Muhammad bin ‘Alii Ibn al-‘Arabi
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ , Dia Yang menganugerahkan Asmaul Husna-Nya atas para pelayan-Nya dan para syuhada; bahwa Dia akan memasukkan mereka (li-yuhilla-hum) ke dalam Cahaya-Nya, tempat yang berkekalan dalam kemuliaan (al-mahall). Allah memikrajkan (‘arraja) seorang manusia yang berjalan dengan Asma-Nya, seorang pilihan untuk mengabdi dan diikat-eratkan kepada Diri-Nya menuju maqom “dua anak panah atau qarib” (qaab qawsayn aw adna’). Qarib-Nya, hidup dan merasa lepas bebas dalam Jalan kehidupan yang Dikehendaki-Nya, bagai anak panah yang diluncurkan sang pemanah.
Hadits Qudsi, “Ketahuilah, bukan hal mustahil para muqorrobiin akan memperoleh apapun yang mereka inginkan, karena keinginan mereka berasal dari Kehendak-Ku.”
Di antara para pelayan pilihan-Nya, ada orang-orang yang:
1. Telah menetap mqomnya
2. Gigih berjuang melakukan perjalanan malam (israa’ u-hu)
3. Menderita dalam ujian tak berkesudahan, dan mereka tak peduli dengan ujian-ujian berikut yang akan mereka hadapi dalam pencarian-Nya
4. Allah ambil sebagai Kawan dan Orang Terpercaya, seorang Kekasih dan Sahabat Qarib
Keempat golongan di atas disebut sebagai saadaat ahlul amaanah, yaitu mereka yang dapat dipercaya Allah.
Mereka yang menggantungkan diri kepada Ruh Illaahiyyah memiliki karakter yang berbeda dengan mereka yang bergantung kepada jasadnya, dan sudah ditentukan sejak penggunaan Tangan yang dipergunakan untuk mencipta. Manusia yang diciptakan dengan Tangan Kanan-Nya akan memperoleh keberuntungan, sebaliknya Tangan Kiri. Tetapi karena Berkah-Nya meliputi segala sesuatunya, dengan Rahmat-Nya Allah menjadikan yang jauh menjadi dekat. Insya Allaah, ia yang diciptakan dengan Tangan Kiri pun bisa mendekat kepada-Nya, mencapai Takdir sempurnanya. Dengan lisaan al-haal-Nya, Al-Haqq telah berbicara kepada inti qalb (sirru-hu) nya, “Hal itu hanya terjadi bilamana Kami Berkehendak!” dan betapa Dia selalu menanti penuh kerinduan Kehadiran atribut-Nya (shifaat, af’al, perbuatan-Nya) dalam dada setiap manusia. Karena itu, mendekatlah, wahai, yang diciptakan dengan Tangan Kanan maupun Tangan Kiri.
الْحَمْدُ لِلَّهِ , dengan tahmid seseorang yang berbicara melalui ‘Hu (Dia yang tak tercerapi)’, bukan ‘aku’ sebagai manusia – dan ketika syukur-Nya dikirimkan kepada para al-amaanah dan dituangkan ke dalam ‘wadah besar (qalb)’, maka keberuntunganlah yang akan mereka peroleh. Berkah Allah bagi para utusan pilihan yang tak henti mengajarkan al-quran mulai dari huruf per huruf, makna per makna kalimat dari ayat, hingga makna dari suara/ bunyi kalimat-kalimat (ayat).
Setelah bertahmid dan berdoa serta menuturkan limpahan anugerah dan kegembiraan yang Allah karuniakan bagi pencari teguh-Nya, aku berkata, “الْحَمْدُ لِلَّهِ , Yang membimbing kita menuju-Nya – dan tiada bimbingan selain oleh-Nya. Sesungguhnya, setiap utusan-Nya membawa Al-Haqq!”
Qs. 7 : 26
يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ [٧:٢٦]
“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian (libaas) untuk menutup auratmu dan pakaian indah (riisan) untuk perhiasan (al-ziinah). Dan pakaian takwa (libaas al-taqwa) itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah , mudah-mudahan mereka selalu ingat.”
Aspek yang harus ada (al-libaas al-zaahir) dari seorang taqwa adalah malu, merupakan pakaian bagi orang yang bertaqwa – berfungsi sebagai pelindung. Pakaian yang indah (riisan), adalah sesuatu yang diberi hiasan (al-ziinah) – “Hiasan dari Allah yang dianugerahkan-Nya bagi para pelayan”, harta karun yang berasal dari Dia Al-A’la, tempat Dia menyimpan Perhiasan-Nya (khaalisah = akhlak yang tinggi) bagi para orang-orang beriman dalam hidup dunia dan akhirat. Dan mereka pun tiada akan dihisab.
Qs. 38 : 46
إِنَّا أَخْلَصْنَاهُمْ بِخَالِصَةٍ ذِكْرَى الدَّارِ [٣٨:٤٦]
“Sesungguhnya Kami telah mengikhlaskan mereka di dalam khoolisah (akhlak yang tinggi) yaitu selalu mengingatkan kepada negeri akhirat (ad-daar).”
Pakaian beserta perhiasan yang dipergunakan tubuh lahir, jika pergunakan tanpa Tujuan dan Kehadiran-Nya, hanya akan menimbulkan kesombongan dan keangkuhan. Maka hanya akan menjadi perhiasan bagi hidup di dunia saja (al-hayaah al-dunyaa). Pakaian yang dipergunakan hanya satu, tetapi hisabnya menjadi bermacam-macam sesuai tujuan pemakainya.
Pakaian Taqwa, Allah kirimkan ke dalam qalb (batin) para pelayan-Nya, dan manifest ke lahirnya. Seperti pada hari akhir nanti, Pakaian Taqwa ibarat ‘sesuatu’ yang menutupi (libaas daruurii) hal memalukan yang terdapat dalam aspek batin (saw’aat al-bathiin) manusia. Pada dasarnya, ketakutan kepada Allah akan menutupi/ menghijabi kita dari sesuatu yang dilarang Allah (taqwaa l-mahaarim).
Bagai pakaian indah (riisan) yang dikenakan oleh tubuh lahir, maka akhlak mulia (makaarim al-akhlaaq)
yang tampil dalam perilaku seseorang menunjukkan tingkat kebaktian (pengenaan) seorang manusia kepada Sang pencipta. Seseorang yang mengetahui kebenaran, akan memiliki sifat memaafkan dan pendamai. Tetapi sebenarnya, kebenaran itu sendiri merupakan salah satu cara manusia untuk menghiasi dirinya sendiri dengan akhlak (pakaian) Allah – dan pakaian taqwa merupakan syariat bagi kita untuk ditunjukkan Jalan.
Pakaian Taqwa manifest dalam bentuk lahiriyyah sebagai syariat yang dijalankan sang pelayan; dan tampilannya akan berbeda pada setiap pelayan dalam variasi tujuan dan maksud penciptaan, sehingga pakaian taqwa yang diberikan pun berbeda macamnya. Tetapi para pelayan-Nya menggunakan dua macam pakaian itu, dan menghiasi diri mereka dengan keduanya agar bisa dikombinasikan menjadi Dua Kualifikasi Terbaik (al-husaynayayn) untuk dikenakan/ ditampilkan sederhana (lahiriyyah). Pakaian itu menjadi tanda bahwa mereka adalah keluarga Allah dan menjadi pertimbangan adab (suhbah wa-adab) yang dijalankan.
Pakaian takwa setiap orang, tergantung fitrahnya – sesuai dengan apa-apa yang ada di batinnya – apa-apa yang Allah letakkan dalam hati pelayan-Nya.
Hadits Qudsi, “Bumi dan lelangitku tidak dapat memuat-Ku, tapi qalb hambaku yang mukminlah yang mampu memuat-Ku.”
Pakaian memuati pemakainya. Manakala Allah hadir dalam batinku, derajatku pun ditingkatkan di antara para ‘aliim-Nya. Lalu, lahirlah puisi ini:
Pakaian Qalb
Di antara para ‘aliim, aku bukan yang paling tamak akan pengetahuan
dengan Jalan dan Rahasia-Ku – aku paling kikir?
Oh, tentu saja tidak! Tentu aku bukan seorang yang tamak,
tetapi tepatnya aku seorang dermawan, memiliki pengetahuan yang banyak sekali:
Aku akan mengeluarkan khazanah-Nya
ketika qalb ku memanifestasikan Kehadiran-Nya!
