Asysyam

“Sesungguhnya berbahagialah orang yang mensuciikan jiwanya, dan sungguh merugilah orang yang mengotori jiwanya”

Rabu, 01 Desember 2010

Jangan Takut Bilang Cinta

Rasa cinta pasti ada,
Pada makhluk yang bernyawa,
Takkan hilang selamanya,
Hingga akhir, akhir masa.
Renungkanlah…

Begitulah salah satu lirik warisan almarhum Maggy Z, lirik yang benar adanya, dan apa adanya. Telah menjadi rahasia umum bahwa sepanjang sejarah peradaban manusia, pasti ada kisah cintanya. Karena memang, cinta ada karena ada manusia, dan manusia ada karena adanya cinta. Disamping menciptakan rasa cinta itu, Allah juga mengatur bagaimana cara penyalurannya, yaitu dengan jalan pernikahan. Tidak seperti binatang, yang seenaknya saja, slonong sana - slonong sini. Subhanallah… begitu sempurnanya Allah menciptakan dan mengatur semua itu, lalu nikmat-Nya manakah yang masih berani kita dustakan? Bicara tentang cara –yaitu pernikahan-, pernikahan itu sangat sensitif. Apa saja yang ada dalam proses menuju pernikahan maupun (mungkin) fase-fase awal pernikahan, mudah membangkitkan perasaan yang kuat, positif maupun negatif -seperti salah paham, salah sangka, GeDe rasa, CaPer, dsb-. Ada dua pemeran utama yang aktif dalam proses menuju pernikahan, yaitu Lelaki dan Perempuan. Pada pihak lelaki, mereka mondar-mandir timur-ke-barat selatan-ke-utara mencari sang pujaan hati yang sesuai di hati, sedangkan pada pihak perempuan –dari musim durian hingga musim rambutan- begitu sabar dan setia menunggu pangeran berkuda putih atau bersepatu putih yang cocok di hati. Bagi pihak lelaki, tidak terlalu khawatir karena fakta sekarang mengatakan bahwa perbandingan jumlah lelaki dan perempuan di dunia adalah 1:5, jadi meski patah hati bila cinta ditolak oleh perempuan yang pertama, 'kan masih ada empat perempuan lain yang sibuk menunggu, jadi ngapain dukun harus bertindak. Lalu bagaimana dengan pihak perempuan?

Tatkala usia terus merayap naik sementara ringkikan kuda putih atau derap langkah sepatu putih tak kunjung terdengar, segera keresahan mulai melanda. Pada masa-masa yang terbilang cukup rawan ini seringkali tanpa disadari, ada perilaku-perilaku yang mestinya tak layak dilakukan oleh seorang perempuan (baca muslimah, selanjutnya diganti dengan kata ganti ‘muslimah’) yang 'kadung' dijadikan teladan di lingkungannya. Ada muslimah yang menjadi sangat sensitif terhadap acara-acara pernikahan ataupun wacana-wacana seputar jodoh dan pernikahan. Atau bersikap seolah tak ingin segera menikah dengan berbagai alasan seperti karir, studi maupun ingin terlebih dulu membahagiakan orang tua. Padahal, hal itu cuma sebagai pelampiasan perasaan lelah menanti sang pangeran.

Sebaliknya, ada juga muslimah yang cenderung bersikap over acting. Terlebih bila sedang menghadiri acara-acara yang juga dihadiri lawan jenisnya. Biasanya, ia akan melakukan berbagai hal agar "terlihat", berkomentar hal-hal yang tidak perlu yang gunanya cuma untuk menarik perhatian, atau aktif berselidik jikalau mendengar ada laki-laki shalih yang siap menikah. Seperti halnya wanita dimata laki-laki, kajian dengan tema "lelaki" pun menjadi satu wacana favorit yang tak kunjung usai dibicarakan dalam komunitas muslimah. Demi Allah, apa yang menghimpit kita (muslimah) sehingga seringkali kita sanggup meneteskan air mata. Kalau mau jujur-jujuran, awalnya adalah karena kita menunda apa-apa yang harus disegerakan, dan mempersulit apa yang seharusnya dimudahkan. Padahal Rasulullah saw telah memberi peringatan kepada kita:
"Bukan termasuk golonganku orang-orang yang merasa khawatir akan terkungkung hidupnya karena menikah, kemudian ia tidak menikah."
(HR. Imam ath-Thabrani).
"Wahai Ali... ada tiga perkara jangan ditunda-tunda, apabila sholat telah tiba waktunya, jenazah apabila telah siap penguburannya, dan perempuan apabila telah datang laki-laki yang sepadan meminangnya."
(HR. Imam Ahmad)

Haruskah terus menerus bersikap membohongi diri seperti contoh di atas. Betapa lelahnya kita ketika harus berbuat seperti itu sementara seolah tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu dan berharap semoga Allah segera mendatangkan pilihan-Nya, jodoh memang ditangan Tuhan, tapi kalau tidak diambil-ambil, kapan dapatnya. Atau masihkah tidak merasa malu untuk menghinakan diri dengan aksi over acting dan 'caper'.

