dicari baik diawal maupun diakhir. Dan akhir yang tak pernah berakhir itu akhirnya menggoda Danu untuk terus mencari penerang yang terakhir.
Seiring berjalannya waktu. Kesertaan Danu di pengajian Al-Hikam membuahkan titik cerah. Dalam peta Allah swt. itu Danu masih memiliki tempat untuk mengakhiri pencarian dan kegelisanmya. Dari sana Danu mulai memahami Islam yang ilmunya bernama syari’at, iman yang ilmunya bernama akidah atau tauhid dan ihsan yang ilmunya bernama tasawuf dan pelaksanaan amaliyahnya bernama thoriqoh.

Danu amat menyadari bahwa dirinya hidup di era multipolar, penuh keberagaman. Ia sadar kini dirinya ada pada sebuah era
(abad 21) dimana (dimungkinkan) ragam pusat-pusat kecil keluar berjejaring dengan eksperimentasinya sendiri. Ia tak ingin masuk (terjaring) dalam aliran thoriqoh yang model kegiatannya mirip dalam sekte-sekte spiritulitas yang memiliki kasus tragis seperti kejadian David Koresh yang mengajak anggota sektenya masuk surga dengan cara mencabut nyawanya sendiri. Karenanya wajar jika Danu, yang cenderung berpikir rasional, amat berhati-hati sebelum melangkah masuk dalam thoriqoh.

Ternyata Dunia Sufi yang hakiki bukan Dunia Spiritualitas biasa, ia memiliki hukumnya sendiri. Hukum itu menyebutkan bahwa rahmat Allah meliputi segala sesuatu dan dapat menembus setiap situasi. Guru yang tepat muncul pada saat yang tepat apabila seseorang mempunyai kesungguhan hati dan akhlak yang benar. Akhlak yang benar itu adalah kesabaran dan kenal terhadap kebutuhannya sendiri.

Akhirnya, melalui rahmat Allah inilah datang jawaban yang tepat pada waktu yang tepat bagi Danu hingga tiba satu masa dimana komitmen total harus dipilih, dibulatkannya. Danu pun akhirnya ber-baiat. Setelah tiga tahun melihat dan memperhatikan, Danu pun berbaiat pada Thoriqoh Syadziliyyah.

Pengalaman apa yang Anda temukan sejak bertarekat pada Thoriqoh Syaadziliyyah ?
Banyak hal yang saya temukan terutama jawaban tentang Islam dan Allah swt. Tanda tanya besar seputar Islam dan Allah swt yang menggelayuti pikiran saya selama puluhan tahun terjawab sudah.

Semudah itukah ?
Tidak. Al-hikam menjadi pengantar sebelum saya memilih tarekat syaadziliyyah. Dari Al-Hikam saya mendapat arahan untuk mengaca diri sebelum bicara jauh mencari Allah swt. Al-Hikam menata hati saya pada persoalan yang kelihatannya seolah remeh temeh, padahal ia menjadi pintu gerbang mengenal diri sebelum mengenal Allah swt, seperti hati yang sabar dan bersyukur, tidak bergantung pada makhluk dan sebagainya. Ia membangkitkan kesadaran moral dan lebih bernilai dari semua yang bersifat materiil dan duniawi. Setelah bertarekat saya lebih memahami organ struktur tubuh batin dan serat optic batin yang tidak pernah saya temukan sebelumnya.

Seperti apa serat optic batin itu ?
Terutama di seputar latha-if, hawathif, nafsu dan mahabbah saya temukan hanya dalam tasawuf. Ilmu pengetahuan Barat hanya mengenal conscious dan unconscious atau alam sadar dan alam bawah sadar yang jabarannya sangat minim sekali. Dunia Barat meyakini bisikan intuitif bersumber dari otak, bawah sadar atau emosi yang terpendam. Sedang dalam tasawuf intuitif itu dimungkinkan berasal dari beberapa sumber; nafsu, jin, malaikat dan Allah swt.

Anda bisa sedikit kisahkan secuil sejarah kemunculan NLP (Neuro Linguistic Programming)?
Sekitar tahun 70-an ada seorang pemuda yang bernama Richard Bandler, mahasiswa jurusan matematika dan computer science, yang mengagumi seorang hypnotist bernama Milton Erickson (father of modern hypnosis). Bandler mengamati rekaman-kekaman video sesi terapi Erickson bersama klien-kliennya. Bandler rupanya gatal, ingin mencoba teknik ericksonian hypnosis dengan membuka praktek gelap dan ternyata sebagian besar hasil prakteknya berhasil. Ketika muncul satu pertanyaan dalam benaknya, apakah yang paling dicari manusia dalam hidup ini ? Jawabannya adalah perubahan (CHANGE). Semua orang ingin berubah lebih kaya, lebih bijaksana, lebih baik, lebih spiritualis, dan lain-lain. Kemudian dia mengamati dua terapis populer saat itu yaitu; Virginia Satier (family therapy) & Frilt Perls (gestalt therapy). Kemudian Bandler bekerjasama dengan Prof. John Grinder dari University of California, tepatnya di Santa Cruz, untuk membuat kodifikasi pola pengamatannya agar dapat diajarkan kepada orang lain.[pagebreak]

