Asysyam

“Sesungguhnya berbahagialah orang yang mensuciikan jiwanya, dan sungguh merugilah orang yang mengotori jiwanya”

Rabu, 14 Maret 2012

Keajaiban Kitab Suci al-Qur'an dan Rahmat Nabi Muhammad (s)


  
Mawlana Shaykh Hisham Kabbani

A`uudzu billahi min asy-Syaythaani 'r-rajiim. Bismillahi 'r-Rahmaani 'r-Rahiim.
Nawaytu 'l-arba`iin, nawaytu 'l-`itikaaf, nawaytu 'l-khalwah, nawaytu 'l-`uzlah,
nawaytu 'r-riyaadhah, nawaytu 's-suluuk, lillahi ta`ala fii haadza 'l-masjid.
  
Athi`ullaha wa athi`u 'r-Rasuula wa uuli 'l-amri minkum.
Patuhilah Allah, patuhi Nabi (s) dan patuhi orang-orang yang mempunyai otoritas atas kalian. (4:59)
Alhamdulillah, sangat sulit untuk bicara karena ini tidaklah mudah.  Saya tidak mempersiapkan sesuatu.  Saya datang untuk mendengar dan menyimak, seperti kalian.  Kalian harus mempunyai adab, hormat kepada Allah (swt) dan Nabi-Nya, Sayyidina Muhammad (s).  Nabi (s) tidak pernah berbicara sesuatu melainkan berasal dari wahyu.  Jadi adab untuk disiplin bagi umat Nabi (s) dan manusia adalah mengikuti jejak Sayyidina Muhammad (s), yang mengajarkan kita akhlak terbaik.  Sekarang orang bisa mengatakan apa saja yang mereka sukai, setiap orang bebas untuk mengatakan Islam begini atau begitu!  Bahkan Setan berkata, "Oh Tuhanku!  Aku lebih baik daripada Adam."  Itu dinyatakan dalam Kitab Suci Al-Qur'an, 
 
قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ
Bismillahi 'r-Rahmaani 'r-Rahiim, anaa khayrun minhu khalaqtanii min naar wa khalaqtahu min tiin.
(Ibliis) berkata, "Aku lebih baik darinya, Engkau menciptakan aku dari api, dan Engkau menciptakannya dari tanah! (38:76)
 
Dia mempunyai kekuatan untuk menghadap Tuhannya dan berkata, "Mengapa aku harus bersujud kepada Adam?  Aku lebih baik darinya."  Iblis masih percaya kepada Tuhan.  Allah (swt) mengutus Sayyidina Adam, Nuh, Musa, Jesus, dan Sayyidina Muhammad (semoga kedamaian tercurah kepada mereka semua) untuk mengajarkan kita bagaimana cara berdisiplin.  Sekarang, jika kalian ingin menjadi seorang diplomat, kalian harus mengikuti kursus, mengapa?  Untuk belajar bagaimana cara menunjukkan hormat.  Seorang duta besar harus menunjukkan hormat, bahkan kepada musuhnya.  Ia ingin membangun jembatan, bukannya menghancurkannya.  Jadi mereka dilatih untuk itu. Lalu bagaimana menurut kalian ketika bicara mengenai pesan surgawi dari Islam, atau dengan apa Jesus dan Nabi Musa (a) datang?  Kalian harus mengatakan sesuatu yang diridai Allah.  Allah tidak suka seseorang yang berdiri di podium dan menyerang orang lain, bukannya memberi daya tarik, kalian mengatakan beragam kata-kata negatif yang membuat mereka bingung dan pergi.  
 
