Asysyam

“Sesungguhnya berbahagialah orang yang mensuciikan jiwanya, dan sungguh merugilah orang yang mengotori jiwanya”

Rabu, 03 Juli 2013

Mencintai Pasangan



Sebenarnya,
tidak ada pencinta yang mencari penyatuan,
tanpa yang-dicintainya mencarinya.


Sementara cinta dari sang pencinta
membuatnya sekurus tali-busur,
maka cinta dari yang-dicintai
membuatnya indah dan segar.


Ketika kilat cinta bagi yang-tercinta
menyambar ke hati yang-ini, ketahuilah,
ada cinta dalam hati yang-itu.


Ketika cinta kepada Tuhan
telah nyaring berbunyi di hatimu,
tak pelak lagi, Tuhan telah mencintaimu.


Tiada suara tepukan bisa terdengar
hanya dari sebelah tangan.

Ketika orang yang haus mengeluh:
Wahai air yang lezat...
Air pun mengeluh, seraya bertanya:
Dimanakah sang peminum air?
Kehausan di dalam jiwa-jiwa kita
adalah ketertarikan yang 
ditaruh disitu oleh Sang Air: 

kita adalah milik-Nya, dan Dia adalah milik kita.
Hikmah Tuhan dalam ketetapan dan hukum
membuat kita, 
satu sama lain,
adalah pencinta.

Karena pengaturan-awal itu,
semua unsur dalam semesta 
berpasangan,
dan saling mencintai satu sama lain.

Setiap unsur dalam semesta
menginginkan pasangannya,
bagaikan nyala-amber dan bilah jerami.

Langit berkata kepada Bumi: "selamat datang!
Aku adalah magnit bagimu, dan engkau besi bagiku."

Dalam pandangan mereka yang berilmu,
langit adalah lelaki 
dan bumi adalah perempuan:
apa pun yang ditanamkan langit,
ditumbuh-kembangkan bumi.

Ketika bumi kekurangan panas,
maka langit mengirimkannya;
ketika lenyap kesegaran dan embun,
langit menganugerahkannya.

Isyarat di langit-jiwa yang bagaikan rasi-bintang,
mengirimkan penguatan ke debu-bumi;
isyarat yang bagaikan bentuk-bentuk air
mengandung kesegaran;
isyarat yang bagaikan bentuk-bentuk udara
melayangkan awan,
agar uap beracun segera tertiup menjauh;

Isyarat berapi-api
adalah sumber panas matahari;
yang bagaikan penggorengan,
memerah panas semua bagiannya,
dipanggang api.

Langit berputar dengan gelisah
dalam semesta Waktu,
bagaikan suami menjelajah mencari nafkah
bagi 
kepentingan sang istri;

Dan bumi ini bagaikan istri
yang mengurus rumah-tangga:
dia melahirkan dan menyusui.

Karena itu pandanglah langit dan bumi
sebagai makhluk berakal,
karena mereka mengerjakan karya
makhluk-makhluk berakal.

Jika ke dua kekasih ini
tidak merasakan kemanisan 
satu dari yang lainnya,
maka mengapakah mereka merayap-bersama
bagaikan pasangan?

Tanpa bumi
bagaimana mawar dan bunga arghawan tumbuh?

Apa jadinya, kemudian,
dengan air dan kehangatan dari langit?

Gairah yang ditanamkan dalam diri perempuan
kepada lelaki 
adalah demi tujuan:
agar mereka dapat menyempurnakan
karya satu sama lain.

Tuhan menaruh gairah
di dalam diri lelaki dan 
perempuan
agar semesta dilestarikan oleh penyatuan ini.

Dia juga menanamkan gairah setiap bagian
kepada bagian lainnya:
dari penyatuan keduanya,
karya kelahiran dihasilkan.

Seperti itu pula malam dan siang saling-berpelukan:
mereka tampak berbeda,
tetapi sebenarnya dalam kesepakatan.

Siang dan malam tampil berbeda,
mereka tampak saling berlainan dan bermusuhan;
akan tetapi keduanya dalam rangka kebenaran yang satu;

Satu sama lain saling menghendaki,
bagai terikatnya kerabat,
demi penyempurnaan tindakan dan amal mereka.

Keduanya demi satu tujuan;
tanpa malamnya perempuan,
lelaki tidak akan menerima penghasilan:
sehingga tiada yang dapat dibelanjakan oleh siang.