Aku lah Matahari, mengungkapkan Hakikat-Ku Sendiri dengan Kehendak-Ku;
dan Bulan-bulan yang turun menyingkapkan-Ku.
Manakala Aku Berkehendak, segala sesuatunya akan bersesuaian dengan keadaan-Ku.
Begitupun Bintang-bintang akan menyingkapkan-Ku.
Ketidakhadiran-Ku menjadikan malam gelap gulita
dan dunia tak bisa memandang-Ku.
Ketika Pakaianku ‘ditutupi’ Hakikat-Nya,
segala sesuatunya akan menjadi Cerdas!
Kesalahan harus ditutup dengan kebenaran (al-sidhq); dan khianat harus ditutupi dengan thawb al-amaanah;
Ketidaksetiaan ditutup dengan kesetiaan (khirqat al-wafaa’); dan kemunafikan ditutup dengan keikhlasan;
Akhlak buruk ditutup dengan akhlak mulia (makaarim al-akhlaaq); dan perilaku tercela ditutup dengan bersyukur (al-mahaamid); dan setiap karakter jasadiyyah ditutup dengan karakter yang lebih tinggi (khuluq sanii);
Ketidakyakinan harus ditutup dengan tawhiid al-tajriid;
Ketidaktawakalan ditutup dengan iman Didalam Allah.
Kufur ni’mat(kufr al-ni’mah) ditutup dengan bersyukur (syukr al-mun’im)
Hiasilah dirimu di dalam Pakaian Allah (zinaat Allaah) dengan akhlak mulia (malaabis al-akhlaaq al-mahmuudah), seperti:
1. Diam (al-samt) pada sesuatu yang bukan menjadi urusanmu
2. Menghindari mata dari memandang sesuatu yang tidak benar
3. menjadikan seluruh anggota tubuh takut kepada Allah
4. Menjauhi sifat khianat
5. Memeriksa/ membaca dengan teliti (tasaffuh) setiap detil perilakumu yang akan ditulis detil oleh Sang Pena
6. Merasa cukup (al-qonaa’ah) dengan yang sedikit, kecuali dalam beramal shaleh
7. Memeriksa akhlaaq al-nafs
8. Senantiasa mencari ampunan Allah (ta’aahud al-istighfaar) dan pelajari al-quran
9. Melaksanakan adab kebiasaan para Nabi (al-aadaab al-nabawiiyyah) dan pelajari akhlaaq al-shaalihiin
10. Berjuang keras melaksanakan ad-diin dan kerahiman (arhaam)
11. Berbuat baik kepada para tetangga
12. Mengabdikan diri kepada para pelayan-Nya. Rasulullah Muhammad saw. bertanya, “Adakah di antara kalian yang bisa seperti Abuu Damdam? Begitu ia bangun pagi, berseru, ‘Ya, Allah, sesungguhnya aku memberikan diriku sebagai abdi bagi para pelayan-Mu’.”
13. Memenuhi kebutuhan orang lain
14. Perlakukan teman-teman maupun musuhmu dengan ma’ruuf, rendah hati, lembut, dan pengendalian diri
15. Maafkan perilaku saudara-saudaramu
16. Jangan memperdebatkan ajaran para utusan sekarang dan terdahulu yang menyebabkan kamu memilih-milih mereka
17. Meninggalkan perkumpulan/ kelompok/ kumpul-kumpul, kecuali menyeru mereka untuk mendzikiri Allah, merasakan Kehadiran-Nya atau mengenalkan Allah
18. Merasa terpikat sehingga terus-menerus melafalkan ayat-ayat Allah
19. Tidak membicarakan sesuatu yang menyebabkan dosa
20. Meniadakan marah – kecuali terhadap orang yang sudah benar-benar keterlaluan menghina Kemuliaan Allah (mahaarim Allaah) – dan mendiadakan kebencian, kedengkian dan dendam di dalam qalb mu
21. Maafkan orang yang menyakitimu – bahkan jangan membela dirimu
22. Tetap jangan ikuti kesalahan mereka yang selama ini sudah berakhlak baik (menjadi suri teladan); barangkali kesalahan mereka tidak disengaja, jadi bukan sesuatu untuk ditiru
23. Lindungi perempuan
24. Hormati para ulama dan ahli agama (ahlul diin)
25. Hormati jaman: dan hormati pemimpin Negara baik muslim maupun non-muslim sesuai dengan hukum agama
26. Beradab yang baik kepada Allah dan setiap orang – masih hidup ataupun sudah meninggal, sedang ada atau tidak
27. Membuktikan kesalahan orang yang memfitnah kaum muslim
28. Mewaspadai banyak bicara, membual, omong kosong, sikap berpura-pura, dan memuji diri sendiri – sesungguhnya, banyak bicara akan menyebabkan seseorang terjatuh pada dosa
29. Hormati orang besar, kasihi dan sayangilah yang lemah, berkahi mereka yang berakhlak baik – carilah orang-orang yang membutuhkan harta bendamu dengan menginfakkan dan mensedeqahkannya
30. Ramah, menghibur, dan mengurus setiap tamu dengan baik
31. Sebarkan kedamaian dan silaturahiim sesuai dengan aturan agama, dan janganlah menjadi orang yang mengutuk, merusak nama baik, mencari kesalahan, dan memarahi orang
32. Jangan membalas dendam meskipun engkau berada di pihak yang benar, kecuali jika engkau bisa ‘membalasi’nya dengan cara yang ihsaan
33. Memberi nasehat kepada pencari Allah, utusan-Nya, dan pemimpin muslim dengan Tujuan Allah
34. Jangan mendoakan keburukan dan mengutuk orang lain, khususnya para pelayan Allah – baik yang masih hidup ataupun sudah meninggal. Kau tidak tahu bagaimana maqom akhir dari orang yang engkau doakan dan kutuk
35. Jangan mengatakan bahwa keinginan seseorang itu berasal dari syahwatnya belaka
36. Jangan mendominasi/ menguasai (al-riyaasah) orang lain
37. Jangan meminta anak-anakmu untuk melayani keinginanmu
38. Waspadai orang-orang yang memperbincangkan (bergunjing) dirimu dan orang lain
39. Mencintai semua orang-orang beriman baik yang merugikanmu maupun yang berbuat baik kepadamu, karena cinta mereka kepada Allah dan utusan-Nya. Jangan membenci mereka yang memandang rendah dirimu dan lainnya sedang mereka tetap berpandangan kepada Allah dan Rasulullaah Muhammad saw.
Rasulullaah saw. bertanya kepadaku, “Mengapa engkau begitu marah?”
Aku menjawab, “Karena kemarahannya. Dia telah memarahi seseorang.”
Beliau saw. menjawab, “Tidak tahukah engkau bahwa ia mencintai Allah dan aku?”
Aku menjawab, “Tahu, ya, Rasulullaah.”
“Lalu mengapa engkau tidak mencintainya demi cintamu kepadaku,” Rasulullaah Muhammad saw. bertanya lagi, “Kapan kau marah kepadanya dikarenakan marahnya kepada orang lain?”
Aku segera menjawab, “Wahai, Rasulullaah, mulai sekarang aku tidak akan melakukannya lagi! Tiada guru (mu’allim) sebaik engkau, yang selalu mengingatkanku akan kesalahan, khilaf, dan apa yang luput dariku.”
40. Tidak merasa senang dengan reputasi terkenalmu di kalangan manusia, bahkan jangan pernah menginginkannya. Apakah nanti reputasimu akan kau bawa mati?
41. Di antara para orang beriman, jangan engkau mengganggap dirimu sebagai orang yang layak mendapatkan pujian, memiliki akhlak mulia lebih daripada pejalan lainnya, kecuali jika memang niatmu adalah ingin menjadi orang yang tiada tertandingi
42. Jangan mengkhusyukkan – dengan memperlihatkan – perilaku zahirmu, kecuali jika memang batinmu telah sebenar khusyuk
43. Jangan memiliki keinginan untuk bermegah-megahan di dunia
44. Tidak peduli apakah orang lain mengambil manfaat atau tidak darimu
45. Tidak (memiliki ke-) ingin (-an) orang lain untuk mendengarkan kata-katamu
46. Tidak disusahkan dengan kata-kata orang yang tidak mengenakkan tentang dirimu
47. Bersabar bersama dan tinggal lama dengan Al-Haqq: “Dan bersabarlah bersama siapa saja yang mendzikiri Allah, pagi dan petang, mencari Wajah-Nya. Jangan membelakangi mereka, jangan ingin memiliki perhiasan hidup di dunia, jangan menentang mereka yang qalb nya penuh mendzikiri Allah. Katakanlah, “Al-Haqq datangnya dari Tuhanmu!” Jadi, barangsiapa yang mau, maka dia akan beriman. Barangsiapa yang tidak mau, biarkan saja dia tidak beriman.”