Oleh sebab itu, tanggung jawab untuk bicara adalah sangat berat.  Dikatakan bahwa ada dua macam ilmu:  `Ilm al-Awraaq, "Ilmu Kertas," dan `Ilm al-Adzwaaq, "Ilmu Rasa".  Kalian membaca kertas, ambil uang, kemudian pergi.  Tidak peduli apakah orang lain mendengar atau tidak.  Itu adalah ilmu yang kalian peroleh melalui membaca buku-buku.  Ilmu tidak dapat diambil kecuali melalui mulut para ulama, yaitu orang-orang yang alim, yang berilmu.  Di sisi lain, `Ilm al-Awraaqartinya ilmu untuk mengetahui bagaimana cara berbicara dan menjaga manisnya kata-kata kalian sehingga orang akan mendengar.  Kalian tidak akan pernah tahu bagaimana manisnya isi cangkir ini sampai kalian mencicipinya, saya dapat menggambarkannya dengan sebuah cangkir emas bergaris kuning yang berisi air, tetapi bila kalian tidak merasakannya, apa manfaatnya?  Jadi `Ilm al-Adzwaaq adalah ilmu di mana Allah (swt) meletakkannya pada lidah ketika kalian mempunyai disiplin.
 
Para nabi dan rasul datang dengan pesan surgawi yang baik.  Surga tidak mengirimkan pesannya yang tidak manis.  Ucapan atau kata-kata kita harus mempunyai rasa manis di dalamnya, kalau tidak, kalian tidak dapat memperoleh apa-apa dari majelis itu dan lebih baik untuk tinggal di rumah.  Di mana pun dan apa pun yang kalian ikuti, jika kalian mengikuti pesan Sayyidina Muhammad (s), Sayyidina Jesus (a), atau Sayyidina Musa (a), kalian harus mempunyai disiplin untuk mengikuti suatu pesan atau orang tertentu.  Semua jalan kehidupan selalu mempunyai disiplin.  Kalian tidak bisa mengabaikannya dengan mengatakan, "Itu bukan urusanku."  Di jalan, kalian mempunyai jalur pejalan kaki dan kalian tidak boleh berjalan di jalanan, itu adalah disiplin.  Setiap negara mempunyai undang-undang dasarnya, kalau tidak pemerintah dan masyarakatnya akan kacau balau.  Setiap individu juga menerima suatu jalan untuk diikuti.

 وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُواْ الْخَيْرَاتِ
Wa li kulli lahu wijhatu huwa muwalliihaa fa 'stabiquu 'l-khayraat.
Bagi setiap orang ada arah untuk mencapai tujuan mereka, maka berlomba-lombalah dalam kebaikan itu. (al-Baqara, 2:148)
 
Fastabiquu'l-khayraat, "Berjuanglah untuk yang terbaik."  Tugas kita adalah untuk berjuang demi yang terbaik untuk kemanusiaan dan untuk kita sendiri.  Allah berfirman kepada Nabi (s): 
 
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
Wa innaka la-`ala khuluqin `azhiim.
Dan sesungguhnya, kau (Wahai Muhammad) mempunyai akhlak yang mulia. (Al-Qalam, 68:4)
 
Akhlak, khuluq yang Allah berikan kepada Nabi (s), wa innaka la-`alaa khuluqin `azhiim, artinya, "Kau memiliki akhlak terbaik dengan perilaku terbaik dan moral yang sempurna."  Allah (swt) mendeskripsikan Nabi-Nya sebagai: 
كان خلقه القرآن
Kaana khuluqahu al-qur'an.
Akhlak Nabi (s) adalah al-Qur'an. (al-Bukhari)
 
Siapa yang ingin mencapai disiplinnya Nabi Muhammad (s), atau nabi-nabi lainnya yang ingin kalian ikuti dalam kalbu kalian, pesan itu pasti mempunyai level kesempurnaan tertinggi.  Allah (swt) melukiskan Sayyidina Muhammad (s) mempunyai akhlak terbaik lahir dan batin. 
 
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ            
Qul in kuntum tuhibuun Allah fatabi`uuni yuhbibukum Allah.
Katakan, "Jika engkau benar-benar mencintai Allah, ikuti aku, Allah akan mencintaimu." (3:31) 
 