Hebat bukan ?
Hebat bagi orang-orang yg mengagumi computer yg paling canggih didunia yaitu sebongkah daging yang bernama otak manusia.
Secara factual Bill Clinton, Andre Agassi, Lady Di dan Nelson Mandela dapat meraih kesuksesannya dengan menggunakan NLP, lah Anda ini malah membuangnya. Kenapa? Karena saya merasakan materi tidak dapat menjadikan saya bahagia.

Yang Anda tahu, apa sich Program Pembentukan Manusia Sempurna dalam NLP itu ?
Dalam NLP biasa disebut dengan Modeling Of Human Excellence. Bandler dan Grinder mengamati mengapa seseorang bisa sukses dan gagal? Mengapa ada pedagang laku dan tidak laku? Mengapa ada dokter yang ramai dan sepi pasien? Apa yang beda dan membuatnya berbeda? (what different than make different?) dan mereka menemukan ternyata ada perilaku orang-orang sukes yang tidak diketahui orang gagal. Inilah yang disebut modeling dalam perspektif NLP bagaimana kita memodel pola-pola neuro orang sukses dan kemudian di install kedalam syaraf otak (neuro) kita.

Apakah karena dalam NLP dikenal konsep mind to body atau mind to muscle, hal yang menyangkut pada upaya meningkatkan keterampilan fisik, untuk itu Anda tinggalkan NLP lalu masuk dalam

Dunia Sufi ?
Kurang lebih seperti itulah !Karena hypnotherapy dan NLP menguatkan “aku” sedang dalam dunia sufi “aku” adalah hijab sedangkan hijab adalah ‘adzab.

Kebutuhan batin atau spiritualitas Anda, tantra dan yoga yang pernah Anda pelajari menjawab kebutuhan itu,
bukan ?
Yoga juga hampir sama dengan hypnosis menguatkan “aku”.

Bukankah Yoga dan Tantra juga pada akhirnya juga
ber-ending pada Allah swt, sama seperti ending dalam Dunia Sufi ?
Sepintas memang mirip tapi mirip itu bukan berarti sama, bisa berbeda. Dalam Yoga ada konsep penyatuan wujud antara manusia dengan Allah swt yang sangat bertentangan dengan konsep sufisme.

Anda menemukan Allah swt yang beda pada NLP, Hypnotherapy, Yoga,Tantra dan Dunia Sufi ?
Dalam dunia sufi Allah swt adalah “ALLAH SWT”. Dalam hypnosis dan NLP apa saja bisa dijadikan Tuhan, uang bisa jadi Tuhan, karir bisa jadi Tuhan, kehendak kita bisa dijadikan Tuhan. Sedang dalam dunia yoga saya belum menemukan Allah swt.

Anda percaya dengan sufi healing sebagai bagian ajaran para Sufi ?
Sangat sulit menjelaskan apakah sufi healing yang berkembang saat ini sama seperti yang para sufi sejati lakukan? Karena sufi healing kini terpecah menjadi dua. Yang pertama dikalangan konvensional.

Sufi Healing menjadi praktek penyembuhan mistis melalui ilmu hikmah yang berbau perdukunan Islam. Yang kedua dikalangan cosmopolitan. Disini banyak sufi-sufi palsu yang menjadikan Sufi Healing sebagai komoditas bisnis therapy dan training dengan menggunakan prinsip ketika seseorang sakit maka ada yang tidak seimbang dalam kehidupan personalnya.

Bertasawuf bukan untuk penyembuhan; Sembuh dari penyakit; Sembuh dari kemiskinan; Sembuh dari penderitaan hidup dan seterusnya dan sebagainya.

Danu tertawa terbahak-bahak ketika ditanya tentang gambaran Sufi di era millennium, “Ha ha ha lucu juga ini…..,” katanya. “Zaman boleh berkembang ke era apapun, mutu hidup manusia silakan saja menuju kecanggihan macam manapun, dan jika kelak manusia dapat menduduki bintang-bintang di Galaxi Bima Sakti, seorang Sufi ya tetap berdzikir dan berdzikir,“ tambahnya. “Dan….ternyata dalam Dunia Sufi semua masalah ada jawabannya,” tutup Danu.

Cari Blog Ini