Asysyam

“Sesungguhnya berbahagialah orang yang mensuciikan jiwanya, dan sungguh merugilah orang yang mengotori jiwanya”

Jumat, 18 Maret 2011

Merangkai KATA, Menyulam RASA, Mengukir MAKNA

-Cerita-cerita Air Mata-


Ada yang bertanya,

Dari manakah datangnya duka?
Dari apa air mata duka tercipta?


Tiba-tiba...


Ada titisan-titisan air mata
Yang membawa cerita


Tentang duka yang membuat suka lebih bermakna

Tentang derita yang jadi gurunya jiwa

Tentang air mata sebagai bahasanya cinta

Ke sanakah air mata cinta membawa semua manusia?



-Cahaya-cahaya Cinta-


Pagi itu berkunjunglah pangeran cahaya

Ia membawa lentera
Sekaligus berita

-Tentang Cinta-


Ada gerhana untuk semua

Ada surya yang menyinari semua

Ada rembulan yang mengintip semua

Ada pohon yang meneduhi semua

Ada rumput yang menghijaukan semua



Semua memang untuk semua

Bukankah itu yang membuatnya bernama Cinta?

Cinta dari Yang Maha Sempurna,

Allah Azza wa Jalla.



-Laba-laba cinta-


Ada laba-laba

Sedang membangun rumah cinta
Ia melukis dan mengukir makna


Melingkar-lingkar ia menyuarakan jiwa

Sambung menyambung merajut cinta
Berputar-putar ditemani jiwanya cinta


Ketika ditanya kenapa ia tidak bersuara


Ia hanya diam dalam sepi

Tidur dalam sunyi

Mimpi tentang kebahagiaan abadi

Di pusat lingkaran Yang Maha Suci



-Suara-suara Langit-


Ada yang menyebutnya dengan selimut bumi

Ada yang mengiranya sebagai batasnya sunyi


Jarang ada yang bertanya,

Pernahkah langit bersuara?


Kenapa bintang tergantung di sana?

Kenapa rembulan tidur pulas di sana?
Kenapa sang surya hanya tinggal di sana?


Hanya ada jawaban pasti

Dari Kalam Ilahi

Itulah Yang Maha Tinggi



-Puji bagi Sang Ilahi-


Di ufuk timur yang berseri

Engkau selalu menepati janji

Untuk senantiasa berbagi

Sekaligus melindungi



Tentang cahaya yang menyinari

Genta yang suci

Hidup yang penuh arti

Dan cinta yang Engkau beri



Bersama langit yang tinggi

Bersama laut yang rendah hati

Engkau taburkan sari-sari hati


-Melukis yang Manis-



Di pinggir perenungan duduk seorang pelukis
Melukis, melukis dan melukis
Ketika ditanya apa yang dilukis
Ia menyebut seorang gadis manis



Berjilbab dan bertudung hijau muda

Tersenyum manis seperti bunga kamboja

Tatapannya menyerupai bulan purnama

Kelembutannya seperti banyi yang baru lahir



Ketika ditanya siapa namanya

Lisannya hanya diam percuma
Hatinya menyebut nama yang indah maknanya

Tidak ada komentar:

Cari Blog Ini