Jadi, jika kini orang-orang tidak mengikuti teladan terbaik, mereka akan jatuh ke dalam masalah dan kesulitan.  Dalam Islam jika kalian melihat sebuah batu di jalan, adabnya adalah memindahkannya, karena bisa jadi ia menimbulkan kesulitan bagi orang lain, atau sebuah mobil dapat mengenainya dan menimbulkan kecelakaan.  Jadi apa tugas kalian?  Memindahkan batu itu.  Kalian tidak boleh memindahkannya dengan kaki kalian.  Siapa yang menciptakan batu itu, kalian atau Allah (swt)?  Allah yang menciptakannya.  Dengan demikian adabnya adalah dengan berjongkok, lalu ambil batu itu dengan tangan kalian, dan memindahkannya ke pinggir.  Kalian harus menyingkirkan masalah dari orang banyak dengan menyediakan waktu dan niat kalian terhadap apa yang kalian lihat di depan kalian.  Nabi (s) bersabda, "Jika kalian sungguh-sungguh mencintai Allah, ikuti Muhammad (s)."  Kita tidak bisa hanya mengucapkannya saja, kita harus mengikuti Sayyidina Muhammad (s) dengan perbuatan dan disiplin!

Allah (swt) berfirman kepada Nabi (s), "Engkau mempunyai akhlak terbaik," dan hadis meriwayatkan, "Akhlak Nabi (s) adalah al-Qur'an."  Nabi (s) adalah "Qur'an yang berbicara."  Allah (swt) menganugerahinya ilmu dari Al-Qur'an yang sangat luas dan mempunyai makna tak terbatas.  Sekarang orang-orang membatasi Al-Qur'an suci dengan mengutip ayat-ayat di luar konteks, atau dengan mengikuti arti harfiah tanpa memahaminya.  Mereka membatasinya begitu banyak hingga mereka merendahkan kitab suci Al-Qur'an dan mereka bahkan tidak menyadari apa yang mereka lakukan!  Kitab suci al-Qur'an adalah firman Allah yang sakral!  
 
 إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًاخَالِدِينَ فِيهَا لَا يَبْغُونَ عَنْهَا حِوَلًا قُل لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا
Bismillahi 'r-Rahmaani 'r-Rahiim, inna alladziina aamanuu wa `amiluu 'sh-shaalihaat kaanat lahum jannatu'l-firdawsi nuzula khalidiina fiiha laa yabghuuna `anha hiwalaa, qul law kaan al-bahru midaadan li kalimaati rabbii wa law ji'naa bi-mitslihi madadaa

Sesungguhnya bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka surga firdaus menjadi tempat tinggalnya.  Mereka kekal di dalamnya dan mereka pun tidak ingin pindah darinya.  Katakanlah: sekiranya lautan menjadi tinta bagi  kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun kami datangkan sebanyak itu." (Surat al Kahf, 18:107-109)
 
Allah (swt) berfirman, "Katakan kepada mereka, yaa Muhammad (s), jika lautan adalah tinta dan pohon-pohon sebagai pena untuk menulis kalimat Allah, kalimat Allah tidak akan pernah habis tetapi tinta dan penanya yang akan habis!  Jadi bagaimana mereka membatasi 500 halaman kitab suci al-Qur'an?  Dan mereka mengatakan bahwa mereka adalah para ulama yang memberikan fatwa?  Allah (swt) menggambarkan kitab suci al-Qur'an di dalam kitab suci al-Qur'an.  Itu artinya, kitab suci al-Qur'an mengandung makna dan tafsir yang akan bermanfaat bagi manusia setiap saat dalam kehidupan mereka dan akan bermanfaat dalam area apa pun; baik itu psikologi, kedokteran, atau astrologi, kalian dapat menemukan apa saja di dalam Kitab suci al-Qur'an yang menerangi ilmu-ilmu tersebut.  Tetapi kalian memerlukan orang-orang yang mempelajari ilmu-ilmu tersebut untuk membaca dan mengerti.  Dan ada begitu banyak contoh dari apa yang mereka temukan dalam Kitab Suci al-Qur'an sejak 1400 tahun yang lalu.  Oleh sebab itu kalian harus mempunyai disiplin.  Ketika kalian mempunyai sesuatu yang berharga di mana kalian menyimpannya?  Jika kalian mempunyai sebuah mahkota, di mana kalian menyimpannya?  Di kepala kalian.  Apakah Qur'an bukan merupakan mahkota?  Kitab Suci al-Qur'an harus diangkat setinggi-tingginya untuk memberikan kehormatan kepada firman Allah (swt).  

