Asysyam

“Sesungguhnya berbahagialah orang yang mensuciikan jiwanya, dan sungguh merugilah orang yang mengotori jiwanya”

Jumat, 17 Desember 2010

Kesombongan: Buah Berfikir Duga-Sangka yang Menghancur-Binasakan Unsur Ruhaniyah





ari kita jauhkan diri hati dari anggap-sangka beranalisa dalam bentuk apapun. Hati adalah istana Allah dalam pribadi manusia, demikian al-hadits. Jika manusia beriman kepad Allah, maka Allah memberikan karunia petunjuk-Nya dalam hati (QS 64:11). Sayangnya, jumlah terbesar manusia telah berhasil digiring-masuk dalam perangkap-jebakan berfikir logikanya dengan anggapan-prasangka yang belum tentu benar. Bahkan persangkaan tidak berguna sedikit pun untuk mencapai kebenaran (QS 10:36). Sebagai contoh, bisakah dugaan manusia atas sebab musabab bencana mencapai ketepat-pastian?

Buah terbesar yang dihasilkan dari berfikir anggapan-prasangka adalah kesombongan yang tak pernah disadari. Sebabnya ialah selalu menganggap-katakan bahwa diri telah banyak melakukan kebaikan ini dan itu. Padahal anggapan-prasangka demikian merupa-kan alat perangkap-jebakan iblis untuk memperbesar tingkat kesombongan di dalam diri manusia. Menjadikan anggapan-prasangka sebagai dasar pijakan berfikir atau andalan yang dipertuhankan, hanya akan memperbesar kesombongan, memperbodoh diri dan menjadikan seseorang lari dari tanggung-jawab. Ia selalu menyalah-nyalahkan pihak lain. Bagaimana terjadi? Sebab anggapan-prasangka tak akan memuaskan hati yang berfitrah hidup dengan kepastian. Nafsu yang telah bertuhankan anggapan-prasangka, akan gigih mencari pembuktian kebenaran dari anggap-sangkaannya. Maka ia senantiasa perlu mencari keburukan dan kesalahan pihak lain. Untuk apa? Untuk lari dari tanggung-jawab. Mengapa dikatakan begitu?

Dikatakan lari dari tanggung-jawab, karena orang yang menjadikan anggapan-prasangka sebagai dasar pijakan berfikir, paling takut bila dihadapkan dengan hal-hal mengandung resiko. Terutama resiko mempermalukan dan menyengsara-derita-hinakan nafsu. Secara isyarat di dalam firman-Nya, Allah telah diberitakan bahwa ciri-ciri orang kafir-munafiq adalah takut jika dihadapkan dengan hal-hal mengandung resiko. Sebaliknya ciri orang beriman sejati, paling suka menghadapi resiko, karena dengan resiko itulah sebagai alat pengasah ketajaman 'aqal. Tujuan ditumbuh-kembangkannya pijakan berfikir anggapan-prasangka sebenarnya dalam rangka menjauhkan diri dari berhadapan pada resiko dan beriman sejati. Yang perlu diketahui dan disadari ialah bahwa setiap muncul suatu pandangan pemikiran dari hasil ketenagaan berfikir anggapan-prasangka baik bersifat bersitan hati maupun telah terungkap secara lisan-tulisan, seketika itu pula langsung membentuk helai-helai hijab penutup hati. Perasaan yang didominasi nafsu dan konsep-konsep yang dibentuk pikiran logikanya itulah yang terus menerus mempertebal hijab penutup hati dari Allah. Dapatlah kita renungkan selama ini berapa kali sudah muncul pandangan pemikiran dari anggapan-prasangka dan sudah berapa juta helai lapisan-lapisan hijab penutup hati? Lalu, sudahkah bertekad bulat untuk mentaubatinya?
Mengapa rahmat-karunia dan kepemurahan kasih-sayang Allah gagal membentuk sikap perilaku terpuji?
Banyak manusia tidak menyadari bahwa helai lapisan hijab penutup hati bukan saja menjadi berlapis-lapis. Bahkan lapisan-lapisan itu telah menyatu mengeras dan membatu laksana pagar tembok-berbesi. Tertutupnya hati oleh lapisan-lapisan hijab dari bentukan pemikiran bersumber anggapan-prasangka, menjadikan hati tak mudah tersentuh rahmat-karunia. Salah satu wujud rahmat karunia itu adalah kepemurahan kasih-sayang Allah. Tidak mengherankan jika pada akhirnya rahmat-karunia maupun belaian kepemurahan kasih-sayang Allah gagal membentuk sikap perilaku terpuji. Namun sebenarnya, keras bagaimana-pun sesuatu, tidak ada yang tidak dapat dipecahkan. Selagi batu gunung yang demikian keras dan besarnya masih dapat dipecahkan, apalagi hanya hati manusia yang secara fithrah telah berkeadaan lembut-halus. Hanya saja, adakah kesediaan manusia menghancurkan helai hijab penutup hati yang ditimbulkan oleh berfikir anggapan-prasangka? Lalu apa langkah nyata yang mesti dilakukan?

Jihad mendongkel selapis demi selapis hijab penutup hati. Lisan boleh saja menjawab sangat menginginkan untuk menghancurkan helai hijab penutup hati, tetapi sikap diri nyata menolak pelepasan terhadap helai hijab penutup hati. Bukti penolakan adalah masih berat untuk bersikap jujur apa adanya mengakui kesalahan dan kekurangan diri di hadapan Allah. Bahkan sebenarnya, sarana paling tepat dan cepat untuk melepaskan berfikir anggapan-prasangka dan melepaskan helai hijab penutup hati yang telah mengeras-membatu laksana pagar tembok berbesi adalah kejujuran diri mengakui kesalahan dan kekurangan diri saat dibukakan fihak lain. Jika saja manusia mau menyadari, kekerasan pagar tembok-besi kedengkian-logika-nafsu yang telah menutupi kelembutan-kepekaan hati tidak akan dapat diretak-pecahkan oleh upaya manusia, tanpa kepemurahan kasih-sayang Allah. Adapun upaya manusia adalah berkegiatan sungguh-sungguh mengangkat-buang pecahan-pecahan kekerasan kedengkian-logika-nafsu dengan cara gigih, tekun dan ulet menegakkan kejujuran di dalam diri kepada Allah.