48. Penuhilah kebutuhan jasadmu dalam batas wajar, dan jangan pernah menuntut siapapun untuk mengikuti macam dan kadar kebutuhanmu
49. Berilah salaam kepada setiap muslim yang engkau jumpai, dan balaslah mereka yang menyalamimu; keduanya dengan suara yang pat damereka dengar
50. Hati-hati jangan sampai membicarakan kekikiran orang kaya atau mereka yang saling bersaing dalam memperbanyak harta kekayaan, dan jangan pernah iri dengan apa yang mereka miliki
51. Sertai Allah dalam setiap pengambilan keputusan baik engkau sedang berada bersama orang beriman maupuan orang yang memusuhimu. Jangan membalas musuhmu meski mereka menindasmu
52. Berjihadlah melawan syahwat dan hawa nafsumu; sungguh, merekalah musuh terbesarmu!
53. Jangan banyak berbelanja ke pasar/ tempat perbelanjaan, bahkan sekedar untuk jalan-jalan
54. Bersabarlah terhadap keputusan imam agamamu, bahkan jangan pernah menyerang seorang muslim dengan kata-kata yang akan menyebabkan ia diusir dari jama’ah
55. Peganglah dengan teguh pernyataan para nabi. Apa-apa yang mereka nyatakan, untuk itulah mereka diutus
56. Tinggalkan orang-orang munafik dengan tetap berpegang teguh kepada al-quran dan al-qadar
57. Hindari perkumpulan sesat dan para bid’ah
58. Membuang ketamakan, kedengkian dan kesombongan jauh-jauh dari qalb
59. Masuklah ke dalam al-jamaa’ah orang beriman, karena serigala akan memakan domba yang tersesat sendirian
60. Janganlah tergesa-gesa untuk bersegera melakukan suatu urusan selain dalam 5 hal:
- Shalat, awal waktu merupakan saat terbaik
- Mendatangi majelis ilmu
- Menghidangkan makanan kepada tamu sebelum bercakap-cakap
- Menguburkan jenazah
- Menikahkan anak perempuan begitu matang usianya
61. Berusaha keras dengan ikhlas melaksanakan nasihat para pelayan-Nya
62. Berhenti melakukan hal syubhat, dan meningkatkan kualitas shalat dengan menyempurnakan segala hal terkait dengannya
63. Menghisab diri rendahmu sebelum datangnya Hari Penghisaban
64. Keluar dari kebodohan menuju Pengetahuan yang benar: dan bahwasanya pengetahuan yang benar merupakan pengetahuan terbaik karena Tujuanmu adalah Dia; dan hormati penolakan orang terhadap pengetahuanmu
65. Tidak berangan-angan dan menghindari tipuan (daar al-ghuruur) nya
66. Meyakini bahwa betapa menjijikkannya diri rendahmu. Orang-orang beriman selalu meyakini bahwa diri rendah selalu mencari hal-hal yang menjadi kesenangan (khaatir madhmuum = hedonis?) baginya
67. Memerangi ketidakadilan dalam dirimu
68. Memperbaiki kebiasaan (adab, pola, gaya dll) makanmu
69. Memperbaiki hubungan antar sesama manusia, dan hubungkan kembali yang terpecah sebelum Allah membawa masalah itu pada Hari Perhitungan
70. Tidak berprasangka buruk kepada Allah dan manusia, tetapi tetaplah waspada
71. Mencintai dan membenci (al-hubb wa-l-bughd) seseorang atau sesuatu hanya karena Allah; dan cintailah (al-mawaddah) Keluarga para utusan-Nya – berkah dan perlindungan Allah bagi mereka! – dan ikatlah persaudaraan (al-muwaalaah) dengan Kebenaran
72. Banyak menangis demi meraih Cinta-Nya
73. Bermohon dan berdoalah kepada-Nya sepanjang hari
74. Berjalan di atas Jalan dengan istiqomah
75. Dalam keadaan apapun, selalu rendahkanlah dirimu di hadapan Allah – Tinggikanlah Dia!
76. Mewaspadai segala bentuk keluhan dan merasa diri tidak berguna dengan senantiasa bersyukur (syukr al-mun’im) atas segala anugerah-Nya kepadamu
77. Engkau selalu menginginkan Allah dalam setiap keadaan apapun
78. Menolong setiap orang di dalam amal shalehmu (al-birr = kebaktian, Qs. 2 : 177 ) dan bertaqwalah (al-taqwa)
Qs. 2 : 177
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ [٢:١٧٧]
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang shodaquu; dan mereka itulah al-Muttaqiin.”
79. Memenuhi panggilan al-daa’ii
80. Membantu orang-orang yang tertindas (nusrat al-mazluum)
81. Menghibur orang-orang yang sedang berduka dan hapuskan air mata mereka
82. Menghabiskan siangmu dengan beramal shaleh (turun kepada makhluk) dan malam-malammu dengan bercakap-cakap intim bersama Allah – sesungguhnya menghabiskan malam dengan bertahajjud adalah lebih baik bagimu. Al-Mutahajjudiin: orang yang berjaga sepanjang malam. Merekalah yang akan memperoleh al-haqq.
83. Mengingat mati dan mengunjungi kuburan, tetapi jangan mengkeramatinya
84. Memberi berkah pada acara pamakaman dan antarkanlah jenazah ke pemakaman – paling depan jika engkau berjalan kaki, dan bagian belakang jika berkendaraan
85. Santuni yatim piatu, kunjungi orang sakit, bersedeqahlah kepada faqir miskin, dan cintailah para ahlul khayr (ahli kebaikan)
86. Rutin (dawaam) mendzikiri-Nya dan takut (muraaqobah) kepada-Nya
87. Muhaasabah al-nafs dalam setiap perilaku lahir dan batin
88. Akrab dengan kata-kata Allah (uns bi-kalaam Allaah) terutama Al-Quran
89. Mengambil hikmah dari setiap hal terdengar, tampak, dan terasa
90. Bersabar dalam menanti ketetapan Allah (ahkaam Allaah). Sesungguhnya engkau berada di dalam Pengawasan-Nya (bi-‘ayni-hi).
Qs. 52 : 48
وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا ۖ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ حِينَ تَقُومُ [٥٢:٤٨]
“Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam pengawasan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri,”
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Sumber: Nasab al-Khirqoh, translated to english by Gerald Elmore,
Asysyam
“Sesungguhnya berbahagialah orang yang mensuciikan jiwanya, dan sungguh merugilah orang yang mengotori jiwanya”
Tampilkan postingan dengan label Muhyiiddiin Ibn 'Arabi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muhyiiddiin Ibn 'Arabi. Tampilkan semua postingan
Senin, 07 Maret 2011
Senin, 03 Januari 2011
Waktu dan Kosmologi
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Kosmologi dan Waktu
Kosmologi merupakan ilmu yang mempelajari alam semesta, kosmos. Kata kosmos sendiri telah digunakan sejak jaman Yunani kuno, berbicara tentang metafisika yang berarti ‘harmoni’ atau ‘keteraturan’. Lawan dari acak atau kekacauan. Teori Yunani kuno tentang penciptaan menyatakan bahwa kekacauan tidak memiliki bentuk. Dan ‘waktu’ merupakan hal mendasar yang perlu dipahami oleh setiap filsuf dan kosmolog; bahwa sebenarnya segala sesuatu yang ada tidak sebenar ada, namun hanya merupakan serangkaian waktu demi waktu. Setiap orang merasakan waktu, namun kebanyakan tidak benar-benar pernah bertanya tentang hakikat dan kepentingan waktu, hal itu lebih dikarenakan setiap orang sudah biasa melakukan hal rutin dari waktu ke waktu, dengan begitu banyaknya pekerjaan. Bagaimanapun, memang sulit untuk memahami falsafah waktu dan karakteristiknya.