Wahai ulama-ulama sekarang!  Di mana kalian meletakan Kitab Suci al-Qur'an?  Kalian hanya mengajarkan bagaimana cara berwudu dan salat, itu memang bagus, tetapi bagaimana tentang Maqaam al-Ihsaan, maqam Kesempurnaan Moral, untuk mengetahui apa yang tersembunyi?  Lihatlah pada doa ini (kaligrafi yang tergantung di dinding): rabbana atinaa min ladunka rahmatan wa hayyi lana min amrina rasyada.  Apa maknanya?  Jika kita membacanya secara harfiah, itu artinya, "Ya Tuhan kami!  Berikanlah kami rahmat dari sisi-Mu, dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami."  Itu adalah arti yang normal, tetapi kalian perlu melihatnya lebih dalam, diperbesar pandangannya (zoom in), jangan diperkecil (zoom out).  Ulama-ulama sekarang melihatnya dengan cara diperkecil.  Bila diperkecil, kalian tidak bisa melihat rahasia setiap kata dan setiap huruf dari al-Qur'an!  Rabbana atina min ladunka rahmah, "Wahai Tuhan kami! Berikanlah kami dari Samudra Rahmat-Mu!  Apakah samudra itu?  Itu artinya, "Izinkanlah kami menyelam ke dalam samudra-Mu yang tidak berawal dan tidak berakhir!  Ilmu yang mencakup awal dan akhir, `uluum al-awwaliin w 'al-akhiriin, yang telah diletakkan di sana."  Siapakah yang merupakan Rahmatali 'l-`Alamiin, rahmat bagi seluruh umat manusia?  Jadi doa itu berarti, "Masukkan kami di dalam samudra Muhammad (s); izinkanlah kami berada di sana bersamanya sebagai sahabatnya!"
 
Nabi (s) berkata kepada sahabatnya, Sayyidina Abu Bakr (r):  
 
إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللّهَ مَعَنَا
Idz yaquulu li shaahibi la tahzan innAllah ma`na.
Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita. (Surat at-Tawbah, 9:40)
 
Jadi ketika kalian membaca ayat itu dengan cara lain, itu artinya, "Wahai Tuhan kami!  Jangan biarkan kami dijauhkan dari navigasi dan memperdalam/memperbesar pandangan dalam rahmat yang Engkau berikan kepada Nabi (s)!"  Itu adalah ilmu al-awwaliin wa 'l-akhiriin (awal dan akhir).  Allah (swt) memberi Sayyidina Muhammad (s) segala macam ilmu.  Itu sebabnya ada begitu banyak prinsip sains yang disebutkan dalam kitab suci al-Qur'an dan ahadis sejak 1.400 tahun yang lalu.  Ini juga berarti ada suatu jalan dan koneksi bagi setiap orang ke dalam kalbu Nabi (s).  

Orang bertanya kepada kalian, "Di mana alamat kamu?"  Jika mereka menanyakannya 20 tahun yang lalu, kalian akan memberikan alamat kalian, lengkap dengan kode pos.  Sekarang kalian akan memberinya alamat e-mail kalian, yang menghubungkan kita semua di seluruh dunia dengan sebuah "server" yang menyaring (memfilter) semua e-mail.   Sekarang kita manusia menginovasi server-server, dan milyaran e-mail masuk ke dalam server-server itu.  Bagaimana menurut kalian ketika Allah (swt) mengajarkan kita untuk mengucapkan, "Ya Allah!  Berikanlah rahmat itu dan masukkan kami ke dalam kalbu Muhammadun Rasuulullah, untuk menghubungkan kalbu kita dengan server beliau sehingga beliau akan mengarahkan kita dan menunjukan suatu hubungan dengan kita."  Setiap orang mempunyai hubungan kepada Nabi (s).

