Asysyam

“Sesungguhnya berbahagialah orang yang mensuciikan jiwanya, dan sungguh merugilah orang yang mengotori jiwanya”

Minggu, 07 Juli 2013

Siapakah yang Tuli?


Yang berpanjang angan itu

seperti orang tuli:
sering didengarnya tentang kematian,
tapi itu tak membuatnya sadar
tentang kematiannya sendiri,
atau bersiap menghadapi ajalnya.


Tamak membuat orang buta:
kelemahan orang lain dicermati dengan teliti,
lalu disiarkan kemana-mana;
seraya sedikit pun tak menyadari
kelemahan dirinya sendiri.


Alangkah anehnya,
jika ada orang telanjang
tapi takut bajunya robek.


Pencinta dunia itu orang rudin dan ketakutan,
sejatinya tak sesuatu pun dimilikinya,
tapi dia takut hartanya disasar pencuri.


Orang lahir dengan polos
dan pergi dengan telanjang;
diantara dua kejadian itu,
kehidupan dunia dilaluinya dengan cemas,
takut hartanya hilang.


Saat saat ajal tiba,
ketika ratusan orang meratap,
jiwanya sendiri mentertawakan ketakutannya.


Ketika itu, pecinta dunia baru sadar:
tak sedikit pun dia miliki emas-permata;

demikian pula, seorang yang cerdik sekali pun,
tahu dia tak bisa menyiasati.

Amatilah anak kecil yang bermain uang-uangan
dari pecahan tembikar:
ketika pangkuannya penuh,
gemetaran dia karena girang-hati
seakan itu uang yang asli.


Jika kau ambil sepotong, dia merengek,
jika kau kembalikan, segera dia tertawa.


Anak kecil belum memiliki pengetahuan,
karenanya, rengekan atau derai tawanya
hampa makna.


Seperti itu lah pencinta dunia,
yang menyangka apa-apa yang dipinjamkan
sebagai miliknya sendiri:
dia gemetar, cemas, meratapi kekayaan palsu.


Dia bermimpi:
cemas, gemetaran.
disangkanya harta duniawi pinjaman
sebagai miliknya sendiri.


Ketika sang Maut menyentak keluar jiwanya,
membangunkannya dari tidur panjang,
didapatinya ketakutannya selama ini
sedikit pun tak berarti.

Gemetaran pula seorang yang terpelajar,
yang kuasai aneka ilmu dan paham banyak hal
tentang dunia ini.

Tentang kaum cendekiawan yang mapan
dalam ilmu-ilmu tentang dunia ini,
al-Qur'an menyatakan, "mereka tidak memahami."

Mereka selalu takut orang lain menyita waktunya;
mereka anggap telah menguasai ilmu yang banyak.

Sering mereka berkata,
"orang-orang itu menyita waktuku;"
padahal sejatinya, berlalunya waktu tak membawa
manfaat kebaikan bagi diri mereka sendiri.

Atau mereka katakan,
"orang banyak telah mengalihkanku dari pekerjaanku
yang sangat penting;"
(seraya tak disadarinya) jiwanya sendiri kaku,
tak mampu bergerak.

(Mereka bagaikan) orang yang telanjang
sambil ketakutan dan berkata, "aku memakai jubah
yang panjang, aku harus menghindari mereka
yang tak hentinya menarik-narik jubahku."

Mereka hafal rincian ratusan-ribu data,
yang terkait dengan aneka pengetahuan dunia;
tapi sejatinya bodoh,
karena tak mereka kenali jiwa mereka sendiri.

Mereka pahami kekhususan aneka macam dzat,
tapi mengenai hakekat  diri mereka sendiri,
mereka sama dungunya dengan seekor keledai.

Mereka nyatakan,
"aku tahu apa yang dibolehkan dan apa yang dilarang;"
tapi pengetahuannya tentang apa yang boleh
dan apa yang dilarang bagi diri mereka sendiri
hanya berdasarkan prasangka atau kebodohan semata.

Wahai yang merasa mengetahui mengenai
mana yang halal dan mana yang haram;
tapi dirimu sendiri--apakah termasuk yang halal,
ataukah yang haram?
Pertimbangkan lah baik-baik.

Bukankah suatu kebodohan,
jika kau ketahui harga bermacam barang dagangan,
sementara nilai dirimu sendiri tak kau ketahui?

Engkau pahami ilmu tentang bintang-bintang,
mana yang membawa kabar keberuntungan,
dan mana pembawa kabar buruk;
tapi kau tak pernah berupaya menelisik,
sebenarnya engkau itu termasuk yang beruntung,
atau sebaliknya jiwamu belum tersucikan
dan karenanya sering kau bernasib buruk.

Kusampaikan disini inti tujuan ilmu sejati:
agar kau ketahui siapa sesungguhnya dirimu
pada Hari Perhitungan.


Kau telah akrabi asal-usul ad-Diin,
kini saatnya kau tengok dan cermati jiwamu
yang berada di dalam dirimu sendiri--apakah telah baik?

Wahai insan,
jiwa yang telah tersucikan adalah modal dasar
yang menjadi fondasi, dalam mengamalkan
ke dua warisan Rasulullah SAW;
sampai kau di-Rahmati dengan pengenalan
akan hakekat dirimu sendiri.


Sumber:
Rumi: Matsnavi  III: 2628 - 2635.
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.
source by Ngrumi.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Cari Blog Ini