Bumi berkata kepada elemen ke-bumi-an jasmani:
Kembalilah! Tinggalkanlah jiwa,
datanglah kepadaku bagaikan debu;
Engkau adalah golonganku,
engkau lebih cocok berada bersamaku:
lebih baik engkau keluar dari tubuh itu
dan dari air itu.

Ia menjawab:
Ya, tetapi aku terpenjara disini,
sungguhpun, 
seperti engkau,
akupun lelah oleh perpisahan ini.

Air mencari-cari elemen air dari jasmani,
seraya berkata: 
Wahai air,
kembalilah kepada kami dari pengasinganmu.

Api memanggil panas dari jasmani:
Engkau adalah api, kembalilah ke asalmu.

Terdapat dua ratus dan tujuh puluh penyakit dalam tubuh,
yang disebabkan oleh elemen-elemen
yang tarik-menarik 
tanpa tali.

Penyakit datang untuk menghancurkan tubuh,
agar elemen-elemen dapat pergi,
berpisah satu dari yang lain.

Elemen-elemen ini bagaikan empat ekor burung
yang kaki-kakinya 
diikat jadi satu:
kematian dan penyakit melepaskan kaki mereka.

Ketika kematian saling melepaskan kaki mereka
dari 
ikatan dengan yang lain,
maka segeralah setiap burung-elemen terbang pergi.

Tarikan sumber dan turunannya ini
terus menerus menanamkan 
kesakitan
pada tubuh kita.

Agar koalisi pada tubuh ini dapat pecah-robek,
sehingga setiap elemen, bagaikan burung,
dapat terbang ke rumahnya.

Akan tetapi,
Kasih-sayang Tuhan mencegah mereka
dari ketergesaan ini,
dan menyatukan mereka
dalam kesehatan, sampai dengan masa
yang telah ditetapkan;

(Kasih-sayang itu) berkata:
Wahai bagian-bagian,
masa itu tidaklah engkau ketahui dengan pasti:
karenanya, tiada gunanya begimu berusaha terbang
sebelum masanya tiba.

Seperti halnya setiap bagian dari tubuh
mencari 
penyatuan dengan sumbernya,
maka bagaimanakah keadaan jiwa,
yang bagaikan seorang asing,
terpisah dari dari rumahnya.

Jiwa berkata:
Wahai bagian kebumianku yang rendah,
pengasinganku lebih pahit daripada engkau:
aku itu warga langit.

Gairah dari tubuh
bagi tetumbuhan hijau dan aliran air,
karena dari situlah dia bersumber;

Gairah dari jiwa
bagi Kehidupan dan Yang Maha-Hidup,
karena sumbernya adalah Jiwa Tak-terhingga.

Gairah jiwa itu kepada hikmah dan ilmu;
gairah tubuh adalah kepada kebun, rerumputan
dan tanaman merambat.
Gairah jiwa adalah bagi kenaikan dan ketinggian;
gairah tubuh adalah bagi keuntungan
dan sarana untuk 
mendapatkan keperluannya.

Ketinggian juga memiliki gairah dan cinta kepada jiwa:
dari sini pahamilah bahwa "Dia mencintai mereka,
dan mereka pun mencintai-Nya."  [1]

Jika terus kulanjutkan penjelasan ini,
maka tiada ujungnya:
Matsnawi ini
bisa sampai delapan puluh jilid.

Intinya adalah:
ketika sesuatu mencari,
jiwa dari obyek yang dicarinya juga menghendaki dia.

Apakah dia itu manusia, binatang, tumbuhan, atau mineral,
setiap obyek-yang-dikehendaki
mencintai semua yang belum 
memperoleh obyek-kehendak itu.

Mereka yang tanpa obyek-kehendak
mengikatkan diri 
pada obyek itu, sementara yang dikehendaki
terus menarik mereka;
Akan tetapi,
ketika kehendak para pencinta membuat mereka kurus,
maka kehendak dari Sang Kekasih tercinta
membuat mereka 
cantik dan indah.

Cinta dari Sang Kekasih memerahkan pipi;
cinta dari sang pencinta menelan jiwanya.
Nyala-amber mencintai jerami
dengan penampilan bagaikan 
tidak-memerlukan-apapun; sementara sang jerami
berjuang-keras untuk maju di jalan panjang ini.


Catatan:
[1] QS Al-Maidah [5]: 54.


Sumber:
Rumi: Matsnawi  III: 4393 - 4447
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.
source by Ngrumi.blogspot.com


Tidak ada komentar:

Cari Blog Ini