Allah berfirman di dalam Al-Qur'an suci:
 وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
Wa maa arsalnaaka illa rahmatan lil-`alamiin.
Kami tidak mengutusmu kecuali sebagai Rahmat bagi seluruh alam!  (21:107)
 
وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا    
Wa hayyi lana min amrina rasyada.
Dan lancarkan urusan kami dengan jalan yang benar. (18:10)
 
Nabi Muhammad (s) mencapai setiap makhluk di bumi melalui ayat ini, yang artinya, "Ketika Engkau menghubungkan kami dengan jalan  Sayyidina Muhammad (s) kami memperoleh hidayah, dan dari situ kami memperoleh disiplin."  Tidak ada hidayah kecuali dengan disiplin.  Jika kalian ingin memandu anak kecil, kalian harus menunjukannya disiplin.  Sama saja dengan orang dewasa.  Kalian tidak bisa mengajarkan disiplin bila kalian sendiri masih belum berdisiplin.  Kalian harus sangat berdisiplin dengan apa pun yang kalian lakukan.  Hari ini mereka mengatakan kepada kalian, misalnya, bahwa sendok untuk sup, garpu untuk salad, dan pisau untuk memotong.  Dapatkah kalian memotong dengan garpu?  Tidak.  Jika kalian melakukannya, mereka mengatakan, "Kita perlu mengajarkan orang ini tentang etiket."  Dapatkah kalian makan dengan kaki kalian?  Tidak, kalian berjalan dengan kaki kalian. 

Nabi (s) bersabda, "Pada hari Kiamat, orang-orang akan berjalan dengan kepala mereka."  

Sayyida `Ayisya (r) bertanya, "Bagaimana mereka berjalan dengan kepala mereka?"  
Nabi (s) menjawab, "Dia yang membuat orang berjalan dengan kaki dapat membuat orang berjalan dengan kepala mereka."  

Wahai Muslim dan non-Muslim!  Berhati-hatilah!  Bisa jadi Allah membuat kita berjalan dengan kepala kita pada Hari Kiamat nanti, dan itu adalah hukuman (berjalan di atas kaki kita bukanlah hukuman).  Jika Allah tidak memberikan Rahmat-Nya, kalian tidak akan mendapat bimbingan!  Allah (swt) berfirman, 
 
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاء وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Innaka laa tahdii man ahbabta walaakin allah yahdii man yasya'a wahuwa aa`alamuu bil-muhtadiin.
Sesungguhnya kalian tidak dapat memberi hidayah kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah (swt) memberi hidayah kepada orang-orang yang Dia Kehendaki dan Dia Maha Mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (28:56)
 
Itulah sebabnya dua hari yang lalu kami terangkan tentang ayat Qur'an:

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُقُمْ فَأَنذِرْ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ 
Yaa ayyuha 'l-mudatstsir, qum fa andzir wa rabbuka fa-kabbir.
Wahai orang-orang yang berselimut!  Bangun dan berilah peringatan, dan Tuhanmu, agungkanlah!  (Surat al-Muddatstsir, 74:1-3)
 
"Wahai orang-orang yang berselimut!"  Itulah maknanya di sini.  Qum fa andzir, "Berdirilah dan berilah peringatan kepada manusia."  Wa rabbuka fakabbir, setelah memperingatkan mereka, "tunjukkan kebesaran Allah."  Mengapa Nabi (s) harus memperingatkan mereka dan memperlihatkan kebesaran Allah?  Ketika kalian mengatakan "pujian", "pengagungan", dan "kebesaran", itu artinya kalian ingin mengatakan sesuatu yang membuat kalian bahagia.  "Wahai Nabi (s), yang menyelimuti diri!  Berilah peringatan kepada manusia tentang Allah dan kebesaran-Nya, lalu agungkan dan berikan pujian kepada Allah, karena itu adalah hal terpenting yang dapat dilakukan oleh seseorang!"  Itulah makna harfiahnya, tetapi ketika diperdalam, diperbesar (zoom in),

