Demi matahari dan cahayanya di pagi hari
Demi bulan ketika mengiringinya
Demi siang ketika menampakkannya
Demi malam ketika menutupinya
Demi langit dan (Allah) yang membangunnya
Demi bumi dan (Allah) yang menghamparkannya
Demi jiwa dan (Allah) yang menyempurnaannya
Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa kefasikan dan ketakwaan
Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa
dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya -- (QS Asy Syams:1-10)
Bila kita baca dan renungkan ayat-ayat pendek surat Asy-Syams tersebut, terasa ada nuansa 'psiko-astronomis' (kalau boleh saya sebut demikian) yang sangat kuat. Allah bersumpah untuk menjadi perhatian hamba-hamba-Nya dengan menyebut fenomena-fenomena astronomis yang diakhiri dengan fenomena kejiwaan.
Banyak makna bisa diungkap dari fenomena astronomis itu yang mungkin jarang kita renungkan untuk menyucikan jiwa kita. Misalnya, matahari sesaat setelah terbit yang disebut di awal surat.
Matahari di kaki langit tampak lebih besar daripada ketika berada di atas kepala. Padahal, ukuran piringan matahari itu tidak berubah, selain efek refraksi atmosfer yang menyebabkannya tampak sedikit lonjong. Besarnya sekitar setengah derajat atau kira-kira setengah lebar ujung telunjuk bila direntangkan ke depan sepanjang lengan.
Pola pikir manusia yang bersifat nisbi menyebabkan kesan besarnya matahari di kaki langit. Ketika itu matahari tampak besar karena dibandingkan dengan latar depan pepohonan, bangunan, atau benda lainnya yang tampak kecil di kejauhan. Demikianlah, jiwa manusia cenderung merasa diri besar, kuat, kaya, pandai, atau terhormat karena membandingkannya dengan yang kecil, lemah, miskin, bodoh, atau jelata.
Matahari ketika tengah hari tampak kecil karena dibandingkan dengan langit yang luas. Demikian pula pola pikir yang nisbi akan membawa kita sampai pada kesimpulan diri kita kecil, lemah, miskin, bodoh, atau terhina bila kita menyadari ada yang lebih besar, lebih kuat, lebih kaya, lebih pandai, dan lebih terpuji.
Itulah 'psiko-astronomis' fenomena matahari. Memang, fenomena alam dengan proses spesifik yang disebut di dalam Surat Asy Syams kaya akan pelajaran untuk direnungkan. Matahari sebagai objek sentral pada empat ayat pertama tampaknya dijadikan perlambang untuk perenungan.
Matahari memberikan sinar pada bulan yang mengiringinya sehingga manusia bisa menentukan penanggalan qamariyah. Matahari memberikan cahaya terang dan kehangatan pada siang hari sehingga manusia bisa beraktivitas. Matahari bersembunyi di balik horizon pada malam hari agar manusia bisa beristirahat.
Perenungan fenomena alam semestinya membimbing kearah penyucian jiwa, menyadari kenisbian manusia. Sifat dan sikap takabur merupakan pengotor jiwa yang bisa muncul dalam bentuk sikap otoriter, diskriminatif, dan menindas.
Imam Ghozali pernah berpesan, jadilah Muslim seperti matahari. Ia bersinar karena kualitas pribadinya. Dan ia mampu menerangi dan menghangatkan sekitarnya. Mampu memberi manfaat bagi masyarakatnya.
Asysyam
“Sesungguhnya berbahagialah orang yang mensuciikan jiwanya, dan sungguh merugilah orang yang mengotori jiwanya”
Jumat, 18 Februari 2011
Bintang Kejora
Saat maghrib tiba pada awal Juli ini tengoklah langit barat. Walaupun langit belum terlalu gelap, sebuah bintang cemerlang tampak cukup tinggi di langit. Awan tipis musim kemarau ini tak mampu membendung sinarnya. Itulah bintang kejora. Bila muncul saat shubuh di langit timur bintang cemerlang itu disebut bintang timur. Sebenarnya itu bukan bintang, melainkan planet Venus.