1. Pemikiran Awal Tentang Model-model Waktu
Permulaan abad ke-20, para ilmuwan Arab dan beberapa penterjemah aneka bahasa mulai memperkenalkan astronomi kepada Eropa, sebagaimana yang berkembang dalam peradaban islam. Dalam peradaban islam, astronomi merupakan ilmu yang sangat penting. Kebanyakan ilmunya diperoleh dari Ptolemeus dan Aristoteles dengan model geosentris (bumi sebagai pusat tata surya). Namun ternyata, Gereja Katolik juga pernah mempergunakan astronomi berdasarkan konsep Ptolemeus dan Aristoteles sebagai dasar dari keberagamaan mereka. Copernicus sendiri (1473 – 1544) menjelaskan model heliosentrisnya dalam buku “On the Revolutions of the Heavenly Orbs” yang terbit setahun sebelum meninggalnya pada tahun 1543, “Matahari dan bintang-bintang yang lain tidak bergerak , sementara bumi dan planet-planet bergerak berputar mengelilingi matahari sebagai pusat tata surya.”
Pada tahun 1609, ketika Galileo menemukan teleskop, model geosentris Ptolemeus dan Aristoteles menjadi lemah, dan penemuan Galileo (pada tahun yang sama) mendukung teori heliosentrisnya Copernicus tentang pergerakan bumi dan planet-planet mengelilingi matahari. Pun pembuktian dari Johannes Keppler dengan tiga formulasi matematikanya yang menjelaskan tentang revolusi planet (mengelilingi matahari). Begitu juga pada tahun1687, kembali teori heliosentris terbukti kebenarannya; seorang Isaac Newton dalam buku “Philosophiae Naturalis Principia Mathematica” menjelaskan dalam temuan teori gravitasinya: bagaimana tubuh kita bergerak dalam tempat dan waktu.
Prinsip mekanika Newton sebenarnya cukup memiliki kahandalan untuk diaplikasikan dalam teori sistem tata surya, namun sebagai sebuah teori kosmologi, adalah suatu kesalahan fatal untuk menjelaskan pergerakan perputaran bumi dan planet-planet mengelilingi matahari. Apakah nanti malah akhirnya memiliki kesimpulan yang sama seperti pemikiran Aristoteles? Beliau mengatakan bahwa bintang-bintang tetap, diam, berkedudukan tetap dan jagat raya di luar sistem tata surya juga diam, tidak mengalami pergerakan apapun. Meskipun dinamika alam semesta lebih gampang diprediksi berdasarkan teori gravitasi Newton, keyakinan tentang statiknya alam semesta dari Aristoteles telah begitu melekat dengan dalam dan begitu kuat… hingga 3 abad setelah kemunculan Newton.
Pada tahun 1718, Edmund Halley membandingkan hasil penemuan dari para astronom Babilonia dan astronom pada jaman dahulu kala. Beliau menemukan, bahwa posisi beberapa bintang tidak tetap, mengalami pergerakan, terlihat dari pergerakan sejak ribuan tahun lalu. Beberapa bintang terlihat lebih kecil, itu dikarenakan kedudukannya menjauh dari bumi. Hubble juga mengatakan hal yang sama, “Beberapa bintang yang kita lihat bisa jadi tadinya berasal dari galaxy yang lain dekat dengan bumi, meskipun mereka terlihat sangat kecil, itu dikarenakan begitu jauh.”
Teori Aristoteles tentang gerak alam semesta yang statis, ternyata semakin dipersalahkan oleh Hubble. Namun, Stephen Hawking dalam buku best sellernya, malah menuliskan, “Bahkan Eisntein, dengan formulasi teori relativitasnya (1915) begitu yakin bahwa alam semesta tidak bergerak. Keadaan kosmos tetap selamanya.”
Namun bukan ilmuwan namanya jika cepat puas dan menghentikan pencariannya karena sudah merasa paling benar; Einstein, pun segera menyadari kesalahan fatalnya.
Bagaimana pandangan Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi?
Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi, telah berabad-abad lamanya menyatakan bahwa bintang-bintang tidak mungkin memiliki kedudukan/ manzilah yang tetap, bahkan dalam bukunya “futuuhaat al-makiyyah”, sang syekh menjelaskan pergerakan bintang-bintang dengan angka-angka kecepatan tiap bintang bergerak dengan begitu presisinya.
Kosmologi Modern
Sejak munculnya teori dan pembuktian kebenaran teori Copernicus, pandangan manusia tentang kosmos semakin meluas dan lebih akurat. Kita kembali pada tahun 1924, manakala Edwin Hubble menunjukkan bahwa galaxy kita bukanlah satu-satunya galaxy yang ada di dunia ini; banyak bintang-bintang yang terlihat berupa titik-titik terang sangat kecil, yang ternyata merupakan bintang dari galaxy lain, dan lebih besar daripada galaxy Bima Sakti kediaman bumi kita ini. Sebagai bahan renungan, satu galaxy terdiri dari ribuan milyar bintang, sementara jagat raya terdiri dari jutaan galaxy. Bayangin seluas apa alam semesta kita tinggal ini. Tiada apa-apanya fisik manusia ini di hadapan Sang Pencipta. Allahu Akbar! Layakkah kesombongan walau hanya sebutir debu?
Disebabkan kekuatan gravitasi, maka segala sesuatu di langit bergerak atau berputar pada porosnya mengelilingi sesuatu. Bulan berputar mengelilingi bumi, sementara bumi bersama plant-planet lain berputar mengelilingi matahari, dimana – bersama ribuan milyar bintang-bintang – berputar mengelingi pusat dari galaxy Bima Sakti, dengan jarak yang cukup berjauhan antar satu galaxy.
Demi memberikan gambaran yang lebih jelas tentang keluasan jagat raya, maka sebaiknya kita menunjukkan angka-angka yang ada. Satuan yang dipergunakan untuk mengukur jarak dalam kosmologi dinamakan dengan ‘tahun cahaya’ (1 tahun cahaya berjarak = 9.500.000.000.000.000 meter). Perjalanan tahun cahaya pada 300.000 km/ sekon ibarat mengelilingi bumi sebanyak 7 kali. Galaxi kita, kurang lebih terdiri dari 200 milyar bintang ditambah dengan ribuan kluster (kelompok bintang-bintang (galaxy) yang memiliki kesamaan karakter) dan nebula yang secara bersamaan membentuk sebuah cakram dimana ukuran diagramnya lebih daripada 100.000 tahun cahaya, dengan ketebalan berjarak 15.000 tahun cahaya. Sementara jarak galaxy terdekat, yaitu Andromeda, 2,9 juta tahun cahaya. Galaxy-galaxy yang tergabung dalam kluster tak beraturam memiliki perbedaan jarak dalam perbedaan antara jutaan hingga ratusan juta tahun cahaya. Objek terjauh memiliki jarak sekitar 13 milyar tahun cahaya. Cukuplah sudah angka-angka tersebut menjadi saksi seberapa kecil dan berada di manakah kita (Hartman, 1990 : 413).
Semakin lama semakin jelas bahwa segala sesuatu di dunia ini berputar: bintang-bintang terdekat dengan bumi memiliki gerakan yang lebih akurat, hal itu dikarenakan mereka ditarik kuat menuju pusat galaxy, sementara galaxy-galaxy yang lain bergerak menjauhi galaxy kita karena jagat raya prinsipnya meluas atau mengembang. Walaupun semuanya memiliki variasi gerakan, namun keseluruhan bentangan jagat raya ini tidak memiliki titik pusat atau tepi. Betapa susah untuk membayangkan kebesarannya.
Bintang-bintang yang terlihat di langit, sama saja seperti layaknya matahari kita, banyak terjadi reaksi fusi nuklir, yang secara konstan mengubah hydrogen menjadi elemen-elemen yang lebih berat dan memproduksi panas dan cahaya. Namun tidak semua bintang memiliki ukuran, usia, dan intensitas terang cahaya yang sama. Sudah begitu banyak bintang yang mengalami kematian, dan begitu pula kelahiran dalam suatu proses evolusi yang begitu kompleks (Seeds, 1990 : 134 -281).
Sebenarnya, apa, sih manfaat penjelasan di atas? Mana model-model waktu atau kosmologi yang lain? Tenang, insya Allah penjelasan berikutnya terdapat dalam bagian ke-3. Penting sekali untuk mengetahui dan memahami prinsip dasar dari perbedaan model-model kosmos untuk memahami Model Bulan, yang selanjutnya akan menjadi bahan kajian dari Ibn ‘Arabi.