Apakah menurut kalian, Allah (swt) akan berkata kepada Nabi-Nya (s), "Wahai orang yang berselimut!"  Diselimuti oleh apa?  Mereka berkata bahwa beliau menyelimuti dirinya dengan sehelai kain, selimut, atau abaa, jubahnya, karena beliau menggigil sebagai dampak turunnya wahyu.  Beliau, "Wahai orang yang Kuselimuti dengan Asmaul Husna wal Sifat yang tak pernah berakhir!  Yaa Muhammad, yang merupakan cahaya Surga!  Cahaya Hadirat Ilahi telah termanifestasi ke dalam dirimu!  Berdirilah di Hadirat Ilahi ini, Dia mengirimkan pujian yang tinggi bagimu.   Agungkanlah Tuhanmu atas Kebesaran-Nya dan hiasi manusia dengan apa yang telah Kuhiasi dirimu!  Peringatkan mereka bahwa Asmaul Husna wal Sifat ini telah siap untuk disandangkan kepada mereka, dan jangan biarkan mereka lari dari samudra itu!"  Itulah sebabnya Dia berfirman, wa rabbuka fa-kabbir, "Dan Tuhanmu Yang Mahabesar, agungkanlah dan akui kebesaran-Nya!"
 
Wahai Muslim dan non-Muslim!  Kitab suci al-Qur'an adalah sebuah kitab tetapi ia tidak diciptakan.  Ia disusun sepenuhnya oleh para Sahabat (r).  Mereka mendengar dan melihat turunnya wahyu, mereka melihat apa yang kita tidak lihat.  Nabi (s) hidup dengan wahyu itu dan tidak ada orang lain yang melakukannya.   Beliau memberikan wahyu itu, manisnya wahyu itu dari mulut sucinya.  Beliau membacanya dengan jalan yang suci dan tidak ada orang yang mendengarnya kecuali para Sahabat dan mereka meneruskannya dengan menyusunnya menjadi sebuah kitab.  Tetapi kata-kata yang telah diturunkan mengandung rahasia-rahasia Allah yang tak terhingga yang diturunkan kepada Nabi (s)!  Jika seluruh dunia ini menjadi pena dan seluruh samudra menjadi tinta, maka apa yang Allah berikan kepada Nabi (s) sekarang tidak akan pernah berakhir dan apa yang Allah berikan kepada Nabi (s) sejak awal hingga sekarang itu tidak lain melainkan hanya setetes dari apa yang Allah akan berikan!
 
Wahai Muslim!  Ambillah Cahaya Qur'an dan manfaatnya sebagai sebuah mahkota.  Jika kalian tidak membacanya, letakkan al-Qur'an di atas kepala kalian setiap hari dan biarkan cahayanya memasuki seluruh tubuh dan sistem saraf kalian.  Ia akan mempengaruhi kalian dan membuat kalian lebih kuat pada hari itu.  Tetapi apa yang kita lakukan?  Kita menyimpan al-Qur'an di dalam lemari dan berkata, "Kami mendapat manfaatnya."  Di beberapa negeri, seperti di Indonesia dan beberapa negeri Arab, mereka menjahit sampul untuk al-Qur'an dan menggantungnya di rumah mereka sebagai berkah.  Di sini, saya tidak pernah melihat kitab suci al-Qur'an tergantung.  Kalian lihat orang-orang di sini, di masjid, mereka membaca Qur'an, dan ketika selesai mereka meletakannya di lantai!  Itu bukan adab, karena dengan demikian kaki mereka lebih tinggi daripada Kitab Suci al-Qur'an pada saat mereka salat.  Kitab Suci al-Qur'an harus berada di atas kepala kalian!  Siapa yang menghormati al-Qur'an, Allah akan menghormati mereka di Hari Kiamat, dan siapa yang tidak menghormatinya, Allah akan merendahkannya di Hari Kiamat.  Semoga Allah (swt) mengampuni kita dan menggolongkan kita sebagai orang-orang yang menghormati kitab suci al-Qur'an.   
 
Alhamdulillah, ini adalah sebuah masjid baru di daerah Washington, D.C. Tempatnya kecil, tetapi bila kita menyelesaikan lantai atas, insya Allah ruang utama akan dapat menampung banyak orang.  Ruang utama di atas masih dalam proses renovasi.  Ini adalah satu-satunya ruangan yang sudah siap sekarang.  Ini adalah berkah dari Mawlana Syekh Nazim (q) dan himmah beliau, membawa cahaya dan rahmat dari kitab suci al-Qur'an dan Nabi kita (s) ke Amerika dan ke seluruh dunia. 

Wa min Allahi 't-tawfiiq, bi hurmati 'l-habiib, bi hurmati 'l-Fatihah. 

Tidak ada komentar:

Cari Blog Ini