Menurut Ust. Fauzil Adhim, banyaknya muslimah yang belum menikah di usianya yang sudah cukup rawan bukannya tidak siap, tetapi karena mereka tidak pernah mempersiapkan diri. Kesiapan disini, termasuk di dalamnya adalah kesiapan untuk menerima calon yang tidak sesuai dengan kriteria yang diinginkan sebenarnya, meski jikalau ditilik kembali sesungguhnya lelaki tersebut sudah memiliki persyaratan yang 'sedikit' lebih dibanding lelaki biasa. Misalnya, hamilud dakwah, setidaknya shalatnya benar, akhlaknya baik, tidak berbuat syirik dan pergaulannya tidak jauh dari orang-orang shalih. Artinya, lanjut Ust. Fauzil, tidak usah mematok kriteria terlalu tinggi. Walaupun sebenarnya, sah-sah saja untuk melakukannya.

Pada keadaan tertentu, seringkali para muslimah seperti tidak berdaya mengatasi kelelahannya mencari (baca: menunggu) jodoh. Padahal, ada satu hal yang boleh dan sah saja untuk dilakukan oleh seorang muslimah, yakni menawarkan diri untuk dipinang. Hanya saja, selain masih banyak yang malu-malu membicarakannya, banyak pula yang menganggap hal ini sebagai sesuatu yang tabu, karena tidak pernah dicontohkan oleh para orang tua kita, padahal telah dimotori oleh wanita mulia yaitu Sayyidah Khadijah ra. Asalkan pada lelaki yang baik-baik, dalam pandangan Islam sah-sah saja wanita menawarkan diri untuk dipinang.

Dalam suatu riwayat dikisahkan, suatu saat Sayyidah ‘Aisyah ra merasa cemburu, lalu berkata kepada Rasulullah saw, “Bukankah ia hanya seorang wanita tua dan Allah telah memberi gantinya untukmu yang lebih baik daripadanya?” Maka beliau pun marah sampai terguncang rambut depannya. Lalu beliau berkata, “Demi Allah! Ia tidak memberikan ganti untukku yang lebih baik daripadanya. Khadijah telah beriman kepadaku ketika orang-orang masih kufur, ia membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku, ia memberikan hartanya kepadaku ketika manusia yang lain tidak mau memberiku, dan Allah memberikan kepadaku anak darinya dan tidak memberiku anak dari yang lain.” Lalu ‘Aisyah ra berkata dalam hati, “Demi Allah, aku tidak akan lagi menyebut Khadijah dengan sesuatu yang buruk selama-lamanya.”

Pernikahan Rasulullah Muhammad saw dengan Ummul Mukminin Khadijah ra adalah pernikahan yang paling indah dan penuh barakah. Pernikahan yang seagung ini justru berawal dari inisiatif Sayyidah Khadijah ra. Ia menolak menikah dengan raja-raja, para bangsawan, dan para hartawan yang sebelumnya meminangnya, tetapi ia lebih memilih dan menyukai Muhammad yang yatim-piatu. Ia mencari suami yang agung, berkarakter kuat, berkepribadian tinggi, dan berjiwa bersih. Dan semua itu ada pada sosok Muhammad yang Ummi. “Wahai Muhammad, aku senang kepadamu karena kekerabatanmu denganku, kemulianmu dan pengaruhmu di tengah-tengah kaummu, sifat amanahmu di mata mereka, kebagusan akhlakmu, dan kejujuran bicaramu.” Ungkapan Khadijah ra kepada Muhammad saw. Subhanallah… Allahu Akbar wa Lillahilham.