3. Kosmologi Menurut Ibn ‘Arabi – “Semua Benda Bergerak Pada Orbitnya Masing-masing yang Mengacu Pada Pusat”
Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi bukanlah seorang astronom, dan sama sekali tidak pernah tertarik dengan astronomi sebagai sains. Tetapi sebagai seorang sufi dan teologis mistis, beliau mengambangkan pengajaran kosmologi dan simbolisme berdasarkan al-quran dan al-hadits. Beliau menjelaskan planet-planet, lintasan, dan pergerakan mereka sebagai struktur yang Allah ciptakan untuk menggambarkan Citra-Nya dan hubungan mereka dengan Nama-nama Illaahiyyah. Bagi beliau, kosmologi merupakan jalan bagi manusia untuk mengenal Allah. Dan pada beberapa risalah beliau memperbincangkan astronomi secara falsafah dan teologis. Tidak ada buku yang benar-benar khusus membicarakan langit beserta isinya. Tentang kosmologi, salah satunya dapat ditemui pada beberapa paragraf dari Futuuhat Al-Makkiyyah (bab 371, 198).
Kosmos/ hal terkait alam semesta mengalami perubahan; bintang-bintang tidak diam, tetapi bergerak – berputar dan berjalan. Alasan utama diciptakannya kosmos adalah ‘Cinta’-Nya.
Hadits Nabi Muhammad saw., “Aku adalah harta karun tersembunyi.”
Hadits tersebut bermakna bahwa Allah ‘cinta’ untuk dikenal, sehingga Allah menganugerahi setiap ciptaan hak istimewa untuk mengenal-Nya. Pernyataan “Allah cinta untuk dikenal” merupakan asma Rahmaan yang ingin Dia anugerahi kepada makhluk-Nya. Kerahmanan merupakan anugerah pertama dari manifestasi kehadiran Allah kepada alam semesta ketika tercipta, dan darinya membentuk ‘tempat abstrak’ yang menandakan kemunculan ciptaan-ciptaan berikutnya. ‘Tempat abstrak’ itu oleh Ibn ‘Arabi dinamakan dengan al-‘amaa’ (awan). Realitas al-‘amaa’ menerima bentuk-bentuk dari al-arwaah al-muhayyamaa (ruh-ruh yang mengembara) yang Allah ciptakan langsung tanpa perantara. Penciptaan langsung ini menyebabkan para Ruh mengembara di dalam kehadiran Allah, tidak mengenal apapun bahkan diri mereka sendiri selain Allah. Allah menetapkan satu dari para Ruh dan menganugerahinya kemampuan istimewa epiphany (semacam pencerahan tingkat tinggi) dari tajalli ‘ilm (Pengetahuan Illaahiiyyah) dimana padanya tercetak semua kehendak Allah untuk mencipta di di dalam alam semesta hingga Hari Kiamat. Ruh-ruh lainnya tidak mengetahui hal itu. Kemampuan istimewa epiphany, menyebabkan Ruh-ruh, yang disebut dengan al-‘aql al-kulli atau al-‘aql al-awwal atau jika merujuk kepada Al-Quran, memiliki pengertian yang sama dengan al-qalam al-a’alaa yang diciptakan dengan tujuan untuk membantu dirinya sendiri dan para Ruh lainnya mengenal Allah.
Melalui epiphanylah al-‘aql al-awwal mampu menyusun struktur dirinya dan kemampuannya untuk menyadari Allah. Ia juga yang mampu melihat ‘bayangan’ yang disebabkan oleh adanya Cahaya dari epiphany yang terwujud dalam al-nuur. ‘Bayangan’ ini disebut sebagai ‘nafs (jiwa)’nya, tepatnya al-nafs al-kuliyya atau al-nafs al-‘uulaa (jiwa pertama), atau al-lawh al-a’alaaa/ al-mahfuudz., dimana ia menuliskan segala sesuatu yang ia ketahui hingga Hari Kiamat. Isi alam semesta – merujuk pada perumpamaan dalam al-quran – merupakan ‘huruf-huruf’ dan ‘kata-kata’ Allah yang dikeluarkan melalui Nafas Ar-Rahmaan dan Ar-Rahiim. Sementara dasar bangunan terbentangnya alam semesta adalah getaran atau suara, atau disebut juga dengan rijaal al-anfaas. Bukan hanya sebagai symbol semata bahwa alam semesta berisikan ‘huruf-huruf’ dan ‘kata-kata’ Allah, yang dituliskan oleh al-qolam al-a’ala ke dalam al-lawh al-a’alaa/ al-mahfuudz. Al-‘amaa’ (awan) beserta isinya turun ke ‘Arsy al-Istiwaa’, yang tentu saja pengertiannya berbeda dengan ‘Arsy. ‘Arsy al-Istiwaa’ merupakan ‘Arsy tempat Allah melaksanakan kekuasaan-Nya; Perumpamaannya dapat dilihat pada kalimat ‘ar-Rahmaan ‘ala aal-‘arsh istawaa’.
Qs. 20 : 5
الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ [٢٠:٥]
Merujuk kepada Bab 371 Futuuhaat Al-Makkiyyah, bahwa alam semesta muncul di dalam al-nafs al-kulliyya melalui al-‘aql al-kulli, yang disebut dengan nikaah ma’nawi. Hal itu dikarenakan bahwa sesuatu yang terjadi merupakan hasil dari sebab sesuatu; seperti seorang anak yang dihasilkan dari pernikahan ayah dan ibunya. Seperti halnya kita semua merupakan ‘anak-anak’ dari Nabi Adam as dan Siti Hawa; sehingga dapat pula dikatakan bahwa segala sesuatunya yang terdapat di alam semesta merupakan ‘anak-anak’ yang dilahirkan dari al-‘aql al-kulli dan al-nafs al-kuliyya.
Al-nafs al-kuliyya memiliki dua kekuatan, yaitu:
1. Quwwa ‘ilmiyya; merupakan kemampuan untuk menerima pengetahuan.
2. Quwwa ‘amaliyyaa; merupakan kekuatan aktif yang menerima keberadaan amal melalui gerakannya (beramal shaleh (dengan pengetahuan)).
Hal pertama yang dimunculkan/ dilahirkan oleh Al-nafs al-kuliyya, yaitu:
1. Martabat al-tabii’a (4 elemen pembentuk alam semesta: air, udara/ angin, tanah, api)
2. Al-Habaa’ (debu) atau al-hayuulaa al-uulaa
Lalu kedua hal di atas melahirkan ‘anak’ pertama mereka yang dinamakan dengan al-jism al-kull (dunia fisik/ terinderai). Proses simbolik kelahiran dari alam semesta berlansung konstan terus-menerus dalam jangka waktu yang panjang dengan serangkaian sebab dan akibat hingga melahirkan turaab (tanah). Selanjutnya, dunia fisik yang lain pun bermunculan…
Dunia fisik dibentuk oleh (bukan ‘dalam’) al-jism al-kull karena, seperti halnya pernikahan al-‘aql al-kulli dan al-nafs al-kuliyya, al-jism al-kull bisa disebut sebagai Tubuh Pertama karena merupakan tubuh pertama yang tercipta. Antara dunia material dan spiritual dibentuk oleh Bulan Tunggal melalui kemunculan konstan Bulan tersebut. Tubuh Pertama merupakan ‘bagian pelengkap’ yang dibentuk oleh Bulan Tunggal, sementara dunia fisik dibentuk oleh Tubuh Pertama tersebut. Tubuh Pertama adalah sejenis awan tebal yang merupakan material utama, yang kemudian lalu mengembang menjadi bintang-bintang dan galaksi; Jelaslah kini, bahwa dunia fisik dibentuk ‘di dalam’ al-jism al-kull. Hal pertama yang dibentuk ‘di dalam’ al-jism al-kull adalah al-‘Arsy, tempat Allah melaksanakan kuasa (istiwaa’) dari Nama al-Rahmaan, dimana setiap ciptaan yang berada di bawah al-‘Arsy Allah anugerahi Rahmaaniyyah-Nya. Karena itulah maka hal pertama yang al-qalam al-a’ala (versi quran) atau al-‘aql al-awwal (versi Ibn ‘Arabi) tuliskan di dalam al-lawh al-a’alaa/ al-mahfuudz adalah al-‘Arsy tempat alam semesta muncul.
Di bawah al-‘Arsy Illaahiyyah terdapat al-Kursiyy, yang memiliki dimensi-dimensi relatif dan penuh. Perumpamaan al-Kursiyy dengan al-‘Arsy adalah bagaikan sebuah cincin kecil yang beradadi dalam gurun sahara yang luas. Di dalam al-Kursiyy terdapat al-falaq al-atlas (lintasan/ orbit Isotoprik atau bola langit) yang berisikan bagian-bagian dari langit, yaitu al-falaq al-buruuj (zodiak) dan al-falaq al-mukawkab (bintang-bintang), sementara di bawahnya lagi terdapat lintasan-lintasan dari lima planet (Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, saturnus), Matahari, Bulan, dan Bumi.