Mengamati langit awal Juli ini terasa nuasa semasa Nabi Ibrahim merenungi alam, mencari representasi Tuhan yang hakiki (Q. S. 6:76-79). Saat malam mulai gelap tampaklah sebuah bintang. "Inikah Tuhanku?" kata Ibrahim. Tetapi bintang kejora tak lama tampak. Sekitar pukul 21.00 bintang kejora pun terbenam. Nabi Ibrahim pun berkata, "Aku tak menyukai yang tenggelam."
Beberapa saat kemudian terbitlah bulan yang cemerlang pasca purnama. "Inikah Tuhanku?" katanya. Namun saat pagi bulan pun memudar kemegahannya. Ibrahim pun berujar pada dirinya, "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, niscaya aku termasuk kaum yang sesat."
Saat pagi dilihatnya matahari yang paling cemerlang yang mengalahkan segala sumber cahaya. "Inikah Tuhanku? Ini paling besar", ujar Ibrahim dalam pencarian kebenaran. Tetapi saat maghrib matahari pun menghilang. Tidak mungkin Tuhan yang Mahakuasa bisa lenyap. Maka diserulah kaumnya, "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari segala yang kamu persekutukan (dengan Tuhan)."
Kesimpulan pembuktian aqliyah tersebut tentang eksistensi Allah diabadikan di dalam Q. S. 6:79 yang selalu kita baca dalam doa iftitah pada awal shalat: "Sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada Tuhan pencipta langit dan bumi, berpendirian lurus, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik."
Kisah itu memberi pelajaran penting. Kemegahan dan keunggulan relatif adalah sifat makhluk yang berpotensi menipu manusia. Sejarah telah menunjukkan banyak kaum penyembah bintang atau matahari, mempertuhankan raja, atau minimal mengkultuskan seseorang. Untuk itu banyak juga yang mau berkorban demi mengagungkan sesuatu atau figur yang dipujanya.
Padahal kemegahan atau keunggulan itu bisa jadi bukan sifat yang intrinsik pada objek itu. Bintang kejora adalah contohnya. Planet Venus itu tidak menghasilkan cahayanya sendiri. Planet yang dijuluki saudara kembar bumi yang jelita sekadar memantulkan cahaya bintang induknya, matahari. Kecemerlangannya diperoleh karena kedekatannya dengan matahari dan berada tidak jauh dari bumi.
Bintang kejora dipuji karena kecemerlangan relatifnya. Dijadikan lagu yang dinyanyikan anak-anak. Tetapi tak banyak orang tahu tentang hakikatnya, karena orang cukup kagum dengan kemegahan sinar pantulannya. Orang terlanjur menyebutnya bintang, padahal sekadar planet. Lingkungan planetnya pun sesungguhnya tidak bersahabat bagi kehidupan. Luar biasa panasnya dengan efek rumah kaca karena kandungan karbon dioksida yang sangat tinggi.
Dalam dinamika hidup manusia fenomena bintang kejora mudah ditemukan. Nepotisme pun mudah tumbuh dari fenomena seperti itu. Karena masyarakat kehilangan daya kritis untuk menelaah secara seksama sifat intrinsiknya, bila yang ditonjolkan sekadar sinar pantulannya yang cemerlang.
Satu-satunya cara menghindarkan diri dari tipuan fenomena bintang kejora adalah meresapi makna doa iftitah yang menyambung pernyataan Nabi Ibrahim tersebut: "Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup, dan matiku hanyalah bagi Allah Tuhan semesta alam."
Terbukanya Kalbu
Upaya mendapatkan cahaya (petunjuk) Allah memang ibarat astronom yang berupaya menangkap cahaya alam dengan sistem teleskop besar yang sangat peka, manusia pun harus menggunakan kalbu (qalbu) yang sangat peka.
Kalbu manusia memang merupakan detektor yang sangat peka. Namun sering kali kepekaannya bisa berkurang atau bahkan menghilang ketika kalbu itu mulai tertutup debu-debu dosa dan tak ada upaya membersihkannya. Perilaku kalbu itu pun memang mirip dengan fungsi teleskop dan detektornya.