Senada dengan Ust. Fauzil Adhim, Ust. Ihsan Tanjung dalam salah satu rubrik konsultasi keluarga pernah mengatakan, seorang muslimah sebaiknya mengungkapkan perasaannya -keinginannya untuk dikhitbah- kepada seorang lelaki shalih yang menjadi pilihannya, ketimbang dia lebih mungkin terkena dosa zina hati karena terus menerus mengharapkan si lelaki tanpa kejelasan atau kepastian. Hanya saja, yang mungkin perlu diperhatikan adalah seberapa tinggi daya tawar yang dimiliki oleh para muslimah itu ketika dia harus mengungkapkan perasaannya. Pertanyaan yang sering muncul adalah "seberapa pantas dirinya" saat meminta si lelaki untuk melamar dan menikahinya. Untuk hal ini, sepantasnya bukan kata-kata terlontar dari mulut untuk mengkhabarkan kepantasan diri. Namun, dengan mempertinggi kualitas ke-shalihah-an tanpa mengagungkan kecantikan wajah, mengedepankan akhlak yang baik sebagai pakaian sehari-harinya disamping juga ia perlu membenahi penampilannya untuk sekedar meningkatkan kepercayaan diri, dan menjaga mata pandangannya untuk selalu bercermin kepada hati, karena disanalah cinta dapat berkembang. Sungguh lebih mulia jikalau kita dicintai karena mencintai, bukan mencintai karena dicintai.

Bagi kita (muslimah), kepentingan menghaluskan wajah tidak mengalahkan kepentingan kita untuk menghaluskan jiwa, karena kecantikan yang murni justru terpancar dari jiwa yang cantik (inner beauty). Kecantikan seperti inilah yang senantiasa tumbuh sepanjang waktu. Jikalau hal-hal itu sudah dipersiapkan sebaik mungkin dan terpatri menjadi hiasan diri, maka melangkahlah untuk menjemput impian. Namun demikian, perlu juga rasanya untuk melatih menata hati dan berjiwa besar jikalau cinta terpaksa harus bertepuk sebelah tangan atau menerima kenyataan diluar harapan. Tapi percayalah, insyaALLAH, jikalau sikap menawarkan diri dilakukan dengan ketinggian sopan santun, tidak akan menimbulkan akibat kecuali yang maslahat. Seorang lelaki yang memiliki tsaqafah islamiyah yang mendalam pasti akan meninggikan penghormatan terhadap mujahadah (perjuangan) saudarinya. Tidak akan merendahkan wanita yang menjaga kehormatannya seperti ini, kecuali lelaki yang rendah, dungu, dan tidak memiliki kehormatan kecuali sekedar apa yang disangkanya sebagai kebaikan. Seorang lelaki insyaALLAH akan sangat hormat, setia, dan menaruh kasih sayang mendalam jikalau menerima ajakan agung wanita shalihah untuk menikahi. Namun jikalau terhalang untuk menerima tawaran, insyaALLAH pada diri lelaki tsb akan tumbuh rasa hormat, segan, dan respek terhadapnya.

Sungguh, melalui Mutiara kali ini, saya sangat hormat kepada mereka yang berani bermujahadah. Kepada mereka, saya ingin menyampaikan salam hormat saya. Semoga Allah memberi pertolongan dan ridha-Nya kepada kita semua sampai kelak Allah mengumpulkan di akhirat. Mudah-mudahan Allah ‘Azza wa Jalla mengumpulkan mereka bersama Sayyidah Khadijah di al-Haudh. Amiin… Allahumma amiin. Yaa Allah, ini hamba-Mu memohon kepada-Mu.


Ukhti...
Janganlah engkau sampai kehilangan jati diri dalam proses penantian itu.
Jikalau ingin berlari, belajarlah berjalan dahulu.
Jikalau ingin berenang, belajarlah mengapung dahulu.
Jikalau ingin dicintai, belajarlah mencintai dahulu.
Tentunya, lebih baik menawarkan diri pada ikhwan yang tepat.
Ikhwan yang engkau inginkan,
Ikhwan yang engkau idamkan.
Meski ia tidaklah secerdas Ali ra,
tidaklah semulia Muhammad ra,
tidaklah setegar Ibrahim ra.
Yang terpenting, ia adalah pilihan akhir zaman.

Dan ingatlah, yaa Ukhti...
Engkau bukanlah Fatimah ra yang begitu istimewa dalam sederhana,
Bukan Khadijah ra yang begitu sempurna dalam menjaga,
Bukan pula Maryam ra yang begitu mulia dalam aniaya,
Pun bukanlah Hajar ra yang begitu setia dalam sengsara.
Engkau hanyalah seorang wanita biasa,
yang terus berusaha menjadi sholehah seperti Mereka.

Wallahu a’lam bish shawwab…

Tidak ada komentar:

Cari Blog Ini