Lintasan/ orbit Isotoprik atau bola langit merupakan sebutan yang bermakna bahwa tidak ada satu bintang pun yang memiliki ‘wajah’ lintasan yang berbeda, semuanya sama. Bola langit zodiac merupakan lintasan pertama yang diciptakan dalam lintasan Isotoprik, dan permukaannya dibagi menjadi 12 bagian yang menjadi macam zodiak. Bab 371 Kitab Al-Futuuhaat Al-Makkiyyah memberikan penjelasan tentang jauhnya jarak yang terbentang antara galaksi-galaksi dikarenakan ada bintang-bintang tetap di dalam galaksi Bima Sakti kita, sementara zodiak berada di dalam galaksi-galaksi lain yang jauh dari Bima Sakti. Di dalam ruang tersebut Allah menciptakan tujuh ‘Taman’ (al-jinaan, jannah) dengan perbedaan keadaan dan tingkatan ‘tempat pertemuan’ antara realitas spiritual murni dari al-‘Arsy Illaahiyyah dan realitas terinderai dalam daerah al-Kursiyy. Nama-nama spesifik ketujuh Taman terdapat di dalam quran dan hadits, dan pengertian mereka tidak sama dengan tujuh lelangit (samawaati), dimana dalam tujuh langit terdapat lima planet (Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, saturnus), Matahari, dan Bulan; sementara tujuh taman terdiri dari:
1. Iqomah (tempat tinggal) hamba
2. Aslama (tempat keberserahdirian) hamba
3. Al-Khuld
4. Al-Ma’wa
5. Al-Na’im
6. Firdaus
7. ‘Adn
Kata ‘al-Washiila’ melintasi ketujuh Taman sebanyak dua kali hingga ke level tertinggi, ‘Adn, milik Nabi Muhammad saw. Taman ‘Adn disebut juga sebagai al-maqoom al-mahmud (posisi mulia), dan disebut juga dengan Al-Washiila, yaitu perantara atau Jalan untuk Mendekati Allah: melalui Nabi Muhammad saw. lah Allah bisa didekati oleh makhluknya. Jadi, Nabi Muhammad saw. merupakan Jalan kita untuk Mendekati Allah.
Di bawah tujuh Taman terdapat lintasan dari bintang-bintang tetap, konstelasinya, dan tempat kedudukannya (manaazil/ manzilah) Bulan. Yang mesti digarisbawahi, bahwa dikatakan bintang ‘tetap’ bukan dalam arti mereka tidak bergerak, tetapi lebih dikarenakan pandangan mata fisik manusia terbatas untuk melihat pergerakan mereka.
Lintasan bintang-bintang tetap dibagi menjadi 28 konstelasi atau manzilah berdasarkan gerak kemunculan Bulan. Di dalam bola lintasan bintang-bintang tetap ini, Allah menciptakan tujuh lelangit fisik (al-samawaat) dan Bumi. Perumpamaan Bumi beserta ketujuh lelangit dengan al-‘Arsy bagaikan sebuah cincin dalam gurun sahara yang luas.
Matahari merupakan posisi utama, bagaikan qalb, menjadi pusat bagi ketujuh lelangit. Ciptaan-Nya tidak merasakan gerakan kosmos dikarenakan semuanya bergerak, dan dikarenakan Bumi bergerak: berjalan dan berputar mengelilingi Sang Pusat, Matahari.
Sumber: Time And Cosmology – Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi, terj. Inggris oleh Mohamed Haj Yousef.
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Kosmologi dan Waktu
Kosmologi merupakan ilmu yang mempelajari alam semesta, kosmos. Kata kosmos sendiri telah digunakan sejak jaman Yunani kuno, berbicara tentang metafisika yang berarti ‘harmoni’ atau ‘keteraturan’. Lawan dari acak atau kekacauan. Teori Yunani kuno tentang penciptaan menyatakan bahwa kekacauan tidak memiliki bentuk. Dan ‘waktu’ merupakan hal mendasar yang perlu dipahami oleh setiap filsuf dan kosmolog; bahwa sebenarnya segala sesuatu yang ada tidak sebenar ada, namun hanya merupakan serangkaian waktu demi waktu. Setiap orang merasakan waktu, namun kebanyakan tidak benar-benar pernah bertanya tentang hakikat dan kepentingan waktu, hal itu lebih dikarenakan setiap orang sudah biasa melakukan hal rutin dari waktu ke waktu, dengan begitu banyaknya pekerjaan. Bagaimanapun, memang sulit untuk memahami falsafah waktu dan karakteristiknya.
1. Pemikiran Awal Tentang Model-model Waktu
Permulaan abad ke-20, para ilmuwan Arab dan beberapa penterjemah aneka bahasa mulai memperkenalkan astronomi kepada Eropa, sebagaimana yang berkembang dalam peradaban islam. Dalam peradaban islam, astronomi merupakan ilmu yang sangat penting. Kebanyakan ilmunya diperoleh dari Ptolemeus dan Aristoteles dengan model geosentris (bumi sebagai pusat tata surya). Namun ternyata, Gereja Katolik juga pernah mempergunakan astronomi berdasarkan konsep Ptolemeus dan Aristoteles sebagai dasar dari keberagamaan mereka. Copernicus sendiri (1473 – 1544) menjelaskan model heliosentrisnya dalam buku “On the Revolutions of the Heavenly Orbs” yang terbit setahun sebelum meninggalnya pada tahun 1543, “Matahari dan bintang-bintang yang lain tidak bergerak , sementara bumi dan planet-planet bergerak berputar mengelilingi matahari sebagai pusat tata surya.”
Pada tahun 1609, ketika Galileo menemukan teleskop, model geosentris Ptolemeus dan Aristoteles menjadi lemah, dan penemuan Galileo (pada tahun yang sama) mendukung teori heliosentrisnya Copernicus tentang pergerakan bumi dan planet-planet mengelilingi matahari. Pun pembuktian dari Johannes Keppler dengan tiga formulasi matematikanya yang menjelaskan tentang revolusi planet (mengelilingi matahari). Begitu juga pada tahun1687, kembali teori heliosentris terbukti kebenarannya; seorang Isaac Newton dalam buku “Philosophiae Naturalis Principia Mathematica” menjelaskan dalam temuan teori gravitasinya: bagaimana tubuh kita bergerak dalam tempat dan waktu.
Prinsip mekanika Newton sebenarnya cukup memiliki kahandalan untuk diaplikasikan dalam teori sistem tata surya, namun sebagai sebuah teori kosmologi, adalah suatu kesalahan fatal untuk menjelaskan pergerakan perputaran bumi dan planet-planet mengelilingi matahari. Apakah nanti malah akhirnya memiliki kesimpulan yang sama seperti pemikiran Aristoteles? Beliau mengatakan bahwa bintang-bintang tetap, diam, berkedudukan tetap dan jagat raya di luar sistem tata surya juga diam, tidak mengalami pergerakan apapun. Meskipun dinamika alam semesta lebih gampang diprediksi berdasarkan teori gravitasi Newton, keyakinan tentang statiknya alam semesta dari Aristoteles telah begitu melekat dengan dalam dan begitu kuat… hingga 3 abad setelah kemunculan Newton.
Pada tahun 1718, Edmund Halley membandingkan hasil penemuan dari para astronom Babilonia dan astronom pada jaman dahulu kala. Beliau menemukan, bahwa posisi beberapa bintang tidak tetap, mengalami pergerakan, terlihat dari pergerakan sejak ribuan tahun lalu. Beberapa bintang terlihat lebih kecil, itu dikarenakan kedudukannya menjauh dari bumi. Hubble juga mengatakan hal yang sama, “Beberapa bintang yang kita lihat bisa jadi tadinya berasal dari galaxy yang lain dekat dengan bumi, meskipun mereka terlihat sangat kecil, itu dikarenakan begitu jauh.”
Teori Aristoteles tentang gerak alam semesta yang statis, ternyata semakin dipersalahkan oleh Hubble. Namun, Stephen Hawking dalam buku best sellernya, malah menuliskan, “Bahkan Eisntein, dengan formulasi teori relativitasnya (1915) begitu yakin bahwa alam semesta tidak bergerak. Keadaan kosmos tetap selamanya.”
Namun bukan ilmuwan namanya jika cepat puas dan menghentikan pencariannya karena sudah merasa paling benar; Einstein, pun segera menyadari kesalahan fatalnya.
Bagaimana pandangan Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi?
Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi, telah berabad-abad lamanya menyatakan bahwa bintang-bintang tidak mungkin memiliki kedudukan/ manzilah yang tetap, bahkan dalam bukunya “futuuhaat al-makiyyah”, sang syekh menjelaskan pergerakan bintang-bintang dengan angka-angka kecepatan tiap bintang bergerak dengan begitu presisinya.
Kosmologi Modern
Sejak munculnya teori dan pembuktian kebenaran teori Copernicus, pandangan manusia tentang kosmos semakin meluas dan lebih akurat. Kita kembali pada tahun 1924, manakala Edwin Hubble menunjukkan bahwa galaxy kita bukanlah satu-satunya galaxy yang ada di dunia ini; banyak bintang-bintang yang terlihat berupa titik-titik terang sangat kecil, yang ternyata merupakan bintang dari galaxy lain, dan lebih besar daripada galaxy Bima Sakti kediaman bumi kita ini. Sebagai bahan renungan, satu galaxy terdiri dari ribuan milyar bintang, sementara jagat raya terdiri dari jutaan galaxy. Bayangin seluas apa alam semesta kita tinggal ini. Tiada apa-apanya fisik manusia ini di hadapan Sang Pencipta. Allahu Akbar! Layakkah kesombongan walau hanya sebutir debu?
Disebabkan kekuatan gravitasi, maka segala sesuatu di langit bergerak atau berputar pada porosnya mengelilingi sesuatu. Bulan berputar mengelilingi bumi, sementara bumi bersama plant-planet lain berputar mengelilingi matahari, dimana – bersama ribuan milyar bintang-bintang – berputar mengelingi pusat dari galaxy Bima Sakti, dengan jarak yang cukup berjauhan antar satu galaxy.
Demi memberikan gambaran yang lebih jelas tentang keluasan jagat raya, maka sebaiknya kita menunjukkan angka-angka yang ada. Satuan yang dipergunakan untuk mengukur jarak dalam kosmologi dinamakan dengan ‘tahun cahaya’ (1 tahun cahaya berjarak = 9.500.000.000.000.000 meter). Perjalanan tahun cahaya pada 300.000 km/ sekon ibarat mengelilingi bumi sebanyak 7 kali. Galaxi kita, kurang lebih terdiri dari 200 milyar bintang ditambah dengan ribuan kluster (kelompok bintang-bintang (galaxy) yang memiliki kesamaan karakter) dan nebula yang secara bersamaan membentuk sebuah cakram dimana ukuran diagramnya lebih daripada 100.000 tahun cahaya, dengan ketebalan berjarak 15.000 tahun cahaya. Sementara jarak galaxy terdekat, yaitu Andromeda, 2,9 juta tahun cahaya. Galaxy-galaxy yang tergabung dalam kluster tak beraturam memiliki perbedaan jarak dalam perbedaan antara jutaan hingga ratusan juta tahun cahaya. Objek terjauh memiliki jarak sekitar 13 milyar tahun cahaya. Cukuplah sudah angka-angka tersebut menjadi saksi seberapa kecil dan berada di manakah kita (Hartman, 1990 : 413).
Semakin lama semakin jelas bahwa segala sesuatu di dunia ini berputar: bintang-bintang terdekat dengan bumi memiliki gerakan yang lebih akurat, hal itu dikarenakan mereka ditarik kuat menuju pusat galaxy, sementara galaxy-galaxy yang lain bergerak menjauhi galaxy kita karena jagat raya prinsipnya meluas atau mengembang. Walaupun semuanya memiliki variasi gerakan, namun keseluruhan bentangan jagat raya ini tidak memiliki titik pusat atau tepi. Betapa susah untuk membayangkan kebesarannya.
Bintang-bintang yang terlihat di langit, sama saja seperti layaknya matahari kita, banyak terjadi reaksi fusi nuklir, yang secara konstan mengubah hydrogen menjadi elemen-elemen yang lebih berat dan memproduksi panas dan cahaya. Namun tidak semua bintang memiliki ukuran, usia, dan intensitas terang cahaya yang sama. Sudah begitu banyak bintang yang mengalami kematian, dan begitu pula kelahiran dalam suatu proses evolusi yang begitu kompleks (Seeds, 1990 : 134 -281).
Sebenarnya, apa, sih manfaat penjelasan di atas? Mana model-model waktu atau kosmologi yang lain? Tenang, insya Allah penjelasan berikutnya terdapat dalam bagian ke-3. Penting sekali untuk mengetahui dan memahami prinsip dasar dari perbedaan model-model kosmos untuk memahami Model Bulan, yang selanjutnya akan menjadi bahan kajian dari Ibn ‘Arabi.
3. Kosmologi Menurut Ibn ‘Arabi – “Semua Benda Bergerak Pada Orbitnya Masing-masing yang Mengacu Pada Pusat”
Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi bukanlah seorang astronom, dan sama sekali tidak pernah tertarik dengan astronomi sebagai sains. Tetapi sebagai seorang sufi dan teologis mistis, beliau mengambangkan pengajaran kosmologi dan simbolisme berdasarkan al-quran dan al-hadits. Beliau menjelaskan planet-planet, lintasan, dan pergerakan mereka sebagai struktur yang Allah ciptakan untuk menggambarkan Citra-Nya dan hubungan mereka dengan Nama-nama Illaahiyyah. Bagi beliau, kosmologi merupakan jalan bagi manusia untuk mengenal Allah. Dan pada beberapa risalah beliau memperbincangkan astronomi secara falsafah dan teologis. Tidak ada buku yang benar-benar khusus membicarakan langit beserta isinya. Tentang kosmologi, salah satunya dapat ditemui pada beberapa paragraf dari Futuuhat Al-Makkiyyah (bab 371, 198).
Kosmos/ hal terkait alam semesta mengalami perubahan; bintang-bintang tidak diam, tetapi bergerak – berputar dan berjalan. Alasan utama diciptakannya kosmos adalah ‘Cinta’-Nya.
Hadits Nabi Muhammad saw., “Aku adalah harta karun tersembunyi.”
Hadits tersebut bermakna bahwa Allah ‘cinta’ untuk dikenal, sehingga Allah menganugerahi setiap ciptaan hak istimewa untuk mengenal-Nya. Pernyataan “Allah cinta untuk dikenal” merupakan asma Rahmaan yang ingin Dia anugerahi kepada makhluk-Nya. Kerahmanan merupakan anugerah pertama dari manifestasi kehadiran Allah kepada alam semesta ketika tercipta, dan darinya membentuk ‘tempat abstrak’ yang menandakan kemunculan ciptaan-ciptaan berikutnya. ‘Tempat abstrak’ itu oleh Ibn ‘Arabi dinamakan dengan al-‘amaa’ (awan). Realitas al-‘amaa’ menerima bentuk-bentuk dari al-arwaah al-muhayyamaa (ruh-ruh yang mengembara) yang Allah ciptakan langsung tanpa perantara. Penciptaan langsung ini menyebabkan para Ruh mengembara di dalam kehadiran Allah, tidak mengenal apapun bahkan diri mereka sendiri selain Allah. Allah menetapkan satu dari para Ruh dan menganugerahinya kemampuan istimewa epiphany (semacam pencerahan tingkat tinggi) dari tajalli ‘ilm (Pengetahuan Illaahiiyyah) dimana padanya tercetak semua kehendak Allah untuk mencipta di di dalam alam semesta hingga Hari Kiamat. Ruh-ruh lainnya tidak mengetahui hal itu. Kemampuan istimewa epiphany, menyebabkan Ruh-ruh, yang disebut dengan al-‘aql al-kulli atau al-‘aql al-awwal atau jika merujuk kepada Al-Quran, memiliki pengertian yang sama dengan al-qalam al-a’alaa yang diciptakan dengan tujuan untuk membantu dirinya sendiri dan para Ruh lainnya mengenal Allah.