Bayangkan astronom yang bekerja dengan teleskopnya menangkap cahaya alam. Malam cerah tak berawan, cahaya bintang begitu cemerlang menembus teleskop dan direkam detektor kamera CCD. Berpuluh megabite data dapat terekam semalaman siap untuk diolah. Namun upaya itu percuma ketika analisis citra menunjukkan adanya "ghost image", gambar aneh yang merusakkan kecemerlangan cahaya bintang.
Ternyata detektor peka itu terselubung titik-titik embun. Walaupun sekadar embun tipis, hal itu cukup untuk menghilangkan makna cahaya bintang. Apalagi bila debu tebal yang menutupinya, pasti cahaya tak mungkin masuk.
Kalbu pun demikian, bila debu-debu dosa menyelimutinya, kepekaannya makin hilang. Jangankan berfungsi sebagai detektor yang bisa membimbing manusia, untuk sekadar menangkap cahaya Allah pun mustahil. Padahal kalbu berfungsi sebagai detektor pembeda yang baik dan yang buruk. Rasulullah SAW telah berpesan, "Mintalah fatwa pada kalbumu; kebajikan adalah segala yang menentramkan jiwa dan kalbu sedangkan dosa adalah segala yang meragukan dalam jiwa dan hati, walaupun orang lain membenarkannya" (HR Ahmad & Addarimi).
Kemunafikan dapat menutup kalbu (QS 63:3), apalagi kekafiran (QS 2:7, 2:88). Kalbunya tidak dapat dibersihkan lagi (5:41). Bahkan kalbunya menjadi sangat keras, tanpa celah yang dapat ditembus (QS 2:74). Kalbu yang demikian sama sekali tak dapat lagi menerima cahaya Allah, termasuk cahaya Alquran (QS 6:25).
Dan sesungguhnya Kami jadikan (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai kalbu, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai (QS 7:179).
Walau pun mata dan telinga berfungsi juga sebagai detektor fisis, tetapi dalam hal menangkap cahaya Allah kalbu lah yang paling berperan. Pokok pangkal kesesatan itu bukan karena butanya mata atau tulinya telinga, tetapi karena tidak berfungsinya kalbu (QS 22:46).
Kalbu yang tidak berfungsi baik, karena telah tertutup atau mengeras, cenderung membentuk perilaku manipulatif. Korupsi, kolusi, dan segala ketidakadilan bersumber dari tidak berfungsinya kalbu. Pembenaran atas segala tindakan dosa selalu dilakukannya, termasuk bila memungkinkan menggunakan ayat-ayat yang tak tegas maknanya (mutasyabihat) (QS 3:7).
Hanya dengan iman dan dzikir kalbu dapat dipelihara kepekaannya (QS 64:11) dan menjadi tentram (QS 13:28) hingga mampu bergetar setiap cahaya Allah menyentuhnya (QS 8:2).
Langit
Ada sesuatu yang hilang dari kehidupan masyarakat kota: keindahan langit. Gemerlap lampu kota telah merampas hak kerlip bintang-bintang di langit untuk menembus setiap kalbu. Sementara gedung-gedung tinggi menghalangi indahnya matahari terbit dan terbenam yang penuh makna. Mungkin hal itu salah satu sebab kurang pekanya kalbu kita membaca ayat-ayat-Nya di alam.
Padahal Allah mengingatkan dalam firman-Nya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi....(Q. S. 3:190-191).
Menurut riwayat, setelah ayat itu turun Rasulullah SAW menangis. Bilal yang menemuinya pada waktu shubuh bertanya mengapa Rasulullah sampai menangis. Rasulullah kemudian menjelaskan bahwa malam itu turun ayat yang amat berat maknanya. Padahal sedikit umatnya yang merenungkannya.
Mungkin banyak di antara kita terbiasa membaca tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil, tetapi sebatas formalitas dzikir sesudah shalat. Sehingga fenomena yang biasa kita lihat adalah mengejar kuantitas jumlah bacaan, kadang dengan ucapan yang kurang sempurna.
Dzikir sebenarnya tidak hanya diucapkan sesudah shalat, tetapi berlaku sepanjang kehidupan. Sayangnya suasana lingkungan dan kesibukan kota kadang melalaikan. Bila setiap hari hanya kemacetan dan gedung-gedung tinggi yang mewarnai suasana hati, mungkin dzikir terlupakan. Berganti dengan keresahan dan kejenuhan.