Di dalam firman Allah Surat Ar-Ra’du Ayat 11 telah jelas: "Dia tidak akan merubah keadaan seseorang atau suatu kaum sebelum mereka berupaya terlebih dahulu merubah keadaan yang ada pada diri mereka". Artinya sikap diri yang semula suka berpijak pada berfikir anggapan-prasangka berupaya diubah menjadi sikap diri serba menegakkan kejujuran di dalam diri. Sikap itulah yang perlu diambil, terutama saat kesalahan dan kekurangan diri dibukakan fihak lain. Bisa jadi, dibukakannya kesalahan itu justru merupakan alat pertolongan Allah agar manusia maju mendaki ke arah perbaikan di sisi-Nya. Apabila kejujuran berhasil ditegakkan di dalam diri, maka sedikit demi sedikit, itu akan mendongkel lapisan-lapisan hijab penutup hati. Pada akhirnya, keberadaan untaian mutiara rahmat yang akan Allah pasangkan kepada diri, sedikit demi sedikit mulai dapat dirasakan oleh diri yang telah suka bersikap jujur, mengakui, mentaubati, menggantinya dengan amal yang baik dan mencegah orang lain melakukan kesalahan yang sama.

Apakah yang dimaksud dengan untaian mutiara rahmat?

Itu adalah singkapan makna dari sesuatu, yang menuntun ke arah perbaikan akhlaq dan keselamatan hidup sampai dengan akhirat. Keberadaan untaian mutiara rahmat yang Allah pasangkan kepada diri ummat manusia khususnya ummat Islam lewat para hamba yang dikehendaki Allah, bisa jadi belum terasakan keberadaannya. Jika sudah, pasti ada pula yang dapat ditampilkan pada sikap perilaku. Apakah maksud Allah memasangkan untaian mutiara rahmat di dalam diri manusia? Ialah agar masing-masing hati dapat menampil-pantulkan keindahan sifat Allah dalam bentuk sikap-perilaku akhlaq tepuji lagi mulia. Meskipun Allah bermaksud demikian, bukan berarti Allah menekan-paksa. Allah sebetulnya sekedar memancing keluarnya percikan bentukan-bentukan indah dari indah dari sikap perbuatan akhlaq terpuji. Artinya, diri melakukan perbaikan akhlaq adalah dengan praktek penuh kesungguhan (jihad) dalam perbuatan. Tak cukup hanya dengan mengetahui saja. Apalagi mengetahui dengan tergesa-gesa, sekilas-pintas, tanpa pernah merenungi ayat-ayat Allah dengan kesungguhan perhatian.

Pada akhirnya, percikan bentukan-bentukan indah itulah yang akan menggiring sekaligus menjamu langkah manusia di tempat keselamatan hidup, yaitu berada dalam kehidupan syurgawi. Sebaliknya bila dalam sikap perilaku senantiasa tampil sifat ketercelaan akhlaq, maka percikan bentukan buruklah yang keluar menggiring langkah sekaligus menyeret manusia di tempat kesengsara-hinaan hidup di neraka. Neraka dunia adalah kehidupan bernuansakan gejolak perasaan berpuncak keputus-asaan sebagaimana dijelaskan di atas.
Allah paling tidak suka melihat manusia yang perbuatannya hanya menampilkan percikan bentukan buruk. Karena hal itu hanya akan menyengsara-hinakan hidupnya sendiri. Itulah sebabnya sebelum diminta, suka atau tidak suka, pada awalnya manusia telah berkalungkan untaian mutiara rahmat. Allah mendahului manusia dengan membersitkan dalam hatinya petunjuk-Nya atau lewat lisan-tulisan para hamba yang dikehendaki-Nya. Sifat kepemurah-an rasa kasih sayang mendorong Allah melakukan perbuatan mengalungkan untaian mutiara rahmat kepada diri manusia dengan satu tujuan. Yaitu, agar manusia dapat memantul-tampilkan sifat keindahan Allah. Lebih jauh lagi, adalah agar manusia terpagari dari rongrongan penekanan iblis yang suka memaksa nafsu manusia menampilkan ketercelaan, keburukan dan kejahatan sikap-perilaku akhlaq. Pantaskah membalas kebaikan Allah dengan keburukan, ketercelaan dan kejahatan akhlaq?

...menunggu gambar...Empat tulisan "Peringatan Bencana Gagal Dimengerti Hati Buta", "Jihad Membuang Pola Perasaan dan Pikiran Berduga-Sangka", "Kesombongan: Buah Berfikir Duga-Sangka yang Menghancur-Binasakan Unsur Ruhaniyah", dan "Rongrongan Iblis terhadap Manusia" yang diterbitkan 30 Rabi'ul Akhir 1431H (15/04/2010) di weblog kita ini merupakan satu rangkaian rangkuman pengajian dari Ki Moenadi MS 1421H (2000), berjudul: "Ketika Unsur Jasadiyah Membuka Persaksian Tersingkap Kejahatan Anggap-sangka yang Menghancur-binasakan Unsur Ruhaniyah". Kami menyediakan tautan untuk mengunduh versi PDF-nya di kolom sebelah kanan. Admin.

Tidak ada komentar:

Cari Blog Ini