Melalui epiphanylah al-‘aql al-awwal mampu menyusun struktur dirinya dan kemampuannya untuk menyadari Allah. Ia juga yang mampu melihat ‘bayangan’ yang disebabkan oleh adanya Cahaya dari epiphany yang terwujud dalam al-nuur. ‘Bayangan’ ini disebut sebagai ‘nafs (jiwa)’nya, tepatnya al-nafs al-kuliyya atau al-nafs al-‘uulaa (jiwa pertama), atau al-lawh al-a’alaaa/ al-mahfuudz., dimana ia menuliskan segala sesuatu yang ia ketahui hingga Hari Kiamat. Isi alam semesta – merujuk pada perumpamaan dalam al-quran – merupakan ‘huruf-huruf’ dan ‘kata-kata’ Allah yang dikeluarkan melalui Nafas Ar-Rahmaan dan Ar-Rahiim. Sementara dasar bangunan terbentangnya alam semesta adalah getaran atau suara, atau disebut juga dengan rijaal al-anfaas. Bukan hanya sebagai symbol semata bahwa alam semesta berisikan ‘huruf-huruf’ dan ‘kata-kata’ Allah, yang dituliskan oleh al-qolam al-a’ala ke dalam al-lawh al-a’alaa/ al-mahfuudz. Al-‘amaa’ (awan) beserta isinya turun ke ‘Arsy al-Istiwaa’, yang tentu saja pengertiannya berbeda dengan ‘Arsy. ‘Arsy al-Istiwaa’ merupakan ‘Arsy tempat Allah melaksanakan kekuasaan-Nya; Perumpamaannya dapat dilihat pada kalimat ‘ar-Rahmaan ‘ala aal-‘arsh istawaa’.
Qs. 20 : 5
الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ [٢٠:٥]
Merujuk kepada Bab 371 Futuuhaat Al-Makkiyyah, bahwa alam semesta muncul di dalam al-nafs al-kulliyya melalui al-‘aql al-kulli, yang disebut dengan nikaah ma’nawi. Hal itu dikarenakan bahwa sesuatu yang terjadi merupakan hasil dari sebab sesuatu; seperti seorang anak yang dihasilkan dari pernikahan ayah dan ibunya. Seperti halnya kita semua merupakan ‘anak-anak’ dari Nabi Adam as dan Siti Hawa; sehingga dapat pula dikatakan bahwa segala sesuatunya yang terdapat di alam semesta merupakan ‘anak-anak’ yang dilahirkan dari al-‘aql al-kulli dan al-nafs al-kuliyya.
Al-nafs al-kuliyya memiliki dua kekuatan, yaitu:
1. Quwwa ‘ilmiyya; merupakan kemampuan untuk menerima pengetahuan.
2. Quwwa ‘amaliyyaa; merupakan kekuatan aktif yang menerima keberadaan amal melalui gerakannya (beramal shaleh (dengan pengetahuan)).
Hal pertama yang dimunculkan/ dilahirkan oleh Al-nafs al-kuliyya, yaitu:
1. Martabat al-tabii’a (4 elemen pembentuk alam semesta: air, udara/ angin, tanah, api)
2. Al-Habaa’ (debu) atau al-hayuulaa al-uulaa
Lalu kedua hal di atas melahirkan ‘anak’ pertama mereka yang dinamakan dengan al-jism al-kull (dunia fisik/ terinderai). Proses simbolik kelahiran dari alam semesta berlansung konstan terus-menerus dalam jangka waktu yang panjang dengan serangkaian sebab dan akibat hingga melahirkan turaab (tanah). Selanjutnya, dunia fisik yang lain pun bermunculan…
Dunia fisik dibentuk oleh (bukan ‘dalam’) al-jism al-kull karena, seperti halnya pernikahan al-‘aql al-kulli dan al-nafs al-kuliyya, al-jism al-kull bisa disebut sebagai Tubuh Pertama karena merupakan tubuh pertama yang tercipta. Antara dunia material dan spiritual dibentuk oleh Bulan Tunggal melalui kemunculan konstan Bulan tersebut. Tubuh Pertama merupakan ‘bagian pelengkap’ yang dibentuk oleh Bulan Tunggal, sementara dunia fisik dibentuk oleh Tubuh Pertama tersebut. Tubuh Pertama adalah sejenis awan tebal yang merupakan material utama, yang kemudian lalu mengembang menjadi bintang-bintang dan galaksi; Jelaslah kini, bahwa dunia fisik dibentuk ‘di dalam’ al-jism al-kull. Hal pertama yang dibentuk ‘di dalam’ al-jism al-kull adalah al-‘Arsy, tempat Allah melaksanakan kuasa (istiwaa’) dari Nama al-Rahmaan, dimana setiap ciptaan yang berada di bawah al-‘Arsy Allah anugerahi Rahmaaniyyah-Nya. Karena itulah maka hal pertama yang al-qalam al-a’ala (versi quran) atau al-‘aql al-awwal (versi Ibn ‘Arabi) tuliskan di dalam al-lawh al-a’alaa/ al-mahfuudz adalah al-‘Arsy tempat alam semesta muncul.
Di bawah al-‘Arsy Illaahiyyah terdapat al-Kursiyy, yang memiliki dimensi-dimensi relatif dan penuh. Perumpamaan al-Kursiyy dengan al-‘Arsy adalah bagaikan sebuah cincin kecil yang beradadi dalam gurun sahara yang luas. Di dalam al-Kursiyy terdapat al-falaq al-atlas (lintasan/ orbit Isotoprik atau bola langit) yang berisikan bagian-bagian dari langit, yaitu al-falaq al-buruuj (zodiak) dan al-falaq al-mukawkab (bintang-bintang), sementara di bawahnya lagi terdapat lintasan-lintasan dari lima planet (Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, saturnus), Matahari, Bulan, dan Bumi.
Lintasan/ orbit Isotoprik atau bola langit merupakan sebutan yang bermakna bahwa tidak ada satu bintang pun yang memiliki ‘wajah’ lintasan yang berbeda, semuanya sama. Bola langit zodiac merupakan lintasan pertama yang diciptakan dalam lintasan Isotoprik, dan permukaannya dibagi menjadi 12 bagian yang menjadi macam zodiak. Bab 371 Kitab Al-Futuuhaat Al-Makkiyyah memberikan penjelasan tentang jauhnya jarak yang terbentang antara galaksi-galaksi dikarenakan ada bintang-bintang tetap di dalam galaksi Bima Sakti kita, sementara zodiak berada di dalam galaksi-galaksi lain yang jauh dari Bima Sakti. Di dalam ruang tersebut Allah menciptakan tujuh ‘Taman’ (al-jinaan, jannah) dengan perbedaan keadaan dan tingkatan ‘tempat pertemuan’ antara realitas spiritual murni dari al-‘Arsy Illaahiyyah dan realitas terinderai dalam daerah al-Kursiyy. Nama-nama spesifik ketujuh Taman terdapat di dalam quran dan hadits, dan pengertian mereka tidak sama dengan tujuh lelangit (samawaati), dimana dalam tujuh langit terdapat lima planet (Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, saturnus), Matahari, dan Bulan; sementara tujuh taman terdiri dari:
1. Iqomah (tempat tinggal) hamba
2. Aslama (tempat keberserahdirian) hamba
3. Al-Khuld
4. Al-Ma’wa
5. Al-Na’im
6. Firdaus
7. ‘Adn
Kata ‘al-Washiila’ melintasi ketujuh Taman sebanyak dua kali hingga ke level tertinggi, ‘Adn, milik Nabi Muhammad saw. Taman ‘Adn disebut juga sebagai al-maqoom al-mahmud (posisi mulia), dan disebut juga dengan Al-Washiila, yaitu perantara atau Jalan untuk Mendekati Allah: melalui Nabi Muhammad saw. lah Allah bisa didekati oleh makhluknya. Jadi, Nabi Muhammad saw. merupakan Jalan kita untuk Mendekati Allah.
Di bawah tujuh Taman terdapat lintasan dari bintang-bintang tetap, konstelasinya, dan tempat kedudukannya (manaazil/ manzilah) Bulan. Yang mesti digarisbawahi, bahwa dikatakan bintang ‘tetap’ bukan dalam arti mereka tidak bergerak, tetapi lebih dikarenakan pandangan mata fisik manusia terbatas untuk melihat pergerakan mereka.
Lintasan bintang-bintang tetap dibagi menjadi 28 konstelasi atau manzilah berdasarkan gerak kemunculan Bulan. Di dalam bola lintasan bintang-bintang tetap ini, Allah menciptakan tujuh lelangit fisik (al-samawaat) dan Bumi. Perumpamaan Bumi beserta ketujuh lelangit dengan al-‘Arsy bagaikan sebuah cincin dalam gurun sahara yang luas.
Matahari merupakan posisi utama, bagaikan qalb, menjadi pusat bagi ketujuh lelangit. Ciptaan-Nya tidak merasakan gerakan kosmos dikarenakan semuanya bergerak, dan dikarenakan Bumi bergerak: berjalan dan berputar mengelilingi Sang Pusat, Matahari.
Sumber: Time And Cosmology – Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi, terj. Inggris oleh Mohamed Haj Yousef.
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Langganan:
Postingan (Atom)