Beruntunglah bila masih sempat menikmati langit malam menjelang tidur atau menjelang shubuh. Matikan lampu luar beberapa saat. Pandangi langit bertabur bintang. Bila beruntung berada di lokasi yang tidak terlalu parah terkena polusi cahaya, "sungai perak" galaksi Bimasakti yang memiliki ratusan milyar bintang akan terlihat membujur di langit. Sesekali mungkin terlihat meteor seperti bintang jatuh.
Dalam keheningan malam, ingatlah Allah. Renungkan ayat-ayat-Nya yang terlukis indah di langit. Ucapan tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil saat itu akan lebih mendalam merasuk kalbu daripada sekadar ucapan yang berpacu dengan hitungan biji tasbih atau buku-buku jari.
Di tengah keluasan langit, kita sadari bumi kita hanyalah planet mungil di keluarga matahari. Sedangkan matahari sendiri hanya sekadar bintang kecil di galaksi Bimasakti. Masih banyak bintang raksasa yang diameternya ratusan kali diameter matahari.
Galaksi dihuni oleh milyar bintang serta gas dan debu bahan pembentuk bintang-bintang baru. Padahal jumlah galaksi yang ada di alam semesta ini tak terhitung banyaknya.
Rabbana maa khalaqta haadza baathilaa, subhaanaka faqinaa 'adzaabannar, "Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini sia-sia, Mahasuci Engkau! (Hanya Engkau yang Mahasempurna, kami manusia dhaif penuh kesalahan). Karenanya (ampunilah kami), jauhkan kami dari siksa neraka" (Q.S. 3:191).
Semakin dalam bertafakur, semakin sadar akan kelemahan dan kekecilan diri manusia. Dari segi substansi materinya, jasad manusia tidak ada bedanya dengan debu-debu antarbintang, sama-sama terbentuk di inti bintang. Namun nafsu manusia kadang menghanyutkan pada ketakaburan, merasa diri besar. Setiap yang besar, pasti ada yang lebih besar. Hanya Dia yang Mahabesar. Patutkah kita masih menyombongkan diri?
Padahal Allah mengingatkan dalam firman-Nya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi....(Q. S. 3:190-191).
Menurut riwayat, setelah ayat itu turun Rasulullah SAW menangis. Bilal yang menemuinya pada waktu shubuh bertanya mengapa Rasulullah sampai menangis. Rasulullah kemudian menjelaskan bahwa malam itu turun ayat yang amat berat maknanya. Padahal sedikit umatnya yang merenungkannya.
Mungkin banyak di antara kita terbiasa membaca tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil, tetapi sebatas formalitas dzikir sesudah shalat. Sehingga fenomena yang biasa kita lihat adalah mengejar kuantitas jumlah bacaan, kadang dengan ucapan yang kurang sempurna.
Dzikir sebenarnya tidak hanya diucapkan sesudah shalat, tetapi berlaku sepanjang kehidupan. Sayangnya suasana lingkungan dan kesibukan kota kadang melalaikan. Bila setiap hari hanya kemacetan dan gedung-gedung tinggi yang mewarnai suasana hati, mungkin dzikir terlupakan. Berganti dengan keresahan dan kejenuhan.
Beruntunglah bila masih sempat menikmati langit malam menjelang tidur atau menjelang shubuh. Matikan lampu luar beberapa saat. Pandangi langit bertabur bintang. Bila beruntung berada di lokasi yang tidak terlalu parah terkena polusi cahaya, "sungai perak" galaksi Bimasakti yang memiliki ratusan milyar bintang akan terlihat membujur di langit. Sesekali mungkin terlihat meteor seperti bintang jatuh.
Dalam keheningan malam, ingatlah Allah. Renungkan ayat-ayat-Nya yang terlukis indah di langit. Ucapan tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil saat itu akan lebih mendalam merasuk kalbu daripada sekadar ucapan yang berpacu dengan hitungan biji tasbih atau buku-buku jari.
Di tengah keluasan langit, kita sadari bumi kita hanyalah planet mungil di keluarga matahari. Sedangkan matahari sendiri hanya sekadar bintang kecil di galaksi Bimasakti. Masih banyak bintang raksasa yang diameternya ratusan kali diameter matahari.
Galaksi dihuni oleh milyar bintang serta gas dan debu bahan pembentuk bintang-bintang baru. Padahal jumlah galaksi yang ada di alam semesta ini tak terhitung banyaknya.
Rabbana maa khalaqta haadza baathilaa, subhaanaka faqinaa 'adzaabannar, "Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini sia-sia, Mahasuci Engkau! (Hanya Engkau yang Mahasempurna, kami manusia dhaif penuh kesalahan). Karenanya (ampunilah kami), jauhkan kami dari siksa neraka" (Q.S. 3:191).
Semakin dalam bertafakur, semakin sadar akan kelemahan dan kekecilan diri manusia. Dari segi substansi materinya, jasad manusia tidak ada bedanya dengan debu-debu antarbintang, sama-sama terbentuk di inti bintang. Namun nafsu manusia kadang menghanyutkan pada ketakaburan, merasa diri besar. Setiap yang besar, pasti ada yang lebih besar. Hanya Dia yang Mahabesar. Patutkah kita masih menyombongkan diri?
Istiqamah
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada ketakutan bagi mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. (QS 46:13).
Fenomena fisika, bagian dari sunnatullah, bisa menjadi teladan yang baik bagi manusia. Contohnya laser, yang kini mulai banyak dikenal, mulai dari pertunjukan sinar laser sampai pointer mungil yang dijual di kaki lima. Laser (light amplification by stimulated emission of radiation) adalah penguatan cahaya dengan pancaran radiasi yang distimulasi. Di alam kita kenal maser (microwave amplification by stimulated emission of radiation), penguatan gelombang mikro dengan pancaran radiasi yang distimulasi, yang dipancarkan oleh awan antarbintang.
Garis kehidupan seorang Muslim idealnya ibarat mengikuti garis penjalaran sinar laser yang lurus tersebut. Titik awalnya adalah niat yang ikhlas dan titik sasarannya adalah mardlatillah, keridlaan Allah.Proses di titik awal amat menentukan sampai tidaknya sinar mencapai sasaran yang dituju. Niat yang lemah bisa menyebabkan tidak sampainya pada tujuan. Sedikit saja hambatan yang dihadapi, sasaran tidak tercapai.
Pada laser atau maser, cahaya atau gelombang mikro itu diproses dan diperkuat sehingga dapat terpancar sangat kuat, lurus tidak menyebar, dan dapat menempuh jarak yang sangat jauh. Seperti itu pula hendaknya niat diproses dan diperkuat agar tetap lurus dalam bertindak dan mampu menembus hambatan-hambatan yang dihadapi.
Untuk mendapatkan penguatan tersebut, ada proses pemompaan energi pada titik awal tersebut. Pada perangkat laser, pemompaan energi dilakukan dengan penyinaran atau pemberian medan listrik. Pada fenomena maser dari awan antarbintang, pemompaan energi dilakukan oleh radiasi inframerah dari bintang-bintang di dekatnya..
Pada diri manusia "pemompaan energi" untuk penguatan niat dilakukan dengan tempaan iman dan doa yang terus menerus. Allah menyerukan, "Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, karena kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman@ (QS 3:139). Rasullullah SAW berpesan, "Doa itu senjatanya orang mu'min" (HR Hakim dan Abu Ya'la)
Jalan mencapai tujuan mardlatillah tentu tidak mulus. Ada saja hambatan dan godaan. Sedangkan manusia tidak luput dari kelalaian dan dosa. Kemalasan menyebabkan amal terhenti. Riya (pamer) dan bangga diri menghanguskan nilai amal. Penyelewengan menyeret kita keluar dari jalur yang lurus. Tetapi, Allah memberikan mekanisme untuk meluruskan kembali perjalanan kita: segera ingat Allah dan mohon ampunan (QS 3:135).
Hal yang terpenting adalah menjaga konsistensi diri, beristiqamah (QS 46:13), setelah memantapkan iman berbekal doa (QS 3:8) yang memperkuati niat. Istiqamah memang mudah diucapkan, tetapi berat melaksanakannya. Idealisme yang bergelora pada masa muda atau semasa mahasiswa, kerap tak bisa dipertahankan ketika berhadapan dengan realitas dalam perjuangan profesi sesungguhnya.
Tuntutan keluarga, silaunya iming-iming harta, dorongan mendapatkan dan mempertahankan jabatan, serta upaya meningkatkan status sosial tidak jarang menggoyah jiwa. Awalnya menggunakan pembenaran-pembenaran, selanjutnya hilang rasa malu.
Sebelum tersesat jauh, luruskan kembali perjalanan hidup kita. Memang beristiqamah terasa pahit secara lahiriyah, tetapi tentram secara batiniyah.
Janji Hakiki
Dia (Allah) berkata kepada langit dan bumi, "Datanglah kalian dengan taat atau terpaksa". Keduanya menjawab, "Kami datang dengan taat". (QS 41:11)
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi (QS 7:172)
Setelah Allah menciptakan alam semesta dan manusia, kemudian Allah 'melantiknya' dengan mengambil janji. Langkah ini pula yang kita tiru ketika kita menetapkan seseorang menjadi pejabat pemegang amanat. Maksudnya, tentu agar setiap langkah dan tindakannya tidak lepas dari janji yang pernah diucapkannya.
Langit dan bumi adalah makluk fisik yang tidak berjiwa, tidak mempunyai kemampuan berkreasi. Mereka mengerjakan sebatas 'program' yang telah ditetapkan penciptanya, tidak ada kemampuan lebih dari itu. Karenanya ketika amanat diberikan Allah mereka menolaknya. Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh (QS 33:72).
Bukti ketaatan langit dan bumi mudah dilihat dari gerakan mengitari pusat massanya. Gunung-gunung mengitari pusat bumi. Bulan mengitari bumi. Bumi dan planet-planet mengitari matahari. Matahari dan ratusan milyar bintang mengitari pusat galaksi. Dalam bahasa fisika, gerakan benda-benda langit akibat gaya gravitasi. Dalam bahasa Alquran, gerakan itu bukti ketaatan kepada Khaliq-nya, tanpa tawar-menawar sesuai janjinya.
Jasad manusia pun benda fisik yang tidak berbeda dengan alam. Unsur kimiawinya yang didominasi karbon, hidrogen, oksigen, dan nitrogen juga terdapat di alam. Gerakannya pun mengikuti hukum yang berlaku di alam. Bila terpeleset akan jatuh ke bawah, sama seperti jatuhnya batu. Bila mati akan terurai bersatu kembali dengan tanah. Secara jasmaniah, manusia memang sudah terikat dengan janji ketika langit dan bumi tercipta.
Namun manusia bukan sekadar jasmani, tetapi ada bagian ruhani yang menjadi ciri dasar kemuliaan dan kelebihan manusia dibandingkan makhluk lainnya (QS 17:70). Manusia dipercaya sebagai khalifah di bumi dan diberi pengajaran yang tidak diberikan kepada malaikat (QS 2:30-31), hingga malaikat pun diperintahkan Allah untuk bersujud. Allah memang menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (QS 95:4). Namun keistimewaan itu bersyarat, bila sejumlah keterbatasannya dapat dikendalikan agar tidak mendominasi.
Manusia punya kecenderungan tidak sabar, banyak berkeluh kesah, dan kikir (QS 70:19). Manusia juga lemah (QS 4:28) dan bersifat tergesa-gesa (QS 17:11). Kelemahan-kelemahan seperti itu terkait dengan catatan Allah bahwa manusia itu zalim dan bodoh, walaupun sanggup memegang amanat yang berat.
Dengan segala potensi keunggulan dan kelemahannnya itu manusia pun bisa jatuh ke tempat yang serendah-rendahnya bila tidak disertai iman dan amal shalih (QS 95:5). Memelihara amanat dan janji adalah salah satu kunci mengatasi kelemahan manusia (QS 70:32) dan menjadi ciri keimanan (QS 23:8).
Thawaf saat berhaji yang menirukan gerakan langit dan bumi mengingatkan akan janji hakiki saat awal makhluk diciptakan-Nya. Setidaknya kita semua diingatkan dengan bacaan Al-Fatihah setiap rakaat shalat akan janji hakiki pengakuan keberadaan Allah. Memegang janji yang hakiki itu menjadi dasar untuk menjaga janji dan amanat yang lebih luas.
Sains
Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan
Menciptakan manusia dari segumpal darah
Bacalah! Dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah
Yang mengajarkan dengan pena
Mengajar manusia hal-hal yang belum diketahuinya -- (Q. S. Al-Alaq:1-5)
Dalam makna yang umum, lima ayat yang turun pertama kali ini tentunya bukan hanya perintah kepada Rasulullah s.a.w. untuk membaca ayat-ayat quraniyah. Terkandung di dalamnya makna untuk membaca ayat-ayat kauniyah yang terdapat di alam. Allah memberikan kemampuan kepada manusia untuk itu.
Manusia yang diciptakan dari substansi serupa gumpalan darah telah dianugerahi Allah dengan kemampuan analisis untuk mengurai rahasia-rahasia di balik semua fenomena alami. Kompilasi pengetahuan manusia kemudian didokumentasikan dan disebarkan dalam bentuk tulisan yang disimbolkan dengan pena. Pembacaan ayat-ayat kauniyah ini melahirkan sains dalam upaya menafsirkannya. Ada astronomi, matematika, fisika, kimia, biologi, geologi, dan sebagainya.
Dari segi esensinya, semua sains sudah Islami, sepenuhnya tunduk pada hukum Allah. Hukum-hukum yang digali dan dirumuskan adalah hukum-hukum alam yang tunduk pada sunnatullah. Pembuktian teori-teori yang dikembangkan dilandasi pencarian kebenaran, bukan pembenaran nafsu manusiawi. Secara sederhana, sering dikatakan bahwa dalam sains kesalahan adalah lumrah karena keterbatasan daya analisis manusiawi, tetapi kebohongan adalah bencana.
Hukum konservasi massa dan energi yang secara keliru sering disebut sebagai hukum kekekalan massa dan energi sering dikira bertentangan dengan prinsip tauhid. Padahal itu hukum Allah yang dirumuskan manusia, bahwa massa dan energi tidak bisa diciptakan dari ketiadaan dan tidak bisa dimusnahkan. Alam hanya bisa mengalihkannya menjadi wujud yang lain. Hanya Allah yang kuasa menciptakan dan memusnahkan. Bukankah itu sangat Islami?
Demikian juga tetap Islami sains yang menghasilkan teknologi kloning, rekayasa biologi yang memungkinkan binatang atau manusia memperoleh keturunan yang benar-benar identik dengan sumber gennya. Teori evolusi dalam konteks tinjauan aslinya dalam sains, juga Islami bila didukung bukti saintifik. Semua prosesnya mengikuti sunnatullah, yang tanpa kekuasaan Allah semuanya tak mungkin terwujud.
Jadi, Islamisasi sains sungguh tidak tepat. Menjadikan ayat-ayat Alquran sebagai rujukan, yang sering dianggap salah satu bentuk Islamisasi sains, juga bukan pada tempatnya. Dalam sains, rujukan yang digunakan semestinya dapat diterima semua orang, tanpa memandang sistem nilai yang dianutnya. Tegasnya, tidak ada sains Islam dan sains non-Islam.
Hal yang pasti ada hanyalah saintis Islam dan saintis non-Islam. Dalam hal ini sistem nilai tidak mungkin dilepaskan. Memang tidak akan tampak dalam makalah ilmiahnya, tetapi sistem nilai yang dianut seorang saintis kadang tercermin dalam pemaparan yang bersifat populer atau semi-ilmiah.
"Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan". Maka, riset saintis Islam berangkat dari keyakinan bahwa Allah pencipta dan pemelihara alam serta hanya karena-Nya pokok pangkal segala niat.
Atas dasar itu, setiap tahapan riset yang menyingkapkan satu mata rantai rahasia alam semestinya disyukurinya dengan ungkapan "Rabbana maa khaalaqta haadza baathilaa, Tuhan kami tidaklah Engkau ciptakan semua ini sia-sia" (Q. S. 3:191), bukan ungkapan bangga diri.
Menciptakan manusia dari segumpal darah
Bacalah! Dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah
Yang mengajarkan dengan pena
Mengajar manusia hal-hal yang belum diketahuinya -- (Q. S. Al-Alaq:1-5)
Dalam makna yang umum, lima ayat yang turun pertama kali ini tentunya bukan hanya perintah kepada Rasulullah s.a.w. untuk membaca ayat-ayat quraniyah. Terkandung di dalamnya makna untuk membaca ayat-ayat kauniyah yang terdapat di alam. Allah memberikan kemampuan kepada manusia untuk itu.
Manusia yang diciptakan dari substansi serupa gumpalan darah telah dianugerahi Allah dengan kemampuan analisis untuk mengurai rahasia-rahasia di balik semua fenomena alami. Kompilasi pengetahuan manusia kemudian didokumentasikan dan disebarkan dalam bentuk tulisan yang disimbolkan dengan pena. Pembacaan ayat-ayat kauniyah ini melahirkan sains dalam upaya menafsirkannya. Ada astronomi, matematika, fisika, kimia, biologi, geologi, dan sebagainya.
Dari segi esensinya, semua sains sudah Islami, sepenuhnya tunduk pada hukum Allah. Hukum-hukum yang digali dan dirumuskan adalah hukum-hukum alam yang tunduk pada sunnatullah. Pembuktian teori-teori yang dikembangkan dilandasi pencarian kebenaran, bukan pembenaran nafsu manusiawi. Secara sederhana, sering dikatakan bahwa dalam sains kesalahan adalah lumrah karena keterbatasan daya analisis manusiawi, tetapi kebohongan adalah bencana.
Hukum konservasi massa dan energi yang secara keliru sering disebut sebagai hukum kekekalan massa dan energi sering dikira bertentangan dengan prinsip tauhid. Padahal itu hukum Allah yang dirumuskan manusia, bahwa massa dan energi tidak bisa diciptakan dari ketiadaan dan tidak bisa dimusnahkan. Alam hanya bisa mengalihkannya menjadi wujud yang lain. Hanya Allah yang kuasa menciptakan dan memusnahkan. Bukankah itu sangat Islami?
Demikian juga tetap Islami sains yang menghasilkan teknologi kloning, rekayasa biologi yang memungkinkan binatang atau manusia memperoleh keturunan yang benar-benar identik dengan sumber gennya. Teori evolusi dalam konteks tinjauan aslinya dalam sains, juga Islami bila didukung bukti saintifik. Semua prosesnya mengikuti sunnatullah, yang tanpa kekuasaan Allah semuanya tak mungkin terwujud.
Jadi, Islamisasi sains sungguh tidak tepat. Menjadikan ayat-ayat Alquran sebagai rujukan, yang sering dianggap salah satu bentuk Islamisasi sains, juga bukan pada tempatnya. Dalam sains, rujukan yang digunakan semestinya dapat diterima semua orang, tanpa memandang sistem nilai yang dianutnya. Tegasnya, tidak ada sains Islam dan sains non-Islam.
Hal yang pasti ada hanyalah saintis Islam dan saintis non-Islam. Dalam hal ini sistem nilai tidak mungkin dilepaskan. Memang tidak akan tampak dalam makalah ilmiahnya, tetapi sistem nilai yang dianut seorang saintis kadang tercermin dalam pemaparan yang bersifat populer atau semi-ilmiah.
"Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan". Maka, riset saintis Islam berangkat dari keyakinan bahwa Allah pencipta dan pemelihara alam serta hanya karena-Nya pokok pangkal segala niat.
Atas dasar itu, setiap tahapan riset yang menyingkapkan satu mata rantai rahasia alam semestinya disyukurinya dengan ungkapan "Rabbana maa khaalaqta haadza baathilaa, Tuhan kami tidaklah Engkau ciptakan semua ini sia-sia" (Q. S. 3:191), bukan ungkapan bangga diri.
Langganan:
Postingan (Atom)






